MAGETAN — Awal tahun baru, membawa raut muka bahagia di wajah masyarakat Singolangu, Desa Sarangan, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan. Pasalnya pada Selasa (7/1/2020) lalu, telah diresmikan program Agrowisata Kawasan Kampung Susu Lawu Singolangu. Program tersebut merupakan sinergi Pemerintah Kabupaten Magetan dengan Dompet Dhuafa.

Acara peresmian Kampung Susu Lawu Singolangu dihadiri oleh seluruh jajaran Pemkab Magetan, mulai dari Dinas Pariwisata, Dinas Peternakan, Dinas Perhubungan, Dinas PU dan juga masyarakat setempat. Semua semangat bersinergi untuk membangun masyarakat Magetan lebih berdaya.

Di sela peresmian tersebut juga dilaksanakan santunan bagi adik-adik di Kampung Singolangu. Kemudian juga ada kegiatan Posyandu yang dilanjutkan dengan diskusi dengan masyarakat. Tujuan dari diskusi tersebut dalam rangka untuk menampung ide dan masukan dari para tokoh masyarakat.

“Alhamdulillah, saya mewakili masyarakat Singolangu, mengucapkan terima kasih kapada Pemkab Magetan dan Dompet Dhuafa. Karena telah peduli untuk meningkatkan kesejahteraan kami. Meskipun pembangunan Kampung Susu Lawu Singolangu masih dalam proses. Tapi kami sudah merasakan dampaknya sekarang. Hasil olahan susu kami mulai mengalami peningkatan penjualanya. Melalui pembuatan taman dan gambar-gambar kekinian yang menarik wisatawan. Sehingga banyak yang datang untuk berswafoto di sini. Kami senang sekali,” ucap Mbah Wo, sapaan akrab beliau.

Mendengar testimoni yang disampaikan oleh Mbak Wo, Parni Hadi, selaku Inisiator dan Dewan Pembina Dompet Dhuafa berkata, ” Yang kami berikan ini adalah bagian dari amanah donatur. Dengan program pemberdayaan kami yakin dapat membantu masyarakat dalam mencapai kesejataraan. Tentu masyarakat dan pemerintah juga harus bergotong-royong agar semunya bisa berjalan dengan lancar dan berkah untuk semua. Kedepan, bersama dengan Pak Prowoto Bupati Magetan dan jajaranya, kita akan bangun beberapa project. Di antaranya adalah instalasi air, UPPO-Unit Pengolahan Pupuk Organik dan Program Aksi Layanan Sehat (ALS). Kenapa kok ada ALS, ini penting sekali bahwa masyarakat harus sehat. Jadi kalau ingin berdaya ya harus sehat jasmani”. (Dompet Dhuafa)

SOLOK, SUMATERA BARAT — Sirukam, adalah sebuah Nagari (Kecamatan) yang terletak di Kecamatan Payung Sekaki, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Wilayah perbukitan tersebut, berada pada ketinggian 1.300 MDPL dengan suhu udara rata-rata 16 derajat celcius. Dalam bahasa Minang, Sirukam, diyakini berasal dari kata ‘Suruakkan’ yang berarti ‘Sembunyi’.

“Zaman penjajahan dulu, Nagari Sirukam memang menjadi salah satu tempat persembunyian dan perlindungan yang aman bagi pribumi. Dari situlah dinamakan Sirukam,” ungkap Abdul Rahman, Pendamping Program Unit Solok Dompet Dhuafa Cabang Singgalang.

Nagari Sirukam memiliki jarak 35 kilometer dari pusat Kabupaten Solok atau dapat ditempuh dengan waktu sekitar satu jam perjalanan darat menggunakan kendaraan roda empat. Menuju Sirukam, perjalanan juga dilalui dengan kelok berliku dan tanjakan.

Ya, di bukit persembunyian tersebut, terdapat banyak potensi alam yang tersembunyi pula. Sepanjang perjalanan, suguhan pemandangan alam hijau seperti sawah dan kebun banyak terdapat di sana. Mulai dari tanaman Padi, Bawang, Jagung hingga Kopi, tumbuh subur di sana. Kopi Arabica Solok kian menjadi komoditas unggulan nan banyak peminatnya.

“Tak hanya kopi robusta, jenis arabica juga menjadi salah satu komoditas unggulan Kabupaten Solok, yang diperluas area tanamnya di daerah dataran tinggi Sirukam,” seru Abdul.

Berangkat dari hal tersebut, Dompet Dhuafa melihat, mencari, juga menggulirkan rekomendasi program pemberdayaan ekonomi zakat produktif melalui Call For Proposal Project Dompet Dhuafa Cabang Singgalang.

Dompet Dhuafa terus berupaya untuk memandirikan para penerima manfaatnya dengan prinsip ‘dari mustahik menjadi muzaki’. Hingga pada 2018, Dompet Dhuafa Cabang Singgalang melakukan assesment pada pengembangan pertanian kopi di Sirukam, Solok, untuk menebarkan luasnya manfaat bahagia berzakat bagi para penerima manfaat maupun para donaturnya.

