TEGAL, JAWA TENGAH — Gelorakan semangat petani muda, Dompet Dhuafa hadirkan Greenhouse Budidaya Melon Premium di Slawi, Tegal, Jawa Tengah. Program Dompet Dhuafa tersebut berkolaborasi dengan Pondok Pesantren Misbahul Huda Al-Amiriyyah dan SMK Negeri 2 Slawi. Pada Agustus, program tersebut sudah berhasil menggelar panen perdana Budidaya Melon Premium. Sekaligus menandai pencapaian penting dalam upaya memberdayakan generasi muda melalui pertanian inovatif dan berkelanjutan.

Program pemberdayaan ekonomi tersebut dengan menggerakkan potensi petani muda melalui pembekalan pelatihan intensif, bimbingan, dan akses ke teknologi pertanian modern. Melalui program tersebut, Dompet Dhuafa terus mengoptimalkan potensi generasi muda dan membantu mereka menjadi pelaku usaha pertanian yang sukses. Tentunya sambil meningkatkan kualitas dan produktivitas pertanian di daerah tersebut bersama generasi muda setempat.

Petani Muda pemberdayaan Dompet Dhuafa memanen melon premium jenis Sweet Net hasil panen perdana di Greenhouse Dompet Dhuafa, Slawi, Tegal, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu.

Salah satu petani muda yang berpartisipasi dalam program, Barep Arkan Adiyatma, mengatakan, “Dapat terlibat dalam program ini merupakan pengalaman yang sangat berkesan bagi saya. Karena selain menambah pemasukan bagi kami yang merupakan pelajar, program ini memberikan saya sarana untuk mengimplementasikan dan mengembangkan ilmu yang dipelajari di kelas. Apalagi metode budidaya yang digunakan bukan metode konvensional yang rentan terhadap perubahan cuaca dan gangguan hama”.

Momen Bersejarah Panen Perdana

Panen perdana melon premium tersebut menjadi momen penuh makna bagi para petani muda yang terlibat. Dukungan Dompet Dhuafa dan mitra pengelola Rumah Sosial Kutub menjadi salah satu kunci para petani muda berhasil membuktikan kemampuan mereka. Kali ini para petani muda mampu menghasilkan melon berkualitas tinggi dengan jenis sweet net yang siap dipasarkan. Acara tersebut dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk perwakilan Dompet Dhuafa, petani muda, mitra dan stakeholder terkait.

Salah satu Petani Muda pemberdayaan Dompet Dhuafa merawat tanaman melon premium jenis Sweet Net di Greenhouse pemberdayaan Dompet Dhuafa, Slawi, Tegal, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu.

Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Jawa Tengah, Zaini Tafrikhan menyatakan bahwa program pemberdayaan ekonomi berbasis budidaya Melon Premium merupakan terobosan yang ditempuh untuk memberdayakan masyarakat di sektor pertanian modern. “Agro EduWisata Budidaya Melon Premium ini merupakan salahsatu program terbaru kami di sektor pertanian modern. Dengan melibatkan akademisi yang memberikan mereka keleluasaan dalam mengaplikasikan ilmunya secara direct. Tentu harapannya agar menjadikan para penuntut ilmu di sini berdikari, dan menyediakan laboratorium untuk mereka mengembangkan ilmunya. Dan alhamdulillah sudah menghasilkan panen yang sangat berkualitas pada panen perdananya,” ungkap Zaini.

Petani Muda pemberdayaan Dompet Dhuafa membawa hasil panen melon premium jenis Sweet Net hasil panen perdana di Greenhouse Dompet Dhuafa, Slawi, Tegal, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu.

Keberhasilan panen perdana tersebut harapannya dapat memperluas program dan membawa manfaat lebih luas bagi masyarakat pertanian di Jawa Tengah. Karena Dompet Dhuafa berkomitmen untuk terus mendukung dan mengembangkan program pemberdayaan ekonomi. Dengan tujuan menjangkau lebih banyak petani muda dan meningkatkan dampak positif bagi komunitas. (Dompet Dhuafa)

SUMBAWA – Dalam rangka penguatan kapasitas UMKM yang tergolong Mustahik, Koperasi Konsumen Syariah (Kopsyah) BMT Insan Samawa berkolaborasi dengan Yayasan Wirausaha Indonesia Berdaya (YWIB) Dompet Duafa, Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sumbawa melalui program Mufakat (Modal Usaha BermanFaat untuk Masyarakat).

Program inovatif bertajuk Mufakat yang melibatkan lembaga bisnis, philantropy dan lembaga sosial masyarakat ini dilaunching di Aula MUI Sumbawa pada Senin, 16 Desember 2024. 

Hadir pada agenda sosialisasi dan launching tersebut Ketua Komisi Pemberdayaan Ekonomi Ummat (KPEU) MUI Sumbawa yang juga Ketua Pengurus Kopsyah BMT Insan Samawa, Rai Saputra, SIP., Sekretaris Komisi Pendidikan MUI Sumbawa, Ust. Syatria Kurniansyah, M.PdI. Sekretaris MES Sumbawa, Feri Irawan, ME., Ketua Bidang Advokasi Dekopinda Sumbawa, Iwan Haryanto, MH., jajaran pengurus dan pengelola Kopsyah BMT Insan Samawa, mitra pengusaha muslim serta sepuluh anggota BMT Insan Samawa penerima manfaat awal Program Mufakat yang terdiri dari pengusaha kuliner, penjual kambing, jasa servis AC serta penjual obat-obatan herbal.

Dalam sambutannya, Rai yang juga merupakan Ketua Dekopinda Sumbawa menyampaikan rasa syukur atas kolaborasi positif stakeholder ekonomi syariah dalam meningkatkan kapasitas UMKM tergolong Mustahik sehingga diharapkan mampu mengubah kondisi UMKM tersebut dari yang tergolong Mustahik menjadi Muzakki atau pemberi zakat.

“Program Mufakat dihajatkan untuk mensupport permodalan produktif UMKM Mustahik , yang mana subsidi atas margin, bagi hasil atau jasa koperasi dari akad bisnis syariah yang disepakati disubsidi oleh YWIB Dompet Duafa, sehingga UMKM penerima manfaat hanya mencicil pokok modal pembiayaan saja ke koperasi syariah. Adapun keberadaan MES dan MUI berperan dalam mensupport koperasi melakukan pendampingan melalui kegiatan kelas penguatan kapasitas rutin bulanan bagi UMKM.” jelas Rai.

