MALANG, JAWA TIMUR — Geliat perekonomian Desa Tawangsari, Pujon, Malang secara bertahap makin berkembang seiring meningkatnya jumlah warga di wilayah dataran tinggi ini. Sebelumnya, Desa Tawangsari merupakan salah satu kawasan yang terlihat seperti tidak begitu terurus. Peningkatan ini pun dirasa beriringan dengan hadirnya Bumi Maringi Peni (BMP), sebuah kawasan pemberdayaan Dompet Dhuafa yang menghadirkan beragam program holistik melalui kegiatan pemberdayaan ekonomi, pendidikan, kesehatan, dakwah dan budaya.

Salah satu program ekonomi di kawasan terpadu ini adalah pemberdayaan warga sekitar melalui budi daya tanaman lidah buaya (aloevera). Tanaman ini diolah sedemikian rupa menjadi sebuah minuman segar yang diberi nama “SUEGEERRR”. Pelopor sekaligus yang menjadi penanggung jawab pemberdayaan ini adalah Ali Hamdan, seorang ustaz berusia 39 tahun. Program ini merupakan upaya pengimplementasian dana zakat secara produktif.

Proses panen aloevera
Proses pengupasan daging pelepah aloevera.

Program pemberdayaan aloevera ini dimulai sejak awal tahun 2022. Secara resmi, program ini tercatat diluncurkan pada April 2022. Alasan memilih aloevera sebagai objek pemberdayaan adalah karena program serupa telah berjalan baik sebelumnya di Yogyakarta. Selain itu, Malang yang terkenal dengan kawasan wisata dengan berbagai macam olahan makanan dan minuman buah, menjadi potensi pasar yang baik. Di samping itu, minuman segar berbahan dasar aloevera belum tersedia di seluruh Malang.

“Sebelumnya, lahan ini merupakan kebun apel. Kita ada sekitar 1000 pohon apel. Saya mencoba melakukan riset selama sekitar 3 tahunan, ternyata apel itu tidak produktif. Di samping itu, harganya semakin turun dan banyak pesaingnya. Kemudian terinspirasi dari program ekonomi milik Dompet Dhuafa di Yogyakarta yaitu aloevera. Akhirnya setelah melakukan berbagai riset, kami ganti kebun ini menjadi kebun aloevera,” tutur Hamdan mengisahkan.

Proses pengupasan daging pelepah aloevera.

Siang itu, Rabu (23/8/2023), tiga wanita tampak sedang melakukan proses produksi minuman segar aloevera di BMP. Tiga wanita tersebut merupakan penerima manfaat program pemberdayaan ini. Didampingi oleh Hamdan, ketiganya secara kompak dan beriringan mengerjakan tugas-tugasnya dengan cekatan.

Sambil terus mendampingi wanita-wanita itu, Hamdan menjelaskan bahwa tanaman aloevera ini sangat menarik baginya. Sebab, ternyata tanaman dari Jazirah Arab ini dapat dijadikan sebagai minuman segar pengganti nata de coco. Belum adanya produsen yang menjalankan produk ini, menjadikan produk ini memiliki pasar yang masih terbuka sangat luas.

“Produsen minuman segar dari sari buah di Malang memang sangatlah banyak, bahkan menjamur. Namun, saya sudah survey ke mana-mana, di Malang ini ya baru kami ini yang membuat produk minuman segar dari aloevera,” jelasnya.

Nampak gerbang depan BMP di Pujon, Malang.
Proses panen aloevera

Kebun aloevera di BMP saat ini memiliki luas sekitar 1000 meter persegi yang terbagi menjadi 4 kotak kebun. Tanaman berdaging pada pelepah daunnya ini mulai dapat dipanen pada umur 8-12 bulan setelah ditanam. Bagian yang diambil adalah pelepah yang paling tua, yaitu yang berada paling bawah. Sedangkan pelepah yang berada di bagian tengah ke atas dibiarkan saja untuk selanjutnya dipanen di kemudian hari jika sudah tua.

Nantinya, setelah melalui beberapa kali panen atau pengambilan pelepah, batang aloevera akan makin tinggi. Jika sudah terlalu tinggi, maka yang dilakukan adalah memotong batang hingga batas pelepah paling bawah, kemudian menancapkannya kembali ke tanah supaya membuat akar baru. Sedangkan batang dan akar yang sebelumnya dibuang. Ini mungkin sedikit mirip dengan metode tanam stek. (Dompet Dhuafa/Muthohar)

MALANG, JAWA TIMUR — Sistem pola penanaman aloevera sampai menjadi sebuah produk minuman SUEGEERRR dalam kemasan di Pujon, Malang ini sama seperti yang dilakukan oleh Dompet Dhuafa Yogyakarta. Hamdan yang menerapkannya. Kemudian, ia mengembangkannya bersama tiga wanita penerima manfaat pemberdayaan ekonomi dari zakat produktif ini.

Ketiga penerima manfaat tersebut merupakan warga di sekitar Kawasan Bumi Maringi Peni (BMP). Mereka terpilih dari proses perekrutan penerima manfaat yang cukup fair, yaitu dengan menginfokan program ini kepada seluruh masyarakat desa melalui kepala desa serta ketua-ketua RT/RW setempat.

