TULUNGAGUNG, JAWA TIMUR — “Saya sendiri mengakui bahwa kehadiran Dompet Dhuafa di sini sangat banyak memberikan perubahan di masyarakat,” ucap Udin, lugas.

Bahkan, lanjut Udin, kini ada banyak pihak yang ikut terlibat, termasuk dinas-dinas pemerintahan. Dalam hal ini, pemantik awalnya adalah Dompet Dhuafa. Kehadiran Dompet Dhuafa diakuinya sangat berdampak langsung pada pola pikir masyarakat Desa Bono, juga berdampak terhadap sektor ekonomi. Dahulu mungkin hanya 20% saja masyarakat yang melek terhadap potensi pertanian, kini sudah lebih dari 50% masyarakat sangat antusias dengan pertanian sebagai upaya peningkatan pendapatan.

Jika pun sekelompok keluarga tidak memiliki lahan kebun, ia dengan yakin memastikan bahwa di samping atau di depan rumahnya ada pohon belimbing. Hal ini karena Udin juga membuka pool penjualan dari setiap pohon belimbing di rumahnya. Sehingga siapa pun, berapa pun banyaknya, apa pun jenisnya, akan ditampung oleh Udin.

Marka Tanah di kawasan program pemberdayaan belimbing Dompet Dhuafa di Desa Bono, Tulungagung.

“Selanjutnya kami yang akan memilahnya kembali sesuai grade-nya. Kami sudah ada pasar serapannya,” sambung pemrakarsa Wisata Desa Belimbing itu.

Saat ini program yang sedang berjalan bersama Dompet Dhuafa Jatim adalah pemberdayaan anak-anak muda desa. Ia mengumpulkan 10 anak muda untuk dibina agar dapat mengelola kebun belimbing. Mereka adalah anak-anak muda yang putus sekolah, menganggur, dan sebagainya. Pak Udin dan Dompet Dhuafa kemudian mencarikan mereka pekerjaan, yaitu lahan-lahan yang terbengkalai untuk dihidupkan kembali.

“Saya yakin dalam hati nurani, mereka punya kemauan untuk menjadi orang bermanfaat. Namun, karena tidak ada yang merangkul, jadi yang orang lihat hanya kebiasaan buruknya saja,” ucapnya.

Inovasi dari salah seorang warga menciptakan menu bakso belimbing.

Kumpulan anak muda ini sepakat menamai kelompoknya dengan nama SAE Farm, sebuah akronim dari Smart Agriulture Education. Pada program kali ini, para penerima manfaat mendapatkan manfaat berupa pelatihan, pembinaan, pendampingan, hingga teknik pemasaran. Masing-masing juga disediakan lahan kebun belimbing yang sudah tidak terurus untuk dibudidayakan. Program ini setidaknya akan berjalan selama 3 tahun. Hingga nanti akan terlihat keberhasilan dan dapat dilanjutkan secara mandiri oleh masing-masing penerima manfaat.

“Prosesnya, (yaitu) tahun pertama pembenahan kebun yang terbengkalai. Namun pada tahap ini, alhamdulillah, sudah banyak yang sudah bisa panen. Baru kemudian tahun berikutnya pembinaan bagaimana pohon belimbing dapat banyak menghasilkan buah dengan kualitas sesuai standar yang sudah kami tentukan,” jelas Pak Udin.

Di salah satu kebun tempat kami berhenti untuk berteduh, kami berjumpa dengan salah satu penerima manfaat dari kelompok “Petani Berdaya”, petani pemberdayaan tahun 2018. Ia adalah Arifin. Bergabung di kelompok ini, ia mengaku mampu memperoleh omset pada kisaran angka Rp10 juta setiap kali panen. Dalam satu tahun, ia mampu melakukan panen sebanyak empat kali. Jika dihitung, Pak Arifin mampu memperoleh pendapatan bersih kurang lebih sebesar Rp1,5 juta setiap bulannya. Angka ini mungkin dirasa sudah cukup tinggi, mengingat UMR Tulungagung hanya sebesar Rp2 juta.

FOTO 3 Pak Arifin memamerkan buah belimbing yang dipetik dari kebunnya.

Kemudian, kami berjumpa dengan Yopi Muhammad Azis (28), salah satu penerima manfaat Program SAE Farm yang saat ini sedang berlangsung. Ia mengaku, usai lulus SMA ia langsung terjun di perkebunan buah belimbing. Melihat semangatnya berkebun, Udin kemudian mengajaknya untuk belajar lebih dalam mengenai budi daya belimbing dengan mengikuti Program SAE Farm.