“Dalam mengisi kelas penguatan serta pendampingan UMKM penerima manfaat, Kopsyah BMT Insan Samawa akan dibersamai oleh tokoh agama dari MES dan MUI Sumbawa, dari kalangan akademisi hingga praktisi sesuai kurikulum yang akan disampaikan. Bahkan dalam penyusunan kurikulum kewirausahaan kami melibatkan mitra Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Samawa. Sehingga betul -betul diharapkan berdampak pada peningkatan kapasitas UMKM dan mengubah kondisi mereka dari Mustahik menjadi Muzakki.” tambah Rai.

Dari perwakilan MUI, Syatria menyampaikan apresiasi luar biasa atas keberadaan Kopsyah BMT Insan Samawa dalam memperkuat ekonomi syariah di Kabupaten Sumbawa. Apalagi program mufakat yang digalakkan merupakan program kolaboratif yang melibatkan lembaga philantropy nasional seperti YWIB Dompet Duafa. Diharapkan mampu menjadi kolaborasi apik yang mampu memperkuat perekonomian khususnya bagi masyarakat penerima manfaat di Kabupaten Sumbawa.

Dikisahkannya, Salah satu ajaran yang menjadi perhatian dalam Islam adalah terkait tuntutan untuk bersikap produktif. Dahulu Rasulullah pernah menitipkan pembelian seekor kambing melalui salah seorang sahabat. Ketika dana dititipkan untuk seekor kambing, sahabat yang dititipkan membeli kambing di wilayah luar kota sehingga sahabat tersebut memperoleh dua ekor kambing. Setelah diantarkan ke Rasulullah, maka Rasulullah hanya mengambil seekor kambing saja dan yang seekor diberikan kepada sahabat tersebut. Hal tersebut menunjukkan apresiasi Rasulullah atas ikhtiar sahabat untuk bersikap produktif dan cerdas dalam berusaha.

Setelah sesi sambutan dilanjutkan launching Program Mufakat dengan penyerahan produk pembiayaan murabahah secara simbolis oleh Ketua Pengurus Kopsyah BMT Insan Samawa dan dari MUI Sumbawa kepada UMKM penerima manfaat bergerak di bidang jasa servis AC berupa mesin semprotan pembersih AC, serta pemaparan gambaran program mufakat oleh Ketua Pengurus Kopsyah BMT Insan dan penyampaian rincian kurikulum kelas penguatan kapasitas di antaranya materi motivasi kewirausahaan, keuangan dasar usaha, peningkatan kualitas produk, branding, pemasaran dan Digitalisasi hingga jejaring usaha.

Agenda ditutup dengan sesi diskusi dengan pihak anggota Mufakat untuk menentukan jadwal pertemuan rutin bulanan serta masukan-masukan dari stakeholder yang hadir.

BANTEN — Keterbatasan modal dan pengetahuan yang minim mengakibatkan sejumlah petambak udang di wilayah Desa Wanayasa, Kecamatan Pontang, Serang sulit berkembang. Para petambak di sana mengaku, faktor utama dalam pengelolaan udang secara tradisional adalah persiapan modal dan pengetahuan akan seluk beluk beternak udang vaname.

Kondisi ini justru mengetuk tim program Dompet Dhuafa untuk menciptakan sebuah program pemberdayaan. Fita Berliana Akbar selaku Manager Program Dompet Dhuafa Banten menjelaskan bahwa warga di Desa Wanayasa, mayoritas para peternak bandeng dan udang khususnya jenis vaname. Namun sangat disayangkan, mereka hanya peternak, sementara lahan tambak mereka sewa bahkan untuk penjualannya masih tergantung dari tengkulak sehingga keuntungan yang mereka peroleh sangat kecil sekali.

“Alhamdulillah Dompet Dhuafa Banten mencoba untuk masuk dalam program budidaya udang vaname ini. Mulai dari tebar benih untuk bioflok Diameter 20 Meter ini diuji coba dengan sistem tebar padat intensif. Padat normal sebetulnya di 100 ribu benih namun untuk siklus pertama ini diuji coba dengan tebar padat di 140 ribu benih dengan kepadatan 290 benur/Meter kubik. Tinggi Air di kolam kurang lebih 1.5 Meter. Penggunaan bioflok ini bertujuan untuk memudahkan pengontrolan kualitas Air, dengan salinitas (Kasar Garam), PH, suhu yang mudah untuk dikontrol setiap harinya. Penggunaan bioflok ini juga untuk mengoptimalkan proses budidaya dengan hasil yang lebih produktif dan efesien untuk pemeliharaan,” jelas Elin kepada sejumlah awak media yang sedang mengikuti agenda press touring pada Selasa (05/06/2024) sore.

Program pemberdayaan ekonomi Dompet Dhuafa Banten, Budidaya Udang Vaname, terletak di Desa Wanayasa, Kecamatan Pontang, Serang.

Pembelian benur masih di Daerah serang (Kabupaten Serang/Carita). Bibit yang udah teruji empiris beberapa budi daya di Provinsi Banten. Dengan harga benih untuk kualitas terbaik saat ini di 45 rupiah/benih.

Treatment Harian untuk para karyawan adalah melakukan kontroling kualitas Air dengan melakukan proses shipon, dan treatment penebaran obat pengurai NH3. Pemberian pakan dan sampling size per 5-10 Hari (Teknik Anco). Pemberian pakan secara umum memiliki rasio 1:1 dengan perhitungan 1.5 Ton pakan akan menghasilkan total panen pada angka 1.5 Ton udang.

Panen parsial telah dilakukan. Panen parsial bertujuan untuk mengurangi kepadatan saat size udang semakin besar. Panen pertama dilakukan di hari (DOC 40). Saat size udang memasuki size 120-100. Parsial dilakukan untuk menghindari berkembang nya bakteri Vibrio dan kematian udang akibat proses molting dan kanibalisme. Parsial di siklus ini sudah dilakukan sebanyak 4 tahap. Tahap 1 sekitar 2 Kuintal. Tahap 2&3 sebanyak 2 Kuintal. Tahap 4 sebanyak 2 Kuintal. Dengan total panen parsial 6 Kuintal. Sisa pupulasi udang sekarang di 28.000 udang dengan target panen total akhir di Size 45-40 mencapai tonase 7 Kuintal.