Awalnya, begitu banyak warga yang antusias menmgikuti program ini saat mulai dibuka. Ada sekitar 25 peserta yang terpilih untuk dapat mengikuti pelatihan. Mayoritasnya memang para ibu rumah tangga atau perempuan-perempuan yang hanya tinggal di rumah. Pada kesempatan itu, rangkaian kegiatan pelatihan dimentor langsung oleh Alan Effendi, aktor pemberdaya aloevera di Dompet Dhuafa Yogyakarta.

Proses pemasakan nata de aloevera.
Proses pengolahan aloevera menjadi minuman segar kemasan.
Proses pengemasan nata de aloevera ke dalam kemasan gelas.

“Mereka ikut mendaftar, ikut pelatihan pembuatan minuman segar dari aloevera. Dari sekian peserta, ada 5 peserta yang kami rasa pantas untuk melanjutkan dan bergabung dalam program lanjutan pemberdayaan,” lanjut Hamdan.

Dari 5 orang tersebut dibagi menjadi 2 tim. Tim pertama berisi 3 orang untuk memproduksi produk SUEGEERRR. Kemudian 2 lainnya mengerjakan di rumah masing-masing. Namun untuk bahan dasarnya, yaitu tanaman aloevera disediakan oleh BMP.

Hana (21) yang saat itu sedang memotong-motong daging aloevera menjadi balok-balok kecil menceritakan, dirinya tertarik bergabung di sini karena saat itu ia tidak memiliki kegiatan, atau dalam istilah lainnya “menganggur”. Motivasinya adalah karena ia ingin memiliki aktivitas di luar rumah selain hanya membantu pekerjaan-pekerjaan rumah.

Proses pengemasan nata de aloevera ke dalam kemasan gelas.
Hana di depan rumah produksi SUEGEERRR.

“Saya putus sekolah. Jadinya di rumah itu tidak ada kerjaan. Tidak bisa juga mencari pekerjaan. Jadi saya ikut saja ada pelatihan pembuatan minuman lidah buaya. Alhamdulillah sampai sekarang masih terus di sini,” ucapnya.

Saat ini, selain memproduksi SUEGEERRR, Hana juga sedang mengikuti pelatihan menjahit yang diadakan oleh Institut Kemandirian (IK) Dompet Dhuafa di BMP. Motivasinya untuk berkembang sangat lah kuat, sehingga setiap ada kegiatan pelatihan yang diadakan Dompet Dhuafa di BMP, ia sangat antusias untuk selalu mengikuti. Ada pula Program Guru Hebat yang diadakan BMP untuk sertifikasi guru ngaji dengan metode Ummi. Hana pun mengikutinya dan berhasil lulus.

“Justru senang setiap hari ke BMP. Ikut membuat minuman aloevera, ikut pelatihan menjahit, terus juga ikut ngaji di TPA kalau sore. Malah senang,” imbuhnya. (Dompet Dhuafa/Muthohar)

MALANG, JAWA TIMUR — Selain diproduksi dan dijual sebagai minuman, pelepah-pelepah aloevera juga kadang dibeli oleh beberapa orang yang ingin memanfaatkannya sebagai obat, tanaman hias, atau yang lainnya. Setiap orang yang telah mencicipi produk minuman ini pun mengakui rasa dan kesegarannya.

Sayangnya hingga saat ini, produk ini masih belum bisa dijual lebih luas. Kendala utamanya yaitu SUEGEERR belum memiliki sertifikat BPOM. Padahal sebanarnya, banyak toko yang tertarik untuk memesan minuman ini, namun karena terkendala belum adanya sertifikat BPOM, mereka sementara masih menundanya.

“Itu makanya sekarang ini kami sedang berupaya untuk memenuhi sertifikasi BPOM, sehingga bisa lebih luas menjangkau pasar-pasar, khususnya di kawasan-kawasan wisata yang ada di Malang,” ungkap Hamdan.

Kebun aloevera di Pujon, Malang.
SUEGEERRR dalam kemasan gelas.
SUEGEERRR dalam kemasan gelas.

Meski begitu, setiap bulan setidaknya SUEGEERRR terus diproduksi untuk dijual di Warung Sehat, yaitu sebuah mini market yang juga masih berada di Kawasan BMP. Selain itu, SUEGEERRR juga masuk ke sebuah kedai kopi, yaitu Kopi Sawah yang terletak di kawasan wisata. Bahkan, kedai ini selalu memesan setiap minggunya untuk dijual kembali kepada pelanggan-pelanggannya.

Setiap bulan, ada sekitar 100 botol yang diproduksi sesuai dengan pesanan. Atau jika dihitung kemasan dus karton, terhitung sekitar enam kemasan karton yang masuk ke Kafe Sawan maupun Warung Sehat.

“Pernah menerima pesanan sangat tinggi itu sampai 600 karton pada saat bulan Ramadan. Memang minuman ini sangat segar dan nikmat disajikan pas buka puasa,” cetus Hamdan.

SUEGEERRR dalam kemasan gelas.
Seseorang membeli SUEGEERRR di salah satu minimarket.

Minuman ini dikemas ke dalam dua varian, yaitu kemasan gelas dan kemasan botol. Kemasan gelas kecil dibanderol dengan harga Rp2.000/pcs, sedangkan kemasan botol dibanderol dengan harga Rp10.000/pcs. Biasanya, kemasan gelas dikemas lagi dalam satu pak yang berisikan 6 pcs. Sedangkan kemasan botol dikemas juga dalam satu pak/dus yang berisi 10 pcs.