“Jadilah di 2019, Dompet Dhuafa menggulirkan program pemberdayaan pada Kelompok Tani Sirubuih Indah Nan Jaya, dengan anggota kelompok berjumlah 25 orang. Berupa penyediaan fasilitas kelompok mulai dari bibit hingga tempat pengolahan pasca panen (pulper house, rumah pengeringan, huller, gudang). Tentunya juga menyediakan peran pendampingan dan pembinaan bersama mitra Koperasi Solok Radjo selama 1-2 tahun, membantu dalam pemasaran hingga pengolahan limbah menjadi pupuk kompos,” terang Hadie Bandarian, selaku Pimpinan Dompet Dhuafa Cabang Singgalang, pada Selasa (17/12/2019).

Pada Rabu hingga Jum’at (18-20/12/2019), Tim Dompet Dhuafa kembali menulusuri lokasi pemberdayaan pertanian kopi di Jorong (Desa) Kubang Nan Duo, Nagari Sirukam, untuk menilik para perawat hasil alam dibalik potensi tersembunyi dari bukit persembunyian tersebut. (Dompet Dhuafa/Dhika Prabowo)

SOLOK, SUMATERA BARAT — Kabut pagi khas perbukitan menyelimuti rimba wilayah Nagari (Kelurahan) Sirukam, Kecamatan Payung Sekaki, Kabupaten Solok. Matahari masih tertutup. Tanah merah yang becek tak membuat langkah kaki Samsinar (57) berhenti. Menuju perkebunan, wanita paruh baya itu menelusuri ladang kopi-nya yang masih basah dari warisan hujan, Rabu (18/12/2019).

Usai menjalankan ibadah Dzuhur, asap panas dari secangkir kopi seduhan Samsinar, melengkapi suasana siang hari nan dingin itu. Perbincangan sederhana bersama Tim Dompet Dhuafa di sebuah pondok kayu itupun, membawa pada sebuah alur memori semangat juangnya. Bagi Samsinar, merawat tanaman kopi itu bak merawat anak sendiri. Melakukan dengan teliti, setiap hari, dan sepenuh hati dalam berbagai kondisi.

“Sebelum pondok yang sekarang ini ada, kami (Samsinar dan suami) cari kayu untuk membuat pondokan kecil. Ditutup pakai plastik sebagai atap, untuk berteduh dan istirahat dari panas dan hujan,” kenang Samsinar.

Ia menceritakan salah satu momen terhujam hujan yang lebat disertai angin kencang ketika bertani. Air masuk ke dalam pondok. Atap plastik rusak, diganti, sobek lagi. Hingga pondok kecil andalan di tengah kebun kopi Jorong (Desa) Kubang Nan Duo itu roboh diterjang badai.

“Saya sudah kebasahan dalam kondisi lelah dan sangat ngantuk. Saya cuma bisa nangis karena sudah sangat kedinginan,” tutur Samsinar.

“Biaya sudah habis, tentulah saya juga tidak sanggup kedinginan. Tapi saya tetap ke ladang terus dan tidak ingin berhenti. Hingga berdirilah pondok ini yang lebih besar dan kokoh,” lanjutnya.

Sebelum bertani kopi, Samsinar berkegiatan di hutan sebagai pengangkut batu dan kayu bakar. Mawi, suaminya, berdagang ayam. Hingga pada 2014, Samsinar dan suami hijrah bertani kopi atas rekomendasi menantunya yang turut membantu mencari informasi terkait hal tersebut. Menurutnya, sangat susah hidupnya dulu di kampung, mereka berpikir semakin lama makin tua dan mungkin tenaga juga melemah dengan kegiatan sebelumnya.

“Itulah kami buka lahan ini untuk ladang kopi. Mengawali dengan membuka lahan seluas 1/4 hektar. Dengan harapan masa depan tidak susah nantinya. Namun kami di cemo’oh masyarakat sekitar. Orang-orang menganggap kehidupan kami yang sekedarnya tapi mau buka lahan seluas itu. Pikir mereka mana kami sanggup,” seru Samsinar.

Seraya menghabiskan tetes-tetes terakhir kopi yang diseduhnya, Samsinar bertutur, “Ya Allah, Ya Tuhan.. Semoga berhasil besok biar jadi contoh orang banyak. Supaya orang-orang yang seperti kita dulu tidak susah juga hidupnya”. (Dompet Dhuafa/Dhika Prabowo)

SUBANG — Terik matahari siang itu, Rabu (13/11/2019), tak menyurutkan semangat 32 orang senior citizen, anggota GERLI (Gerakan Relawan Lansia Indonesia), untuk menjelajahi beberapa area Perkebunan Wakaf Indonesia Berdaya Dompet Dhuafa yang berada di Desa Cirangkong, Kecamatan Cijambe, Subang, Jawa Barat.

Kegiatan tersebut dalam rangka aktifitas rutin dari Program Care Visit Dompet Dhuafa yang kali ini berkolaborasi bersama GERLI. Melalui program ini, Dompet Dhuafa berupaya selalu mengingat kembali tentang rasa syukur melalui pengenalan programnya dan dapat bertemu langsung dengan para penerima manfaatnya.

