KUDUS, JAWA TENGAH — Dompet Dhuafa Cabang Jawa Tengah bersama Fakultas Ekonomi Bisnis Islam (FEBI) IAIN Kudus meresmikan Program Kantin Kontainer pada Selasa (12/11/2023) pagi. Kantin Kontainer merupakan program ekonomi berupa beasiswa berbasis entrepreneurship bagi mahasiswa-mahasiswa yang tengah belajar kewirausahaan di kampus.

Prosesi peresmian dilakukan oleh Udhi Tri Kurniawan selaku GM Program Ekonomi & Kemandirian Dompet Dhuafa, Zaini Tafrikhan selaku Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Jawa Tengah, dan Wahibur Rokhman selaku Dekan FEBI IAIN Kudus. Sebagai simbol dibukanya program ini, apron kantin dikenakan kepada para mahasiswa penerima manfaat. Ada delapan mahasiswa yang menjadi penerima manfaat atas Program Kantin Kontainer di IAIN Kudus.

Sambutan oleh Udhi Tri Kurniawan.
Doa mengakhiri acara peresmian dan mengawali berjalannya kantin.

Zaini Tafrikhan memberikan apresiasi atas kerja sama program kewirausahaan ini. Menurutnya, pembangunan Kantin Kontainer di FEBI IAIN Kudus menjadi yang tercepat dari semua kantin yang telah berjalan di beberapa kampus lainnya. Sebelumnya, program ini telah lebih dulu hadir di UIN Salatiga, UIN Walisongo Semarang, dan UIN Banten. Kantin Kontainer di UIN Salatiga menjadi pilot project program ini.

“Sampai saat ini sudah beberapa alumninya berhasil dengan karier profesionalnya dan juga melanjutkan usaha wirausaha,” ungkap Zaini.

Sambutan oleh Wahibur Rokhman.

Pada kesempatan yang sama, Dekan FEBI IAIN Kudus, Wahibur Rokhman mengatakan bahwa pihak kampus, khususnya FEBI, sangat terbuka dan senang menerima program beasiswa Kantin Kontainer dari Dompet Dhuafa. Menurut pandangannya, program beasiswa ini tidak hanya membantu, tapi juga menguatkan jiwa kewirausahaan mahasiswa-mahasiswa FEBI IAIN Kudus.

“Program beasiswa ini tidak hanya membantu, tapi juga menguatkan jiwa kewirausahaan mahasiswa FEBI IAIN Kudus,” ucapnya.

Pengenaan apron kantin sebagai tanda dimulainya operasi kantin.

Lebih lengkap, Udhi Tri Kurniawan menambahkan bahwa Kantin Kontainer merupakan program pemberian donatur Dompet Dhuafa Jawa Tengah melalui dana zakat. Tujuannya adalah untuk mengupayakan keberlanjutan pendidikan para mahasiswa berprestasi, khususnya yang membutuhkan bantuan.

“Sudah ada banyak yang dikerjakan Dompet Dhuafa. Kantin Kontainer merupakan salah satu program yang tidak boleh berhenti satu atau dua tahun, tapi berkelanjutan dan wajib berkembang,” pungkas Udhi. (Dompet Dhuafa/Jawa Tengah/Muthohar)

SERANG, BANTEN — Setelah penandatanganan MOU kerja sama Program Kantin Kontainer pada Oktober lalu, alhamdulillah, Dompet Dhuafa melalui Cabang Banten menggelar Grand Launching Kantin Kontainer UIN Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten pada Selasa (5/12/2023).

Program Kantin Kontainer merupakan program beasiswa entrepreneurship kolaborasi Dompet Dhuafa, Unit Pengelola Zakat dan Dana Kebajikan (UPZDK) Permata Bank Syariah, dan Fakultas Ekonomi Bisnis Islam UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.

