BANDUNG BARAT — Sejuknya udara pagi di kawasan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, memberikan ketenangan tersendiri bagi siapa saja yang mengunjunginya. Kawasan yang erat dengan nuansa pertanian ini memang menjadi salah satu objek wisata yang cocok bagi masyarakat urban untuk melepas penatnya hiruk pikuk perkotaan.

Tetapi kita akan melihat sesuatu yang lain jika melintasi Kampung Cijerokaso Wetan, Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Dari sisi kanan jalan kita akan melihat pertanian hortikultura pemberdayaan Dompet Dhuafa yang bernama Desa Tani.

Merasakan Pengalaman Menjadi Petani Care Visit Fun Farming

Di sana kita bisa belajar bagaimana menjadi petani milenial yang modern dan dikembangan melalui dana ZISWAF. Hal ini dirasakan betul oleh para Key Opinion Leader (KOL) dan Blogger saat melakukan Care Visit bertajuk Fun Farming pada Selasa dan Rabu (1-2/11/2022). Mereka yang hadir dari berbagai daerah sangat bersemangat untuk merasakan sensasi dari mulai menanam hingga melakukan panen berbagai jenis tanaman hortikultura.

Disambut langusng oleh Dadan Kartiwa selaku Pengurus Desa Tani Dompet Dhuafa, para peserta diajak melihat langsung bagaimana pengelolaan pertanian menggunakan teknologi smart garden. Perseta dibuat terkejut dengan kemajuan teknologi yang dimiliki Desa Tani Dompet Dhuafa, bahkan dengan sistem ini petani mampu mendapatkan hasil panen lebih banyak dibandingkan dengan pertanian konvensional.

Merasakan Pengalaman Menjadi Petani Care Visit Fun Farming

“Melalui program Desa Tani kita tidak hanya memberikan sarana produksi seperti bibit tapi kita juga membangun sarana lain seperti Green House untuk meningkatkan hasil produksi. Paling terpenting juga kita memberikan pendampingan secara penuh untuk mengedukasi para petani agar lebih modern dan mampu mendatangkan keuntungan lebih dari pertaniannya. Bahkan kita juga menyiapkan pasar untuk menampung hasil pertanian mereka agar tersalurkan,” jelas Dadan.

Setelah mendapatkan pemaparan tentang Desa Tani, para peserta diajak untuk mengikuti kegiatan menanam berbagai tumbuhan hortikultura di green house yang didirikan Dompet Dhuafa melalui pengelolaan dan ZISWAF. Canda tawa menghiasi kegiatan yang dimulai dari pagi hari tersebut, menggunakan kendaraan pengangkut sederhana, para peserta terlihat sangat bahagia menjadi petani selama seharian penuh.

Merasakan Pengalaman Menjadi Petani Care Visit Fun Farming

Menjelang siang hari, peserta kemudian diajak untuk ikut memanen hasil pertanian yang letaknya diperbukitan. Aktivitas yang menyenangkan ditengah sejuknya udara Lembang membuat hawa dingin tidak mampu menembus kulit yang bersemangat. Mulai dari Horenzo, Buncis Baby Kenya, Buncis Super Logaya, Kale Keriting, Lettuce Romaine, dipanen menggunakan keranjang bambu oleh para peserta.

“Ketika ikut panen, kami diberitahu cara panen yang baik dan benar karena akan berpengaruh dengan hasil panen dan keberlanjutan tanaman. Setelah dipanen hasilnya akan disortir sesuai grade. Grade A yang terbaik akan dikemas untuk diekspor sesuai pesanan. Sementara grade di bawahnya akan didistribusikan pada industri horeka atau ke pasar,” ungkap Arief Rachman atau akrab disapa Ariefpokto.

Merasakan Pengalaman Menjadi Petani Care Visit Fun Farming

Program Desa Tani sendiri merupakan upaya Dompet Dhuafa untuk mengentaskan kemiskinan melalui pengembangan pertanian hortikultura. Lewat program ini, petani dari kelompok masyarakat ekonomi rendah diberdayakan untuk mengelola lahan pertanian dengan skema pendampingan. (Dompet Dhuafa / Arlen).

PADANG, SUMATERA BARAT —  “Ikut dengan budidaya ikan Nila Dompet Dhuafa itu sangat membantu, sangat menolong dan jadi mata pencaharian juga. Karena pas banget, waktu itu ada Covid-19 dan bapak (suami) kena PHK,” aku Reni (48), salah seorang Penerima Manfaat dari program Kampuang Nila Dompet Dhuafa Cabang Singgalang.