Dengan tajuk ‘Dancing Fruit’, rangkaian kegiatan Care Visit kali ini menggambarkan rasa syukur dan bahagia di usia lanjut dari para anggota GERLI yang juga sekaligus sebagai donatur Dompet Dhuafa. Mereka merasakan langsung aktifitas di kebun wakaf pemberdayaan sembari memetik Buah Naga dan Nanas dari pohonnya, juga berinteraksi dengan masyarakatnya.

“Berbagi kebaikan antar sesama tentunya tidak mengenal batas usia. Kita pun harus selalu bersyukur atas segala nikmat sehat, mengingat di tempat lain tidak seberuntung yang lain di usia lanjut,” papar Yuniarko selaku Direktur Wakaf Dompet Dhuafa dalam sambutannya.

“Merugi orang yang selalu berkeluh kesah, bahagialah,” tambah Yuniarko.

Setelah memetik dan menikmati suguhan olahan buah hasil kebun, para rombongan melanjutkan perjalanan menuju Maribaya Lembang, Bandung. Disana terdapat pula Desa Tani, lahan pertanian program pemberdayaan Dompet Dhuafa seluas 1,2 hektar, yang menghasilkan sayur-mayur.

Manager Customer Care Management Dompet Dhuafa, Rina Hutari, mengungkapkan, “Kami sadar bahwa beliau adalah orang tua kita juga, bahkan bagian dari berdirinya Dompet Dhuafa hingga saat ini. Sehingga beliau-beliaupun perlu tahu luasnya manfaat dari ziswaf, serta dapat berinteraksi langsung dengan penerima manfaat program pemberdayaan Dompet Dhuafa.

Perkebunan Wakaf Indonesia Berdaya Dompet Dhuafa di Subang, merupakan salah satu program pemberdayaan yang memiliki lahan seluas 10 hektar. Tak hanya perkebunan buah, disana terdapat area peternakan juga rumah-rumah produksi sebagai pabrik olahan hasil kebun.

Seusai kegiatan, dr. Ririn selaku Ketua GERLI, mengungkapkan kebahagiaan atas pelayanan dan keramahtamahan Dompet Dhuafa terhadap GERLI. “Ungkapan terima kasih dan bahagia terus berdatangan dari teman-teman GERLI. Care Visit Subang membahagiakan dan memuaskan, Alhamdulillah. Penasaran, kami ingin kembali berkunjung saat panen nanti, insya Allah. Selain itu, berada di udara sejuk sangat baik bagi kesehatan,” ungkap dr. Ririn. (Dompet Dhuafa/Dhika Prabowo)

SALATIGA — Tak terbayangkan sebelumnya bagi Nurhadi, bahwa dirinya akan menyandang gelar sarjana. Lahir dari keluarga biasa, tanpa ada jaminan kemapanan ekonomi. Hanya tekad menjadi modal utama Nurhadi mewujudkan impiannya mejadi sarjana. Gayung bersambut, Nurhadi diterima menjadi mahasiswa Progam Studi Matematika IAIN Salatiga. Namun sayang, ia masih harus berjuang, karena biaya kuliah tidak sedikit. Harapan itu kembali datang, ketika Nurhadi dengan Kantin Kontainer bertemu.

“Pertemuan pertama saya dengan kantin kontainer pada 2016. Dari sana saya banyak belajar, terutama dengan karakter entrepreneurship,” terang mahasiswa angkatan 2014 tersebut.

Kantin Kontainer adalah progam kolaborasi antara Dompet Dhuafa dengan kampus IAIN Salatiga, Jawa Tengah. Dengan mengusung konsep kantin modern yang menyajikan berbagai jajanan bagi mahasiswa. Kantin tersebut dikelola oleh mahasiswa penerima manfaat. Oleh para penerima manfaat, Kantin Kontainer terus berkembang. Dengan sistem bagi hasil, mereka mengajak mahasiswa lain untuk memasarkan produknya di Kantin Kontainer.

“Kami juga membuka luas bagi mahasiswa yang ingin menitipkan produknya di Kantin Kontainer, dengan akad bagi hasil,” tamabhnya.

Berkat dediaksi dari penerima manfaat, kantin kontainer berhasil menjadi primadona baru di kampus IAIN Salatiga. Nurhadi mengakui, bahwa gelar sarjana yang ia dapatkan 18 Oktober lalu. Tidak mungkin bisa ia capai tanpa keikutsertaanya di Kantin Kontainer. Ilmu dan materi yang ia dapatkan di Kantin Kontainer berhasil mengantarkan Nurhadi menjadi sarjana pertama di keluarganya.

“Alhamdulillah, saya bisa lulus dengan biaya sendiri. Bahkan saya bisa biayai adik saya. Manfaat yang kami dapatkan dari progam tersebut sangatlah besar. Bukan sekedar materi, ilmu wirausaha yang tidak bisa kami temui di kelas lebih bernilai,” tambahnya.