Dialah yang memiliki inisiatif untuk membuat jus buah belimbing dalam kemasan yang tadi kami nikmati. Idenya ini tercetus lantaran banyak belimbing-belimbing kecil yang harganya jatuh di pasaran. Maka, daripada dibuang, ia memanfaatkannya untuk dijadikan jus buah.

“Sebelum ini, saya memang sudah bergelut di kebun belimbing, dari lulus sekolah. Kemudian diajak Pak Udin gabung di program Dompet Dhuafa,” ucapnya.

Pak Arifin memamerkan buah belimbing yang dipetik dari kebunnya.

Ia pun mengungkapkan bahwa sudah pernah panen sekali. Hasilnya panennya sekitar hampir 4 kuintal buah belimbing.

Udin dengan lugas mengatakan bahwa permintaan buah belimbing di Desa Bono ini sangat tinggi. Bahkan saking banyaknya, tidak jarang ia terpaksa harus meolak permintaan. Maka itu, ia selalu mendorong masyarakat untuk ikut budi daya buah unggulan Tulungagung ini.

“Di sini, rata-rata setiap minggu mampu menghasilkan 1 ton buah belimbing,” sebutnya dengan percaya diri. (Dompet Dhuafa/Muthohar)

Keberhasilan Udin membangun Wisata Desa Belimbing, tak berjalan sesingkat yang dinalar. Kegigihannya dalam membangun pola pikir masyarakat telah melalui banyak lila-liku hambatan. Terlebih, ia hanya seorang lulusan sekolah dasar, yang membuat orang-orang meremehkannya.

Meski begitu, tekadnya untuk belajar dan berkembang sangat lah kuat. Udin mengaku bahwa dahulu ia adalah seorang kutu buku. Meski putus sekolah, namun setiap hari ia datang ke perpustakaan untuk membaca. Ia mendapatkan ilmu tentang pertanian pun dari buku-buku yang dibacanya. Bahkan, Udin rela untuk mengunjungi perpustakaan di daerah-daerah lain untuk mendapatkan buku dan ilmu yang ia ingin dapatkan.

“Saya akui, sekolah saya … ya di perpustakaan. Saya percaya bahwa membaca (buku) adalah jendela dunia. Itu benar,” tegasnya.

Pak Udin mengemas buah belimbing untuk segera dikirim ke pemesan.

Hal yang terus memotivasinya juga adalah nasihat dari kakeknya yang selalu ia pegang hingga sekarang.

“Orang hidup kalau tidak bermanfaat bagi orang lain, lebih baik mati saja,” ucapnya, mengutip nasihat si mbah.

Perkataan bernada kasar itu saya kira wajar. Sebab, saat itu mbah dari Udin adalah seorang yang menjadi pekerja rodi pada zaman kolonial Belanda maupun romusha pada zaman penjajahan Jepang. Udin kemudian menjelaskan maksud dari perkataan mbahnya itu, yang berarti “Karaktermu akan mati jika tidak menjadi orang yang bermanfaat”.

Buah belimbing siap dikemas.
Keceriaan Pak Udin saat bercerita kebunnya baru saja mengalami panen besar.

“Saya meyakini betul pentingnya pendidikan. Maka itu, saya selalu berikan motivasi kepada anak-anak saya untuk terus menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Yang penting dalam pikirannya adalah tentang mau jadi apa, bukan jadi siapa,” tukasnya.

Lagi-lagi, Udin menyampaikan sebuah kalimat kutipan yang menjadi motivasinya untuk terus berkembang. Kalimat itu berisi “Sepotong gelombang tidak akan mampu menjelaskan siapa dirimu bila ia telah menjadi buih di tengah lautan”.

Marka Tanah di kawasan program pemberdayaan belimbing Dompet Dhuafa di Desa Bono, Tulungagung.

Maksudnya adalah, “Apa pun yang kita jalankan itu jangan berharap pujian. Mengalir saja. Karena kalau kita katakan itu pujian, maka kita akan rawan untuk berhenti di situ,” jelasnya.

Pertemuan dengan sosok Udin bagi saya sangat berkesan. Di Dompet Dhuafa, orang seperti Pak Udin ini kami juluki sebagai seorang “Local Hero”. Dia lah pahlawan lokal yang rela mengorbankan waktu dan tenaganya untuk memperjuangkan dan mensejahterakan orang lain. (Dompet Dhuafa/Muthohar)

SEMARANG, JAWA TENGAH — Dompet Dhuafa Jawa Tengah sukses melaunching Program Kantin Kontainer di UIN Walisongo Semarang pada Kamis (5/10/2023). Kantin Kontainer merupakan program beasiswa berbasis pemberdayaan ekonomi yang diberikan kepada para mahasiswa kurang mampu. Program ini hadir sebagai respons dari fenomena banyaknya anak bangsa yang dipaksa untuk rela putus sekolah karena ketidakmampuan ekonomi. Padahal, pendidikan merupakan faktor fundamental untuk menjadi bangsa yang maju.