Ditemuinya siang itu, Kamis (6/10/2022), ia terlihat sedang asyik memberikan pakan di pinggir kolam budidaya ikan Nila. Ia tebarkan pakan itu ke segala penjuru kolam agar merata. Sambil sesekali ia ungkapkan, melakukan budidaya ikan Nila, ia lakukan semenjak Dompet Dhuafa Singgalang hadir dan melahirkan program pemberdayaan ekonomi di Kampung Pinang RT 01/RW 01 Kelurahan Lambuang Bukik, Kecamatan Pauh, Kota Padang.

“Dulu aku dan bapak juga di ladang (bertani), jualan sayuran juga kalau Sabtu dan Minggu. Datang Dompet Dhuafa, gabunglah kami dengan program Kampuang Nila. Awalnya dalam 1 (satu) kelompok itu ada 5 (lima) orang, lalu berkembang jadi 10 orang. Sekarang masih 6 (enam) orang, karena yang 4 (empat) mulai berdiri sendiri,” ungkap ibu yang memiliki 5 (lima) anak tersebut.

Sekali panen ikan Nila, jumlahnya bisa mencapai 300 Kg sampai 500 Kg. Itu dilakukan dalam waktu 5 bulan dengan kondisi air yang normal. Sebab, program Kampuang Nila di  Kampung Pinang, menggunakan air yang mengalir. Sedangkan kondisi air tidak normal merupakan keruh dikarenakan hujan terus-menerus, ataupun air mengalir kecil.

“Alhamdulillah, punya uang tambahan dan bantu bapak dalam penghasilan. Selama panen belum pernah merugi, panen paling sedikit itu paling gak, ya, balik modal,” aku Reni.

Bagi Reni, bergabung dalam Kelompok Nila Jaya Berkah dalam program Kampuang Nila sangatlah bermanfaat. Sembari mengisi aktivitas di rumah dan jualan sayuran, ia bisa turut membantu suaminya mendapatkan penghasilan tambahan, seiring meningkatnya kebutuhan harian keluarganya.

“Untung dari ikan ini uangnya disimpan. Apalagi nanti kalau anak saya yang sekarang kuliah di Aceh sudah wisuda, saya ingin dan harus datang kesana. Mudah-mudahan program Kampuang Nila ini berkembang. Terima kasih kepada para Donatur Dompet Dhuafa,” imbuhnya.

Program budidaya ikan Nila di Kampung Pinang telah diresmikan sejak tanggal 6 Februari 2020. Kala itu, Dompet Dhuafa Singgalang menggulirkan bantuan berupa bibit, pakan, serta pelatihan dan pengajian kelompok. Ya, Kelurahan Lambuang Bukik terkenal sebagai wilayah dengan usaha ikan Nila air deras, pun potensi ikan Nila yang cukup besar.

“Budidaya ikan Nila ini hadir untuk membantu meningkatkan perekonomian masyarakat, terutama warga Lambuang Bukik, dalam bentuk program ekonomi yang menyasar sebanyak 25 orang Penerima Manfaat. Untuk daerah Kampung Pinang ada 5 orang Penerima Manfaat dengan bantuan sejumlah 50 ribu bibit ikan Nila,” jelas Hadie Bandarian Syah selaku Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Singgalang. (Dompet Dhuafa / Dhika Prabowo)

SOLOK, SUMATERA BARAT — “Dulu sebelum menanam kopi, saya juga pernah mencoba menanam bibit karet di ladang, namun, tanaman mati dan gagal panen. Hingga saya mencari kayu bakar ke hutan-hutan di Sirukam,” tutur Metrialdi (42), yang akrab disapa Nomek, salah seorang penerima manfaat program Kopi Solok Sirukam yang diinisisasi oleh Dompet Dhuafa Singgalang sejak awal tahun 2019.

Sebelum bergabung menjadi petani kopi binaan Dompet Dhuafa, Nomek sempat mencoba menanam bibit karet tapi gagal. Kemudian beliau beralih berprofesi sebagai buruh pencari kayu bakar di hutan Sirukam. Semasa itu, pendapatan hariannya hanya Rp25.000 perhari. Untuk mendapatkan hasil itu, ia pun harus mengumpulkan 100 ikat kayu, yang nantinya dijual kepada pengepul dengan harga Rp250 perak perikatnya.

Setiap hari Nomek harus berjalan kaki, menempuh jarak 8 (delapan) KM dari rumahnya ke tempat pencarian kayu api. Dirinya berangkat dari rumah selesai sholat subuh dan pulangnya selepas magrib.