Menyambut gelar sarjana, kini Nurhadi fokus untuk menguliahkan adik sematawayangnya. Dua kakak yang harus memendam cita-cita menjadi sarjana karena masalah ekonomi, memotivasi kuat Nurhadi.

“Saya punya target ingin menguliahkan adik-adik. Saya yakin, ilmulah yang nantinya akan menjadi bekal untuk kehidupan dan bisa mengangkat derajat keluarga,” terang anak dari pasangan buruh tani dan pemetik bunga melati tersebut. (Dompet Dhuafa/Zul)

SUBANG — Tiga puluh blogger asal Bandung, ramai-ramai mendatangi kebun Kawasan Indonesia Berdaya di Cirangkong, Kecamatan Cijambe, Subang, Kamis (17/10/2019). Di kebun Indonesia Berdaya, para blogger mengikuti acara “Blogger MeetUp,” sekaligus melakukan study tour tentang pengelolaan aset-aset wakaf oleh Dompet Dhuafa. Dengan mengunjungi kebun secara langsung, para blogger mengaku mendapatkan pemahaman lebih mendalam. Selain itu, mereka juga dapat merasakan manfaatnya secara langsung.

Indonesia Berdaya adalah program Dompet Dhuafa dalam membantu para petani dan masyarakat kurang mampu dalam menjalankan usahanya yang tersebar di sejumlah wilayah. Saat ini, Indonesia Berdaya sudah bejalan di Subang, Jawa Barat, sejak pembebasan lahan kebun seluas 10 hektar pada 2014 lalu. Melalui program Indonesia Berdaya, Dompet Dhuafa berikhtiar membangun masyarakat secara produktif dengan aset wakaf dan dana zakat dari masyarakat.

Di sela-sela acara “Blogger Meet Up,” Dompet Dhuafa membentuk sesi diskusi bersama para blogger. Melalui kemasan talkshow, Bobby P. Manullang dari direktorat wakaf Dompet Dhuafa dan Kamaluddin dari direktorat program Dompet Dhuafa, memberikan pemaparan mengenai program tersebut.

Selaku General Manager Wakaf Mobilization Dompet Dhuafa, Bobby P Manullang menyebutkan, Dompet Dhuafa sebagai nazir wakaf memiliki banyak aset wakaf. Aset wakaf tersebut didapat dari para dermawan yang mempercayakan Dompet Dhuafa untuk menjaga dan mengelolanya. Sehingga manfaatnya dapat terasa luas oleh masyarakat. Tidak sampai di situ, Dompet Dhuafa menjadikan aset wakaf sebagai hal yang mempunyai nilai produktif dan berkelanjutan.

“Dompet Dhuafa dalam mengelola aset dan dana wakaf, tidak hanya menjaga agar aset tersebut tidak berkurang. Namun juga menjadikannya wakaf yang produktif. Manfaatnya dapat menjadi lebih luas lagi dan juga selalu berkelanjutan, tanpa mengurangi nilai pokoknya,” terang Bobby.

Bobby menyebutkan, Dompet Dhuafa mengelola wakaf dalam empat sektor. Pertama kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan sosial. “Termasuk Indonesia Berdaya di Subang ini, masuk di sektor ekonomi,” sebutnya.

Selain Indonesia Berdaya, Dompet Dhuafa membangun swalayan dari dana dan aset wakaf untuk memfasilitasi pemasaran produk-produk UKM binaan Dompet Dhuafa. Selain itu, ada Home Stay, ruko-ruko, virtual office, pabrik atau industri dan ada beberapa lainnya.

“Semua itu berasal dari aset dan dana wakaf untuk dikembangakan, tanpa mengurangi nilai pokoknya,” lanjutnya.

Kamaluddin, selaku Manajer Divisi Ekonomi Dompet Dhuafa, juga pendamping Indonesia Berdaya menjelaskan, di Indonesia Berdaya yang sangat diutamakan adalah para petani atau pekebun dan peternaknya. Untuk itu, harga penjualan di pasar, sangatlah dijaga. Supaya tetap stabil dan ada nilai lebihnya.

“Di sini yang ditanam oleh para pekebun kita adalah nanas dan buah naga. Di belakang ada peternakan yang biasanya diperuntukkan program Tebar Hewan Kurban. Supaya para petani atau pekebun tersebut, mendapatkan kesejahteraan. Sehingga kami jaga harga agar selalu stabil. Untuk menjaga harga, yang kami lakukan adalah menjaga mutu dan kualitas. Mungkin kita pernah mendengar kalau buah naga terkadang harganya jatuh. Namun, alhamdulillah-nya di sini, harga buah naga selalu stabil,” terang Kamal.

Bahkan, lanjutnya harga jual buah nanas dan naga di sini bisa dibilang agak sedikit lebih mahal dibanding dengan yang lain. Karena cara penanaman dan pemupukannya tidak menggunakan bahan kimia. Kamal mengklaim seluruh prosesnya dilakukan secara organik, diintegrasikan dengan peternakan.