Selain acara launching di UIN Walisongo Semarang, sebelumnya Dompet Dhuafa Jateng juga telah melaunching program serupa di UIN Salatiga. Kegiatan ini berhasil terwujud berkat kolaboraksi yang terjalin antara Dompet Dhuafa Jateng dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Walisongo Semarang serta dukungan dari BTN Syariah.

Zaini Tafrikhan selaku Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Jateng mengatakan, “Program Kantin Kontainer ini telah memberikan dampak positif kepada kehidupan mahasiswa. Maka kami lanjutkan program ini dengan tujuan memberdayakan potensi mahasiswa di bidang enterpreneur melalui program ini.”

GM Pengembangan Ekonomi dan Kemandirian Dompet Dhuafa, Udhi Tri Kurniawan yang turut hadir dalam acara launching ini berharap agar program ini dapat berjalan secara berkelanjutan, di mana semangatnya tidak hanya membara di satu tahun awal.

“Kami tidak berharap Program Kantin Kontainer ini berjalan satu tahun, kami ingin program ini berjalan sampai dua, tiga, empat tahun dan bahkan seterusnya. Prinsip sustainable ini harus kita terapkan dalam Program Kantin Kontainer. Oleh karenanya, Program Kantin Kontainer ini tidak hanya dikembangkan di tiga kampus di Indonesia, namun juga akan kami replikasi ke 20 kampus di Indonesia. Kami juga berterima kasih kepada Dompet Dhuafa Jawa Tengah yang telah menginisiasi Program Kantin Kontainer yang pertama di Indonesia,” tutur Udhi.

Di sisi lain, Dekan FEBI UIN Walisongo Semarang, Muhammad Saifullah mengatakan bahwa pihaknya mendukung penuh program beasiswa berbasis pemberdayaan ekonomi seperti Kantin Kontainer yang diinisiasi Dompet Dhuafa Jateng ini.

“Kami sangat mengapresiasi Program Kantin Kontainer yang diinisiasi oleh Dompet Dhuafa di FEBI UIN Walisongo Semarang ini. Pihak fakultas akan mengawal program ini dengan baik dan semaksimal mungkin. Program ini sangat positif sebagai media pembelajaran, mengajarkan para mahasiswa pengelola kantin berusaha untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuan mereka dalam mengembangkan usaha yang dijalaninya,” ucap Saifullah.

Hingga akhir tahun 2023, Dompet Dhuafa Jateng menargetkan untuk memiliki tiga titik program beasiswa berbasis pemberdayaan ekonomi tersebut, yakni di UIN Salatiga, UIN Walisongo Semarang, dan yang sedang berlangsung proses pembangunanya di IAIN Kudus.

“Kami mengucapkan terima kasih atas partisipasi dan dukungan dari semua pihak, khususnya para donatur Dompet Dhuafa karena dari zakat yang telah ditunaikan dapat memberi manfaat kalangan mahasiswa dalam bentuk beasiswa berbasis pemberdayaan ekonomi melalui program kantin kontainer ini,” tutup Zaini Tafrikan. (Dompet Dhuafa/Jateng/Ronna)

MALANG, JAWA TIMUR — Geliat perekonomian Desa Tawangsari, Pujon, Malang secara bertahap makin berkembang seiring meningkatnya jumlah warga di wilayah dataran tinggi ini. Sebelumnya, Desa Tawangsari merupakan salah satu kawasan yang terlihat seperti tidak begitu terurus. Peningkatan ini pun dirasa beriringan dengan hadirnya Bumi Maringi Peni (BMP), sebuah kawasan pemberdayaan Dompet Dhuafa yang menghadirkan beragam program holistik melalui kegiatan pemberdayaan ekonomi, pendidikan, kesehatan, dakwah dan budaya.

Salah satu program ekonomi di kawasan terpadu ini adalah pemberdayaan warga sekitar melalui budi daya tanaman lidah buaya (aloevera). Tanaman ini diolah sedemikian rupa menjadi sebuah minuman segar yang diberi nama “SUEGEERRR”. Pelopor sekaligus yang menjadi penanggung jawab pemberdayaan ini adalah Ali Hamdan, seorang ustaz berusia 39 tahun. Program ini merupakan upaya pengimplementasian dana zakat secara produktif.

Proses panen aloevera
Proses pengupasan daging pelepah aloevera.