Setiap proses produksi SUEGEERRR dikerjakan oleh ketiga penerima manfaat tersebut hingga selesai dikemas. Sedangkan untuk perawatan tanaman aloevera dan pemasaran produk dikendalikan oleh Ustaz Hamdan.

Sebab alasan terkendala belum adanya sertifikat BPOM, gaji atau pendapatan yang didapat oleh penerima manfaat pun tergantung dengan pesanan dan hasil penjualan yang diperoleh. Menurut Iklimah, salah satu penerima manfaat lainnya, mengaku pernah mendapatkan pendapatan tertinggi yaitu mencapai Rp1.800.000. (Dompet Dhuafa/Muthohar)

SUMATRA BARAT — Pada Jumat (18/9/2023), Dompet Dhuafa Singgalang meluncurkan Pilantrokopi, sebuah kedai kopi kekinian berbasis pemberdayaan. Kedai baru ini terletak di di Jalan Batang Kampar, Rimbo Kaluang, Kec. Padang. Pilantrokopi merupakan turunan dari unit usaha Koperasi Solok Sirukam, di bawah pengawasan Dompet Dhuafa yang dikelola dari dana filantropi.

Unit usaha ini juga menjadi bagian dari program philantropreneur Dompet Dhuafa yang menggabungkan kewirausahaan yang dikelola secara profesional berbasis filantropi Islam. Selain itu, program ini merupakan hilirisasi program yang sebelumya sudah berjalan sejak enam tahun yang lalu, melalui konsep pemberdayaan petani kopi Solok Sirukam yang juga berkolaborasi dengan YBM BRILiaN.

Hadir pada acara launching Pilantrokopi ini, Hendri Septa selaku Wali Kota Padang, Bambang Suherman selaku Direktur Program Dompet Dhuafa, Pengurus YBM BRILiaN, petani kopi binaan, pengusaha serta komunitas kopi di Kota Padang.

Direktur Program Dompet Dhuafa, Bambang Suherman menyampaikan bahwa unsur filantropi dari program ini adalah terlibatnya SDM yang berlatar belakang kaum marginal.

“Mereka diberikan pelatihan dan pendampingan, sehingga mampu menjalani proses pengolahan kopi dari pascapanen hingga menjadi barista profesional yang kemudian akan dihubungkan dengan mitra-mitra coffee shop yang ada di Sumatra Barat,” terangnya.

Bermitra dengan Dua Pintu Kopi dan Roti Tenong, Pilantrokopi membawa nilai historical Kopi Solok Sirukam dan dampaknya bagi petani kopi di Nagari Sirukam. Nilai historis dan penjagaan atas nilai tersebut bisa dinikmati dalam secangkir kopi, baik di indoor maupun outdoor yang nyaman.

Tak hanya menikmati kopi, pengunjung juga bisa melihat langsung proses pengolahan kopi di roastery dan ke depan akan dibuka kelas-kelas pelatihan pengolahan kopi maupun barista. Selama opening hingga 31 Agustus 2023, para pengunjung atau pelanggan akan mendapatkan diskon sebesar Rp15.000 per transaksi tanpa minimal pemesanan.

Selanjutnya, Pilantrokopi juga akan hadir di berbagai daerah lainnya. Terdekat, Pilantrokopi juga akan hadir di Riau, tepatnya di Jalan Kartama, Kelurahan Maharatu, Pekanbaru. (Dompet Dhuafa/Singgalang/Muthohar)

BANTEN — Dompet Dhuafa Banten menjalin kolaborasi dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEBI) UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten (SMH) untuk Program Pemberdayaan Ekonomi, yakni Kantin Kontainer. Kesepakatan ini dituangkan dalam MoU yang ditandatangani pada Kamis (10/8/2023) di Ruang Rapat Dekan FEBI UIN SMH Banten.

Hadir dalam kesempatan tersebut, Dekan FEBI Prof. Dr. Hj. Nihayatul Masykuroh, M.Si, Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Banten, Mokhlas Pidono, Wakil Dekan I dan III, Ketua Jurusan Ekonomi Syariah, Ketua Jurusan Perbankan Syariah, Kabag TU dan Tim Program Dompet Dhuafa Banten.

Dalam sambutannya, Dekan FEBI UIN “SMH” Banten menyatakan bahwa sinergi ini sangat baik dalam rangka mewujudkan visi dan tujuan besar FEBI, yakni agar mahasiswa mampu mengaplikasikan ilmunya dan bukan hanya sekedar mengetahui teori. Beliau juga menyatakan, sudah menjadi mimpinya untuk berusaha memberi yang terbaik bagi mahasiswanya terutama membantu mahasiswa yang kurang mampu.

“Program food container atau Kantin Kontainer ini tujuannya untuk membantu mahasiswa yang membutuhkan. Tentu menjadi hal yang baik, karena akan menjadi sarana praktik langsung mahasiswa belajar dan bukan sekedar teori, bisa berpenghasilan juga dari jualan di Kantin Kontainer ini,” ujarnya.

Sejalan dengan hal tersebut, Mokhlas Pidono selaku Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Banten memberikan apresiasinya dan sangat berterima kasih kepada FEBI UIN “SMH” Banten atas kerja sama yang terjalin. Menurutnya, kolaborasi kebaikan akan makin menguatkan dan menginspirasi masyarakat untuk terus bergerak melakukan program-program kebaikan.

