SUMATRA SELATAN — Bermula dari kegelisahan dan empati terhadap dependensi fasilitas pendidikan daerah Banyuasin, Mustopa Patapa, salah satu alumni Bakti Nusa 2 Lembaga Pengembangan Insani (LPI) Dompet Dhuafa bergerak membangun perusahaan berbasis social enterprise KULAKU Indonesia.

Kembangkan potensi kawasan Banyuasin melalui komoditi kelapa, KULAKU Indonesia berhasil meningkatkan pendapatan petani kelapa dan masa depan anak-anak petani kelapa dengan memberikan beasiswa jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga Perguruan Tinggi.

Founder sekaligus CEO KULAKU Indonesia itu menjelaskan bahwa perusahaan berbasis social enterprise ini dibangun dari nol dan sudah melalui grafik naik turun dalam perjalanannya. Minimnya pendapatan petani kelapa dan susahnya akses pendidikan bagi anak-anak keluarga petani di Kabupaten Banyuasin, Sumatra Selatan menjadi latar belakang berdirinya KULAKU Indonesia.

KULAKU bersama stakeholder terkait menggelar pelatihan pembuatan olahan kelapa bagi masyarakat Desa Muara Sungsang.

Perusahaan yang berlokasi di Palembang ini memiliki program-program yang bertujuan mengedukasi petani kelapa. Melalui kerja sama dengan berbagai stakeholder terkait, program-program tersebut berfokus pada pemberdayaan dan pendampingan petani kelapa serta beasiswa pendidikan bagi anak petani kelapa, mulai jenjang SMP pertama hingga perguruan tinggi. Saat ini, 20 anak petani telah menjadi penerima manfaat KULAKU Indonesia.

“Bermimpi besar harus disertai targetan. Plan, do it and evaluate basic bagi para entrepreneur. Semoga keberadaan KULAKU Indonesia bisa menjadi sarana membesarkan orang lain, terkhusus keluarga petani kelapa Banyuasin,” ucap Mustopa Patapa pada acara Walk The Talk #3: “Learn, Action, Impact”, yang diselenggarakan oleh Lembaga Pengembangan Insani (LPI) Dompet Dhuafa, Sabtu (20/5/2023).

Pemberdayaan dan pendampingan bertujuan mengedukasi petani kelapa agar bisa mengeliminasi kesulitan dalam proses perkembangan perusahaan. Segala upaya telah dilakukan oleh Mustopa bersama anak muda Banyuasin untuk meningkatkan taraf hidup petani kelapa Banyuasin. Mereka meyakini, usaha Tim KULAKU dalam mengubah nilai produk agar lebih bernilai ekonomis tinggi, daripada hanya dijual sebagai komoditi kelapa.

Mustopa Patapa dalam acara Business Forum in Dubai Expo pada 4 Oktober 2021.

KULAKU akhirnya mendapatkan ruang kerja sama dan mendirikan 4 site produksi di Banyuasin. Produk turunan kelapa yang dibuat bersama petani kelapa yakni VCO, CCO, Nata De Coco dan charcoal. Produk tersebut sekarang memiliki pasar nasional dan bisa dinikmati di Palembang, Jakarta, Padang, dan Jambi.

Proyeksi perluasan pemasaran produk KULAKU akan dilakukan di tahun 2023 guna menyasar pasar internasional seperti Malaysia, Jepang, Korea Selatan, dan Nigeria. Bahkan di tahun 2024 nanti, KULAKU menargetkan pemasaran produk-produk turunan kelapa petani Banyuasin (termasuk sabut kelapa yang masih dikembangkan) ke pasar Eropa.

“Pengembangan produk dan pemberdayaan petani harus sejalan visi misi perusahaan. Kami adalah perusahaan social enterprise. Jadi tolak ukur utama perusahaan berkembang adalah meningkatnya kesejahteraan petani kelapa dampingan KULAKU,” tutur alumni Bakti Nusa Palembang tersebut.

Produk VCO oleh KULAKU Indonesia.
Mustopa Patapa menjadi pemateri dalam acara acara Walk The Talk #3: “Learn, Action, Impact”, yang diselenggarakan oleh LPI Dompet Dhuafa pada Sabtu, (20/5/2023).

KULAKU sudah memanen berbagai prestasi di berbagai sektor, salah satunya makin dikenal pasca menjadi perwakilan Indonesia di Dubai Expo 2020 bersama Kementerian Koperasi dan UMKM RI. KULAKU juga mendapat penghargaan dari pemerintah daerah hingga badan internasional seperti UNDP dan Youth Co: Lab Asia and Pacific Summit dan didapuk menjadi perwakilan Indonesia pada forum Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) 2022.

Dompet Dhuafa melalui program Beasiswa Aktivis Nusantara (Bakti Nusa) terus berupaya mendorong generasi-generasi milenial untuk turut memunculkan ide-ide kreatif dalam membangun usaha dengan mengembangkan potensi di wilayahnya berbasis social entreprise. Selain Mustopa, masih banyak keberhasilan dari para alumni Bakti Nusa Dompet Dhuafa yang patut diapresiasi dan diikuti. (Dompet Dhuafa/Muthohar)

SALATIGA — Pada Selasa (23/5/2023) pukul 12.00 WIB, sebuah kampus di Salatiga, Jawa Tengah tampak sibuk dan dipenuhi dengan aktivitas. Apalagi saat jam istirahat makan siang datang, ini adalah momen yang dinantikan oleh para mahasiswa.

Suasana begitu hidup dan riuh, aroma soto dan mie instan yang lezat tercium di udara, menggugah selera. Deretan meja dan kursi terisi penuh dengan mahasiswa yang sibuk makan, tertawa, juga bercengkrama.

Tampak juga seorang pria berusia 24 tahun yang akrab disapa Busro sedang melayani para pembeli di Kantin Kontainer Dompet Dhuafa. Ia merupakan mahasiswa semester 8 jurusan Pendidikan Agama Islam di Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga. Ya, Busro adalah Koordinator sekaligus Pengelola Kantin Kontainer Dompet Dhuafa.

Ahmad Busro Mustofa menghidangkan makanan untuk pembeli Kantin Kontainer.

Lahir dan besar di Purwodadi, Grobogan, Ahmad Busro Mustofa, sukses menjalankan dan mengelola Kantin Kontainer Dompet Dhuafa, yang merupakan program pemberdayaan di bidang ekonomi. Kantin Kontainer ini merupakan program beasiswa wirausaha yang diperuntukkan bagi mahasiswa kurang mampu. Caranya adalah dengan mengelola kantin yang terbuat dari kontainer.

Di kantin yang Busro kelola, ada berbagai pilihan makanan, mulai dari hidangan tradisional yang khas hingga hidangan kekinian. Tiba di Kantin Kontainer Dompet Dhuafa, terlihat antrean panjang memenuhi kontainer. Para mahasiswa berjejer dengan sabar, memilih menu jajanan dan makanan favorit mereka. Hingga kini, Busro dan ketiga timnya memiliki 12 supplier produk makanan yang berasal dari kalangan mahasiswa UIN Salatiga.

Di balik kepiawaiannya mengelola Kantin Kontainer, Busro hanya seorang anak petani yang memiliki tekad dan juga mimpi yang kuat untuk bisa berkuliah. Kedua orang tuanya berprofesi sebagai petani ladang Jagung di Purwodadi.