Tidak sampai disitu saja, perjuangan panjang bercampur rasa letih, harus ia hadang. Melewati perbukitan yang tinggi dan curam, terkadang bisa saja membuat dirinya celaka. Saat musim hujan datang, terkadang kayu yang ia dapatkan tidak laku terjual. Tapi itu semua ia lewati dengan penuh perjuangan, demi menafkahi istri dan 2 (dua) orang anaknya.

Memasuki tahun 2019, Nomek dengan penuh semangat bergabung menjadi bagian anggota program pemberdayaan ekonomi Kopi Solok Sirukam Dompet Dhuafa, dari sinilah awal dirinya mendapatkan celah untuk merubah kehidupan perekonomian agar lebih baik.

Selama bergabung menjadi anggota petani kopi, Nomek dan anggota lainnya mendapatkan pelatihan dan bimbingan. Sehingga mengetahui tata cara penanam kopi yang baik.

“Panen kopi perdana, Alhamdulillah, saya mendapatkan hasil yang cukup memuaskan dari penjualan cherry kopi, saya bisa membelikan baju sekolah baru untuk anak saya yang akan masuk SMP, dan memberikan nafkah tambahan untuk istri,” tuturnya.

Program Desa Kopi Solok Sirukam sendiri adalah salah satu bentuk pemberdayaan masyarakat di bidang ekonomi yang digagas oleh Dompet Dhuafa di Jorong Kubang Nan Duo, Nagari Sirukam, Kecamatan Payung Sekaki, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Berfokus pada pengembangan komoditas kopi khususnya Arabika, program Kopi Solok Sirukam menjadi peluang besar bagi pemberdayaan masyarakat Sirukam dan sekitarnya. (Dompet Dhuafa/ Cici / Dhika Prabowo / Arlen)

INDRAMAYU, JAWA BARAT — Salah satu kawasan pemberdayaan ekonomi Dompet Dhuafa, yaitu budidaya ikan gurame di Desa Kenanga, Kecamatan Sindang, Indramayu, ke sekian kalinya telah melakukan panen raya. Pada Sabtu (3/9/2022), para peternak gurame binaan Dompet Dhuafa kembali memanen ikan gurame dengan kisaran total sebanyak 1 ton.

Hal ini menarik perhatian sang inisiator sekaligus ketua dewan pembina Dompet Dhuafa, Parni Hadi. Didampingi Suheng Widodo selaku GM Pemberdayaan dan Pengembangan Zakat Dompet Dhuafa, Parni bertolak dari Jakarta untuk meninjau langsung proses panen besar ini. Selain Parni, keberhasilan pemberdayaan dari dana masyarakat ini juga menjadi perhatian oleh pihak-pihak lain. Turut menyaksikan proses panen juga yaitu Kepdes Kenanga Darpani S.H., Sekmat Kec. Sindang, Dinar S.Stp., Sekretaris Bappeda Kab. Indramayu Drs. Dadikuswibawa, Kepala Bidang Perekonomian Bappeda H. Heryanto Budi Hermawan, S.H, M.H, perwakilan Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Indramayu Izudin, S.Pi, dan Kepala RRI Cirebon Yusdiarto.

Salah satu penerima manfaat program ini, Kusen (44), menceritakan bahwa pada tahun 2019 lalu, di kawasan lahan kolam ini mulanya hanya ada 2 (dua) kolam bantuan dari Dompet Dhuafa. Semakin tahun semakin semakin berkembang berkat kontribusi berbagai pihak, hingga kini telah menjadi 67 kolam. Sedangkan setiap satu kolam mampu menampung hingga 1 ton ikan gurame. Saat ini, penerima manfaat budidaya gurame yang menjadi binaan Dompet Dhuafa berjumlah 14 orang.

“Alhamdulillah, kami bersyukur sekali dan berterima kasih kepada Dompet Dhuafa dan pihak-pihak lain yang ikut mengembangkan para peternak ikan di Desa Kenanga. Dengan adanya program ini juga menjadikan banyak masyarakat yang sebelumnya pasif, sekarang menjadi produktif. Bahkan tidak hanya di ikan gurame saja, tapi juga di usaha-usaha UMKM lainnya,” terangnya.

Menanggapi panen yang berhasil ini, Parni Hadi terus mengajak masyarakat Desa Kenanga untuk terus mengembangkan desa. Menurutnya, Desa Kenanga harus bisa menjadi desa wisata sebagai contoh bagi desa-desa lainnya. Ia juga mengatakan tak segan untuk melibatkan banyak pihak lain dengan syarat masyarakatnya terus mau berkembang. Bersama menteri parekraf, Dompet Dhuafa telah sepakat bergerak bersama membangun desa-desa wisata.