Peresmian program wirausaha ini dihadiri langsung oleh Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Wawan Wahyuddin, Dekan Fakultas Ekonomi Bisnis dan Islam UIN SMH Banten, Nihyatul Masykuroh, Wakil Ketua UPZDK Permata Bank Syari’ah, Awaludin Gumbira, GM Pemberdayaan Ekonomi dan Kemandirian Dompet Dhuafa, Udhi Tri Kurniawan, Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Banten, Mokhlas Pidono, Perwakilan Dompet Dhuafa Banten, dan Dosen UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.

Acara grand launching dilaksanakan dengan simbolisasi penandatanganan prasasti kolaborasi dan pengguntingan pita oleh Rektor UIN SMH Banten, Wakil Ketua UPZDK Permata Bank Syariah, dan Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Banten. Selain itu, hadir pula penampilan kreativitas dari para mahasiswa FEBI UIN SMH Banten.

Dekan FEBI UIN SMH Banten, Nihayatul Masykuroh, menyampaikan ucapan terima kasih atas kolaborasi yang berjalan. Di dalam sambutannya, Nihayatul juga menekankan bahwa lulusan Fakultas Ekonomi Bisnis Islam harus memiliki kemampuan untuk berwirausaha.

“Terima kasih, mahasiswa FEBI penerima manfaat Kantin Kontainer diberikan bimbingan oleh Dompet Dhuafa untuk berwirausaha. Mahasiswa lulusan FEBI bukan hanya untuk berbisnis, tapi juga harus memiliki kemampuan dalam berwirausaha,” ucapnya.

GM Pemberdayaan Ekonomi Dompet Dhuafa, Udhi Tri Kurniawan, berharap program wirausaha yang berjalan ini dapat memberikan banyak manfaat bagi mahasiswa.

“Dompet Dhuafa berharap program Kantin Kontainer ini dapat berikan banyak manfaat bagi mahasiswa-mahasiswa penerima manfaat dari program beasiswa entrepreneurship ini,” ujar Udhi.

Selain itu, Udhi juga menyampaikan, Program Kantin Kontainer sudah dilakukan Dompet Dhuafa sejak tahun 2016. Dompet Dhuafa berkomitmen untuk terus membersamai dalam pengembangan program ini.

“Program kontainer dimulai pertama kali pada 2016. Dompet Dhuafa berharap kolaborasi Program Kantin Kontainer ini dapat berjalan untuk jangka yang panjang. Dan dompet dhuafa berjanji, akan terus menemani program ini,” imbuh Udhi.

Lebih lanjut, Wakil Ketua UPZDK Permata Bank Syariah, Awaludin Gumbira, dalam sambutannya mengingatkan agar proses muamalah kantin ini dilaksanakan dengan nilai-nilai syariah sesuai dengan pedoman Islam.

“Program ini sudah sesuai dengan yang kita geluti: muamalah syariah. Semoga kantin ini menjadi contoh muamalah dengan prinsip dan pelaksanaan hukum syariah,” kata Awaludin.

Sesaat sebelum program ini diresmikan, Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Wawan Wahyuddin menegaskan bahwa mahasiswa harus berpedoman pada sifat Nabi Muhammad Saw dalam melaksanakan muamalah dan menjalani kehidupan.

“Mahasiswa harus menerapkan sidiq, tabligh, amanah, fathonah (STAF) dalam menjalankan Kantin Kontainer dalam keseharian. Semoga program ini memberikan pengalaman wirausaha yang baik,” tutupnya. (Dompet Dhuafa/Banten/ADP)

SUMATRA BARAT — Pagi hari, sebelum pukul 08:00 WIB, Yogi Aria Dinata, tiba di Pilantrokopi Padang, di Jalan Batang Kampar, Rimbo Kaluang, Padang. Sebagai seorang barista, ia juga bertugas melakukan kalibrasi mesin, memastikan semua alat siap dipakai, mengecek catatan digital, hingga menata fasilitas ruangan bagi pelanggan. Semangatnya luar biasa, pemuda asal Nagari Sirukam, Solok, itu handal mengekstrak biji kopi untuk disajikan kepada para pelanggan Pilantrokopi.