Ahmad Busro Mustofa selaku Koordinator dan Pengelola Kantin Kontainer Dompet Dhuafa.

Tekad dan semangat Busro, untuk bisa mengenyam pendidikan yang layak sudah tercapai. Melalui program Kantin Kontainer, Busro mengaku merasa beruntung lantaran ini sangat membantu kelancaran kuliahnya. Mengingat kondisi ekonomi keluarganya yang pas-pasan dan belum mampu memenuhi dan membiayai keperluannya selama kuliah, berbagai pekerjaan serabutan pun ia lakoni untuk mencari tambahan pemasukan.

“Saya nunda kuliah setahun, karena di daerah saya kan jarang yang kuliah. Saya ikut kerja bapak, berladang, terus di proyek, kuli bangunan, terus bertekad pengin kuliah, tapi dengan biaya sendiri. Sudah tekad dari rumah seperti itu. Walaupun pas awal merantau juga bingung mau ngapain,” terang Busro.

Lebih lanjut, sebelum berjodoh dengan Kantin Kontainer Busro mengaku sempat bekerja sebagai ojek online. Hingga akhirnya ia mendapat informasi mengenai perekrutan pengelola kantin, pasalnya untuk mengelola Kantin Kontainer dan menjadi penerima manfaat harus melewati berbagai tahap dan seleksi.

Ahmad Busro Mustofa selaku Koordinator dan Pengelola Kantin Kontainer Dompet Dhuafa

“Terus saya lanjutin narik ojol (ojek online), dipinjami akun teman, karena kalau nggak kerja saya nggak jajan di sini. Terus akhirnya ada rekrutan Kantin Kontainer, saya daftar terus kami (ikut) seleksi,” tambah Busro kepada Dompet Dhuafa.

Semangat dan tekad itulah yang akhirnya berhasil mengantarkan Busro mendapat beasiswa, ia berhasil menembus keterbatasan. Di samping itu, melalui Kantin Kontainer Dompet Dhuafa sebagai lembaga pemberdaya masyarakat menginginkan adanya keahlian entrepreneur untuk mahasiswa.

“Karena mau beda, orang tua pernah bilang kalau ibu lulusan SD anak lulusan SMP, itu orang tua sukses. Kalau orang tua lulusan SMA anak bisa sarjana itu orang tua sukses, makanya saya ambil kuliah untuk mengangkat derajat orang tua,” terangnya.

Busro menerangkan bahwa sejak awal semester ia telah membiayai kuliahnya sendiri berkat jerih payah yang ia lakukan juga dukungan dari Dompet Dhuafa.

Mahasiswa-mahasiswi UIN Salatiga menikmati hidangan sambil bercengkrama di Kantin Kontainer Dompet Dhuafa.
Mahasiswa-mahasiswi UIN Salatiga menikmati hidangan sambil bercengkrama di Kantin Kontainer Dompet Dhuafa.

“Itu terasa dampaknya, di segi ekonomi sangat terasa dan sangat manfaat sekali karena kalau saya pribadi hasil di sini saya fokuskan ke UKT. Jadi, ini tempat bersejarah juga nanti buat portofolio. Semua teman-teman yang wisuda foto di sini dari 2017,” lanjutnya.

Sempat berhenti beroperasi selama 2 tahun akibat adanya Covid-19, Busro bersama ke tiga orang dalam timnya berhasil mengembalikan kejayaan Kantin Kontainer Dompet Dhuafa. Kini, Kantin Kontainer mampu mencapai omzet berkisar Rp1.500.000 per hari. Sementara perminggu Kantin Kontainer mampu mengantongi omzet sebesar Rp6.000.000 hingga Rp7.000.000. Pendapatan tersebut mampu melunasi pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) Busro dan kawan-kawan.

Hasil dari keuntungan Kantin Kontainer tersebut kini digunakan sebagai operasional kantin dan gaji mahasiswa yang menjadi pengelola. Selain itu, sebanyak 2,5 persen dari keuntungan kantin dibayarkan sebagai zakat melalui Dompet Dhuafa.

Mahasiswa-mahasiswi UIN Salatiga sedang mengantre untuk menikmati hidangan di Kantin Kontainer Dompet Dhuafa.

“Omzet perhari 2000-2500, biasanya kami potong 1.000 untuk potong supplier, berarti tinggal 1,500. Kalau per minggu ya berarti dapet 6000-7000 omzet, belum profit, kalau profit bersih kita simpan, kadang di angka 3000 per minggu, dan kondisi mahasiswa juga pengaruh,” tutup Busro.

Dompet Dhuafa berfokus dalam membangun kemandirian ekonomi dan sosial masyarakat duafa. Sebagai lembaga pemberdayaan masyarakat, Dompet Dhuafa telah berkontribusi secara signifikan dalam meningkatkan kesejahteraan dan memberikan kesempatan yang lebih baik bagi mereka yang kurang mampu. (Dompet Dhuafa/Anndini)

SALATIGA, JAWA TENGAH — Pandemi Covid-19 menyebabkan Kantin Kontainer Dompet Dhuafa di Salatiga hiatus selama dua tahun. Namun tepat di akhir tahun 2022, salah satu program pemberdayaan ekonomi yang dicetuskan Dompet Dhuafa Jawa Tengah itu telah kembali beroperasi.

Ya, Kantin Kontainer merupakan program beasiswa wirausaha yang diperuntukkan bagi mahasiswa yang berasal dari keluarga kurang mampu. Mereka diamanahi untuk mengelola kantin yang terbuat dari kontainer. Kemudian, mahasiswa akan mendapatkan beasiswa dari hasil pengelolaan kantin tersebut.

Idealnya, Program Kantin kontainer dikelola oleh 10 mahasiswa yang berasal dari keluarga kurang mampu, yang memiliki kecerdasan dan semangat berwirausaha. Hal tersebut yang membuat mereka dipercaya untuk mengelola keuangan kantin sepenuhnya.

“Program Kantin Kontainer akan diberikan kepada mahasiswa kurang mampu yang belum mendapatkan beasiswa di lingkungan pendidikan tempat Kantin Kontainer tersebut didirikan. Lokasi Kantin Kontainer bisa di kampus-kampus yang ada di Jawa Tengah, sesuai dengan persetujuan dengan mitra,” kata Irfan Mahyuddin selaku Penanggung Jawab Pemberdayaan Ekonomi Dompet Dhuafa Jawa Tengah.

Bertengger di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Pendidikan UIN Salatiga, pada Selasa (23/5/2023), memasuki jam makan siang, kantin dipenuhi oleh mahasiswa. Ada yang ingin mengisi perut, ada yang berdiskusi atau sekadar bercengkrama. Hingga saat ini, program tersebut telah memberdayakan puluhan mahasiswa yang mana di antaranya mendapatkan manfaat sebagai pengelola kantin dan telah memiliki 12 orang supplier produk makanan.

“Kantin bantuan dari Dompet Dhuafa baik itu dari sisi kontainer, bantuan permodalan. Kemudian kantin itu dikelola oleh para mahasiswa kami dengan kriteria tertentu. Para konsumen pun kami juga akhirnya mendapatkan fasilitas bisa untuk sarapan, untuk makan siang. Kami perwakilan dari kampus mengucapkan banyak terima kasih dengan bantuan yang berupa Kantin Kontainer ini, ternyata memang sangat bermanfaat bagi anak-anak kami yang punya semangat dan punya prestasi, namun tidak beruntung dari sesi ekonomi, dan bisa membantu agar mereka tetap eksis bisa kuliah sampai selesai dan bisa menghidupi dirinya sendiri,” ungkap Siti Asdiqoh selaku Wakil Dekan III Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Pendidikan UIN Salatiga.