“Kantin Kontainer ini kan program ekonomi, dibangun dengan tujuan agar mahasiswa terpilih dari keluarga pra sejahtera bisa berpenghasilan dari berjualan di kantin ini, sehingga bisa meringankan biaya kuliahnya. Selain itu, Kantin Kontainer ini juga menjadi sarana belajar langsung mereka mengaplikasikan ilmu yang mereka dapat secara teori di kampus, dukungan Ibu Dekan dan segenap entitas FEBI sangat besar, kami sangat berterima kasih,” ujar Mokhlas.

Kantin Kontainer merupakan program beasiswa wirausaha yang diperuntukkan bagi mahasiswa yang berasal dari keluarga kurang mampu. Mereka diamanahi untuk mengelola kantin yang terbuat dari kontainer. Kemudian, mahasiswa akan mendapatkan beasiswa dari hasil pengelolaan kantin tersebut. Dompet Dhuafa sebagai lembaga pemberdayaan senantiasa berkomitmen untuk mendampingi masyarakat, utamanya kaum duafa, untuk menjadi masyarakat yang berdaya.

Setelah MoU ini ditandatangani, selanjutnya adalah merealisasikan pembangunan Kantin Kontainer. Hal ini tentu harus melewati tahapan-tahapan yang telah disusun sebelumnya. Diharapkan di tahun 2023, Kantin Kontainer di UIN “SMH” Banten sudah bisa beroperasi, dinikmati manfaatnya oleh para penerima manfaat, serta mahasiswa/i yang menjadi konsumen.

Program ini di bangun dari dana zakat yang dititipkan melalui Dompet Dhuafa Banten. Untuk itu, mari kita tunaikan zakat, karena dampak zakat akan sangat terasa, nampak terlihat, berkesinambungan, apabila dikelola dengan baik dan profesional. (Dompet Dhuafa/Banten/Anndini)

SINJAI, SULAWESI SELATAN — Dua sosok anak muda, Ramly dan Mail, yang mendampingi Tim Dompet Dhuafa menikmati sejuk sore di kebun kopi dalam artikel Pengalaman Aliah Sayuti Jadi Petani Kopi Sinjai merupakan penerima manfaat program pemberdayaan Dompet Dhuafa SulSel. Sebelumnya, mereka adalah dua anak muda perantau di Ibu Kota yang kemudian bertekad pulang ke kampung halamannya di Sinjai untuk menjadi petani kopi hingga berani memulai usaha sendiri.

Program Pemberdayaan Ekonomi Kopi Pattongko atau Kopi Sinjai sendiri memiliki tujuan mengekplorasi potensi pertanian yang baik dengan memberdayakan masyarakat melalui inovasi berkelanjutan. Seperti diketahui, dahulu para petani menggunakan teknik pemetikan yang dikenal sebagai “petik rampas,” yakni memetik secara serentak buah kopi sekali tarik. Tindakan itu membuat buah kopi berwarna merah dan hijau tercampur, dan membuat kualitas produk kopi tidak maksimal.

Perlahan, Ramly dan Mail melakukan pendekatan personal dengan edukasi pentingnya teknik pemetikan secara selektif. Buah yang dipetik hanya buah berwarna merah, sehingga didapatkan produk kopi terbaik dan volume yang lebih banyak. Hal ini akhirnya disadari petani kopi, biji kopi yang sebelumnya dihargai Rp2.500 per liter, kini naik menjadi Rp8.500 per liter.

Kopi Sinjai sendiri dibagi menjadi dua jenis, yakni arabica dan robusta. Mail mengenalkan kepada Aliah Sayuti dan Tim Dompet Dhuafa tentang metode penyeduhan V60. Metode ini dipilih agar biji kopi yang nikmat menghasilkan aroma buah-buahan tropis yang kuat.

Pemberdayaan Kopi Sinjai ini juga memperhatikan lingkungan dengan tetap menggunakan pupuk organik. Tujuannya agar kualitas tanah tidak rusak dan ke depannya tanaman kopi tidak mudah mati. Selain itu, juga untuk mencegah terjadinya degradasi tanah akibat pengunaan pupuk kimia secara berlebihan.

Program pemberdayaan Dompet Dhuafa ini pun terus bertambah dan bertumbuh, dari yang sebelumnya hanya memiliki 3 petani, kini menjadi 59 petani kopi. Dari yang sebelumnya hanya sebagai penghasil biji kopi mentah, kini telah bertumbuh menghasilkan kopi terbaik dari Tanah Sinjai.

Lewat Kopi Sinjai, anak-anak para petani kopi belajar cara memetik kopi terbaik. Seiring berjalannya waktu, keinginan masuk ke perguruan tinggi pun mulai muncul dari anak-anak petani kopi itu. Hal ini membuat rumah pemberdayaan kopi tak hanya bicara biji kopi, tetapi juga soal menyejahterakan petani kopi dari segi ekonomi juga pendidikan.