Program pemberdayaan aloevera ini dimulai sejak awal tahun 2022. Secara resmi, program ini tercatat diluncurkan pada April 2022. Alasan memilih aloevera sebagai objek pemberdayaan adalah karena program serupa telah berjalan baik sebelumnya di Yogyakarta. Selain itu, Malang yang terkenal dengan kawasan wisata dengan berbagai macam olahan makanan dan minuman buah, menjadi potensi pasar yang baik. Di samping itu, minuman segar berbahan dasar aloevera belum tersedia di seluruh Malang.

“Sebelumnya, lahan ini merupakan kebun apel. Kita ada sekitar 1000 pohon apel. Saya mencoba melakukan riset selama sekitar 3 tahunan, ternyata apel itu tidak produktif. Di samping itu, harganya semakin turun dan banyak pesaingnya. Kemudian terinspirasi dari program ekonomi milik Dompet Dhuafa di Yogyakarta yaitu aloevera. Akhirnya setelah melakukan berbagai riset, kami ganti kebun ini menjadi kebun aloevera,” tutur Hamdan mengisahkan.

Proses pengupasan daging pelepah aloevera.

Siang itu, Rabu (23/8/2023), tiga wanita tampak sedang melakukan proses produksi minuman segar aloevera di BMP. Tiga wanita tersebut merupakan penerima manfaat program pemberdayaan ini. Didampingi oleh Hamdan, ketiganya secara kompak dan beriringan mengerjakan tugas-tugasnya dengan cekatan.

Sambil terus mendampingi wanita-wanita itu, Hamdan menjelaskan bahwa tanaman aloevera ini sangat menarik baginya. Sebab, ternyata tanaman dari Jazirah Arab ini dapat dijadikan sebagai minuman segar pengganti nata de coco. Belum adanya produsen yang menjalankan produk ini, menjadikan produk ini memiliki pasar yang masih terbuka sangat luas.

“Produsen minuman segar dari sari buah di Malang memang sangatlah banyak, bahkan menjamur. Namun, saya sudah survey ke mana-mana, di Malang ini ya baru kami ini yang membuat produk minuman segar dari aloevera,” jelasnya.

Nampak gerbang depan BMP di Pujon, Malang.
Proses panen aloevera

Kebun aloevera di BMP saat ini memiliki luas sekitar 1000 meter persegi yang terbagi menjadi 4 kotak kebun. Tanaman berdaging pada pelepah daunnya ini mulai dapat dipanen pada umur 8-12 bulan setelah ditanam. Bagian yang diambil adalah pelepah yang paling tua, yaitu yang berada paling bawah. Sedangkan pelepah yang berada di bagian tengah ke atas dibiarkan saja untuk selanjutnya dipanen di kemudian hari jika sudah tua.

Nantinya, setelah melalui beberapa kali panen atau pengambilan pelepah, batang aloevera akan makin tinggi. Jika sudah terlalu tinggi, maka yang dilakukan adalah memotong batang hingga batas pelepah paling bawah, kemudian menancapkannya kembali ke tanah supaya membuat akar baru. Sedangkan batang dan akar yang sebelumnya dibuang. Ini mungkin sedikit mirip dengan metode tanam stek. (Dompet Dhuafa/Muthohar)

MALANG, JAWA TIMUR — Sistem pola penanaman aloevera sampai menjadi sebuah produk minuman SUEGEERRR dalam kemasan di Pujon, Malang ini sama seperti yang dilakukan oleh Dompet Dhuafa Yogyakarta. Hamdan yang menerapkannya. Kemudian, ia mengembangkannya bersama tiga wanita penerima manfaat pemberdayaan ekonomi dari zakat produktif ini.

Ketiga penerima manfaat tersebut merupakan warga di sekitar Kawasan Bumi Maringi Peni (BMP). Mereka terpilih dari proses perekrutan penerima manfaat yang cukup fair, yaitu dengan menginfokan program ini kepada seluruh masyarakat desa melalui kepala desa serta ketua-ketua RT/RW setempat.

Awalnya, begitu banyak warga yang antusias menmgikuti program ini saat mulai dibuka. Ada sekitar 25 peserta yang terpilih untuk dapat mengikuti pelatihan. Mayoritasnya memang para ibu rumah tangga atau perempuan-perempuan yang hanya tinggal di rumah. Pada kesempatan itu, rangkaian kegiatan pelatihan dimentor langsung oleh Alan Effendi, aktor pemberdaya aloevera di Dompet Dhuafa Yogyakarta.

Proses pemasakan nata de aloevera.
Proses pengolahan aloevera menjadi minuman segar kemasan.
Proses pengemasan nata de aloevera ke dalam kemasan gelas.