Program pemberdayaan ekonomi Dompet Dhuafa Banten, Budidaya Udang Vaname, terletak di Desa Wanayasa, Kecamatan Pontang, Serang

Ali selaku penerima manfaat program budidaya udang vaname Dompet Dhuafa Banten menuturkan, dengan adanya bantuan program pemberdayaan ini, dirinya sangat merasa terbantu terutama dalam bidang pengelolaan udang vaname. Mulai dari ketersediaan tambak atau lahan hingga pemasaran udang vaname ini.

“Kami tidak bergantung lagi dengan tengkulak. Sehingga bisa memutus rantai ekonomi pemasaran. Selain itu modal maupun keuntungan sedianya akan digunakan untuk pembangunan bioflok dan pembibitan baru lagi, sehingga dapat menyerap pasar yang lebih luas,” katanya.

Saat ini, Dompet Dhuafa Banten mampu menjual hasil tambak itu ke rumah makan dengan harga 80.000/kg, end user 95.000/kg. Sehingga, Dompet Dhuafa Banten dapat menargetkan jumlah margin pada angka Rp51.000.000 dalam satu kali siklus. (Dompet Dhuafa)

BANDAR LAMPUNG — Adalah Nimas, Tiwi, Eva, Ferhad dan Zicky, mereka mahasiswa/i semester enam di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEBI) Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung (RIL). Semenjak Selasa (20/2/2024), aktivitas mereka di kampus bertambah. Dengan semangat, mereka mengelola Kantin Kontainer, program beasiswa entrepreneurship Dompet Dhuafa, di area FEBI.

Merantau ke Lampung untuk kuliah, Tiwi memilih untuk menggeluti ilmu di jurusan Akuntansi, FEBI UIN RIL. Mahasiswi asal Cilegon itu ternyata juga seorang atlet hoki di Banten. Namun, menyelami dunia perniagaan juga menjadi ketertarikannya menuju cita-citanya kelak.

“Di Cilegon, aku dan kakak buka konter minuman thai tea dan makanan ringan. Saat pandemi itu sempat sepi banget. Nah, ayahku itu supir truk molen dan ibuku jual sayuran. Aku suka lihat ibu berdagang. Itu jadi motivasi aku untuk membantu orang tua juga dengan beasiswa program Dompet Dhuafa ini. Dan memang cita-citaku yang ingin bisnis punya kedai atau cafe sendiri nantinya,” ungkap Tiwi, optimis.

Tiwi, penerima manfaat program beasiswa entrepreneurship Kantin Kontainer Dompet Dhuafa. Mahasiswi Akutansi FEBI UIN RIL asal Cilegon itu ternyata juga seorang atlet hoki di Banten. Namun, menyelami dunia perniagaan juga menjadi ketertarikannya menuju cita-citanya kelak.
Tiwi, penerima manfaat program beasiswa entrepreneurship Kantin Kontainer Dompet Dhuafa. Mahasiswi Akutansi FEBI UIN RIL asal Cilegon itu ternyata juga seorang atlet hoki di Banten. Namun, menyelami dunia perniagaan juga menjadi ketertarikannya menuju cita-citanya kelak.

Sama-sama ingin membantu orang tua dan hobi berniaga, Zicky bercerita bahwa sejak SMP ia sering membantu kawan menjembatani jual-beli atau sekedar menawarkan barang second. Mahasiswa jurusan Manajemen FEBI UIN RIL ini juga pernah membuka usaha bersama kawannya sejak SMA.

“Jualin HP teman, second. Lalu SMA pernah buka toko pakaian atau produk olahraga bareng teman. Kebetulan teman punya tempatnya, jadi kita patungan untuk modal awal belanja barang. Sekarang masih buka, tapi tidak seaktif dulu. Jalanin kuliah dan ada kesempatan kantin ini, saya ingin belajar manajemen bisnis dan bantu orang tua yang bertani di sawah,” kata Zicky.

Zicky, penerima manfaat program beasiswa entrepreneurship Kantin Kontainer Dompet Dhuafa. Hobi berniaga sejak SMP, ia sering membantu kawan menawarkan produk second. Mahasiswa jurusan Manajemen FEBI UIN RIL ini juga pernah membuka usaha bersama kawannya sejak SMA.
Zicky, penerima manfaat program beasiswa entrepreneurship Kantin Kontainer Dompet Dhuafa. Hobi berniaga sejak SMP, sering membantu kawan menawarkan produk second. Mahasiswa jurusan Manajemen FEBI UIN RIL ini juga pernah membuka usaha bersama kawannya sejak SMA.

Orang tua Nimas juga petani sayur, namun inspirasi bisnis di hidupnya hadir dari sang kakak. Mahasiswi jurusan Ekonomi itu teringat ketika sang kakak berjualan dan sering menitipkan produk kudapan pada Nimas saat masih sekolah dasar.

“Walaupun aku masih SD, tapi aku jadi terinspirasi kakak sekarang. Akhirnya waktu SMA aku mulai jualan produk fashion dan foodies melalui online shop. Namun sekarang, aku lebih tertarik belajar manajemennya. Membaca relasi, pendataan, dan sebagainya. Sekarang ingin kembangin usahaku di sosial media sejak 2021 di bidang agent management gitu, jadi perusahaan. Agent untuk bantu usaha orang lain,” ungkap Nimas.

Nimas, penerima manfaat program beasiswa entrepreneurship Kantin Kontainer Dompet Dhuafa. Inspirasi bisnis hadir dari sang Kakak. Mahasiswi jurusan Ekonomi itu sering dititipkan dagangan produk kudapan oleh sang Kakak saat masih sekolah dasar.
Nimas, penerima manfaat program beasiswa entrepreneurship Kantin Kontainer Dompet Dhuafa. Inspirasi bisnis hadir dari sang Kakak. Mahasiswi jurusan Ekonomi itu sering dititipkan dagangan produk kudapan oleh sang Kakak saat masih sekolah dasar.

Selain itu, ada Ferhad yang juga mengawali dunia niaga bersama sang Kakak. Baru setahun belakangan ia berjualan kudapan jenis Takoyaki di dekat rumahnya. Konter mini itu merupakan usaha keluarga sebagai mata pencaharian tambahan sang Ayah, yang aktif sebagai buruh service elektronik.

“Ayah dan abang itu gigih banget kalau jualan, jadi saya juga berusaha untuk mendapatkan beasiswa ini. Walaupun kegiatan bertambah sambil kuliah, tapi ini sangat positif, karena saya juga ingin belajar banyak dari Kantin Kontainer. Sebab kelak, setelah lulus dan bekerja, berniaga yang kita senangi tidak terikat peraturan tertentu,” jelas mahasiswa jurusan Ekonomi itu.