Tak hanya beasiswa, mahasiswa juga akan belajar terkait pengelolaan usaha, sehingga jiwa dan kemampuan di bidang entrepreneurshipnya meningkat. Harapannya, para penerima manfaat terutama mahasiswa ini mampu menyelesaikan kuliah dengan beasiswa yang ia terima, juga ke depan bisa menjadi sosok yang tidak sekadar mencari kerja namun bisa menciptakan lapangan kerja berbekal dari pengelolaan usaha kantin yang pernah dilakukan.

Kantin Kontainer UIN Salatiga sendiri dikelola oleh tiga mahasiswa terpilih dan seorang Ibu Kantin yang membantu. Terdapat beragam snack dan makanan ringan seperti gorengan, roti, mie instan, nasi bakar, hingga soto yang siap disajikan di kantin tersebut.

Beroperasi mulai pukul 07.00 hingga 16.00 WIB, Kantin Kontainer ini mampu mencapai omzet berkisar Rp1.500.000/hari. Sementara per minggu, Kantin Kontainer mampu mengantongi omzet sebesar Rp6.000.000 hingga Rp7.000.000. Pendapatan tersebut mampu melunasi pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) para mahasiswa, bahkan bisa mengantarkan mereka menjadi sarjana.

Dampak positif dari adanya Kantin Konatainer Dompet Dhuafa ini dirasakan betul oleh Ahmad Busro Mustofa, Koordinator sekaligus pengurus Kantin Kontainer UIN Salatiga.

“Salam hangat dan rasa syukur kami sampaikan kepada Dompet Dhuafa atas bantuan yang telah diberikan. Terima kasih atas kepedulian dan kontribusi yang luar biasa dalam membantu kami. Bantuan yang telah diberikan tidak hanya memberikan kelegaan materi, tetapi juga memberikan harapan dan semangat baru bagi kami. Dengan bantuan ini, kami merasa didukung dan diberi kepercayaan untuk memulai kembali dan menciptakan masa depan yang lebih baik,” ungkap Busro.

Dompet Dhuafa sebagai lembaga pemberdayaan senantiasa berkomitmen untuk mendampingi masyarakat utamanya kaum duafa untuk menjadi masyarakat yang berdaya, mengubah mustahik menjadi muzaki. Dompet Dhuafa tentu membutuhkan dukungan dari berbagai pihak untuk bisa menjalankan dan mengelola dana Ziswaf secara produktif.

“Kami (Dompet Dhuafa) bersama UIN Salatiga merasa kerja samanya itu benar-benar enak. Karena dari kampus itu selalu mendukung, jadi kita nggak dibiarkan jalan sendiri, didampingi, ada pendampingan dan support-support yang lain. Makanya ini bisa jalan, karena saya yakin sebagian kontribusi dari kampus,” tutur Irfan.

Diharapkan program ini dapat membantu meringankan kebutuhan ekonomi bagi mahasiswa dan masyarakat duafa tersebut dan mengasah jiwa kewirausahaan, sehingga meningkatkan perekonomian untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Program kantin kontainer bisa juga diaplikasikan di terminal, rumah sakit, dan juga tempat-tempat lainnya yang prospek dengan tujuan membantu memberdayakan kaum duafa baik mahasiswa maupun masyarakat umum di bidang wirausaha. (Dompet Dhuafa/Anndini)

JAKARTA — Dompet Dhuafa menggelar acara Kick Off 60 Kawasan Mandiri & Berdaya (MADAYA) bertempat di Rumah Wijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada Jumat (14/4/2023). Acara ini sekaligus sebagai ajang diskusi yang diikuti oleh berbagai pihak dengan tema “Peningkatan Kualitas Hidup Masyarakat Melalui Optimalisasi Sumberdaya Lokal yang Terintegrasi dan Berkelanjutan.”

Hadir sebagai pembicara, Rahmad Riyadi selaku Ketua Pengurus Dompet Dhuafa, Bambang Suherman selaku Direktur Program Dompet Dhuafa, Ramli Usman selaku Pendamping Program Desa Kopi Sinjai, Rizki Oktavianus selaku Manager Umum & TJSL PT. Kimia Farma, serta turut hadir lembaga-lembaga amil zakat dan awak media.

Pada kesempatan itu, Rahmad Riyadi menyampaikan, program ini merupakan upaya Dompet Dhuafa dalam menyalurkan dana masyarakat dengan lebih efektif melalui cara pemberdayaan. Saat ini, pemberdayaan ditingkatkan dan dimaksimalkan agar bisa menjangkau lebih luas, yaitu dalam bentuk sebuah Kawasan Madaya.

Kawasan Madaya dikembangkan sebagai program multi tematik yang meliputi 5 pilar, yaitu ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial, budaya dan dakwah. Khusus pemberdayaan ekonomi, kawasan yang diberdayakan adalah kawasan yang memang memiliki syarat-syarat yang bisa dikembangkan dan bisa berkelanjutan.

“Pada pemberdayaan ini yang Dompet Dhuafa tekankan adalah bagaimana nilai tambah dari sektor riil itu bisa konkret dan memberikan dampak pada masyarakat,” terang Rahmad.

Kawasan Madaya Dompet Dhuafa melakukan pendekatan intensifikasi program pemberdayaan masyarakat berbasis kawasan yang telah ditetapkan perimeternya, baik berbasis geografi ekologis maupun administratif pemerintahan. Kawasan ini nantinya juga akan menjadi kawasan tanggap bencana dan model bagi pengelolaan berbasis kesadaran lingkungan serta adaptasi perubahan iklim.

Implementasinya, program ini menggunakan metode pendekatan filantropreneurship, yaitu program dengan tiga tahapan, yakni pendampingan mustahik, penguatan kelembagaan kemitraan, dan aliansi nasional social enterprise.

Kawasan pertama yang diinisiasi adalah kawasan pemberdayaan ekonomi yang memberikan kepastian terbentuknya sumberdaya bagi pembiayaan program tematik lainnya. Selanjutnya kawasan dikembangkan menjadi kawasan pendidikan, khususnya pendidikan fungsional yang berhubungan langsung dengan komoditas ekonomi yang dikembangkan. Setelah itu dilanjutkan dengan pengembangan program pendidikan berbasis institusi pendidikan formal yang ada di lokasi kawasan.

Tahap setelah itu adalah pengembangan kawasan sehat, di mana seluruh kawasan dikelola dengan penguatan perilaku sehat masyarakat berbasis promotif, preventif, dan kuratif. Program kesehatan Ini bekerja sama dengan faskes yang terdapat di lokasi kawasan untuk mengelola 10 isu kesehatan Indonesia, dan bertujuan menghasilkan kader-kader sehat di kawasan.

Pengembangan terakhir adalah kawasan pengembangan lingkungan dan budaya. Dalam program ini, kesadaran lingkungan berbasis adaptasi terhadap perubahan iklim dan kesiagaan bencana dikembangkan menjadi sistem sosial di masyarakat. Selain itu, juga menggunakan pendekatan budaya lokal yang memperkuat akar kekeluargaan dan ikatan sosial masyarakat.

