Kamis (30/3) yang lalu, Perwakilan Kementrian Agama Republik Indonesia berkesempatan untuk mengunjungi Kebun Indonesia Berdaya di Cirangkong, Subang. H. Hamim, M.Ag Kasi Evaluasi Pendayagunaan LAZ Kemenag RI kagum dengan kebun buah naga dan peternakan yang berbasis wakaf yang dikelola oleh Dompet Dhuafa tersebut.

“Dalam hal wakaf produktif, nama Dompet Dhuafa sebagai nadzir sudah mulai berkibar. Kami dari Kementrian Agama sangat mengapresiasi kinerja dan komitmen Dompet Dhuafa dalam menjadi nadzir wakaf.” Ujar Hamim.

SUBANG — Perusahaan besar di tengah-tengah kota merupakan incaran mayoritas para pemuda untuk mengadu nasib dan keberuntungan. Dengan modal usia muda, kompetensi yang baik, dan fisik yang kuat, para pemuda banyak memilih untuk hidup dan bekerja di kota. Selain karena penghasilan yang menjanjikan, bekerja di kota, mendekatkan mereka kepada fasilitas kesehatan, hiburan, maupun pendidikan.

Namun, dari ribuan bahkan jutaan pemuda yang tergiur akan kilau perkotaan, ternyata masih ada pemuda yang tidak silau dengan gelimang kesempatan dan kemilau penghasilan di kota. Ya, ia adalah sosok Agung, ia memilih untuk menyingkir ke pinggiran kota dan membaur dengan petani. Menjadi penyuluh perkebunan buah naga dan nanas di Desa Cirangkong, Kecamatan Cijambe, Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Tahun 2014, Agung, mendapatkan tugas untuk mengelola dan mendampingi program pengembangan perkebunan buah naga yang diwakafkan melalui Dompet Dhuafa. Lokasi perkebunan yang harus Agung dampingi jauh dari pusat Kota Subang dan keramaian. Di tengah-tengah desa yang sejuk, namun terpencil itu, Agung harus berjuang. Bukan saja mendampingi petani sesuai tugasnya, tetapi juga untuk bertahan hidup. Tugas yang ia emban antara lain membantu pembukaan lahan, budidaya buah naga, hingga ke pemasaran.

Tak mudah nyatanya untuk hidup di desa terpencil yang jauh dari keramaian. Untuk kebutuhan listrik saja, daerah tersebut masih sangat sering mengalami pemadaman.

“Pernah waktu itu di desa mati lampu sampai dua hari. Itu sangat menggangu sekali, karena saya juga harus komunikasi dengan teman-teman di Jakarta. Karena kalau di sini, listrik mati, maka otomatis sinyal handphone juga hilang. Jadi tiap pagi Saya harus keluar desa dulu, mencari sinyal. Ya sekalian jalan-jalan juga sih. Tapi ya capek juga harus bolak-balik seperti itu,” tutur Agung.

Tetapi hal tersebut bukan menjadikannya patah semangat. Bahkan kini Agung pun dipercaya pula untuk mendampingi program pemberdayaan perkebunan buah nanas Subang yang masih di area yang sama.

“Ada sih keinginan selintas untuk kerja di kota besar. Namun kembali lagi, saya merasa passion saya adalah di bidang ini, penyuluhan. Lagi pula saya merasa dengan menjadi penyuluh pertanian, dapat lebih bermanfaat dan dekat dengan petani,” pungkasnya. (Dompet Dhuafa/Dea)

SUBANG — Hiruk-pikuk ibukota dan padatnya aktivitas selama sepekan penuh, membuat akhir pekan menjadi waktu yang ditunggu-tunggu bagi sebagian masyarakat ibukota dan sekitarnya. Maka, liburan ke luar kota menjadi salah satu aternatif untuk melepas penat. Pada Sabtu (18/3), para wakif Dompet Dhuafa yang tergabung dalam Senior Wakaf Consultant (SWC), berkesempatan untuk mengunjungi kebun Buah Naga di daerah Cirangkong, Subang, untuk mengisi akhir pekan.

Perjalanan dari Jakarta menuju kebun pemberdayaan di Subang, memakan waktu kurang lebih tiga jam. Sepanjang perjalanan, terutama saat memasuki daerah Kabupaten Subang, peserta kunjungan disuguhi dengan pemandangan hijau sawah dan hutan. Posisi Kabupaten Subang yang berada di dataran tinggi, membuat daerah tersebut sangat sejuk. Salah satu kondisi yang sulit ditemukan di Jakarta dan sekitarnya.

Sesampainya di lokasi kunjungan, para peserta disuguhi dengan pemandangan kebun buah yang luas dikelilingi bukit. Kebun Buah Naga yang menjadi tujuan kunjungan SWC merupakan kebun yang diwakafkan oleh pemiliknya lewat Dompet Dhuafa. Di kebun tersebut juga ditanami buah-buahan lain seperti Nanas, Pepaya, dan Jambu Kristal. Rencananya di daerah Cirangkong pula, akan dibangun rumah industri Nanas yang berbasis dana wakaf.

Kebun Buah Naga diberdayakan oleh dana wakaf yang disalurkan melalui Dompet Dhuafa tersebut, digarap oleh petani-petani dari desa setempat.

“Kebun buah naga ini alhamdulillah bisa memberdayakan masyarakat Desa Cirangkong yang sebagian besar memang petani penggarap. Dengan adanya kebun ini dan nanti ke depannya akan ada rumah industri Nanas, mudah-mudahan bisa membantu ekonomi masyarakat desa,” ujar Kepala Desa Cirangkong.

Kebun Buah Naga tersebut, selain menjadi lahan garapan, juga sesekali menerima kunjungan dari berbagai instansi dan sekolah. Kini juga kebun Buah Naga yang berbasis wakaf tersebut memiliki dua guest house, bagi para pengunjung yang ingin menikmati suasana alam perkebunan. (Dompet Dhuafa/Dea)