“Mereka ikut mendaftar, ikut pelatihan pembuatan minuman segar dari aloevera. Dari sekian peserta, ada 5 peserta yang kami rasa pantas untuk melanjutkan dan bergabung dalam program lanjutan pemberdayaan,” lanjut Hamdan.

Dari 5 orang tersebut dibagi menjadi 2 tim. Tim pertama berisi 3 orang untuk memproduksi produk SUEGEERRR. Kemudian 2 lainnya mengerjakan di rumah masing-masing. Namun untuk bahan dasarnya, yaitu tanaman aloevera disediakan oleh BMP.

Hana (21) yang saat itu sedang memotong-motong daging aloevera menjadi balok-balok kecil menceritakan, dirinya tertarik bergabung di sini karena saat itu ia tidak memiliki kegiatan, atau dalam istilah lainnya “menganggur”. Motivasinya adalah karena ia ingin memiliki aktivitas di luar rumah selain hanya membantu pekerjaan-pekerjaan rumah.

Proses pengemasan nata de aloevera ke dalam kemasan gelas.
Hana di depan rumah produksi SUEGEERRR.

“Saya putus sekolah. Jadinya di rumah itu tidak ada kerjaan. Tidak bisa juga mencari pekerjaan. Jadi saya ikut saja ada pelatihan pembuatan minuman lidah buaya. Alhamdulillah sampai sekarang masih terus di sini,” ucapnya.

Saat ini, selain memproduksi SUEGEERRR, Hana juga sedang mengikuti pelatihan menjahit yang diadakan oleh Institut Kemandirian (IK) Dompet Dhuafa di BMP. Motivasinya untuk berkembang sangat lah kuat, sehingga setiap ada kegiatan pelatihan yang diadakan Dompet Dhuafa di BMP, ia sangat antusias untuk selalu mengikuti. Ada pula Program Guru Hebat yang diadakan BMP untuk sertifikasi guru ngaji dengan metode Ummi. Hana pun mengikutinya dan berhasil lulus.

“Justru senang setiap hari ke BMP. Ikut membuat minuman aloevera, ikut pelatihan menjahit, terus juga ikut ngaji di TPA kalau sore. Malah senang,” imbuhnya. (Dompet Dhuafa/Muthohar)

MALANG, JAWA TIMUR — Selain diproduksi dan dijual sebagai minuman, pelepah-pelepah aloevera juga kadang dibeli oleh beberapa orang yang ingin memanfaatkannya sebagai obat, tanaman hias, atau yang lainnya. Setiap orang yang telah mencicipi produk minuman ini pun mengakui rasa dan kesegarannya.

Sayangnya hingga saat ini, produk ini masih belum bisa dijual lebih luas. Kendala utamanya yaitu SUEGEERR belum memiliki sertifikat BPOM. Padahal sebanarnya, banyak toko yang tertarik untuk memesan minuman ini, namun karena terkendala belum adanya sertifikat BPOM, mereka sementara masih menundanya.

“Itu makanya sekarang ini kami sedang berupaya untuk memenuhi sertifikasi BPOM, sehingga bisa lebih luas menjangkau pasar-pasar, khususnya di kawasan-kawasan wisata yang ada di Malang,” ungkap Hamdan.

Kebun aloevera di Pujon, Malang.
SUEGEERRR dalam kemasan gelas.
SUEGEERRR dalam kemasan gelas.

Meski begitu, setiap bulan setidaknya SUEGEERRR terus diproduksi untuk dijual di Warung Sehat, yaitu sebuah mini market yang juga masih berada di Kawasan BMP. Selain itu, SUEGEERRR juga masuk ke sebuah kedai kopi, yaitu Kopi Sawah yang terletak di kawasan wisata. Bahkan, kedai ini selalu memesan setiap minggunya untuk dijual kembali kepada pelanggan-pelanggannya.

Setiap bulan, ada sekitar 100 botol yang diproduksi sesuai dengan pesanan. Atau jika dihitung kemasan dus karton, terhitung sekitar enam kemasan karton yang masuk ke Kafe Sawan maupun Warung Sehat.

“Pernah menerima pesanan sangat tinggi itu sampai 600 karton pada saat bulan Ramadan. Memang minuman ini sangat segar dan nikmat disajikan pas buka puasa,” cetus Hamdan.

SUEGEERRR dalam kemasan gelas.
Seseorang membeli SUEGEERRR di salah satu minimarket.

Minuman ini dikemas ke dalam dua varian, yaitu kemasan gelas dan kemasan botol. Kemasan gelas kecil dibanderol dengan harga Rp2.000/pcs, sedangkan kemasan botol dibanderol dengan harga Rp10.000/pcs. Biasanya, kemasan gelas dikemas lagi dalam satu pak yang berisikan 6 pcs. Sedangkan kemasan botol dikemas juga dalam satu pak/dus yang berisi 10 pcs.