Ferhad, penerima manfaat program beasiswa entrepreneurship Kantin Kontainer Dompet Dhuafa mengawali dunia niaga bersama sang Kakak. Baru setahun belakangan ia berjualan kudapan jenis Takoyaki di dekat rumahnya yang merupakan usaha keluarga sebagai mata pencaharian tambahan keluarga.
Ferhad, penerima manfaat program beasiswa entrepreneurship Kantin Kontainer Dompet Dhuafa mengawali dunia niaga bersama sang Kakak. Baru setahun belakangan ia berjualan kudapan jenis Takoyaki di dekat rumahnya yang merupakan usaha keluarga sebagai mata pencaharian tambahan keluarga.

Di sisi lain, kelima penerima manfaat program beasiswa entrepreneurship Kantin Kontainer ini sama-sama termotivasi dengan ilmu dan pengalaman baru, mendapatkan pelatihan serta bimbingan, juga menambah uang saku dari hasil niaga di Kantin Kontainer. Dan sembilan hari sebelum peluncurannya, Kantin Kontainer mulai melakukan pengenalan serta uji coba hingga diluncurkannya pada Jumat (1/3/2024).

Mahasiswi Manajemen Bisnis, Dela dan Deli misalnya. Mereka berdua adalah pengunjung Kantin Kontainer FEBI UIN Lampung yang terlihat sedang mengerjakan tugas kuliah di laptop sambil asyik berbincang dan menikmati kudapan.

“Kami sudah empat kali nongkrong di sini. Enak juga dekat sama FEBI, karena di dalam tidak ada kantin, jadi di sini bisa duduk nyemil sambil nugas. Bisa sampai satu-dua jam kalau sudah di sini,” seru mahasiswi semester enam itu.

Suasana Kantin Kontainer Dompet Dhuafa di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEBI) Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL).
Suasana Kantin Kontainer Dompet Dhuafa di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEBI) Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL).

Kantin Kontainer merupakan program beasiswa entrepreneurship bagi mahasiswa/i yang tengah belajar kewirausahaan di kampus. Sebelumnya melalui Cabang Lampung, Dompet Dhuafa dan FEBI UIN RIL menandatangani kesepakatan kerja sama beasiswa mahasiswa berbasis program laboratorium kewirausahaan Kantin Kontainer, Kamis (19/10/2023). Alhamdulillah, Kantin Kontainer Lampung telah diluncurkan pada Jumat (1/3/2024), oleh Dompet Dhuafa bersama Unit Pengelola Zakat dan Dana Kebajikan (UPZDK) Permata Bank Syariah dan FEBI UIN RIL.

KolaborAksi program ini dilakukan dengan tujuan menguatkan sumber daya manusia dan pengabdian masyarakat oleh kedua belah pihak. Mahasiswa juga akan belajar terkait pengelolaan usaha, sehingga jiwa dan kemampuan di bidang entrepreneurship-nya meningkat.

“Harapannya, mahasiswa ini mampu menyelesaikan kuliah dengan beasiswa yang ia terima. Juga, ke depan bisa menjadi sosok yang tidak sekadar mencari kerja, namun bisa menciptakan lapangan kerja, berbekal dari pengelolaan usaha kantin yang pernah ia lakukan,” sebut Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Lampung, Yogi Achmad Fajar. (Dompet Dhuafa).

LAMPUNG — Dompet Dhuafa Cabang Lampung bersama Unit Pengelola Zakat dan Dana Kebajikan (UPZDK) Permata Bank Syariah menjalin kerja sama dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEBI) Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL) untuk mengimplementasikan prinsip ekonomi syariah. Dalam kerja sama ini, ketiga instansi tersebut mengusung sebuah program kewirausahaan berbasis dana zakat, yaitu Kantin Kontainer. Berada di lingkungan FEBI UIN RIL, Kantin Kontainer itu diresmikan pada Jumat (1/3/2024).

Simbolisasi peresmian Kantin Kontainer dilakukan dengan pemotongan pita dan dilanjutkan dengan pemakaian apron kepada penerima manfaat—mahasiswa pengelola Kantin Kontainer. Hadir guna meresmikan Kantin Kontainer hari itu, Dr. Safari M.Sos selaku Wakil Rektor 2 UIN Raden Intan Lampung beserta jajarannya, Habibullah selaku Ketua Pengurus UPZDK Permata Bank Syariah, ⁠Ahmad Faqih Syarafaddin selaku GM Penghimpunan ZIS Dompet Dhuafa, dan ⁠Yogi Achmad Fajar selaku Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Lampung.

Simbolis penyematan apron kepada para penerima manfaat Program Kantin Kontainer Lampung.

Lebih lanjut, Ahmad Faqih menjelaskan bahwa Kantin Kontainer merupakan program pemberdayaan UMKM sebagai beasiswa kewirausahaan bagi mahasiswa berprestasi dan kurang mampu yang sedang menempuh pendidikan ekonomi di kampus. Mahasiswa-mahasiswa yang mengikuti program ini mendapatkan beasiswa dari penghasilan tambahan, hasil dari mengelola Kantin Kontainer.

“Mahasiswa-mahasiswa yang menjadi penerima manfaat program ini juga mendapatkan kesempatan istimewa dengan langsung dapat menerapkan ilmu-ilmu perekonomian, khususnya ekonomi syariah,” ujarnya.

Jumlah penerima manfaat langsung dalam program ada sebanyak lima mahasiswa. Pada proses seleksi penerima manfaat program ini, Dompet Dhuafa Lampung menjaring mahasiswa yang berkategori tergolong kurang mampu atau yang belum sejahtera. Namun, mereka memiliki spirit wirausaha serta berkomitmen mampu mengatur waktu kuliahnya.

Ahmad Faqih, GM Penghimpunan ZIS Dompet Dhuafa, menjelaskan tentang nilai kewirausahaan pada program Kantin Kontainer.
Yogi Achmad Fajar, Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Lampung, memaparkan tentang proses penjaringan penerima manfaat program Kantin Kontainer di UIN Raden Intan Lampung.