“Akhir Agustus lalu, saya mengundang menteri parekraf untuk bersama mengembangkan program Desa Wisata supaya masyarakat di pedesaan merdeka dari penjajahan kemiskinan. Di Dompet Dhuafa saya sampaikan, untuk memerdekaan Indonesia dari penjajahan kemiskinan, kita harus ada re-orientasi program Dompet Dhuafa. Yaitu arus urbanisasi harus diubah. Desa sekarang sudah menjadi tempat yang tidak menarik, maka kita bangun desa supaya menjadi menarik sehingga masyarakat kota yang akan berbondong ke desa,” terang Parni.

Mewakili Dinas Perikanan, Izuddin juga menanggapi program pemberdayaan ini dengan apresiasi yang tinggi . Ia juga mendukung Desa Kenanga menjadi desa wisata. Pemerintah merasa bangga dengan Dompet Dhuafa dan Desa Kenanga atas salah satu program unggulannya yaitu budidaya ikan gurame.

“Cukup luar biasa hasilnya dari kelompok binaan ini. Pemerintah Daerah sangat mendukung program ini, dibuktikan melalui dinas perikanan dengan memberikan distribusi bibit, hingga pakan. Ini juga menjadi wujud komitmen kami untuk membangkitkan Desa Kenanga menjadi desa wisata. Kenanga ini sudah menjadi ikon Indramayu sebagai sentra produksi kerupuk,” sebutnya.

Benar saja. Beberapa bulan lalu, Dompet Dhuafa telah berhasil mengantarkan produk-produk UMKM binaannya hingga terekspor ke luar negeri. Dompet Dhuafa tentu akan terus berupaya untuk mengembangkan UMKM di Indramayu agar terus maju dan mampu bersaing. Hal ini tentu tak lepas dari kotribusi seorang penggerak UMKM Kabupaten Indramayu, yaitu Darwinah. Ibu Darwinah telah lama berkhidmat bersama Dompet Dhuafa untuk mengangkat kesejahteraan para pelaku UMKM khususnya di Indramayu dan sekitarnya.

Usai panen, para tamu yang hadir, juga masyarakat pelaku UMKM binaan berkumpul di Rumah Edukasi yang dibina oleh Bu Darwinah. Di sana, mereka menggelar acara sarasehan untuk berdikusi guna menguatkan UMKM Desa Kenanga yang kelak akan diwujudkan sebagai desa wisata. (Dompet Dhuafa / Muthohar)

BANTUL, YOGJAKARTA — Berbagai inovasi teknologi selalu ditingkatkan dari tahun ke tahun, Dompet Dhuafa dengan program Tebar Hewan Kurban (THK) #JadiManfaat siap membantu masyarakat untuk bekurban dan membantu roda ekonomi para peternak di sejumlah daerah.

Pengembangan sentra ternak dan tani Dompet Dhuafa, dikembangkan dengan mekanisme pendanaan blended finance untuk memadukan sumber dana zakat produktif, wakaf, dan investasi.

Rabu – Kamis (29-30/06/2022) kemarin, Dompet Dhuafa menggelar agenda dengan tema “Journey to JogjAgroWisata Tebar Hewan Kurban 1443 H #JadiManfaat” ini mengajak para jurnalis hingga blooger untuk melihat sentra tani dan ternak yang dibina dan dibimbing oleh Dompet Dhuafa. Selain melihat langsung program Dompet Dhuafa, para jurnalis dan blogger mendapatkan ilmu tentang pengelolaan manajemen zakat produktif, wakaf dan investasi. Rangkaian kegiatan pertama menuju DD Farm di Kulonprogo, Mina Padi di dusun Polaman, dan Lidah Buaya di Gunungkidul, Yogyakarta.

Potensi pertanian di daerah tersebut memang cukup bagus, maka harapannya Mina Padi meningkat dari sisi hasil padi pertanian kemudian penjualan ikan yang di sawah, dijelaskan Zahron juga mengalami peningkatan.

“Dari awal kita memulai dari 800 meter sekarang 3,5 Ha. Dompet Dhuafa juga membentuk kelembagaan kelompok untuk saling membantu agar saling menguatkan ketika musim tanaman tidak yang kekurangan,” ujar Pimpinan cabang Dompet Dhuafa Yogyakarta, Zahron mengatakan dalam proses Mina Padi kami berperan sebagai fasilitator.

Di sisi lain Program THK Dompet Dhuafa tidak hanya menebarkan hewan kurban semata, tetapi juga memberdayakan para peternak dan petani binaan yang tergabung dalam program Kampung Ternak Nusantara. Dengan kata lain, program THK Dompet Dhuafa adalah perwujudan dari model bisnis sosial yang turut mengangkat perekonomian para peternak binaan yang telah ada selama ini.