“Sebagian besar konsumen yang sudah merasakan buah naga di sini mengatakan, memang rasanya berbeda dengan yang lainnya. Lebih enak dan lebih segar katanya,” ungkap Kamal.

Sebanyak 30 warga tergabung dalam kelompok Indonesia Berdaya di Subang. Mereka mengaku sangat terbantu dengan adanya program Indonesia Berdaya dari donatur Dompet Dhuafa tersebut. Mereka tak perlu khawatir harga jual buah saat panen merosot. Selain sudah memiliki pasar penjualan, Dompet Dhuafa juga sedang membangun pabrik jus kemasan di dekat kebun untuk menampung hasil panen buah-buah hasil panenan di kebun Indonesia Berdaya.

Di akhir sesi, para blogger diajak berkeliling kebun melihat langsung teknik perkebunan dan peternakan Indonesia Berdaya. Mereka juga diperkenankan membawa pulang buah-buah hasil kebun petani IB. (Dompet Dhuafa/Muthohar)

SALATIGA — Dompet Dhuafa Jawa Tengah bersama IAIN Salatiga meresmikan satu unit foodtruck untuk program Kantin Kontainer Keliling. Ini merupakan kali kedua program Kantin Kontainer digulirkan di kampus ini. Sebelumnya program Kantin Kontainer dimulai dari 2017. Kantin kontainer dikelola oleh 10 mahasiswa yang berasal dari keluarga kurang mampu, namun memiliki kecerdasan dan semangat berwirausaha. Hal tersebut yang membuat mereka dipercaya untuk mengelola keuangan kantin sepenuhnya.

Dalam program lanjutan Kantin Kontainer yang cukup berbeda dengan konsep yang pertama. Program kali ini menggunakan konsep mobile canteen, sebuah kantin keliling. Baik di daerah sekitaran kampus maupun luar kampus. Sehingga memberikan kesan kalau kantin dabat beroperasi kemana-mana.

Berawal dari kekurangannya kantin di kampus IAIN Salatiga yang terbilang sangat luas. Tercetuslah ide untuk membuat salah satu program yang juga bisa melatih jiwa wirausaha para mahasiswanya. Dengan demikian juga mampu membantu mahasiswa dengan latar belakang ekonomi yang kurang mampu untuk melanjutkan kuliahnya.

Dr. Rahmat Hariyadi, M.Pd., selaku rektor IAIN Salatiga mengungkapkan, dengan program Kantin Kontainer mahasiswa berlatar belakang ekonomi kurangpun, masih dapat melanjutkan kuliah.

“Kita menyeleksi mahasiswa yang benar-benar kekurangan dalam segi ekonomi, namun memiliki semangat belajar yang besar dan berjiwa wirausaha, untuk mengelola Kantin Kontainer,” ungkap beliau.

Choirul Umam, salah satu penerima manfaat Kantin Kontainer yang kini sudah menjadi alumni di IAIN Salatiga mengungkapkan bahwa, dari mengelola kantin, dirinya dapat menyelesaikan kuliahnya dan kini sedang meneruskan kuliah S2 yang juga biayanya dari hasil mengurus Kantin Kontainer.

“Alhamdulillah dari hasil mengurus kantin, saya bisa membiayai kuliah sendiri tanpa sedikitpun meminta dari orangtua. Sekarang saya juga sedang melanjutkan studi S2 saya,” jelas Umam, yang kini sedang menjalankan S2 Pendidikan Agama di IAIN Salatiga.

Harapannya melalui kegiatan tersebut, dapat menjadi model mengembangkan potensi-potensi para pemuda. Terutama mahasiswa yang sering digaungkan sebagai agent of change. Dengan demikian, mampu memberikan perubahan terhadap perekonomian Indonesia yang lebih baik.

“Kami memilih mahasiswa karena Dompet Dhuafa, yang memang juga memiliki fokus di bidang ekonomi, ingin menyiapkan pegusaha-pengusaha muda yang nantinya mengembangkan UMKM menjadi lebih baik,” tambah Yuli Pujihardi, selaku perwakilan dari Dompet Dhuafa Filantropi yang juga merupakan Direktur Mobilisasi ZIS. (Dompet Dhuafa/Fajar/Jateng)

“Beri aku sepuluh pemuda, maka akan aku guncangkan dunia”.

Begitulah salah satu penggalan kalimat motivasi yang diungkapkan oleh Bapak Soekarno dalam sebuah pidatonya, dan kata-kata itu mempunyai makna yang begitu dalam, tentang bagaimana peran pemuda yang begitu besar dalam membangun sebuah bangsa.

Pernyataan Bapak Presiden pertama kita ini mengandung keyakinan bahwa pemuda memiliki kekuatan besar dalam mentukan arah sebuah bangsa. Bahkan pemuda diibaratkan sebagai aset penting dalam membangun dan menentukan masa depan sebuah negara. Untuk itu, kita bisa melihat seperti apa masa depan sebuah bangsa ke depan yaitu tergantung bagaimana para pemudanya saat ini.