Mesin pressure bar hingga boiler telah sampai pada angka yang ditentukan, menandakan mesin kopi siap digunakan. Yogi mulai bergegas mengenakan apron cokelatnya, mengaitkan setiap ujung tali membentuk simpul menyilang. Ia mulai siap menuangkan pesanan dan menyajikannya ke meja-meja pelanggan sesuai pesanan.

Ditemani rekan karyawan lain, ia sesekali larut dalam candaan hingga terpecah oleh suara pelanggan memesan, atau suara azan salat yang berkumandang.

Yogi saat sedang menyiapkan minuman pesanan pelanggan.
Kopi kemasan hasil pemberdayaan Dompet Dhuafa di Sirukam-Solok dijual di Pilantrokopi Padang.

Dibina oleh Dompet Dhuafa, Pilantrokopi merupakan sebuah program zakat produktif, turunan dari unit usaha Koperasi Solok Sirukam. Program ini menjadi bagian dari konsep filantropreneur dengan menggabungkan kewirausahaan yang dikelola secara profesional berbasis dana filantropi. Kedai kopi ini dibangun sebagai hilirisasi program pemberdayaan petani kopi Solok Sirukam oleh Dompet Dhuafa yang sudah ada sejak tahun 2019 yang lalu.

Yogi Aria adalah salah satu penerima manfaat program filantropreneur ini. Ia dibina oleh Dompet Dhuafa untuk mampu berdaya sehingga kelak dapat menjembatani kesenjangan antara si kaya dan si miskin.

Ayah dan ibu Yogi merupakan petani kopi di Solok Sirukam yang telah melahirkan empat generasi anak Sirukam. Sayangnya, karena memiliki pengalaman miris sebagai petani kopi, mereka berdua tidak setuju jika kelak anak-anaknya mewarisi profesi keluarga sebagai petani kopi.

Yogi saat sedang menyiapkan minuman pesanan pelanggan.
Yogi saat sedang menyiapkan minuman pesanan pelanggan.

“Janganlah berkebun. Biarlah orang tua saja di sini. Anak-anak kerja yang pasti-pasti saja,” kata Yogi menirukan nasihat orang tuanya.

Maka, kini ketiga saudara Yogi tidak ada yang berkebun. Padahal di tempat kelahirannya, kebun yang dikelola oleh orang tuanya adalah kebun warisan turun-temurun dari keluarga. Artinya kebun tersebut berstatus milik keluarga sendiri. Ada sekitar 1 hektare luas kebun kopi yang dimiliki keluarga kecil ini.

Namun kini, Yogi tetap teguh melanjutkan warisan turun-temurun keluarganya. Ia ingin mengangkat harkat dan martabat petani kopi di balik seduhan nikmat dalam gelas-gelas kopi.

Mulanya, anak muda lulusan sekolah pada tahun 2021 ini belum banyak mengetahui tentang kopi. Setahun setelah kelulusan, yaitu tahun 2022, di Sirukam, dia mulai membantu aktivitas ayahnya berkebun kopi. Dari situ lah dia mulai tertarik dengan dunia kopi.

Suasana salah satu sudut ruangan di Pilantrokopi Padang.
Suasana salah satu sudut ruangan di Pilantrokopi Padang.

Tinggal di lingkungan pedesaan, Yogi dan keluarga tidak ada keinginan untuk melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Di pikirannya hanya bagaimana kelak ia mampu bekerja dan menghasilkan uang. Atas keinginannya yang tinggi tentang kopi, Dompet Dhuafa Singgalang pun memberdayakannya agar makin berkembang.

Yogi diajak oleh Dompet Dhuafa untuk merantau ke Padang guna mengikuti pelatihan untuk menjadi seorang barista. Setelah dua kali mengikuti pelatihan tentang kopi, ia makin percaya diri untuk membuat seduhan kopi yang nikmat untuk disajikan di meja Pilantrokopi. Yogi mulai menyajikan kopi untuk pelanggan Pilantrokopi sejak dibukanya kedai Pilantrokopi pada 18 September 2023. Ia pun makin mahir meracik minuman-minuman berbasis espreso, juga segala cara seduhan kopi secara manual.