Setiap proses produksi SUEGEERRR dikerjakan oleh ketiga penerima manfaat tersebut hingga selesai dikemas. Sedangkan untuk perawatan tanaman aloevera dan pemasaran produk dikendalikan oleh Ustaz Hamdan.

Sebab alasan terkendala belum adanya sertifikat BPOM, gaji atau pendapatan yang didapat oleh penerima manfaat pun tergantung dengan pesanan dan hasil penjualan yang diperoleh. Menurut Iklimah, salah satu penerima manfaat lainnya, mengaku pernah mendapatkan pendapatan tertinggi yaitu mencapai Rp1.800.000. (Dompet Dhuafa/Muthohar)

SUMATRA BARAT — Pada Jumat (18/9/2023), Dompet Dhuafa Singgalang meluncurkan Pilantrokopi, sebuah kedai kopi kekinian berbasis pemberdayaan. Kedai baru ini terletak di di Jalan Batang Kampar, Rimbo Kaluang, Kec. Padang. Pilantrokopi merupakan turunan dari unit usaha Koperasi Solok Sirukam, di bawah pengawasan Dompet Dhuafa yang dikelola dari dana filantropi.

Unit usaha ini juga menjadi bagian dari program philantropreneur Dompet Dhuafa yang menggabungkan kewirausahaan yang dikelola secara profesional berbasis filantropi Islam. Selain itu, program ini merupakan hilirisasi program yang sebelumya sudah berjalan sejak enam tahun yang lalu, melalui konsep pemberdayaan petani kopi Solok Sirukam yang juga berkolaborasi dengan YBM BRILiaN.

Hadir pada acara launching Pilantrokopi ini, Hendri Septa selaku Wali Kota Padang, Bambang Suherman selaku Direktur Program Dompet Dhuafa, Pengurus YBM BRILiaN, petani kopi binaan, pengusaha serta komunitas kopi di Kota Padang.

Direktur Program Dompet Dhuafa, Bambang Suherman menyampaikan bahwa unsur filantropi dari program ini adalah terlibatnya SDM yang berlatar belakang kaum marginal.

“Mereka diberikan pelatihan dan pendampingan, sehingga mampu menjalani proses pengolahan kopi dari pascapanen hingga menjadi barista profesional yang kemudian akan dihubungkan dengan mitra-mitra coffee shop yang ada di Sumatra Barat,” terangnya.

Bermitra dengan Dua Pintu Kopi dan Roti Tenong, Pilantrokopi membawa nilai historical Kopi Solok Sirukam dan dampaknya bagi petani kopi di Nagari Sirukam. Nilai historis dan penjagaan atas nilai tersebut bisa dinikmati dalam secangkir kopi, baik di indoor maupun outdoor yang nyaman.

Tak hanya menikmati kopi, pengunjung juga bisa melihat langsung proses pengolahan kopi di roastery dan ke depan akan dibuka kelas-kelas pelatihan pengolahan kopi maupun barista. Selama opening hingga 31 Agustus 2023, para pengunjung atau pelanggan akan mendapatkan diskon sebesar Rp15.000 per transaksi tanpa minimal pemesanan.

Selanjutnya, Pilantrokopi juga akan hadir di berbagai daerah lainnya. Terdekat, Pilantrokopi juga akan hadir di Riau, tepatnya di Jalan Kartama, Kelurahan Maharatu, Pekanbaru. (Dompet Dhuafa/Singgalang/Muthohar)

BANTEN — Dompet Dhuafa Banten menjalin kolaborasi dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEBI) UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten (SMH) untuk Program Pemberdayaan Ekonomi, yakni Kantin Kontainer. Kesepakatan ini dituangkan dalam MoU yang ditandatangani pada Kamis (10/8/2023) di Ruang Rapat Dekan FEBI UIN SMH Banten.

Hadir dalam kesempatan tersebut, Dekan FEBI Prof. Dr. Hj. Nihayatul Masykuroh, M.Si, Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Banten, Mokhlas Pidono, Wakil Dekan I dan III, Ketua Jurusan Ekonomi Syariah, Ketua Jurusan Perbankan Syariah, Kabag TU dan Tim Program Dompet Dhuafa Banten.