Sahabat, karena amanah zakat anda, Dompet Dhuafa dapat mengembangkan zona pemberdayaan masyarakat di Sinjai. Cita-cita besar dari anak muda yang kembali ke kampung halaman masih terus berlanjut. Upaya kerja sama dan inovasi masih terus dilakukan demi kesejahteraan petani kopi yang lebih baik. (Dompet Dhuafa/Fitin)

SINJAI, SULAWESI SELATAN — Setelah menempuh perjalanan darat selama lima jam dari pusat Kota Makassar, Tim Dompet Dhuafa SulSel bersama Aliah Sayuti, Super Volunteer Dompet Dhuafa, berkunjung ke Perkebunan Pemberdayaan Ekonomi Kopi Sinjai. Di sana, ia bertemu dengan dua sosok anak muda, yakni Ramly dan Mail, yang turut mendampingi tim menikmati sejuk sore di kebun kopi. Pada kesempatan itu, Aliah Sayuti turut mencoba pengalaman memetik kopi. Buah kopi berwarna merah dipilih, biji kopi kemudian dicuci, selanjutnya dikeringkan di Green House.

Biji kopi yang telah kering idealnya memiliki kadar air sekitar 11-12%, diukur menggunakan alat moisture meter coffee. Tahap selanjutnya, kopi dimasukkan ke dalam mesin huller, agar biji kopi bersih dan terpisah dari kulit tanduknya, yang kemudian menghasilkan green bean atau kopi mentah.

Selanjutnya, kopi melalui tahapan grading atau pengelompokkan kopi berdasarkan ukuran dan kondisinya. Kopi yang lolos grading kemudian akan didistribusikan ke kedai kopi, roasting kopi, dan pesanan lainnya. Sedangkan kopi defect akan diolah menjadi bubuk untuk kopi rumahan yang kualitasnya sama-sama terbaik.

Kopi Sinjai sendiri dibagi menjadi dua jenis, yakni arabica dan robusta. Mail mengenalkan kepada Aliah Sayuti dan Tim Dompet Dhuafa tentang metode penyeduhan V60. Metode ini dipilih agar biji kopi yang nikmat menghasilkan aroma buah-buahan tropis yang kuat.

Pemberdayaan Kopi Sinjai ini juga memperhatikan lingkungan dengan tetap menggunakan pupuk organik. Tujuannya agar kualitas tanah tidak rusak dan ke depannya tanaman kopi tidak mudah mati. Selain itu, ini juga dilakukan untuk mencegah terjadinya degradasi tanah akibat penggunaan pupuk kimia secara berlebihan.

Program pemberdayaan ini tentunya terus bertambah dan bertumbuh, yang mula-mula hanya ada 3 petani kopi, kini sudah berkembang menjadi 59 petani kopi. Selain itu, sebelumnya juga perkebunan ini hanya menghasilkan biji kopi mentah, namun kini telah bertumbuh menghasilkan kopi terbaik dari Tanah Sinjai.

Dari Kopi Sinjai, anak-anak petani kopi belajar cara memetik kopi yang terbaik. Seiring berjalannya waktu, keinginan masuk ke perguruan tinggi mulai muncul dari anak-anak petani kopi ini. Hal itu membuat rumah pemberdayaan kopi tak hanya bicara soal biji kopi, tetapi juga menyejahterakan petani kopi dari segi ekonomi juga pendidikan. (Dompet Dhuafa/Fitin)

SUMATRA SELATAN — Bermula dari kegelisahan dan empati terhadap dependensi fasilitas pendidikan daerah Banyuasin, Mustopa Patapa, salah satu alumni Bakti Nusa 2 Lembaga Pengembangan Insani (LPI) Dompet Dhuafa bergerak membangun perusahaan berbasis social enterprise KULAKU Indonesia.

Kembangkan potensi kawasan Banyuasin melalui komoditi kelapa, KULAKU Indonesia berhasil meningkatkan pendapatan petani kelapa dan masa depan anak-anak petani kelapa dengan memberikan beasiswa jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga Perguruan Tinggi.

Founder sekaligus CEO KULAKU Indonesia itu menjelaskan bahwa perusahaan berbasis social enterprise ini dibangun dari nol dan sudah melalui grafik naik turun dalam perjalanannya. Minimnya pendapatan petani kelapa dan susahnya akses pendidikan bagi anak-anak keluarga petani di Kabupaten Banyuasin, Sumatra Selatan menjadi latar belakang berdirinya KULAKU Indonesia.

KULAKU bersama stakeholder terkait menggelar pelatihan pembuatan olahan kelapa bagi masyarakat Desa Muara Sungsang.

Perusahaan yang berlokasi di Palembang ini memiliki program-program yang bertujuan mengedukasi petani kelapa. Melalui kerja sama dengan berbagai stakeholder terkait, program-program tersebut berfokus pada pemberdayaan dan pendampingan petani kelapa serta beasiswa pendidikan bagi anak petani kelapa, mulai jenjang SMP pertama hingga perguruan tinggi. Saat ini, 20 anak petani telah menjadi penerima manfaat KULAKU Indonesia.

“Bermimpi besar harus disertai targetan. Plan, do it and evaluate basic bagi para entrepreneur. Semoga keberadaan KULAKU Indonesia bisa menjadi sarana membesarkan orang lain, terkhusus keluarga petani kelapa Banyuasin,” ucap Mustopa Patapa pada acara Walk The Talk #3: “Learn, Action, Impact”, yang diselenggarakan oleh Lembaga Pengembangan Insani (LPI) Dompet Dhuafa, Sabtu (20/5/2023).