Bahkan jika kita menengok sejenak tentang perjalanan sejarah bangsa ini, maka kita akan menemukan fakta yang tak terbantahkan bahwa peran para pemuda pada masa lalu begitu besar, terutama bagaimana para pemuda berjuang merebut kemerdekaan dari tangan para penjajah sehingga melahirkan kemerdekaan dan berbagai momen penting dalam sejarah peradaban bangsa Indonesia yang kita cintai ini.

Lantas seperti apakah pemuda-pemuda di Indonesia saat ini? Apakah ada yang bisa mewakili menjadi sepuluh pemuda yang akan mengguncang dunia seperti yang diharapkan oleh Bapak Proklamator kita tersebut? Sebab kita semua tahu, untuk menjadi sosok pemuda yang mampu mengguncang dunia bukanlah pekerjaan mudah, namun dibutuhkan sosok-sosok pemuda yang mempunyai semangat juang yang tinggi dengan ide-ide yang brilliant lalu diwujudkan dengan kerja yang cerdas.

Memang tak mudah untuk menemukan pemuda dengan kriteria tersebut, bahkan saat ini juga masih ada kita jumpai pemuda-pemuda yang pesimis dalam menata masa depannya, mereka yang begitu gegabah menapaki langkah dan cepat putus asa ketika diterjang masalah sehingga berujung pada mabuk-mabukan, pergaulan bebas dan obat-obatan terlarang.

Sungguh rasanya sangat miris melihat hal ini, betapa rapuhnya generasi muda kita saat ini. Bahkan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada awal tahun 2018 ini mencatat bahwa dari 87 juta populasi anak di Indonesia, sebanyak 5,9 juta di antaranya menjadi pecandu narkoba.

Namun untungnya tak semua generasi muda kita terjebak dalam langkah yang salah. Masih banyak juga genarasi muda Indonesia yang tetap semangat untuk terus berjuang mengguncang dunia dengan caranya masing-masing. Hal ini jugalah yang dibuktikan oleh Gilang, meski hidup terhimpit dalam kesusahan namun pemuda berusia 23 tahun ini tak pernah lepas dari mimpi dan semangatnya untuk terus menggapai cita-citanya. 

Gilang, Pemuda Asal Subang yang Ingin Jadi Petani Sukses

Gilang, Pemuda Asal Subang yang Ingin Jadi Petani Sukses

Pemuda yang tinggal di Kampung Haul, Desa Cirangkong, Kecamatan Cijambe, Subang, Jawa Barat ini mempunyai cara tersendiri untuk membangun masa depan dirinya juga kampung halamannya. Dimana di saat banyak pemuda di kampungnya pergi merantau ke kota untuk mencari penghasilan, namun Gilang memilih tetap tinggal di desanya dan turut memberdayakan lahan Indonesia Berdaya yang dikelola oleh Dompet Dhuafa.

Pada awalnya Gilang sama seperti para pemuda lainnya. Terpikir untuk merantau dan mencari penghidupan di kota, terlebih saat ia tidak bisa meneruskan kuliah karena faktor ekonomi. Namun, karena motivasi yang selalu diberikan Ayahnya (Bapak Ade) yang juga seorang petani di Kebun Indonesia Berdaya Subang, ia pun tergugah dan merasa bahwa petani bukanlah pekerjaan yang hina. Makanya kini, sehari-hari Gilang bersama ayahnya turut serta mengolah lahan di Kebun Indonesia Berdaya, mengecek hasil panen, turut mengkontrol pertumbuhan.

Gilang pun menjelaskan, “Ayah saya bukan sarjana pertanian, tapi beliau bisa membuktikan dengan bimbingan Dompet Dhuafa akhirnya sekarang bisa mengolah lahan dan produktif. Justru dengan petani yang berdaya lah Indonesia dapat berjaya. Apalagi masih banyak sekali lahan di desanya yang masih belum produktif dan terkelola dengan baik”.

Dan saat ditanya tentang mimpinya, ternyata Gilang ingin kembali meneruskan kuliahnya yang sempat terhenti karena persoalan ekonomi keluarga, dimana sebelumnya ia pernah merengkuh pendidikan di salah satu Universitas Swasta di Bandung, namun hingga kini keinginan untuk kembali berkuliah belum bisa ia wujudukan.

Namun Gilang tak sedikit pun merasa putus asa, bahkan ke depan ia tetap ingin menyelesaikan kuliahnya yang sempat tertunda tersebut agar bisa memiliki ilmu yang banyak, sehingga dapat mengembangkan kampungnya dan mengajak para pemuda lain di desanya untuk menjadi petani karena lahan di desanya masih sangat luas dan juga memiliki prospek yang bagus untuk diberdayakan.

Bahkan Gilang menuturkan bahwa “Bersama Dompet Dhuafa saya ingin membuktikan bahwa petani bisa hidup sejahtera dan mapan. Saya punya mimpi, 1 petani bisa memiliki 1 mobil pajero. Dengan begitu bisa membuktikan dan mengajak para sarjana pertanian agar turun ke lahan dan menerapkan ilmunya di sini,” ujar Gilang penuh semangat.