Salah satunya dengan meningkatkan daya cipta teknologi maupun edukasi industri peternakan dengan mengembangkan teknologi ASLIS (Teknologi Monitoring Peternakan), ASLIS merupakan teknologi monitoring pertumbuhan berat ternak berbasis IoT yang terkoneksi dengan dashboard khusus untuk membantu pendataan, mitigasi resiko peternakan, hingga menghubungkan data peternakan ke para pemilik. Teknologi masa depan yang akan diperdayagunakan di industri peternakan diharapkan dapat memicu pertumbuhan kualitas maupun kuantitas ternak yang diperdayakan.

“Kebetulan sekarang ini juga sedang ada instalasi alat timbang itu instalasi timbangan namanya ASLIS itu mereka berusaha untuk membuat penjualan hewan kurban itu tidak perlu ketemu masuk ke kandang tetapi bagaimana caranya mereka mendata hewan kurban dengan mudah kemudian nanti masuk ke aplikasi setiap bulan akan ada update tentang hewan kurban tersebut bobotnya fotonya dan sebagainya sehingga jika ada pembeli yang mau beli itu bisa langsung lihat Di HP yang lain tersebut tinggal pilih hewannya dan tahu foto terkininya gitu dan jika mau beli tinggal klik beli, kita akan kerjasama dengan salah satu startup.” Ucap Satiya Jati, selaku Lurah Kandang Dompet Dhuafa Farm.

Selain Peternakan, Dompet Dhuafa mengembangkan Pasar Ikan Mina Padi di dusun Polaman, Sedayu, Bantul, Madu Wanagama dan Lidah Buaya di Gunungkidul, Jogjakarta. Para jurnalis diajak untuk melihat dan praktik langsung di setiap lokasi agar mengetahui cara dan proses pengolaan dari awal hingga akhir.

Dengan adanya agenda “Journey to JogjAgroWisata Tebar Hewan Kurban 1443 H #JadiManfaat” ini jurnalis dikenalkan dengan teknologi ASLIS yang akan digunakan oleh Dompet Dhuafa kedepannya, selain itu juga untuk mensosialisaikan program pemberdayaan dan pengembangan zakat produktif Dompet Dhuafa berbasis pertenakan, pertanian hingga UMKM, juga guna menyebarkan informasi yang akurat kepada peternak dan konsumen terkait identifikasi dan pencegahan wabah PMK pada Hewan Kurban.

Di akhir perjalanan agenda JogjAgrowisata mengunjungi program pemberdayaan Lidah Buaya (Aloe Vera). Widodo, selaku penerima manfaat program Aloe Vera, menjelaskan, “Sebanyak 100 keluarga dari 7 RT di Desa Katongan mendapatkan bantuan berupa 50 benih Aloe Vera setiap keluarga. Sejak saat itu, tumbuhan aloevera mulai menghiasi setiap sudut rumah-rumah di desa tersebut. Karena tumbuh tak kenal musim, para ibu-ibu kini lebih produktif membudidayakan Aloe Vera”.

“Dulu dapat bantuan sebanyak 50 benih Aloe Vera tiap keluarga, yang dapat 100 keluarga di desa ini mas. Jadi tiap rumah pasti ada Aloe Vera. Jadilah disitu desa ini dikenal jadi ‘Desa Aloe Vera’”, pungkas Widodo.

Tidak hanya sampai pemberian benih, Dompet Dhuafa ikut serta menemani pengembangan produk terusan Aloe Vera di Desa Katongan. Melalui diskusi dan beberapa kali ujicoba, akhirnya produk minuman berbahan dasar Aloe Vera lahir. Pengemasan yang dulu sederhana, kini dikemas dengan lebih menarik. (Dompet Dhuafa / DIY)

TULUNGAGUNG, JAWA TIMUR– Pariwisata menjadi sektor yang dapat dijadikan sebagai industri yang potensial sebagai alat pengembangan potensi daerah. Pariwisata juga berpengaruh besar terhadap perkembangan dan kemajuan suatu daerah. Meningkatnya sektor pariwisata akan membuka lapangan kerja dan kesempatan usaha. Peningkatan pendapatan usaha dan pemerintah akan mendorong sektor yang terkait lebih berkembang. Dompet Dhuafa Cabang Jawa Timur menangkap peluang ini, tepatnya di Desa Bono, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, sedang berkembang potensi agrowisata belimbing. Hampir setiap hari libur, tempatnya ini selalu dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun luar Tulungagung.