Terdapat 14 indikator capaian, sehingga dapat dikatakan sebagai Kawasan Madaya, yaitu:

  1. SDM Terampil mengelola komoditas
  2. Kelompok Pemberdayaan
  3. Kelembagaan Ekonomi Masyarakat
  4. Pusat Belajar Masyarakat
  5. Sekolah Bintang
  6. Kader Pendidikan
  7. Penyelesaian Isu kesehatan
  8. Jumlah Kader sehat
  9. Peta Kesehatan Masyarakat
  10. Pertumbuhan aset wakaf
  11. Kawasan tanggap bencana
  12. Kelembagaan kearifan budaya
  13. Valuasi Aset wakaf Produktif
  14. Revenue wakaf

Hingga saat ini, sudah ada 24 kawasan yang dibina oleh Dompet Dhuafa, namun masih dengan temanya masing-masing. Belum ada yang mencakup kelima tema/pilar dengan 14 indikator di atas. Sehingga, ke-24 kawasan ini lah nantinya yang akan dikembangkan lebih dulu menjadi Kawasan Madaya, kemudian menyusul 36 kawasan lainnya.

“Sebelumnya, Dompet Dhuafa telah berhasil menjalankan program pendayagunaan zakat berbasis spot dan isu kemiskinan. Jumlah program cukup banyak dan tersebar di banyak titik. Akibatnya adalah sebaran program hanya mampu mengubah tema per tema, skala perubahannya pun kecil-kecil. Untuk kawasan pemberdayaan sendiri Dompet Dhuafa saat ini memiliki 24 kawasan binaan, namun masih secara tematik,” terang Bambang, Direktur Program Dompet Dhuafa.

Di antara protofolio program pemberdayan Dompet Dhuafa berbasis kawasan yang hingga kini terus berkembang adalah Program Kopi Solok Sirukam, Sumatra Barat; Sekolah Literasi Indonesia (SLI) di Kabpaten Gowa, Sulawesi Selatan dan Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT; Kawasan Sehat Desa Gili Gede Indah, Lombok Barat, NTB yang berkolaborasi dengan PT Kimia Farma.

Rizki Oktavianus selaku Manager Umum & TJSL PT Kimia Farma mengatakan, “Kami memiliki komitmen bahwa kami terus memberikan kualitas kesehatan kepada masyarakat. Kami senang sekali bertemu dengan Dompet Dhuafa membuat program yang bernama Kawasan Sehat yang letaknya ada di Gili Gede, Lombok. Di sana kami sediakan sebuah kapal yang bernama Klinik Apung untuk memberikan layanan kesehatan ke pelosok-pelosok pulau kecil yang sulit terjangkau”.

Semakin bergulirnya waktu, semakin banyak pula program yang digulirkan di kawasan ini. Bahkan, bukan hanya bidang kesehatan saja namun juga kegiatan sosial maupun lingkungan. Sampai saat ini, Kimia Farma dan Dompet Dhuafa terus melakukan komunikasi untuk terus mengembangkan kawasan ini menjadi sebuah kawasan yang terintegrasi, bukan hanya pada sektor kesehatan saja, namun juga dengan pendidikan, ekonomi, sosial budaya, dan dakwah.

Pendamping Program Desa Kopi Sinjai, Daeng Ramli turut menceritakan kisahnya bersama Dompet Dhuafa menggugah warga Sinjai. Bermula dari keresahannya pada tahun 2015, yang saat itu bekerja untuk memperkenalkan sebuah produk kopi. Tercetus dalam benaknya bersama teman-temannya, “Lah kok kita mengenalkan kopi orang, sedangkan kita sendiri punya kopi khas daerah kita sendiri.”

Akhirnya pada tahun 2017, ia bersama teman-temannya memutuskan untuk kembali ke daerah asalnya di Sinjai untuk memulai mengenalkan dan mengembangkan pemberdayaan kopi khas Sinjai. Mulanya yang diberdayakan hanya ada 3 petani kopi, kemudian bertambah menajdi 5, bertambah lagi menjadi 10, bertambah lagi menjadi 22, kemudian 40, dan sekarang ada 52 petani.

“Kami ajarkan para petani kopi bagaimana memperoses biji kopi, sehingga memiliki nilai jual yang tinggi,” jelasnya.

Untuk mewujudkan Kawasan Madaya ini, tentu Dompet Dhuafa tidak dapat bekerja sendirian. Kolaborasi serta masukan-masukan dari berbagai pihak sangat dibutuhkan untuk berhasil mencetak muzakki-muzakki baru dari yang sebelumnya mustahik.

“Semaksimal mungkin, kita bisa menggandeng berbagai pihak sehingga kita berharap dari sistematika yang ada, program ini dapat menjangkau banyak daerah yang mungkin sekarang potensi sudah ada namun hanya perlu sentuhan pemberdayaan dan pendampingan,” kata Rahmad.

“Ini tidak dirancang ekslusif hanya bagi Dompet Dhuafa, namun kami membuka ruang bagi semua pihak, termasuk mahasiswa-mahasiswa yang sedang melakukan penelitian atau komunitas-komunitas marjinal,” imbuh Bambang. (Dompet Dhuafa/Muthohar)

BOGOR — Pada Minggu (2/4/2023), Direktur Mobilisasi Sumber Daya Dompet Dhuafa, Etika Setiawanti meresmikan program Madina Green House di Kawasan Terpadu Zona Madina Dompet Dhuafa, Parung, Bogor. Program ini hadir dari hasil kolaborasi Dompet Dhuafa dengan PT Audy Mandiri Indonesia dan PT Alif Techno Farm. Peresmian ini dilakukan sekaligus dengan panen perdana melon hidroponik yang dikelola di Madina Green House Dompet Dhuafa.

Madina Green House Dompet Dhuafa sendiri merupakan program budidaya melon hidroponik yang dirancang sebagai sarana bagi anak-anak muda untuk belajar pertanian, khususnya pertanian melon. Adanya Green House di Kawasan Zona Madina ini guna menghasilkan produk-produk berkualitas yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan bermanfaat bagi masyarakat, terutama mustahik atau penerima manfaat yang hari ini menjadi bagian dari proses produksi Green House Zona Madina.

Etika Setiawanti turut mengapresiasi sinergi kebaikan yang terjalin antara Dompet Dhuafa dan PT Audy Mandiri Indonesia. Harapannya, kolaborasi ini makin luas, sehingga makin banyak penerima manfaat yang merasakannya dan makin banyak pula mustahik yang menjadi muzaki.

Abdur Rohman, salah satu penerima manfaat sekaligus pengelola Madina Green House saat memanen melon.
Sambutan oleh Etika Setiawanti, Direktur Mobilisasi Sumber Daya Dompet Dhuafa.

“Senang sekali rasanya bersama PT Audy Mandiri Indonesia dalam rangka launching dan panen perdana melon di Green House kami Zona Madina, Kawasan Terpadu Dompet Dhuafa. Kami ingin menunjukkan bahwa program ini salah satu wujud pengelolaan dana Ziswaf yang kami himpun dari seluruh lapisan masyarakat, donatur yang telah berkontribusi dengan Dompet Dhuafa,” ungkap Etika.