Pemberdayaan dan pendampingan bertujuan mengedukasi petani kelapa agar bisa mengeliminasi kesulitan dalam proses perkembangan perusahaan. Segala upaya telah dilakukan oleh Mustopa bersama anak muda Banyuasin untuk meningkatkan taraf hidup petani kelapa Banyuasin. Mereka meyakini, usaha Tim KULAKU dalam mengubah nilai produk agar lebih bernilai ekonomis tinggi, daripada hanya dijual sebagai komoditi kelapa.

Mustopa Patapa dalam acara Business Forum in Dubai Expo pada 4 Oktober 2021.

KULAKU akhirnya mendapatkan ruang kerja sama dan mendirikan 4 site produksi di Banyuasin. Produk turunan kelapa yang dibuat bersama petani kelapa yakni VCO, CCO, Nata De Coco dan charcoal. Produk tersebut sekarang memiliki pasar nasional dan bisa dinikmati di Palembang, Jakarta, Padang, dan Jambi.

Proyeksi perluasan pemasaran produk KULAKU akan dilakukan di tahun 2023 guna menyasar pasar internasional seperti Malaysia, Jepang, Korea Selatan, dan Nigeria. Bahkan di tahun 2024 nanti, KULAKU menargetkan pemasaran produk-produk turunan kelapa petani Banyuasin (termasuk sabut kelapa yang masih dikembangkan) ke pasar Eropa.

“Pengembangan produk dan pemberdayaan petani harus sejalan visi misi perusahaan. Kami adalah perusahaan social enterprise. Jadi tolak ukur utama perusahaan berkembang adalah meningkatnya kesejahteraan petani kelapa dampingan KULAKU,” tutur alumni Bakti Nusa Palembang tersebut.

Produk VCO oleh KULAKU Indonesia.
Mustopa Patapa menjadi pemateri dalam acara acara Walk The Talk #3: “Learn, Action, Impact”, yang diselenggarakan oleh LPI Dompet Dhuafa pada Sabtu, (20/5/2023).

KULAKU sudah memanen berbagai prestasi di berbagai sektor, salah satunya makin dikenal pasca menjadi perwakilan Indonesia di Dubai Expo 2020 bersama Kementerian Koperasi dan UMKM RI. KULAKU juga mendapat penghargaan dari pemerintah daerah hingga badan internasional seperti UNDP dan Youth Co: Lab Asia and Pacific Summit dan didapuk menjadi perwakilan Indonesia pada forum Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) 2022.

Dompet Dhuafa melalui program Beasiswa Aktivis Nusantara (Bakti Nusa) terus berupaya mendorong generasi-generasi milenial untuk turut memunculkan ide-ide kreatif dalam membangun usaha dengan mengembangkan potensi di wilayahnya berbasis social entreprise. Selain Mustopa, masih banyak keberhasilan dari para alumni Bakti Nusa Dompet Dhuafa yang patut diapresiasi dan diikuti. (Dompet Dhuafa/Muthohar)

SALATIGA — Pada Selasa (23/5/2023) pukul 12.00 WIB, sebuah kampus di Salatiga, Jawa Tengah tampak sibuk dan dipenuhi dengan aktivitas. Apalagi saat jam istirahat makan siang datang, ini adalah momen yang dinantikan oleh para mahasiswa.

Suasana begitu hidup dan riuh, aroma soto dan mie instan yang lezat tercium di udara, menggugah selera. Deretan meja dan kursi terisi penuh dengan mahasiswa yang sibuk makan, tertawa, juga bercengkrama.

Tampak juga seorang pria berusia 24 tahun yang akrab disapa Busro sedang melayani para pembeli di Kantin Kontainer Dompet Dhuafa. Ia merupakan mahasiswa semester 8 jurusan Pendidikan Agama Islam di Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga. Ya, Busro adalah Koordinator sekaligus Pengelola Kantin Kontainer Dompet Dhuafa.

Ahmad Busro Mustofa menghidangkan makanan untuk pembeli Kantin Kontainer.

Lahir dan besar di Purwodadi, Grobogan, Ahmad Busro Mustofa, sukses menjalankan dan mengelola Kantin Kontainer Dompet Dhuafa, yang merupakan program pemberdayaan di bidang ekonomi. Kantin Kontainer ini merupakan program beasiswa wirausaha yang diperuntukkan bagi mahasiswa kurang mampu. Caranya adalah dengan mengelola kantin yang terbuat dari kontainer.

Di kantin yang Busro kelola, ada berbagai pilihan makanan, mulai dari hidangan tradisional yang khas hingga hidangan kekinian. Tiba di Kantin Kontainer Dompet Dhuafa, terlihat antrean panjang memenuhi kontainer. Para mahasiswa berjejer dengan sabar, memilih menu jajanan dan makanan favorit mereka. Hingga kini, Busro dan ketiga timnya memiliki 12 supplier produk makanan yang berasal dari kalangan mahasiswa UIN Salatiga.

Di balik kepiawaiannya mengelola Kantin Kontainer, Busro hanya seorang anak petani yang memiliki tekad dan juga mimpi yang kuat untuk bisa berkuliah. Kedua orang tuanya berprofesi sebagai petani ladang Jagung di Purwodadi.

Ahmad Busro Mustofa selaku Koordinator dan Pengelola Kantin Kontainer Dompet Dhuafa.