“Setiap pekan, kebutuhan produk belimbing disini itu kurang lebih 1 (satu) ton Mas, satu bulan antara empat sampai dengan 5 (lima) ton. Sampai hari ini kelompok tani Arta Mandiri masih kekurangan. Jangankan untuk dipasarkan keluar daerah atau sepermarket, untuk pengunjung di sini saja masih kekurangan. Di wilayah Boyolangu ini terdata ada kurang lebih 3.596 pohon, hamipir 50% (persen)-nya dalam kondisi tidak terkelola dengan baik alias mangkrak. Hanya dijadikan pakan ternak, eman bianget (sayang banget) Mas,” terang Udin selaku petani belimbing di Tulungagung.

Atas dasar petensi dan problem ini lah yang melatar-belakangi Dompet Dhuafa hadir di wilayah Tulungagung. Pada Selasa (21/6/2022), Dompet Dhuafa Cabang Jawa Timur meresmikan program Petani Belimbing Berdaya di Desa Bono Kecamatan Boyolangu Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Target dari program ini, diharapkan produksi buah belimbing meningkat dan petani binaan mampu memperoleh tambahan pendapatan dari berbudidaya belimbing. Peresmian program juga dihadiri oleh Muhammad Mujamil (57) selaku Kepada Desa Bono.

“Pelaksanaan program sementara kita awali dengan membantu petani sebanyak 10 orang sebagai penerima manfaat program dengan luasan lahan kurang lebih sekitar 2.940 m² dan sebanyak 330 pohon belimbing. Petani binaan Dompet Dhuafa tidak memulai berbudidaya dari nol, melainkan memperbaiki kondisi tanaman yang saat ini tidak terkelola dengan baik. Jadi bersama praktisi dan ahli pembudidaya belimbing, kami mendampingi para petani menguatkan potensinya kembali”, ujar Kholid Abdillah selaku Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Jatim.

Senada dengan Kholid, selanjutnya Arifin (42) salah satu petani menyampaikan, “ Niki lo Mas sampean tingali, pohon belimbing sehat niki lek dipotong kulite taseh enten kambiume, kebalikane lek pohon belimbing engkang sakit muncul kambiume. Insyallah mas target 3 (tiga) bulan bisa diperbaiki. Mugi-mugi panen berdaya saget medal 1 (satu ton. (Dompet Dhuafa / PR)

BOGOR, JAWA BARAT — Ada yang berbeda pada Sabtu (9/4/2022) sore menjelang berbuka puasa di Zona Madina, Parung, Bogor, Jawa Barat. Hal itu lantaran adanya pagelaran Pasar Berkah Ramadan yang dimeriahkan dengan berbagai kegiatan untuk masyarakat umum. Kegiatan tersebut antara lain Pasar UMKM dan Kuliner, lomba marawis, lomba syiar agama dari anak-anak Paud hingga pasar murah yang bekerja sama dengan Agrenesia dan Dompet Dhuafa.

Konsep yang diusung dalam Pasar Berkah Ramadan kali ini adalah Go Green dan Ramah Lingkungan. Hal ini tergambar saat para pedagang menggunakan kantong belanja berbahan olahan singkong yang lebih mudah terurai dibandingkan plastik. Selain menawarkan berbagai hidangan dan produk unggulan, Pasar Berkah Ramadan ingin mengajak masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan terutama di bulan suci Ramadan.

Menurut Nur Imam selaku penanggung jawab Pasar Berkah Ramadan mengatakan, alasan diadakannya kegiatan ini merupakan bentuk usaha dalam meningkatkan ekonomi masyarakat terutama UMKM yang sempat terpuruk selama pandemi Covid-19. Imam juga menambahkan, kegiatan ini merupakan bentuk respons membantu masyarakat dari harga kebutuhan pokok yang kian meroket.

“Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk meningkatkan ekonomi bagi penggiat UMKM di wilayah Parung, Bogor. Setelah diselimuti pandemi Covid-19 selama 2 (dua) tahun ekonomi turun dan saat ini adalah mulai merangkak ekonomi bagi masyarakat meski beberapa kebutuhan pokok mengalami kenaikan,” jelas Imam di lokasi kegiatan berlangsung.

Selain beragam kegiatan seni dan budaya, Zona Madina juga menggelar Pasar Murah dengan menyediakan 50 paket dalam satu hari. Menggandeng Agrinesia sebagai mitra, program ini sebagai pemenuhan sembako bagi masyarakat di sekitar Zona Madina dikala sejumlah harga kebutuhan pokok merangkak naik di tengah Ramadan tahun ini. Hal ini diungkapkan oleh Ghulam dan Andhika perwakilan Agrinesia,

“program ini terlaksana sebagai bentuk kepedulian bersama di bulan Ramadan ini untuk membantu masyarakat terutama terdampak ekonomi khususnya bahan-bahan pokok yang naik. Sehingga dengan adanya kegiatan ini bisa membantu masyarakat, serta bisa memperkenalkan produk-produk kami saat Ramadan ini,” jelas Ghulam.