Dalam sambutannya, Dekan FEBI UIN “SMH” Banten menyatakan bahwa sinergi ini sangat baik dalam rangka mewujudkan visi dan tujuan besar FEBI, yakni agar mahasiswa mampu mengaplikasikan ilmunya dan bukan hanya sekedar mengetahui teori. Beliau juga menyatakan, sudah menjadi mimpinya untuk berusaha memberi yang terbaik bagi mahasiswanya terutama membantu mahasiswa yang kurang mampu.

“Program food container atau Kantin Kontainer ini tujuannya untuk membantu mahasiswa yang membutuhkan. Tentu menjadi hal yang baik, karena akan menjadi sarana praktik langsung mahasiswa belajar dan bukan sekedar teori, bisa berpenghasilan juga dari jualan di Kantin Kontainer ini,” ujarnya.

Sejalan dengan hal tersebut, Mokhlas Pidono selaku Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Banten memberikan apresiasinya dan sangat berterima kasih kepada FEBI UIN “SMH” Banten atas kerja sama yang terjalin. Menurutnya, kolaborasi kebaikan akan makin menguatkan dan menginspirasi masyarakat untuk terus bergerak melakukan program-program kebaikan.

“Kantin Kontainer ini kan program ekonomi, dibangun dengan tujuan agar mahasiswa terpilih dari keluarga pra sejahtera bisa berpenghasilan dari berjualan di kantin ini, sehingga bisa meringankan biaya kuliahnya. Selain itu, Kantin Kontainer ini juga menjadi sarana belajar langsung mereka mengaplikasikan ilmu yang mereka dapat secara teori di kampus, dukungan Ibu Dekan dan segenap entitas FEBI sangat besar, kami sangat berterima kasih,” ujar Mokhlas.

Kantin Kontainer merupakan program beasiswa wirausaha yang diperuntukkan bagi mahasiswa yang berasal dari keluarga kurang mampu. Mereka diamanahi untuk mengelola kantin yang terbuat dari kontainer. Kemudian, mahasiswa akan mendapatkan beasiswa dari hasil pengelolaan kantin tersebut. Dompet Dhuafa sebagai lembaga pemberdayaan senantiasa berkomitmen untuk mendampingi masyarakat, utamanya kaum duafa, untuk menjadi masyarakat yang berdaya.

Setelah MoU ini ditandatangani, selanjutnya adalah merealisasikan pembangunan Kantin Kontainer. Hal ini tentu harus melewati tahapan-tahapan yang telah disusun sebelumnya. Diharapkan di tahun 2023, Kantin Kontainer di UIN “SMH” Banten sudah bisa beroperasi, dinikmati manfaatnya oleh para penerima manfaat, serta mahasiswa/i yang menjadi konsumen.

Program ini di bangun dari dana zakat yang dititipkan melalui Dompet Dhuafa Banten. Untuk itu, mari kita tunaikan zakat, karena dampak zakat akan sangat terasa, nampak terlihat, berkesinambungan, apabila dikelola dengan baik dan profesional. (Dompet Dhuafa/Banten/Anndini)

SINJAI, SULAWESI SELATAN — Dua sosok anak muda, Ramly dan Mail, yang mendampingi Tim Dompet Dhuafa menikmati sejuk sore di kebun kopi dalam artikel Pengalaman Aliah Sayuti Jadi Petani Kopi Sinjai merupakan penerima manfaat program pemberdayaan Dompet Dhuafa SulSel. Sebelumnya, mereka adalah dua anak muda perantau di Ibu Kota yang kemudian bertekad pulang ke kampung halamannya di Sinjai untuk menjadi petani kopi hingga berani memulai usaha sendiri.

Program Pemberdayaan Ekonomi Kopi Pattongko atau Kopi Sinjai sendiri memiliki tujuan mengekplorasi potensi pertanian yang baik dengan memberdayakan masyarakat melalui inovasi berkelanjutan. Seperti diketahui, dahulu para petani menggunakan teknik pemetikan yang dikenal sebagai “petik rampas,” yakni memetik secara serentak buah kopi sekali tarik. Tindakan itu membuat buah kopi berwarna merah dan hijau tercampur, dan membuat kualitas produk kopi tidak maksimal.

Perlahan, Ramly dan Mail melakukan pendekatan personal dengan edukasi pentingnya teknik pemetikan secara selektif. Buah yang dipetik hanya buah berwarna merah, sehingga didapatkan produk kopi terbaik dan volume yang lebih banyak. Hal ini akhirnya disadari petani kopi, biji kopi yang sebelumnya dihargai Rp2.500 per liter, kini naik menjadi Rp8.500 per liter.

Kopi Sinjai sendiri dibagi menjadi dua jenis, yakni arabica dan robusta. Mail mengenalkan kepada Aliah Sayuti dan Tim Dompet Dhuafa tentang metode penyeduhan V60. Metode ini dipilih agar biji kopi yang nikmat menghasilkan aroma buah-buahan tropis yang kuat.