Tekad dan semangat Busro, untuk bisa mengenyam pendidikan yang layak sudah tercapai. Melalui program Kantin Kontainer, Busro mengaku merasa beruntung lantaran ini sangat membantu kelancaran kuliahnya. Mengingat kondisi ekonomi keluarganya yang pas-pasan dan belum mampu memenuhi dan membiayai keperluannya selama kuliah, berbagai pekerjaan serabutan pun ia lakoni untuk mencari tambahan pemasukan.

“Saya nunda kuliah setahun, karena di daerah saya kan jarang yang kuliah. Saya ikut kerja bapak, berladang, terus di proyek, kuli bangunan, terus bertekad pengin kuliah, tapi dengan biaya sendiri. Sudah tekad dari rumah seperti itu. Walaupun pas awal merantau juga bingung mau ngapain,” terang Busro.

Lebih lanjut, sebelum berjodoh dengan Kantin Kontainer Busro mengaku sempat bekerja sebagai ojek online. Hingga akhirnya ia mendapat informasi mengenai perekrutan pengelola kantin, pasalnya untuk mengelola Kantin Kontainer dan menjadi penerima manfaat harus melewati berbagai tahap dan seleksi.

Ahmad Busro Mustofa selaku Koordinator dan Pengelola Kantin Kontainer Dompet Dhuafa

“Terus saya lanjutin narik ojol (ojek online), dipinjami akun teman, karena kalau nggak kerja saya nggak jajan di sini. Terus akhirnya ada rekrutan Kantin Kontainer, saya daftar terus kami (ikut) seleksi,” tambah Busro kepada Dompet Dhuafa.

Semangat dan tekad itulah yang akhirnya berhasil mengantarkan Busro mendapat beasiswa, ia berhasil menembus keterbatasan. Di samping itu, melalui Kantin Kontainer Dompet Dhuafa sebagai lembaga pemberdaya masyarakat menginginkan adanya keahlian entrepreneur untuk mahasiswa.

“Karena mau beda, orang tua pernah bilang kalau ibu lulusan SD anak lulusan SMP, itu orang tua sukses. Kalau orang tua lulusan SMA anak bisa sarjana itu orang tua sukses, makanya saya ambil kuliah untuk mengangkat derajat orang tua,” terangnya.

Busro menerangkan bahwa sejak awal semester ia telah membiayai kuliahnya sendiri berkat jerih payah yang ia lakukan juga dukungan dari Dompet Dhuafa.

Mahasiswa-mahasiswi UIN Salatiga menikmati hidangan sambil bercengkrama di Kantin Kontainer Dompet Dhuafa.
Mahasiswa-mahasiswi UIN Salatiga menikmati hidangan sambil bercengkrama di Kantin Kontainer Dompet Dhuafa.

“Itu terasa dampaknya, di segi ekonomi sangat terasa dan sangat manfaat sekali karena kalau saya pribadi hasil di sini saya fokuskan ke UKT. Jadi, ini tempat bersejarah juga nanti buat portofolio. Semua teman-teman yang wisuda foto di sini dari 2017,” lanjutnya.

Sempat berhenti beroperasi selama 2 tahun akibat adanya Covid-19, Busro bersama ke tiga orang dalam timnya berhasil mengembalikan kejayaan Kantin Kontainer Dompet Dhuafa. Kini, Kantin Kontainer mampu mencapai omzet berkisar Rp1.500.000 per hari. Sementara perminggu Kantin Kontainer mampu mengantongi omzet sebesar Rp6.000.000 hingga Rp7.000.000. Pendapatan tersebut mampu melunasi pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) Busro dan kawan-kawan.

Hasil dari keuntungan Kantin Kontainer tersebut kini digunakan sebagai operasional kantin dan gaji mahasiswa yang menjadi pengelola. Selain itu, sebanyak 2,5 persen dari keuntungan kantin dibayarkan sebagai zakat melalui Dompet Dhuafa.

Mahasiswa-mahasiswi UIN Salatiga sedang mengantre untuk menikmati hidangan di Kantin Kontainer Dompet Dhuafa.

“Omzet perhari 2000-2500, biasanya kami potong 1.000 untuk potong supplier, berarti tinggal 1,500. Kalau per minggu ya berarti dapet 6000-7000 omzet, belum profit, kalau profit bersih kita simpan, kadang di angka 3000 per minggu, dan kondisi mahasiswa juga pengaruh,” tutup Busro.

Dompet Dhuafa berfokus dalam membangun kemandirian ekonomi dan sosial masyarakat duafa. Sebagai lembaga pemberdayaan masyarakat, Dompet Dhuafa telah berkontribusi secara signifikan dalam meningkatkan kesejahteraan dan memberikan kesempatan yang lebih baik bagi mereka yang kurang mampu. (Dompet Dhuafa/Anndini)

SALATIGA, JAWA TENGAH — Pandemi Covid-19 menyebabkan Kantin Kontainer Dompet Dhuafa di Salatiga hiatus selama dua tahun. Namun tepat di akhir tahun 2022, salah satu program pemberdayaan ekonomi yang dicetuskan Dompet Dhuafa Jawa Tengah itu telah kembali beroperasi.

Ya, Kantin Kontainer merupakan program beasiswa wirausaha yang diperuntukkan bagi mahasiswa yang berasal dari keluarga kurang mampu. Mereka diamanahi untuk mengelola kantin yang terbuat dari kontainer. Kemudian, mahasiswa akan mendapatkan beasiswa dari hasil pengelolaan kantin tersebut.