Atas digulirkannya program ini, Dr Safari menyampaikan apresiasi kepada Dompet Dhuafa dan UPZDK Permata Bank Syariah. Menurutnya, ini menjadi kesempatan yang sangat baik bagi pihak kampus maupun mahasiswa, khususnya mahasiswa FEBI, untuk dapat langsung mengimplementasikan teori-teori yang diterima di kelas. Ia juga berharap program ini dapat terus berkembang, sehingga manfaatnya pun dapat semakin luas.

“Terima kasih atas kerja sama yang bisa kita lakukan ini. Apalagi program pemberdayaan mahasiswa berupa kontainer ini, potensinya masih bisa terus dikembangkan,” ucapnya.

Dr Safari menyampaikan apresiasi atas hadirnya program kewirausahaan bagi mahasiswa di UIN Raden Intan Lampung.
Jajaran pimpinan kampus UIN Raden Intan Lampung antusias menghadiri peresmian Kantin Kontainer.

Senada dengan itu, Habibullah juga menitipkan harapan besar terhadap para mahasiswa, khususnya para penerima manfaat. Karena program ini berasal dari dana zakat, maka tanggung jawabnya akan lebih besar.

Ia menjelaskan, motivasi UPZDK Bank Permata Syariah adalah karena ini merupakan lembaga keuangan syariah. Kemudian, UPZDK Permata Bank Syariah juga sangat ingin masyarakat, khususnya dalam hal ini mahasiswa, bisa tumbuh dan berkembang.

“Yang kami support adalah modal, untuk pendirian kantin ini. Modalnya juga termasuk untuk pelatihan-pelatihan mereka (penerima manfaat). Nah, yang tadi dipilih adalah mahasiswa yang harapannya mereka menjadi cikal bakal wirausahawan Islam. Mudah-mudahan ini bisa di-copy ke kampus-kampus lain,” jelas Habib.

Habibullah (kemeja batik) berbincang dengan para mahasiswa penerima manfaat Kantin Kontainer.

Nantinya, setelah mereka mampu mengelola kantin hingga mendapatkan laba, maka akan dilakukan bagi hasil sesuai kesepakatan awal. Kemudian dana sisanya akan digunakan untuk operasional. Pada bagian ini, Dompet Dhuafa tidak turut mengambil laba sama sekali. Hanya saja, keuntungan yang diperoleh harus dizakatkan kepada Dompet Dhuafa, yaitu sebesar 2,5 persen. Konsep ini persis seperti yang diterapkan oleh Bank Permata Syariah yang menyalurkan zakatnya melalui Dompet Dhuafa yang diimplementasikan dalam bentuk Kantin Kontainer sebagai pengelolaan zakat produktif.

Laba perusahaan Permata Bank Syariah sebesar 2,5 persen dizakatkan melalui Dompet Dhuafa. Dana tersebut kemudian dikelola secara produktif dengan wujud Kantin Kontainer ini. Dengan begitu, manfaat zakat ini akan selalu berlanjut terus-menerus. Dalam konteks Kantin Kontainer, Dompet Dhuafa membatasi jumlah penerima manfaat, yaitu lima mahasiswa saja yang diberi kepercayaan untuk mengelola kantin selama setahun. Jangka waktu setahun tersebut diupayakan sudah cukup untuk membantu mahasiswa menambah penghasilan untuk kuliah. Setelahnya, akan dipilih lagi lima mahasiswa untuk setahun berikutnya dan seterusnya.

Kantin Kontainer ini menjadi yang pertama ada di Lampung, bahkan Pulau Sumatra. Selanjutnya, Dompet Dhuafa akan terus berupaya untuk menghadirkan program yang sama di beberapa kampus lainnya. (Dompet Dhuafa)

SUMATRA BARAT — Berada di ketinggian 1.300 MDPL dengan suhu 16 derajat celcius, di atas tanah Nagari Sirukam Kabupaten Solok terbentang ratusan ribu pohon kopi dengan berbagai macam jenis. Umumnya, pada ketinggian ini, paling elok ditanam kopi jenis arabika.

Sekelompok petani Kopi Solok Sirukam berdaya bersama Dompet Dhuafa. Terbentuk sejak tahun 2019, kelompok beranggotakan 25 petani ini berhasil membentuk koperasi dua tahun setelahnya, yakni pada 2021.

Gerbang masuk tempat pengelolaan kopi Solok Sirukam.
Buah ceri kopi di pohon sebagiannya mulai memerah.

Perkembangan kelompok pemberdayaan ini terlihat pada meningkatkan jumlah anggota, jumlah produksi, kualitas produksi, varietas, hingga pemasaran yang makin menjangkau secara luas. Program pemberdayaan Dompet Dhuafa ini secara khusus membudidayakan kopi jenis arabika. Di antara varietas yang dikembangkan adalah gayo, longberry, dan sigararutang. Di luar lahan-lahan pemberdayaan, masyarakat Sirukam juga ada yang budi daya kopi jenis robusta.

Kelompok ini juga kemudian membangun sebuah tempat pengolahan hasil kebun kopi dengan luas kawasan 60 x 40 meter persegi. Nasril Abeng adalah ketua koperasinya. Kelompok Petani Kopi Solok Sirukam yang awal dibentuknya ada 25 anggota telah bertambah menjadi 39 anggota. Lalu kini bertambah lagi menjadi 65 anggota. Di samping itu, saat ini juga ada beberapa petani dari kecamatan sebelah yang sedang dalam tahap pembinaan yang akan segera bergabung.

Buah ceri kopi Solok Sirukam.
Ceri terfermentasi sedang ditiriskan.

Kala itu, tahun 2019, para petani membuat lubang tanam di lahannya. Kemudian Dompet Dhuafa memberikan bibitnya sebagai bentuk modal awal. Awal tanam pertama kali digulirkan sebanyak 250 pohon. Kini, setiap sebulan mereka bisa memanen 3 ton buah ceri kopi. Selanjutnya, ceri-ceri diolah menjadi biji kopi yang akan didapatkan sebanyak 800 Kg.

Abeng menjelaskan, karakteristik arabika Solok Sirukam ini setelah melalui tes lab, terdiri dari pisang, durian, nangka, kayu manis, dan melati. Hasil kaping kopi ini bahkan sudah pernah diuji di Belanda. Hasilnya memiliki skor 86.

Koperasi Produsen Solok Sirukam Sepakat.
Ruang sangrai kopi dan kafe.

“Permintaan dari Belanda memang belum banyak. Jadi lebih banyak pasarnya adalah lokal di beberapa rumah kopi di Padang, Sumatra Barat, dan Yogya,” jelasnya, Sabtu (14/10/2023).