Semoga cara berpikir dan langkah yang diambil oleh Gilang ini bisa menjadi contoh bagi banyak pemuda lain, bahwa berjuang membangun dan memberdayakan potensi yang ada di kampung sendiri bisa menjadi pilihan yang tepat daripada jauh-jauh pergi mengadu nasib di kota atau negara lain dengan hasil yang belum jelas.

Hal yang serupa juga dilakukan oleh Agung Kharisma, seorang pemuda yang sudah berhasil meraih gelar sarjana Pendidikan Pertanian dan mampu  meyakinkan para penduduk lokal tentang kekayaan dan potensi yang ada di kampungnya sendiri.

Agung Kharisma, Berkarir di Bidang Pertanian, Mendampingi Petani Untuk Berdaya dan Sejahtera

Dimana pemuda berusia 27 tahun ini mampu mengubah mindset atau cara berpikri para petani setempat bahwa tidak perlu pergi merantau ke kota untuk mengubah nasib, dan ia berhasil yakinkan para petani bahwa di kampung sendiri mereka bisa berdaya dan mandiri secara ekonomi. Untuk itu, ia mengajak para warga untuk kembali bertani, memberdayakan lahan yang ada, dan mengelola para petani menjadi satu kelompok tani yang solid dan produktif.

Dalam hal ini, Agung tidak hanya membimbing soal teknik mengolah lahan, namun ia juga secara  perlahan, sedikit demi sedikit menanamkan nilai-nilai kerja keras, mengubah kebiasaan para petani, memotivasi, bahkan mendampingi para petani agar tetap terjaga kerjanya dengan bingkai keislaman yang kuat seperti shalat dan mengaji.

Kini hasil dari kerja keras Agung sudah terlihat, dan para petani pun sudah merasakan langsung bagaimana manfaatnya. Dimana kini hasil pertanian berupa buah-buahan hasil Kluster Indonesia Berdaya sudah dapat dipasarkan hingga ke berbagai kota. Hasil penjualannya adalah sumber pendapatan bagi para petani lokal hingga mereka bisa berdaya di kampungnya sendiri.

Beginilah seharusnya sosok pemuda masa kini, berani tampil dan terjun langsung memberikan solusi yang tepat bagi banyak orang seperti yang dilakukan oleh Gilang dan juga Agung yang sudah memberikan contoh dan memberdayakan para petani di kampungnya.

Dan semoga akan semakin banyak para pemuda di negeri ini yang mempunyai cara berpikir yang cerdas dengan memanfaatkan segala potensi yang ada di sekitarnya untuk memberikan perubahan yang lebih baik bagi untuk kesejahteraan hidup banyak orang.

Mungkin tak banyak yang mengenal dua pemuda ini. Tak banyak juga di share di social media ataupun ramai menjadi perbincangan. Namun dari sini kita belajar, bahwa mereka adalah para pemuda Indonesia yang berusaha untuk berkarya dan memberi manfaat besar dengan potensi yang ada di daerahnya dan mengoptimalkan skill yang mereka miliki.

Mereka bukan hanya jeli melihat peluang dan mengubahnya menjadi penghasilan, namun mereka telah berhasil membuka mata kita semua, bahwa siapapun, dengan latar belakang apapun, mempunyai kesempatan yang sama dan layak untuk mendulang keberhasilan selama ia sungguh-sungguh, karena sejatinya tidak ada hasil yang menghianati sebuah usaha.

Pemuda Indonesia, Pemuda Berkarya! Selamat hari Sumpah Pemuda!

SUBANG — Masyarakat Desa Cirangkong, Kecamatan Cijambe, Kabupaten Subang, semakin merasakan manfaat keberadaan Program Indonesia Berdaya di wilayah mereka. Program Indonesia Berdaya merupakan program yang kaya akan pemberdayaan, baik bagi kemandirian ekonomi yang produktif maupun pemberdayaan edukasi yang dikelola secara baik dan teratur dalam bentuk pertanian & peternakan.

Pada lahan Indonesia Berdaya seluas 10 hektar tersebut, tertanam Buah Naga, Jambu Kristal, Nanas, Pepaya California dan juga peternakan kambing yang semuanya dikelola serta dirasakan hasilnya oleh petani dan peternak lokal. Selain itu, program ini juga menjadikan usaha pertanian dan peternakan sebagai pusat wisata dan edukasi pertanian (agrowisata).

Subang telah menjadi saksi peran Dompet Dhuafa bersama pegiat Indonesia Berdaya, dalam memberdayakan dan mengangkat potensi lokal daerah yang mandiri dan produktif. Subang juga menjadi bukti, bahwa wakaf produktif yang donatur amanahkan telah memberi manfaat yang mengalir bagi mereka dan penerima manfaat tentunya.