Idealnya, Program Kantin kontainer dikelola oleh 10 mahasiswa yang berasal dari keluarga kurang mampu, yang memiliki kecerdasan dan semangat berwirausaha. Hal tersebut yang membuat mereka dipercaya untuk mengelola keuangan kantin sepenuhnya.

“Program Kantin Kontainer akan diberikan kepada mahasiswa kurang mampu yang belum mendapatkan beasiswa di lingkungan pendidikan tempat Kantin Kontainer tersebut didirikan. Lokasi Kantin Kontainer bisa di kampus-kampus yang ada di Jawa Tengah, sesuai dengan persetujuan dengan mitra,” kata Irfan Mahyuddin selaku Penanggung Jawab Pemberdayaan Ekonomi Dompet Dhuafa Jawa Tengah.

Bertengger di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Pendidikan UIN Salatiga, pada Selasa (23/5/2023), memasuki jam makan siang, kantin dipenuhi oleh mahasiswa. Ada yang ingin mengisi perut, ada yang berdiskusi atau sekadar bercengkrama. Hingga saat ini, program tersebut telah memberdayakan puluhan mahasiswa yang mana di antaranya mendapatkan manfaat sebagai pengelola kantin dan telah memiliki 12 orang supplier produk makanan.

“Kantin bantuan dari Dompet Dhuafa baik itu dari sisi kontainer, bantuan permodalan. Kemudian kantin itu dikelola oleh para mahasiswa kami dengan kriteria tertentu. Para konsumen pun kami juga akhirnya mendapatkan fasilitas bisa untuk sarapan, untuk makan siang. Kami perwakilan dari kampus mengucapkan banyak terima kasih dengan bantuan yang berupa Kantin Kontainer ini, ternyata memang sangat bermanfaat bagi anak-anak kami yang punya semangat dan punya prestasi, namun tidak beruntung dari sesi ekonomi, dan bisa membantu agar mereka tetap eksis bisa kuliah sampai selesai dan bisa menghidupi dirinya sendiri,” ungkap Siti Asdiqoh selaku Wakil Dekan III Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Pendidikan UIN Salatiga.

Tak hanya beasiswa, mahasiswa juga akan belajar terkait pengelolaan usaha, sehingga jiwa dan kemampuan di bidang entrepreneurshipnya meningkat. Harapannya, para penerima manfaat terutama mahasiswa ini mampu menyelesaikan kuliah dengan beasiswa yang ia terima, juga ke depan bisa menjadi sosok yang tidak sekadar mencari kerja namun bisa menciptakan lapangan kerja berbekal dari pengelolaan usaha kantin yang pernah dilakukan.

Kantin Kontainer UIN Salatiga sendiri dikelola oleh tiga mahasiswa terpilih dan seorang Ibu Kantin yang membantu. Terdapat beragam snack dan makanan ringan seperti gorengan, roti, mie instan, nasi bakar, hingga soto yang siap disajikan di kantin tersebut.

Beroperasi mulai pukul 07.00 hingga 16.00 WIB, Kantin Kontainer ini mampu mencapai omzet berkisar Rp1.500.000/hari. Sementara per minggu, Kantin Kontainer mampu mengantongi omzet sebesar Rp6.000.000 hingga Rp7.000.000. Pendapatan tersebut mampu melunasi pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) para mahasiswa, bahkan bisa mengantarkan mereka menjadi sarjana.

Dampak positif dari adanya Kantin Konatainer Dompet Dhuafa ini dirasakan betul oleh Ahmad Busro Mustofa, Koordinator sekaligus pengurus Kantin Kontainer UIN Salatiga.

“Salam hangat dan rasa syukur kami sampaikan kepada Dompet Dhuafa atas bantuan yang telah diberikan. Terima kasih atas kepedulian dan kontribusi yang luar biasa dalam membantu kami. Bantuan yang telah diberikan tidak hanya memberikan kelegaan materi, tetapi juga memberikan harapan dan semangat baru bagi kami. Dengan bantuan ini, kami merasa didukung dan diberi kepercayaan untuk memulai kembali dan menciptakan masa depan yang lebih baik,” ungkap Busro.

Dompet Dhuafa sebagai lembaga pemberdayaan senantiasa berkomitmen untuk mendampingi masyarakat utamanya kaum duafa untuk menjadi masyarakat yang berdaya, mengubah mustahik menjadi muzaki. Dompet Dhuafa tentu membutuhkan dukungan dari berbagai pihak untuk bisa menjalankan dan mengelola dana Ziswaf secara produktif.

“Kami (Dompet Dhuafa) bersama UIN Salatiga merasa kerja samanya itu benar-benar enak. Karena dari kampus itu selalu mendukung, jadi kita nggak dibiarkan jalan sendiri, didampingi, ada pendampingan dan support-support yang lain. Makanya ini bisa jalan, karena saya yakin sebagian kontribusi dari kampus,” tutur Irfan.

Diharapkan program ini dapat membantu meringankan kebutuhan ekonomi bagi mahasiswa dan masyarakat duafa tersebut dan mengasah jiwa kewirausahaan, sehingga meningkatkan perekonomian untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Program kantin kontainer bisa juga diaplikasikan di terminal, rumah sakit, dan juga tempat-tempat lainnya yang prospek dengan tujuan membantu memberdayakan kaum duafa baik mahasiswa maupun masyarakat umum di bidang wirausaha. (Dompet Dhuafa/Anndini)