Founder PT Audy Mandiri Indonesia, drg. Aynie Yunita mengatakan bahwa Dompet Dhuafa selalu transparan dalam kolaborasinya bersama PT Audy Mandiri Indonesia. Menurutnya, proyek ini mendapatkan hasil yang sangat baik. Ia juga berharap bisa benar-benar memberikan dukungan untuk segala pilar yang ada di Dompet Dhuafa.

“Kita banyak men-support beberapa pilar dari Dompet Dhuafa dan alhamdulillah kita happy banget. Dengan kerja sama kita selama ini, bisa dilihat bahwa dari apa yang kita support tuh benar-benar kita bisa dapatkan transparansinya. Kita bisa melihat perkembangannya secara langsung juga, very innovative dan oke banget. Ke depannya kita sangat recommend juga ke yang lain untuk bisa menyalurkan dana CSR-nya dikolaborasikan dengan kita. Thank you sudah bantu kita bermanfaat buat masyarakat banyak,” imbuh drg. Aynie Yunita.

Parni Hadi, Ketua Dewan Pembina Yayasan Dompet Dhuafa Republika saat menyampaikan sambutan dalam Launching Madina Green House.
Ketua Dewan Pembina Yayasan Dompet Dhuafa Republika, Parni Hadi melakukan pemetikan melon perdana didampingi oleh Bambang Suherman, Direktur Program Dompet Dhuafa.

Bersamaan dengan hal tersebut, launching Madina Green House ini dihadiri pula oleh Parni Hadi selaku inisiator sekaligus Ketua Dewan Pembina Dompet Dhuafa. Parni menjelaskan bahwa program yang diinisiasi harus memakmurkan kaum duafa, dan juga memiliki dampak yang signifikan.

“Memakmurkan kaum duafa, kita adu program, adu pintar, adu manfaat. Jika bermanfaat dirasakan oleh mustahik, oleh kaum miskin yang sengaja kita ingin muliakan,” ujar Parni dalam sambutannya.

Madina Green House memiliki luas 15×6 meter dan membutuhkan 65-70 hari untuk panen. Setelah diuji menggunakan alat pengukur kemanisan refraktometer brix, melon hidroponik yang dikelola Dompet Dhuafa sudah mencapai angka 12 dari 14. Selain itu, melon hidroponik ini juga menggunakan teknologi smart farming yang diadopsi dari Australia, yang setelah diuji coba mendapatkan hasil yang maksimal. Udhi Kurniawan, General Manager (GM) Zona Madina mengungkapkan, Madina Green House menggunakan dua metode, yaitu drip irrigation atau sistem irigasi tetes dan sistem katup nutrisi pintar.

“Kita menggunakan dua metode pengairan, pertama adalah metode drip irrigation yang kedua adalah katup nutrisi pintar (KNP). Metode yang kedua adalah metode yang masih sangat jarang digunakan di Indonesia, mengadopsi metode pengairan dari Australia. Jadi, alat yang kami sebut (KNP) diproduksi di Australia, lalu kita hadirkan di sini dan akan kami uji cobakan dan kami melihat hasilnya cukup bagus. Kita akan set up Green House yang lebih besar, agar semakin banyak mustahik yang terlibat dalam proses produksi dan manfaatnya juga bisa mereka rasakan,” terang Udhi.

Pemotongan pita sebagai tanda peresmian Madina Green House Melon Hidroponik oleh Dompet Dhuafa dan perwakilan PT Audy Mandiri Indonesia.
Salah satu penerima manfaat Madina Green House saat ikut memanen melon.

Adanya Madina Green House ini, selain untuk menunjukkan pada kaum muda bahwa bertani itu suatu pekerjaan yang menyenangkan, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang produktif dan bisa memberdayakan para mustahik. Salah satu orang yang merasakan dampaknya adalah Abdur Rohman. Sebelumnya, Abdur belum memiliki pekerjaan dan merasa terbantu dengan adanya program ini. Tak hanya meningkatkan perekonomian, bagi Abdur, program ini juga menambah wawasannya di bidang pertanian atau perkebunan hidroponik

“Tertariknya itu saya pengin belajar, menambah ilmu di bidang pertanian. Karena sebelumnya itu belum tahu yang namanya hidroponik, saya tahu lebih kekinian gitu. Jadi, pada saat itu emang lagi di rumah, tidak bekerja kemudian alhamdulillah dapat tawaran di sini dan berjodoh dengan Dompet Dhuafa,” ungkap Abdur Rohman, penerima manfaat sekaligus pengelola Madina Green House.

Penyerahan secara simbolis santunan kepada anak yatim oleh PT Audy Mandiri Indonesia.

Pada siklus pertama, Madina Green House memilih dua komoditas melon, yaitu golden aromatic minion dan golden emerald inthanon. Berdasarkan data di lapangan, dua komoditas melon ini memiliki nilai jual yang sangat tinggi. Dampaknya, Dompet Dhuafa memiliki komoditas unggulan dan dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat atau mustahik yang menjadi penerima manfaat dari program ini.

Kegiatan ini kemudian dilanjutkan dengan pemberian santunan kepada anak yatim oleh PT Audy Mandiri Indonesia. (Dompet Dhuafa/Anndini)

INDRAMAYU, JAWA BARAT — Dompet Dhuafa dan The Harvest melakukan panen ikan gurame di Tambak DD Farm Indramayu pada Rabu (15/3/2023). Panen kali ini dihadiri dan disaksikan oleh Kepala Social Trust Fund (STF) Dompet Dhuafa Dodi Subardi, Donatur Dompet Dhuafa, Dr. Hajat Santoso, Kepala Desa Kenanga, Darpani, dan Wakil Ketua Pokdakan Darul Arqam Mutualism, Badrudin.

Pada kesempatan ini, Dodi selaku Kepala STF mengatakan, pelaksanaan panen ikan gurame ini sebagai bagian dari rentetan plaksanaan program Tarhib Ramadan Dompet Dhuafa. Salah satunya yaitu dengan program pemberdayaan ekonomi melalui program pemberdayaan ikan gurame di Desa Kenanga, Indramayu.

Kolam yang dipanen saat ini sebanyak 2 kolam yg merupakan donasi dari donatur The Harvest dengan total penerima manfaat sebanyak 6 orang.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada para donatur yang telah mempercayakan penyalurannya melalui kami serta Pokdakan Darul Arqam Mutualism sebagai pelaksana program perikanan. Tak lupa pula, kepada stakeholder terkait khususnya Kades Kenanga,” ucap Dodi.

Tim Dompet Dhuafa bersama tim The Harvest dan para penerima manfaat program.

Program ini telah dimulai sejak tahun 2019 dengan bantuan sebanyak satu kolam. Tahun berikutnya bertambah menjadi dua tambak. Pada tahun 2021, program ini mendapat bantuan dari donatur sebanyak 8 tambak. Kemudian di tahun 2022 kembali mendapatkan bantuan sebanyak dua tambak dari The Harvest.

Selain program perikanan, Dompet Dhuafa juga melaksanakan program pelatihan UMKM dan pembuatan kemasan UMKM pada tahun 2022.

Hajat Santoso menceritakan, sepanjang perjalanan ke lokasi kolam, ia melihat potensi desa yang luar biasa. Mulai dari ikan gurame yang kaya protein hewani serta buah-buahan dan sayur-sayuran seperti mangga, kangkung, timun suri dan pepaya yang kaya akan vitamin dan zat besi yang ditanam di sekeliling kolam. Potensi ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat, khususnya dalam upaya mencegah stunting.