“Alhamdulillah, sekarang sudah tidak perlu minta ke orangtua. Sudah punya penghasilan sendiri dan sudah bisa menabung dari hasil uang sendiri,” ucapnya kepada Dompet Dhuafa, Kamis (12/10/2023).

Kedai Pilantrokopi Padang buka mulai pukul 08.00 WIB hingga 22.00 WIB.
Salah satu pelanggan menikmati kopi di Pilantrokopi Padang.

Meski belum sempat bisa melanjutkan pendidikan tinggi, Yogi tetap memiliki cita-cita ke depan untuk menjadi pebisnis kopi yang memihak pada petani-petani kopi di pedesaan. Ia juga sebenarnya cukup tertarik dengan kesenian daerah. Andai kelak bisa kuliah, ia ingin mempelajari lebih dalam tentang seni budaya, khususnya budaya Sumatra Barat.

Ia mengakui bahwa bisnis kopi memiliki prospek yang menjanjikan dan banyak membawa keuntungan finansial. Namun mirisnya, di balik kegagahan kafe-kafe di kota besar, para petani kopi di pedesaan kecil justru sengsara.

Menurutnya, yang diketahui oleh para petani kopi di pedesaan itu hanya merawat kebun kopi, kemudian panen, lantas dijual ke tengkulak dengan harga seadanya. Hadirnya Dompet Dhuafa telah berhasil memahamkan para petani tentang betapa tingginya nilai kopi di pasar global.

Diti menjadi satu satu penerima manfaat program Pilantrokopi Padang.

“Setidaknya, petani paham bagaimana menghasilkan biji kopi yang berkualitas. Bisa mengetahui jenis dan macam biji kopi, juga bisa membedakan seduhan kopi ini itu dihasilkan dari biji yang mana,” lanjutnya.

Untuk saat ini, lanjut Yogi, ia akan terus berusaha untuk memperbanyak pengalaman tentang dunia perkopian. Termasuk bagaimana bisnis kopi berjalan di berbagai tempat. Dengan izin Allah, kelak jika ilmunya sudah cukup, ia akan kembali ke kebun kopi ayahnya untuk mengembangkan kebun kopi. Bukan hanya miliknya, tetapi juga milik masyarakat Nagari Sirukam secara umum. (Dompet Dhuafa/Muthohar).

BANDAR LAMPUNG, LAMPUNG — Dompet Dhuafa Lampung bersama Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEBI) Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL) menandatangani kesepakatan kerja sama beasiswa mahasiswa berbagis program laboratorium kewirausahaan Kantin Kontainer. Kesepakatan ini dituangkan dalam perjanjian kerja sama yang ditandatangani pada Kamis (19/10/2023) di Kampus FEBI UIN RIL, Sukarame, Kota Bandar Lampung.

Hadir dalam kesepakatan tersebut, Dekan FEBI UIN RIL, Tulus Suryanto, Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Lampung, Yogi Achmad Fajar, serta Wakil Dekan dan Kaprodi di lingkungan FEBI UIN RIL. Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Lampung, Yogi Achmad Fajar menyampaikan bahwa kerja sama ini dilakukan dengan tujuan menguatkan sumber daya manusia dan pengabdian masyarakat oleh kedua belah pihak.

Dalam salah satu poin kerja sama, Dompet Dhuafa Lampung dan FEBI UIN RIL akan menggulirkan program beasiswa wirausaha untuk mahasiswa dengan cara mengelola kantin yang terbuat dari kontainer. Yogi menuturkan, mahasiswa akan mendapatkan beasiswa dari hasil pengelolaan kantin tersebut. Tak hanya beasiswa, mahasiswa juga akan belajar terkait pengelolaan usaha, sehingga jiwa dan kemampuan di bidang entrepreneurship-nya meningkat.

Dompet Dhuafa Lampung dan FEBI UIN RIL menandatangani kerja sama program beasiswa kewirausahaan, Kantin Kontainer.