“Alhamdulillah kegiatan ini juga terlaksana berkat kerja sama oleh rekan-rekan DD Volunteer yang membantu kegiatan ini serta mengampanyekan Go Green bagi masyarakat dalam kegiatan pasar murah hari ini,” tambah Andhika.

Salah satu peserta dalam kegiatan Pasar Murah yaitu Syahiba merasa senang dengan hadirnya berbagai kebutuhan dengan harga miring. Ketika kebutuhan pokok yang menjulang tinggi di pasaran, dirinya merasa terbantu untuk memenuhi kebutuhan selama Ramadan. Syahiba juga berharap kegiatan ini akan bisa diadakan dilain kesempatan selepas Ramadan.

“Jelas saya sangat terbantu, harganya jauh berbeda dengan di luar yang sedang tinggi-tingginya. Kalau bisa sih kegiatan seperti ini bisa diadakan lagi di waktu ke depan tidak hanya bulan Ramadan saja untuk membantu masyarakat khususnya di sekitar sini,” ungkap Syahiba seusai berbelanja. (Dompet Dhuafa / Arlen)S

JAKARTA — Seluruh lapisan masyarakat baik di Indonesia maupun dunia pastinya merasakan dampak yang ditimbulkan pandemi Covid-19 beberapa tahun ke belakang ini. Walaupun angka kasus mulai berangsur membaik, namun pemulihan beberapa sektor lainnya seperti ekonomi masih berusaha untuk bangkit kembali dari keterpurukan.

Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) digadang-gadang berbagai pihak mampu menjadi solusi untuk membangkitkan ekonomi masyarakat khususnya menengah ke bawah. Tentunya hal ini pun membutuhkan dukungan dari berbagai pihak mulai dari memberikan pembekalan kemampuan hingga aspek permodalan.

Hal ini mendorong Social Trust Fund Dompet Dhuafa untuk memenuhi kebutuhan tersebut dengan melakukan kick off program untuk usaha mikro di kawasan Semesta Hijau Dompet Dhuafa, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, pada Jumat (1/4/2022). Selain sebagai penanda dimulainya program, kegiatan ini juga diisi dengan beberapa pelatihan keterampilan seperti pembuatan jus, kopi, dan ayam goreng.

Sebanyak 30 peserta yang hadir dari Jabodetabek menjadi penerima manfaat dalam program zakat untuk usaha mikro ini. Nantinya juga mereka akan mendapatkan pendampingan dan bantuan modal usaha serta berbagai perlengkapan untuk memulai bisnis. Bantuan ini merupakan hasil kolaborAksi aktif antara Dompet Dhuafa dan Permata Bank Syariah melalui Unit Pengelola Zakat (UPZ) Permata Bank Syariah guna membangkitkan kembali perekonomian masyarakat pasca pandemi Covid-19.

“Saat ini kami sedang menyelenggarakan kick off program zakat untuk usaha mikro yang berlokasi di Jakarta. Pesertanya ini dari Jabodetabek ada 30 peserta, penerima manfaatnya ini mendapatkan bantuan berupa booth untuk usaha ayam goreng dan yang kedua adalah kopi serta ketiga jus. Selain itu ada juga bantuan modal usaha dari Permata Bank Syariah bentuknya adalah arqudu hasan, karena memang baru memulai usaha,” jelas Dodi Subardi selaku Kepala Social Trust Fund Dompet Dhuafa.

Kemudian Dodi juga menambahkan, berbagai pilihan UMKM yang tersedia dipilih lantaran sedang tingginya permintaan dari pangsa tersebut. Harapannya, melalui program ini perekonomian para pelaku UMKM mampu meningkat demi terwujudnya kesejahteraan masyarakat.

“Semoga ini bisa meningkatkan kesejahteraan ya dari program ini, lokasi dari program ini sebarannya luas namun saat ini baru 30 dan Insya Allah ini sesuai dengan zaman seperti ayam goreng dan kopi yang sedang trend di masyarakat,” sambung Dodi.

Ade Budimasnyah salah satu peserta asal Jakarta Selatan terlihat sangat bersemangat dalam mengikuti kegiatan ini. Hal itu terlihat jelas dengan keaktifan dirinya mendengarkan dan bertanya saat para mentor memberikan materi dalam pengolahan produk UMKM. Menurut pengakuannya, setelah kegiatan ini dirinya sudah tidak sabar untuk memulai berbisnis dengan membuka usaha kopi yang sedang digandrungi anak muda ibu kota.