“Ini merupakan potensi desa yang perlu dikembangkan, khususnya dalam pemenuhan dan peningkatan kesehatan masyarakat,” cetusnya.

Proses pemanenan ikan gurame dari tambak.

Kades Kenanga, Darpani turut menyampaikan rasa syukur dan terima kasih Dompet Dhuafa dan para donatur yang telah mensuport program ini bagi masyarakat Desa Kenanga. Ia menyebutkan bahwa Desa Kenanga semakin berkembang dan sejahtera dengan adanya budidaya ikan gurame ini.

“Kami berharap, Dompet Dhuafa dan donatur bisa mendampingi kami selalu dalam mensejahterakan masyarakat. Pengembangan ini merupakan salah satu bentuk kesuksesan inisiasi program ikan gurame dalam pemanfaataan lahan yang kurang produktif dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Saat ini potensi yang ada lebih kurang 62 kolam yang siap untuk dikembangkan dan butuh support dari stakeholder terkait. Selain itu, saat ini kami berusaha mengembangkan potensi desa lainnya berupa pakan ternak (domba, sapi, unggas) melalui limbah jagung,” jelasnya.

Senada dengan Pak Kades, Badrudin menyebutkan bahwa Desa Kenanga ini memiliki potensi atas pengelolaan empang. Ia bersyukur sejak 2019 lalu Dompet Dhuafa hadir untuk membantu pemberdayaan masyarakat desa melalu program perikanan.

“Kami dari Pokdakan Darul Arqam Mutualism mengucapkan terima kasih kepada donatur Dompet Dhuafa atas bantuan yang telah diberikan selma ini kepada anggota Darul Arqam khususnya dan masyarakat Desa Kenanga pada umumnya,” ucapnya. (Dompet Dhuafa/STF/Muthohar)

TASIKMALAYA, JAWA BARAT — Pada Jumat (31/3/23), Dompet Dhuafa melalui Koperasi Konsumen Social Trust Fund (STF) Jembar, bekerja sama dengan UPZ DK (Unit Pengelola Zakat Dana Kebaikan) PermataBank Syariah, meresmikan pembukaan sentra peternakan ayam pedaging organik yang berlokasi di Desa Sukasetia, Kecamatan Cisayong, Tasikmalaya.

Acara yang berlangsung secara hybrid ini dihadiri oleh beberapa perwakilan Dompet Dhuafa, Ketua Koperasi STF Jembar, Casmedi, Ketua Kelompok Ternak, Agus M. Gozali, Kepala Desa Sukasetia, Tatang Saputra serta para penerima manfaat lainnya. Hadir pula melalui zoom meeting, Habibullah selaku Ketua UPZ DK PermataBank Syariah, Marketing Communication PermataBank Syariah, Frieza Diana, dan Operasional UPZ DK, Nina Marliani.

Peresmian ini dilakukan secara simbolis dengan menggunting pita dan mengunjungi salah satu kandang untuk melihat langsung situasi ayam ternak yang masih berusia dua minggu.

Dari kiri-kanan: Armie Robi (SO Program Pengembangan Ekonomi Dompet Dhuafa), Tatang Saputra (Kepala Desa Sukasetia), Casmedi (Ketua Koperasi STF Jembar), Agus M. Gazali (Ketua Kelompok Ternak).

Armie Robi selaku SO Program Pengembangan Ekonomi Dompet Dhuafa mengatakan, terselenggaranya program ini adalah berkat kerja sama dengan UPZ DK PermataBank Syariah yang telah berkenan memberikan amanah kepada Dompet Dhuafa untuk menjalankan program pemberdayaan ternak unggas, seperti tahun lalu.

Adapun jenis ayam yang dikelola oleh peternakan ini adalah ayam organik. Menurut penjelasan Armie Robi, ayam organik tidak menggunakan bahan kimia pabrik, melainkan pakan ayam yang sehat. Ia juga menceritakan bahwa karena yang dikelola ayam organik, maka tidak ada bau menyengat di sekitar kendang.

“Saya sudah berkunjung ke salah satu kandang yang dikelola oleh kelompok ternak itu. Tidak ada bau yang menyengat, peternak juga mungkin mengalami sendiri ternak yang dikelola di kandang itu tidak seperti layaknya ternak konvensional, di mana jarak dua atau tiga meter sebelum kandang biasanya sudah bau menyengat,” ujar Armie.

Kondisi ayam yang ada di peternakan Desa Sukasetia, berusia sekitar dua minggu.

Armie juga menyampaikan harapannya, semoga program tersebut bisa memberikan manfaat dan bisa membangkitkan masyarakat kita lagi dari kondisi keterpurukan pasca Covid-19.

“Insyaallah ini bisa menjadi pahala buat donatur-donatur kita,” ungkapnya.

Ketua Koperasi STF Jembar, Casmedi turut menyampaikan harpannya, semoga dengan adanya program peternakan ayam organik, bisa menjadi sebuah solusi bagi peternak ayam ke depannya dan bisa membantu memulihkan perekonomian.

“Karena memang pasca Covid-19 kami rasakan bagi pelaku UMKM sangat terasa sekali dampaknya. Tapi mudah-mudahan ke depannya dengan wasilah pertemuan ini, semua sektor ekonomi bisa Allah bangkitkan kembali dan mudahkan kembali,” terang Casmedi.

Terkait hal ini, Tatang Saputra sebagai Kepala Desa Sukasetia juga menyampaikan pesannya, “kita harus bangkit setelah dua tahun perekonomian hampir lumpuh akibat Covid-19. Oleh karenanya, kami selaku pemangku kebijakan insyaAllah bisa membantu, supaya program ternak ayam organik bisa berkembang dan kelak bisa membantu perekonomian di Tasikmalaya.”

Agus M. Gazali selaku Ketua Kelompok Ternak juga turut menyampaikan bahwa melalui program ini, ia ingin peternakan terus berlanjut.

“Kami tidak muluk-muluk ingin mengejar pendapatan yang besar, kami hanya berharap semoga peternakan ini bisa berlanjut, bahkan mungkin tidak hanya dirasakan oleh kami, namun juga oleh anak cucu kami kedepannya. Kami juga terus berusaha terus berproduksi ayam dengan baik dan sehat, itu merupakan salah satu usaha kami untuk menghasilkan produk yang halalan toyiban,” Agus menjelaskan.

Turut hadir, Habibullah selaku ketua UPZ DK PermataBank Syariah, via zoom meeting.

Peternakan ayam organik juga disambut baik oleh para peternak, salah satunya oleh Koko (70). Ia menyampaikan “Alhamdulillah saya merasa bangga dan girang (senang), mudah-mudahan bantuan Dompet Dhuafa dan PermataBank Syariah berlanjut, terutama untuk anak-anak muda, mengingat saya ini sudah tua, semoga menjadi keberkahan,” ucap Koko penuh harap.

Turut hadir juga Hasbullah selaku Ketua UPZ DK PermataBank Syariah, ia menyampaikan selengkapnya bahwa dana yang diperoleh untuk setiap program bersama Dompet Dhuafa berasal dari dana zakat dan dana kebajikan Permata Bank Syariah.