Saat ini, Abeng dan rekan-rekan anggota kelompok tengah melakukan eksperimen fermentasi luwak. Upaya ini mendapat dukungan dari para mahasiswa yang saat itu sedang melakukan KKN di sana.

“Ini baru penjajakan awal. Semoga bisa mendapatkan hasil yang baik, sehingga layak dipasarkan untuk menambah varian baru,” harapnya.

Proses penjemuran ceri termentasi yang nantinya akan menjadi kopi luak.
Salah satu sudut di kawasan pengelolaan kopi Solok Sirukam.
Kopi Solok Sirukam diseduh melalui metode V60.

Ternyata untuk memetik kopi dari pohonnya, para petani harus memiliki pemahaman yang baik, khususnya terhadap tingkat kematangan ceri. Proses pemetikan dapat memengaruhi rasa dan kualitas dari biji kopi. Biasanya, petani memetik kopi ketika berwarna merah. Setelah itu, proses pencucian dilakukan. Proses pencucian ini dilakukan oleh kelompok tani Solok Sirukam melalui 5 proses, yakni natural wash, natural enzymatic, full wash, semi wash, honey, dan black honey. (Dompet Dhuafa/Muthohar).

BANYUWANGI, JAWA TIMUR — Para peternak lebah madu di wilayah Banyuwangi dan Pasuruan, Jawa Timur sering kali menghadapi masa sulit pada bulan Desember hingga Mei. Pasalnya pada periode tersebut, kondisi musim dan cuaca tidak mendukung. Sehingga menyebabkan produktivitas lebah dalam memproduksi madu menurun. Hal ini menjadi tantangan utama bagi para peternak.

Tak hanya itu, kondisi tersebut juga menciptakan tantangan lain bagi para peternak, yakni menghadapi kesulitan finansial. Peternak sering kali terpaksa meminjam uang dengan bunga tinggi dari bank atau rentenir untuk mengatasi kendala ekonomi mereka.

Oleh sebab itu, Dompet Dhuafa Jawa Timur berinisiatif menyalurkan bantuan berupa dana pinjaman kebaikan kepada para peternak. Bantuan diberikan kepada 11 peternak lebah madu di Desa Alasbuluh, Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi pada Kamis (25/1/2024).

Mei Saiful Rohman selaku Koordinator Program Pemberdayaan Dompet Dhuafa Jawa Timur, mengatakan bahwa program ini diharapkan dapat meningkatkan stabilitas finansial para peternak dan memperkuat komoditas madu sebagai konsumsi utama masyarakat.

“Dompet Dhuafa Jawa Timur hadir untuk memberikan solusi alternatif dengan bantuan modal pinjaman kebaikan tanpa bunga, yang diharapkan dapat membantu peternak dalam pengembangan usahanya,” ujarnya.

Seorang peternak madu, Pulung (42), menyampaikan bahwa pada musim madu (panen) segalanya maju dan berkembang. Namun pada masa paceklik, kebutuhan pangan lebah menjadi prioritas utama yang harus diatasi.

Arrisa Fauziarachman selaku Lokal Leader Program Dompet Dhuafa Jawa Timur, juga menyampaikan bahwa adanya program ini atau dengan skema modal pinjaman kebaikan ini, tentunya bermanfaat bagi para peternak.

“Pinjaman kebaikan yang diberikan berupa pinjaman tanpa bunga, sehingga tentunya tidak memberatkan para peternak,” kata Arrisa.

Hartono (54), salah satu penerima manfaat program, mengucapkan rasa syukurnya atas bantuan yang diberikan, yang membuatnya lebih tenang dalam mengelola biaya pakan lebah.

“Alhamdulillah ada bantuan dari Dompet Dhuafa jadi bisa lebih tenang, nggak terlalu mikir untuk biaya makan lebah,” ungkap Hartono. (Dompet Dhuafa/Jawa Timur/ADP)

BOGOR, JAWA BARAT — Sebagian besar orang mengira bahwa beternak ayam itu kotor dan tidak menguntungkan. Pun, tidak banyak yang mengira bahwa pangsa pasar telur ayam arab sangat luas. Mulai dari warung kopi, penjual jamu, hingga pabrik jamu terkenal. Harganya pun berbeda dengan telur ayam biasa.

Melenceng dari namanya, ayam arab mulanya berasal dari Belgia yang berkawin dengan ayam buras Indonesia. Sekilas tampilan telurnya seperti ayam kampung. Anda mungkin tidak sadar bahwa banyak peracik jamu menggunakan telur ayam jenis ini. Telur ini dinilai memiliki banyak keuntungan, yaitu kuning telurnya lebih besar, putih telurnya lebih kental, dan nilai gizinya pun tinggi.

Melihat peluang ini, Dompet Dhuafa melalui Rumah UMKM Zona Madina menggulirkan Program Plasma Ayam Arab di kawasan Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor. Penerima manfaatnya adalah Arsin Saputra (45), seorang ayah dengan dua anak yang baru saja menekuni usaha ayam potong sejak 5 bulan terakhir. Sebelum itu, ia merupakan pekerja pabrik yang dirumahkan karena suatu hal.

Arsin mengumpulkan telur-telur ayam arab dari kandang.
Ayam arab di kandang mampu memproduksi 1 butir telur per hari.

Nursan selaku pendamping program ini menjelaskan, sistem kerja sama dalam program pemberdayaan ini adalah bagi hasil. Luas kandang berukuran 3,5 x 12 meter persegi di atas tanah milik Arsin, tepatnya berada di belakang rumahnya. Dompet Dhuafa mengintervensi dengan membangunkan kandang, pengadaan ayam, penyediaan pakan, hingga pemasarannya. Untuk hasil keuntungannya disepakati bahwa akan dibagi rata, yaitu dengan perbandingan 50:50 atau 1:1.

Pada saat program ini diliput, Kamis (4/1/2023), terhitung masih berusia sangat belia. Bahkan baru saja mulai berjalan pada awal Desember 2023. Sehingga pembagian hasil masih belum dilakukan. Rencananya, bagi hasil akan mulai dilakukan pada bulan ketiga yang akan terus berlanjut tiap bulannya.

Jumlah ayam arab di kandang Plasma Ayam Arab belakang rumah Arsin saat ini ada 239 ekor. Dari 239 ekor tersebut, saat ini masih belum seluruhnya menghasilkan telur. Baru hanya sekitar setengahnya, yaitu antara 100-125 butir telur yang dihasilkan setiap hari. Setiap sore hari, yaitu pukul 16.00 WIB, Nursan datang untuk mengambil ratusan butir telur yang berhasil ditelurkan di kandang ini.