Pemberdayaan Kopi Sinjai ini juga memperhatikan lingkungan dengan tetap menggunakan pupuk organik. Tujuannya agar kualitas tanah tidak rusak dan ke depannya tanaman kopi tidak mudah mati. Selain itu, juga untuk mencegah terjadinya degradasi tanah akibat pengunaan pupuk kimia secara berlebihan.

Program pemberdayaan Dompet Dhuafa ini pun terus bertambah dan bertumbuh, dari yang sebelumnya hanya memiliki 3 petani, kini menjadi 59 petani kopi. Dari yang sebelumnya hanya sebagai penghasil biji kopi mentah, kini telah bertumbuh menghasilkan kopi terbaik dari Tanah Sinjai.

Lewat Kopi Sinjai, anak-anak para petani kopi belajar cara memetik kopi terbaik. Seiring berjalannya waktu, keinginan masuk ke perguruan tinggi pun mulai muncul dari anak-anak petani kopi itu. Hal ini membuat rumah pemberdayaan kopi tak hanya bicara biji kopi, tetapi juga soal menyejahterakan petani kopi dari segi ekonomi juga pendidikan.

Sahabat, karena amanah zakat anda, Dompet Dhuafa dapat mengembangkan zona pemberdayaan masyarakat di Sinjai. Cita-cita besar dari anak muda yang kembali ke kampung halaman masih terus berlanjut. Upaya kerja sama dan inovasi masih terus dilakukan demi kesejahteraan petani kopi yang lebih baik. (Dompet Dhuafa/Fitin)

SINJAI, SULAWESI SELATAN — Setelah menempuh perjalanan darat selama lima jam dari pusat Kota Makassar, Tim Dompet Dhuafa SulSel bersama Aliah Sayuti, Super Volunteer Dompet Dhuafa, berkunjung ke Perkebunan Pemberdayaan Ekonomi Kopi Sinjai. Di sana, ia bertemu dengan dua sosok anak muda, yakni Ramly dan Mail, yang turut mendampingi tim menikmati sejuk sore di kebun kopi. Pada kesempatan itu, Aliah Sayuti turut mencoba pengalaman memetik kopi. Buah kopi berwarna merah dipilih, biji kopi kemudian dicuci, selanjutnya dikeringkan di Green House.

Biji kopi yang telah kering idealnya memiliki kadar air sekitar 11-12%, diukur menggunakan alat moisture meter coffee. Tahap selanjutnya, kopi dimasukkan ke dalam mesin huller, agar biji kopi bersih dan terpisah dari kulit tanduknya, yang kemudian menghasilkan green bean atau kopi mentah.

Selanjutnya, kopi melalui tahapan grading atau pengelompokkan kopi berdasarkan ukuran dan kondisinya. Kopi yang lolos grading kemudian akan didistribusikan ke kedai kopi, roasting kopi, dan pesanan lainnya. Sedangkan kopi defect akan diolah menjadi bubuk untuk kopi rumahan yang kualitasnya sama-sama terbaik.

Kopi Sinjai sendiri dibagi menjadi dua jenis, yakni arabica dan robusta. Mail mengenalkan kepada Aliah Sayuti dan Tim Dompet Dhuafa tentang metode penyeduhan V60. Metode ini dipilih agar biji kopi yang nikmat menghasilkan aroma buah-buahan tropis yang kuat.

Pemberdayaan Kopi Sinjai ini juga memperhatikan lingkungan dengan tetap menggunakan pupuk organik. Tujuannya agar kualitas tanah tidak rusak dan ke depannya tanaman kopi tidak mudah mati. Selain itu, ini juga dilakukan untuk mencegah terjadinya degradasi tanah akibat penggunaan pupuk kimia secara berlebihan.

Program pemberdayaan ini tentunya terus bertambah dan bertumbuh, yang mula-mula hanya ada 3 petani kopi, kini sudah berkembang menjadi 59 petani kopi. Selain itu, sebelumnya juga perkebunan ini hanya menghasilkan biji kopi mentah, namun kini telah bertumbuh menghasilkan kopi terbaik dari Tanah Sinjai.

Dari Kopi Sinjai, anak-anak petani kopi belajar cara memetik kopi yang terbaik. Seiring berjalannya waktu, keinginan masuk ke perguruan tinggi mulai muncul dari anak-anak petani kopi ini. Hal itu membuat rumah pemberdayaan kopi tak hanya bicara soal biji kopi, tetapi juga menyejahterakan petani kopi dari segi ekonomi juga pendidikan. (Dompet Dhuafa/Fitin)