“Dana yang kami peroleh berasal dari zakat dan dana kebajikan. Dana zakatnya sendiri berasal dari Permata Bank Syariah, semisal kami ada laba dan keuntungan maka 2,5% kami sisihkan untuk zakat, selain itu juga zakat dari karyawan dan juga nasabah. Adapun Dana Kebajikan berasal dari nasabah kami yang dikenai sanksi atau denda untuk mendisiplinkan, maka kami jadikan lagi sebagai pendapatan, namun kami kembalikan lagi kepada masyarakat dalam bentuk program-program pemberdayaan, seperti yang kita launching bersama dengan Dompet Dhuafa hari ini,” tutur Hasbullah.

Foto bersama dengan peternak, anggota STF Jembar, dan perwakilan dari Dompet Dhuafa.

Menutup sambutan kegiatan ini, Hasbullah juga menyampaikan harapannya, “Kami UPZ DK mengucapkan terima kasih kepada Dompet Dhuafa karena telah membantu kami menyalurkan dana yang kami himpun kepada masyarakat yang membutuhkan. Semoga dana yang disalurkan melalui program-program yang ada bermanfaat bagi semuanya dan berkah bagi donatur, PermataBank Syariah. Serta bisa berjalan dengan baik, lancar, dan menghasilkan keuntungan yang berkah juga. Semoga juga bisa menciptakan peternak-peternak ayam lainnya dan semakin banyak masyarakat yang terbantu dengan program ini,” pungkasnya.

Launching program ayam ternak organik kemudian dilanjutkan dengan gunting pita sebagai simbol bahwa program tersebut resmi dibuka dengan sejuta harapan baik dari donatur, penyelenggara, dan mereka para peternak. Menjelang berbuka puasa, acara pun masih berlanjut dengan sesi ramah tamah dari Dompet Dhuafa dengan para peternak yang ingin berdiskusi lebih lanjut hingga waktu berbuka puasa tiba, yang sekaligus menjadi penutup kegiatan tersebut. (Dompet Dhuafa/Awalia R)

LEMBANG, BANDUNG – Dompet Dhuafa mengajak 21 donatur dan mitra kebaikan untuk mengunjungi program pemberdayaan ekonomi. Ya, Desa Tani yang berlokasi di desa Cibodas, Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Kegiatan care visit dilaksanakan selama 2 hari sejak Selasa-Rabu, (24-25/1/2023).

Desa Tani sendiri merupakan salah satu program pemberdayaan ekonomi Dompet Dhuafa dengan upaya pengentasan kemiskinan melalui pengembangan pertanian sayur. Petani dari kelompok masyarakat miskin, diberdayakan untuk mengelola lahan pertanian dengan skema pendampingan.

Kawasan pemberdayaan pertanian berbasis  sayur tersebut menjadi salah satu upaya pengelolaan dana ZISWAF dari Dompet Dhuafa. Selama dua hari, para donatur dan mitra kebaikan diajak untuk melihat secara langsung pengelolaan Desa Tani. Sebelum mengunjungi Desa Tani, mereka juga diajak untuk menikmati  keindahan dan kemegahan Masjid Al Jabbar  di Jl. Cimencrang, Gedebage, Kota Bandung, Selasa (24/1/2022).

Hari kedua, Rabu (25/12022), udara sejuk menyeruak ketika para donatur tiba di lahan 10 hektar tersebut, lahan hijau yang dipenuhi sayuran segar sejauh mata memandang. Di sana dipaparkan secara gamblang mengenai perkembangan Desa Tani sejak berdirinya di tahun 2018 hingga saat ini dengan total 50 penerima manfaat. Para donatur dan mitra kebaikan diajak melihat langsung bagaimana petani milenial dengan memanfaaatkan teknologi Smart Farming.

“Kemudian teknologi pertanian kita terapkan di sini, salah satunya di sana ada greenhouse, ini salah satu teknologi pertanian yang kita terapkan di Desa Tani. Kita menggunakan teknologi smart farming (IoT) Internet of Things. Di sini nyiramnya sudah pakai smartphone, sehingga bisa diotomatisasi, terjadwal nyiram dan ngasih pupuknya, bisa juga secara manual,” kata Andriansyah, Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Jawa Barat.

Lebih lanjut, menurut Andriansyah, Care Visit bertujuan mengajak para donatur dan mitra kebaikan untuk mengenal lebih dekat dengan para penerima manfaat dan mengetahui program-program khususnya dalam pemberdayaan ekonomi.

Tidak sampai di situ, para perseta dibuat kagum dengan kemajuan teknologi yang dimiliki Desa Tani Dompet Dhuafa, bahkan dengan sistem ini  tingkat produktivitas lebih banyak dibandingkan dengan pertanian konvensional. Menurut Pendamping Program Desa Tani, Ade Rukmana, kedepannya Desa Tani akan menerapkan AGRO EDUFARM yang harapannya bisa menjadi tempat edukasi sekaligus pemberdayaan dibidang pertanian yang dapat mengajak generasi muda turut andil memajukan pertanian khususnya di Desa Tani.

Berdaya di Tanah Sendiri menjadi doa dan semangat untuk para petani serta atas dukungan para donatur, Desa Tani terus berkembang pesat. Dari awal hanya menggarap 1,2 hektare lahan. Kini setiap petani menggarap sekitar 2.250 meter persegi lahan Desa Tani. Itu terwujud karena kolaborasi banyak pihak, diantaranya Yayasan Baitulmal BRI, PLN, Pertamina, Prudential dan sebagainya.

“Alhamdulillah di tempat ini sekarang bukan pertanian aja, integrated farming sudah kita lakukan mulai dari pengolahan lahan, penyediaan bibit, budidayanya, SOPnya, packagingnya seperti apa sampai distribusi ke kota sudah kita lakukan,” tambah pria yang akrab disapa Mang Ade.

Setelah para peserta menyimak pemaparan mengenai Desa Tani, mereka diajak untuk berkeliling tanah seluas 10 hektar untuk melihat langsung open field yang sedang ditanami para petani,  rumah semai, packaging house, greenhouse dan lahan pertanian konvensional. Bahkan para peserta diajak untuk memanen berbagai sayuran seperti kembang kol, selada, buah beet, brokoli, bawang daun dan masih banyak lagi yang hasil panennya dapat dibawa pulang.

Siang itu, meski gerimis membasahi, para donatur dan mitra tetap antusias dan semangat untuk memanen sayuran. Peserta dibagi menjadi 4 grup yang akan berkeliling ke 4 titik di Desa Tani, setelah selesai memanen para peserta menuju packaging house untuk mengemas sayuran dan dibawa pulang. Mereka pun tampak ceria penuh suka cita memamerkan hasil panennya.

“Seru banget karena pertama kali bisa ngerasain langsung, rasanya berkebun di Lembang dan ketemu juga mitra-mitra dari Dompet Dhuafa yang lain dan donatur Dompet Dhuafa juga. Ternyata lebih besar dari perkiraan (Desa Tani).  Alhamdulillah mau dibangun masjid juga, tempatnya enak banget, walaupun hujan cuacanya dingin banget tapi kita seru aja sih, karena kan bareng-bareng kelilingnya,” terang Karin, partnership amalsoleh.com. kepada Dompet Dguafa. (Dompet Dhuafa/Anndini)

JAWA TIMUR – Dompet Dhuafa Jawa Timur bersama Pemerintah Desa Gondang dan Desa Bendungan, Kecamatan Gondang, Kabupaten Tulungagung, menggandeng komunitas SRI Organik Nuswantara untuk menyelenggarakan pelatihan pertanian padi organik. Pelatihan diselenggarakan di Balai Desa Bendungan, Kecamatan Gondang, Tulungagung, selama 4 hari (23-26 Januari 2023).