“Ayam-ayam ini tiba di sini baru sekitar 1 bulan yang lalu. Jadi memang untuk proses menghasilkan telurnya belum semua. Paling kalau sudah 2 atau 3 bulan baru semuanya akan mampu bertelur setiap hari. Makanya, untuk pembagian hasil juga kita targetkan mulai di bulan ketiga. Biar mudah perhitungannya,” jelas Nursan.

Arsin mengumpulkan telur ayam arab yang dihasilkan ayam-ayam di kandang.
Arsin melakukan pengecekan secara berkala terhadap ayam-ayam arab.

Selain mengelola ayam arab, Arsin juga masih berjualan ayam potong, namun dalam kemasan beku/frozen. Bagian ini lebih banyak dikerjakan oleh anak sulungnya yang baru saja lulus sekolah. Sedangkan, pengelolaan kandang ayam arab lebih banyak dilakukan oleh Arsin dan istri. Menurut Arsin, budi daya telur ayam arab tidak begitu sulit.

“Nggak susah merawatnya. Yang penting rajin dan rutin. Setiap hari ngecek, ngasih makan, ngasih minum, vitamin, bersihin kandang, yang sakit diobati,” terangnya.

Umur ayam-ayam arab tersebut saat tiba di kandang pada Desember 2023, yaitu 6 bulan. Artinya, sekarang ayam-ayam itu berumur 7 bulan. Sedangkan masa puncak produksinya di atas umur 8 bulan. Dalam masa produktif, ayam arab mampu terus-menerus bertelur, sehingga ditargetkan setiap hari akan menghasilkan telur. Dalam setahun, seekor ayam arab dapat menghasilkan telur hingga 250–300 butir per tahun.

Arsin memberi makan ayam-ayam arab setiap pagi dan sore.
Arsin dan Nursan membawa telur ayam arab di depan kandang plasma ayam arab.

Arsin bukan satu-satunya penerima manfaat program ini. Ada satu lagi orang lainnya yang menjadi penerima manfaat program Plasma Ayam Arab oleh Zona Madina ini dengan skema yang sama dengan yang diterapkan pada Arsin.

Mari kita doakan agar program ini berjalan dengan baik. Sehingga mampu membantu keluarga para penerima manfaat memenuhi kebutuhan keluarganya. Harapannya, dengan meningkatnya penghasilan keluarga si penerima manfaat, meningkat pula kualitas pendidikan si anak. Sehingga kelak si anak mampu membawa perubahan hingga mengeluarkan keluarganya dari jeratan kemiskinan. (Dompet Dhuafa/Muthohar)

BOGOR, JAWA BARAT — Dibina oleh Zona Madina Dompet Dhuafa sejak tahun 2021, Kripik Ubi Ungu Itoh Snack kini telah merambah banyak toko maupun minimarket di kawasan Bogor. Seperti nama pada kemasanya, keripik manis lezat ini dibuat oleh seorang wanita bernama Masyitoh (46), secara rumahan.

Apabila Anda bermukim di kawasan Parung atau Bogor, tentu tidak akan asing dengan makanan ringan ini. Pun jika Anda banyak berinteraksi dengan Dompet Dhuafa, tentu sudah beberapa kali mencicipi enaknya jajanan tipis berwarna ungu ini.

Ibu lima anak ini tinggal di Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Ia memulai usaha Kripik Ubi Ungu sekitar tahun 2018 dengan modal peralatan masak yang ada di dapurnya. Tidak seperti sekarang, dulu ia memproduksi keripik hanya saat ada orang yang memesan.

Proses produksi Kripik Ubi Ungu di rumah sederhana Bu Masyitoh.
Proses pemotongan ubi ungu.

Kehendak Allah mempertemukannya dengan Tim Zona Madina Dompet Dhuafa pada tahun 2021. Usahanya mulai berkembang hingga ia harus menyediakan bahan baku ubi sebanyak 30 kilogram setiap pekan. Jumlah tersebut di luar dari jika ada pesanan khusus. Dari 30 kilogram ubi itu, ia mampu mengirim produk ke Rumah UMKM sebanyak 50 pcs kemasan 150 gr dan 10 pcs kemasan 250 gr. Saat Ramadan, menurutnya, banyak pesanan khusus yang ia terima untuk jadi hampers.

“Dulu saya bikin kalau ada yang memesan saja. Harus berkeliling dari warung ke warung untuk memasarkan dagangan saya,” ujar wanita yang akrab disapa Bu Itoh itu, Kamis (4/1/2024).

Mulyadi atau yang akrab disapa Mas Ges adalah pendamping para pelaku usaha Rumah UMKM Zona Madina. Ia yang membantu memasarkan produk-produk Rumah UMKM. Salah satunya produk milik Ibu Masyitoh. Ada 39 pelaku UMKM lainnya yang hingga kini terus mendapat program pendampingan oleh Zona Madina.

Sejak mulai bergabung pada tahun 2022, produk Kripik Ubi Ungi Bu Itoh ini sangat sulit diterima masyarakat. Sehingga, sulit juga untuk mendapatkan pelanggan. Rumah UMKM kemudian terus melakukan evaluasi dan pendampingan untuk menyelesaikan apa yang menjadi kendala.

“Ternyata awalnya produk Bu Itoh ini kurang mutu. Agak keras memang kalau digigit,” ungkap Ges.

Proses penggorengan keripik ubi ungu.
Proses penggorengan keripik ubi ungu.

Pada pertengahan tahun 2023, Ibu Masyitoh diajak menggali resep ke kota yang sangat terkenal dengan keripik buahnya, yaitu Malang. Tepatnya di Pujon. Di sana Ibu Itoh berbagi ilmu mengenai resep pembuatan keripik dengan beberapa pelaku UMKM.

Upaya ini pun membuahkan hasil. Sepulangnya dari Pujon, ia langsung menerapkannya pada produknya. Hasilnya pun sangat memuaskan. Keripik milik Bu Itoh memiliki cita rasa enak yang mampu bersaing dengan produk-produk lainnya.

“Semenjak itu, keripik ubi ungu Bu Itoh banyak diminati para pelanggan dan banyak masuk ke minimarket-minimarket di Bogor,” lanjut Ges.