Kebaikan-kebaikan inilah yang membuat Dompet Dhuafa merasa perlu menyebarluaskannya kepada masyarakat lebih luas lagi. Kali ini Dompet Dhuafa mengajak para selebgram (Selebriti Instagram) untuk mengunjungi kebun buah Indonesia Berdaya di Subang, Jawa Barat.

Menurut Etika Setiawanti, General Manager Marketing Communication Dompet Dhuafa mengatakan, “Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengajak keterlibatan masyarakat, khususnya donatur dan atau relawan dalam mengawal program-program pemberdayaan Dompet Dhuafa, dengan melihat dan mengunjungi lokasi program secara langsung, serta berinteraksi bersama penerima manfaat. Sehingga selain berdonasi, donatur pun merasa menjadi bagian atas program Indonesia Berdaya tersebut. Kegiatan ini juga salah satu bentuk laporan kami kepada publik atas amanah Zakat, Infak, Sedekah maupun Wakaf yang telah mereka percayaan kepada kami selama ini”.

Dalam kegiatan bertema “Fruit O’Clock” tersebut, selain memetik langsung buah-buahan di kebun buah Indonesia Berdaya, mereka juga akan merasakan langsung lezatnya olahan buah naga dari tangan celebrity chef, Ari Galih. Tidak hanya itu, acarapun menjadi lebih bermakna dengan kehadiran Ustadz Rahmatullah sebagai narasumber kajian “Petik Kebaikan Hidup Ala Rasulullah”.

“Kali ini kami juga melibatkan selebgram dan influencer yang selama ini sudah menjadi relawan Dompet Dhuafa. Kami berharap, keterlibatan mereka dapat memperluas nilai-nilai kebaikan program Indonesia Berdaya melalui peran mereka sebagai selebgram atau influencer,” tambah Etika. (Dompet Dhuafa/Dea)

Rasa bangga terlihat dari raut wajah Pak Ade, saat memperlihatkan hasil panen buah nanas madu seberat 3 Kg. Ia adalah salah satu koordinator kelompok tani di Klaster Terpadu Indonesia Berdaya Dompet Dhuafa, di Desa Cirangkong, Kecamatan Cijambe, Subang-Jawa Barat. Pak Ade menceritakan bahwa semenjak Dompet Dhuafa datang, Ia dan para petani lokal menjadi lebih meningkat kemampuannya mengolah lahan dan semangat untuk bekerja. Padahal, awalnya dulu ia dan teman-temannya sudah patah semangat dan putus asa melihat lahan tidur dan liar di area tersebut.

Klaster Terpadu Indonesia Berdaya adalah salah satu dari program Wakaf Produktif Dompet Dhuafa dalam bidang ekonomi dan pemberdayaan petani. Program ini berada di atas lahan seluas 8Ha dan 5Ha nya sudah tertanam berbagai jenis buah-buahan seperti buah naga, nanas, pepaya, jambu kristal, dan terdapat juga peternakan domba. Sejak tahun 2016 hingga kini, sudah ada 30 orang petani diberdayakan yang berasal dari daerah setempat.

Tidak berhenti di aspek pemberdayaan petani lokal untuk mengolah lahan yang ada. Dompet Dhuafa juga mengembangkan industri olahan buah dan telah memberdayakan 15 orang ibu-ibu dari daerah setempat untuk mengupas dan mengolah nanas. Nantinya, nanas tersebut akan dijual dipasaran dalam bentuk minuman atau produk olahan lainnya seperti selai. Lokasi home industri ini tidak jauh dari lahan sehingga memudahkan akses dan proses produksi.

Keseriusan memberdayakan dan memandirikan masyarakat dhuafa menjadi fokus Dompet Dhuafa. Namun untuk mengeluarkan dari garis kemiskinan dan meningkatkan taraf ekonominya tidak cukup hanya sekedar memberi modal dan kailnya. Dompet Dhuafa juga memperhatikan aspek budaya, moral, dan nilai-nilai islam pada petani. Untuk itu, setiap ada pertemuan maka ada kajian yang diselipkan di dalamnya. Dalam hal ini ada pendamping khusus yang sehari-harinya mengontrol, membimbing, dan membina para petani yang ada.

Agung Kharisma adalah salah satunya. Sarjana lulusan pendidikan pertanian UPI tahun 2013 ini fokus pada pengembangan lahan Klaster Terpadu Indonesia Berdaya di Subang. Hal ini dilakukan sebagai bentuk pengbadiannya pada ummat melalui program Dompet Dhuafa yang memberdayakan para petani lokal ini.

Saat ini hasil panen dari Klaster Terpadu Indonesia Berdaya di Subang, sudah bisa dibeli di De Fresh, mini market milik Dompet Dhuafa yang berada di Jalan Raya Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Ikhtiar ini dilakukan untuk mendukung produk-produk hasil petani lokal dapat berkembang dan terus meningkat di pasaran.

Dengan adanya program wakaf produktif ini, harapannya akan banyak tanah wakaf di Indonesia yang belum terkelola dengan baik bisa lebih bermanfaat dan menghasilkan sumber-sumber ekonomi bagi masyarakat, khususnya dalam hal ini adalah para petani Indonesia.