“Pelatihan tadi alhamdulillah berjalan lancar dan bagus sekali karena ini adalah program untuk memajukan para pelaku UMKM yang ada di Indonesia khususnya diri saya sendiri sebagai pelaku UMKM merasa sangat terbantu dengan adanya acara ini. Untuk rencana ke depan Insya Allah setelah adanya bantuan ini saya akan lanjutkan dengan memulai untuk melakukan bisnis. Kebetulan saya dapatnya kopi, kebetulan saya sudah mendapatkan pengalaman, pengajaran, serta pelatihan Insya Allah saya bisa bergerak langsung dan Insya Allah usaha ini bisa maju dan lancar,”

Sebelum meninggalkan lokasi kegiatan, dengan semringah Ade mengucapkan terima kasih kepada Dompet Dhuafa dan Permata Bank Syariah yang telah memberinya kesempatan untuk mendapatkan pelatihan dan bantuan permodalan usaha. “Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk Dompet Dhuafa dan Permata Bank Syariah yang sudah mengizinkan saya untuk mengikuti program ini dan mudah-mudahan ke depannya Dompet Dhuafa dan Permata Bank Syariah sukses selalu. Sukses selalu UMKM Indonesia, sukses untuk semuanya, amin,” pungkas Ade kepada tim di lokasi. (Dompet Dhuafa / Arlen)

TULUNGAGUNG, JAWA TIMUR — Pada Selasa (29/3/2022), Dompet Dhuafa Jawa Timur kembali melaksanakan pelatihan penguatan SDM petani di wilayah Desa Bono, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung. Kegiatan ini dihadiri oleh 14 peserta yang semuanya petani muda. Kegiatan pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas petani muda dalam mengembangkan budidaya belimbing organik di wilayah Tulungagung.

Dari data yang dihimpun oleh kelompok tani setempat, penyerapatan pasar buah belimbing melalui pengelolaan desa wisata per bulan mencapai 8 ton, akan tetapi saat ini masih terkendala kekurangan buah, sehingga sebagian petani mendatangkan belimbing dari tempat lain.

“Ini PR kita semua, belimbing Tulungagung memiliki kekhasan sangat manis ini harus dijaga,” sebut Udin (47) selaku Petani Senior Belimbing di wilayahnya.

Ia melanjutkan, “Saya menyadari bahwa akan ada waktunya regenerasi petani, maka saya berharap melalui kegiatan pelatihan ini mampu melahirkan kader-kader petani muda yang handal. Melek teknologi dan tetap menjaga kelesetarian alam dengan menerapkan budidaya pertanian yang ramah lingkungan”.

Senada dengan pandangan Udin, Kholid Abdillah selaku Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Jawa Timur, mengungkapkan, “Jangan malu menjadi petani, kita harus bisa berinovasi dan kreatif. Dompet Dhuafa berkomitmen mendampingi para petani muda untuk berdaya dan harapannya setelah nanti berhasil, petani yang didampingi saat ini juga mampu mengajak petani muda lainya untuk berdaya di bidang pertanian, khususnya budidaya belimbing organik “. (Dompet Dhuafa / Jawa Timur)

TULUNGAGUNG, JAWA TIMUR — “Program pengembangan belimbing organik ini juga kita melibatkan praktisi yang sudah ahli di bidang pertanian organik, bersama kelompok tani Artha Mandiri yang dulunya juga adalah dampingan program Dompet Dhuafa. Kami komitmen berjuang bersama petani untuk meningkatkan pendapatan. Hal mendasar yang perlu kita benahi adalah SDM,” terang Rizzqi (33) selaku koordinasi program Dompet Dhuafa Jatim.

Ya, Dompet Dhuafa Jawa Timur mengadakan sosialisasi program pengembangan budidaya belimbing organik kepada petani muda di Desa Bono, Kecamatan Boyolangu Tulungagung. Alhamdulillah, sebanyak 11 petani muda yang berasal dari Desa Bono, Waung, dan Moyoketen, antusias mengikuti kegiatan ini.

Kegiatan sosialisasi ini merupakan rangkaian tahapan dari pelaksanaan program pengembangan pertanian belimbing yang rencananya akan terlaksana di Wilayah Tulungagung. Selain sosialisasi, dalam rangka untuk menguatkan komitmen bersama maka dilakukan juga proses penandatanganan kerjasama antara Dompet Dhuafa bersama petani muda binaan.

“Alhamdulillah, kulo remen bianget, mugi-mugi usana bersama niki angsal kasil sae. Saget damel perantara lek kulo pado kasehteraan,” aku Yopi (31) salah satu peserta program. (Dompet Dhuafa / Jawa Timur)