Proses penirisan keripik dari minyak.
Proses pengemasan keripik ubi.

Di Rumah UMKM Zona Madina, para pelaku UMKM tidak hanya mendapatkan bantuan pendanaan, tetapi juga bantuan menemukan resep yang pas, sertifikasi, beragam pelatihan, packaging hingga pemasaran produk.

Bahkan, Rumah UMKM Zona Madina tak enggan memfasilitasi para anggotanya untuk berpartisipasi dalam ajang pameran, baik berskala lokal maupun nasional. Upaya ini bertujuan untuk memberikan pengalaman, meningkatkan wawasan dan memperluas jangkauan pemasaran produk UMKM binaan.

“Alhamdulilah. Usaha terus berkembang dan mendapatkan tempat di hati pelanggan,” ungkap Bu Itoh senang.

Rumah UMKM berada di kawasan Zona Madina, Parung, Bogor.
Produk Kripik Ubi Ungu Itoh Snack berada di salah satu warung makan di Bogor.

Upaya Bu Itoh untuk mengembangkan produknya belum berakhir. Ia masih harus dan terus menciptakan inovasi untuk meningkatkan penjualan dan penghasilan. Dua anaknya yang masih pada usia sekolah (usia 14 dan 16 tahun) bertumpu pada Ibu Itoh dan suami. Sedang penghasilan sang suami sebagai buruh bangunan tak banyak membantu menyokong kebutuhan rumah tangga mereka. (Dompet Dhuafa/Muthohar)

YOGYAKARTA — Program Telur Ayam Bahagia menjadi salah satu solusi untuk menanggulangi isu stunting di Indonesia. Seperti diketahui, masalah stunting telah menjadi isu prioritas nasional oleh pemerintah Republik Indonesia (RI). Pasalnya, keberadaaan stunting akan mengganggu potensi sumber daya manusia di Indonesia. Apabila stunting terus terjadi, maka anak-anak kita tak akan mampu tumbuh optimal. Hal ini pun akan berpengaruh dan memberatkan mereka di masa depan.

Isu stunting juga turut menjadi perhatian Dompet Dhuafa. Sebagai lembaga filantropi Islam, Dompet Dhuafa memiliki lima pilar yang salah satunya fokus pada kesehatan masyarakat, khususnya mereka yang dhuafa. Untuk mengatasi stunting, Dompet Dhuafa telah merancang dan melaksanakan sejumlah program, termasuk salah satunya Program Telur Ayam Bahagia.

Berkat kolaboraksi yang terjalin dengan PT Victus Nobis Asia dan PT Agrinesia, Dompet Dhuafa mampu menjalankan program pemberdayaan ekonomi Program Telur Ayam Bahagia. Program ini berjalan dengan konsep budi daya ayam petelur yang mengedepankan kesejahteraan hewan atau animal welfare. Kesejahteraan ayam yang dimaksud adalah menternakkan ayam dengan sistem umbaran dan memberikan pakan berkualitas agar menghasilkan telur ayam yang kaya akan omega.

Selain sebagai upaya untuk mengentaskan stunting, Program Telur Ayam Bahagia juga berperan sebagai program pemberdayaan ekonomi perempuan. Dua Kelompok Wanita Tani (KWT) di Sleman, Yogyakarta menjadi lembaga yang menjalankan program pemberdayaan ini. Mereka adalah KWT Rukun Makmur dan KWT Mekar yang berbasis di Sleman.

Acara launching Program Telur Ayam Bahagia ini dihelat pada Kamis (28/12/2023), di KWT Mekar Jamblangan, Dusun Jamblangan, Margomulyo, Seyegan, Sleman, Yogyakarta. GM Pengembangan Ekonomi dan Kemandirian Dompet Dhuafa, Udhi Tri Kurniawan turut hadir dan berbincang dalam acara launching pada sesi talkshow.

“Dompet Dhuafa menghaturkan terima kasih sebesar-besarnya untuk PT Agrinesia dan PT Victus Nobis Asia yang telah berkolaborasi dengan Dompet Dhuafa untuk menggulirkan program pemberdayaan perempuan, dalam hal ini Program Ayam Bahagia,” tutur Udhi.

Udhi juga menjelaskan bahwa Program Telur Ayam Bahagia memiliki dua tujuan utama, yakni turunnya angka stunting dan ekonomi yang menguat di kalangan penerima manfaat.

“DD berharap, dengan program ini maka setidaknya ada dua hal yang ingin dicapai. Pertama adalah dukungan DD dalam upaya pengurangan angka stunting dengan menghasilkan atau membuat produk protein hewani dalam bentuk telur yang secara nutrisi kandungan gizi itu sangat tinggi, sehingga efektif untuk membuat balita, terutama, memiliki ketercukupan gizi yang baik. Kedua, kami berharap secara efektif memberikan dampak ekonomi yang kuat bagi penerima manfaat,” kata Udhi.

Keterlibatan ibu-ibu anggota KWT Rukun Makmur dan KWT Mekar dalam menjalankan Program Telur Ayam Bahagia, berkontribusi pada penguatan ekonomi keluarga. Untuk itu, Udhi berharap agar program ini dapat berjalan secara berkelanjutan dan terus berkembang.

“Kami berharap bahwa program ini terus sustain, terus berkelanjutan, dan bisa memberikan dampak yang kuat bagi masyarakat. Sehingga, tidak hanya berhenti pada inisiasi yang sekarang, tapi kita berharap satu dua tahun yang akan datang, kita akan scale up,” harap Udhi.

“Jadi, kalau kemudian di tahap awal berjalan dengan baik, maka nanti akan ada fase di mana kami akan melakukan proses scale up untuk meningkatkan, menambah volume dari populasi ayam yang ada. Sehingga, secara efektif nanti akan bisa memberikan dampak secara finansial yang cukup kuat bagi pnerima manfaat,” imbuhnya.

Selain dihadiri oleh GM Pengembangan Ekonomi dan Kemandirian Dompet Dhuafa, acara launching juga turut dihadiri oleh Kasi Ketahanan Pangan Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kab. Sleman, Kepala UPTD BP 4 Wilayah III Seyegan, Perwakilan Kapanewon Seyegan, Lurah Margomulyo, Ketua KWT Rukun Makmur, serta Ketua KWT Mekar.

Launching Program Telur Ayam Bahagia ini kemudian ditutup dengan ramah tamah dan makan siang bersama para peserta dan tamu undangan. (Dompet Dhuafa/Ron)