Dengan dihadiri oleh 50 peserta, Fokus pelatihan ini yakni pembelajaran ekologi tanah dan System of Rice Intensification Organik. Seteah itu kemudian dilanjutkan dengan program sekolah lapangan serta pendampingan selama 6 bulan.

Manager Program Dompet Dhuafa Jawa Timur, M. Rizky Aladib menjelaskan, program pelatihan padi organik ini diadakan karena para petani resah dengan kualitas tanah yang menurun akibat penggunaan pupuk dan pestisida kimia yang berimbas pada hasil panen yang menurun.

“Kami sebagai petani sekarang itu merasa kesulitan untuk bertani, harga pupuk naik, kualitas tanah semakin buruk, cuaca tidak menentu dan ternyata setelah dihitung-hitung, kami ini selama bertani tidak ada keuntungan yang bisa dinikmati,” ujar Pak Sanusi, petani dari Desa Bendungan.

Senada dengan apa yang disampaikan para petani, Suryanto, S.Kep., Ns. selaku Kepala Desa Bendungan mengamini kondisi yang dialami petani di Wilayah Bendungan.

“Saya itu hampir selalu dicurhati masyarakat terkait kondisi pertanian yang tidak menguntungkan petani, padahal masyarakat Bendungan dan Gondang ini menggantungkan hidup ya dari pertanian. Imbasnya kalau masalah pertanian ini tidak segera ada solusi, pastinya akan berdampak pada kesejahteraan ekonomi dan sosial masyarakat,” ujarnya dalam sambutan pembukaan kegiatan pelatihan.

Kepada seluruh peserta, Rizky Aladib berharap semoga pelatihan yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa Jawa Timur dan komunitas SRI Organik Nuswantara ada dampak langsung yang bisa dirasakan oleh petani. Semoga ada kesadaran dan pemahaman baru mengenai proses pertanian yang berkelanjutan serta memberikan keuntungan yang signifikan bagi kesejejahteraan sosial dan ekonomi petani, khususnya di Desa Gondang dan Desa Bendungan.

“Mari sama-sama belajar dan membuka pikiran untuk hal baru, meskipun kita sebagai petani yang sudah lama berkecimpung di dunia pertanian. Namun, dalam proses belajar, kita harus mengosongkan gelas agar bisa menerima dari ilmu tersebut,” pesannya untuk peserta pelatihan. (Dompet Dhuafa/Jatim/Nunik)

JAKARTA — Hari pertama pagelaran Indonesia Giving Fest – Zakat Expo 2022 pada Jum’at (23/12/2022), berlangsung dengan meriah dan penuh keseruan di Tennis Indoor Senayan, Jakarta. Sebanyak 199 Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) anggota Forum Zakat (FOZ) dari seluruh Indonesia, hadir untuk menunjukan dampak positif dari Gerakan Zakat melalui program-program yang inovatif. Dompet Dhuafa pun tak kalah berperan aktif dalam festival kebaikan terbesar se-Indonesia ini.

Bambang Suherman selaku Ketua Umum FOZ menjelaskan tujuan utama dari diselenggarakannya festival kebaikan pertama dan terbesar di Indonesia ini. Indonesia Giving Fest – Zakat Expo 2022 dimaksudkan untuk meningkatkan eksposur bagi para Gerakan Zakat yang dilakukan oleh seluruh OPZ Anggota FOZ.

“Ada tujuan besar dari hadirnya eksibisi ini, pertama tentu saja untuk mengangkat eksposur berbagai produk lembaga zakat dan para amil terbaiknya melalui berbagai program unggulan. Indonesia Giving Fest – Zakat Expo 2022 ini juga ingin mengajak masyarakat untuk lebih dalam lagi mengenal lembaga zakat dan dampak yang telah dilakukan,” jelas Bambang.

IGF – Zakat Expo dibuak dengan menekan tombol pembukaan di layar.\

Selanjutnya, Indonesia Giving Fest – Zakat Expo 2022 diharapkan mampu menjadi wadah interaksi bagi masyarkaat dan OPZ selaku pengelola zakat secara langsung. “Selama ini sesama lembaga zakat hanya bertemu dari forum dan semacamnya, akan tetapi melalui kegiatan ini semuanya bisa saling melihat dan saling mengukur produk yang telah dihasilkan. Tentunya ini bisa meningkatkan kualitas dari produk-produk lembaga zakat satu sama lain. Kita semua berharp kegiatan ini menjadi pijakan yang baik untuk menguatkan Gerakan Zakat ke depan,” pungkas Bambang.

Mengusung tema The Superb Beginning of Zakat Expo 2022 di hari pertama, Indonesia Giving Fest – Zakat Expo 2022 diresmikan langsung oleh Drs. H. Tarmizi Tohor, MA selaku Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Bimas Islam Kemenag RI.

“Kami menyambut baik kehadiran LAZ (Lembaga Amil Zakat) dan keikut sertaannya dalam membangun Gerakan Zakat di Indonesia. Indonesia Giving Fest – Zakat Expo 2022 yang diadakan oleh FOZ merupakan langkah yang tepat untuk memberikan edukasi generasi muda dalam tata kelola zakat dan kontribusinya dalam pengentasan kemiskinan di Indonesia,” tutur Tarmizi.

Bambang Suherman menyampaikan sambutan pada pembukaan IGF – Zakat Expo 2022.

Senada dengan hal tersebut, Dr. Taufik Hidayat, M.Ec. selaku Direktur Eksekutif Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) memberikan apresiasi digelarnya acara ini. “Kami mengucapkan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada Forum Zakat atas inisiatifnya dalam menggelar Indonesia Giving Fest – Zakat Expo 2022 dengan meningkatkan ekspos dan gotong royong. Kegiatan ini kami harapkan dapat berdampak bagi Gerakan Zakat Indonesia untuk kepentingan para mustahik. Ini adalah repesentatif Indonesia benar-benar layak dianugerahkan negara paling dermawan di Dunia,” ucapnya.

Usai seremoni pembukaan, Dompet Dhuafa mendapatkan sebuah penganugerahan Zakat Awards 2022 dalam kategori Program Ekonomi Terbaik dengan programnya yaitu Desa Tani: Berdaya di Tanah Sendiri. Penghargaan ini disampaikan langsung oleh Dr. Taufik Hidayat.

Setelahnya, Dompet Dhuafa juga mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan sesi Public Expose 2022 mewakili seluruh OPZ lainnya. Tema yang diangkat pada Public Expose 2022 adalah Islamic Philanthrophy, Sustainable Development Goals. Sesi ini juga mencakup Annual Report 2022 Dompet Dhuafa dengan tema No One Left Behind (SDG’s Awardee) – Berdayakan Mereka untuk bangkit Bersama. Sesi ini disampaikan langsung oleh Direktur Komunikasi dan Aliansi Strategis Dompet Dhuafa Bambang Suherman.

Di samping itu, Dompet Dhuafa juga berkontribusi mengisi pemeran-pameran program strategisnya, mulai dari pemberdayaan ekonomi, layanan kesehatan, layanan sosial, pendidikan, hingga budaya. (Dompet Dhuafa / Muthohar)