“Harapannya, mahasiswa ini mampu menyelesaikan kuliah dengan beasiswa yang ia terima. Juga, ke depan bisa menjadi sosok yang tidak sekadar mencari kerja, namun bisa menciptakan lapangan kerja, berbekal dari pengelolaan usaha kantin yang pernah ia lakukan,” kata Yogi.

Lebih lanjut, Yogi menjelaskan, kolaborasi kebaikan ini akan menjadi inovasi pendayagunaan dana zakat, infak, sedekah dan wakaf (Ziswaf) yang unik dan kreatif bagi kalangan mahasiswa dhuafa di bidang kewirausahaan.

“Adanya Kantin Kontainer bisa menjadi inovasi yang sangat solutif dalam membantu mahasiswa dhuafa. Tak hanya itu, kantin kontainer juga sebagai lab kewirausahaan yang bisa menjadi sarana belajar bagi mahasiswa FEBI UIN RIL. Terima kasih kepada seluruh keluarga besar FEBI UIN RIL atas sambutannya, semoga kolaborasi kebaikan terus tumbuh dan meluas di lingkungan FEBI UIN RIL,” imbuh Yogi.

Dekan FEBI UIN RIL, Tulus Suryanto menyambut baik program kolaborasi ini. Pasalnya, Kantin Kontainer ini dapat melatih jiwa wirausaha para mahasiswa. Melalui beasiswa ini, mahasiswa dhuafa juga diharapkan akan terbantu.

Dompet Dhuafa Lampung dan FEBI UIN RIL menandatangani kerja sama program beasiswa kewirausahaan, Kantin Kontainer.

“Program yang sangat luar biasa dan dapat membantu mahasiswa-mahasiswa yang dhuafa dalam rangka menyelesaikan perkuliahannya dan kami berharap program-program ini benar-benar dapat membantu mahasiswa. Di samping melatih dan menguatkan motivasi dalam bidang kewirausahaan dan menciptakan jiwa kemandirian pada diri mahasiswa,” terang Tulus.

Tulus juga mengapresiasi adanya program kolaborasi kebaikan antara Dompet Dhuafa Lampung dan FEBI UIN RIL, dan berharap kolaborasi-kolabirasi selanjutnya dapat hadir.

“Saya selaku dekan sangat mengapresiasi dan sangat berterima kasih dengan Dompet Dhuafa Lampung yang telah memfasilitasi dan menunjuk kami sebagai mitra. Kami berharap ke depan kolaborasi ini terus berlangsung dan dapat lebih banyak lagi mahasiswa dan sekitar yang dapat memanfaatkan program Dompet Dhuafa Lampung,” pungkas Tulus. (Dompet Dhuafa/Lampung).

SALATIGA, KAWA TENGAH — Setelah bekerja sama selama 6 tahun dengan Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga, Dompet Dhuafa Jawa Tengah kembali memperpanjang kolaborasi Program Kantin Kontainer guna memajukan pendidikan di wilayah Salatiga, pada Kamis (12/10/2023). Pada kesempatan itu, terjadi penandatanganan nota kerja sama antara Dompet Dhuafa Jateng dengan UIN Salatiga di Gedung KH Hasyim Asyari, Kampus III, UIN Salatiga.

Kerja sama tersebut adalah Program Kantin Kontainer Dompet Dhuafa yang telah resmi berjalan di UIN Salatiga sejak tahun 2017. Melalui program beasiswa pendidikan ini, Dompet Dhuafa fokus membangun kemandirian ekonomi dan sosial masyarakat dhuafa. Konsep dari Kantin Kontainer ini adalah memberdayakan mahasiswa kurang mampu untuk mengelola kantin yang disediakan oleh Dompet Dhuafa. Keuntungan dari kantin ini kemudian diserahkan kepada para mahasiswa yang mengelolanya.

Selain Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Jateng, Zaini Tafrikan, penandatanganan nota kerja sama ini juga turut dihadiri oleh Rektor UIN Salatiga, Prof. Zakiyuddin Baidhawy, Rektor UNIGIRI Bojonegoro, Jauharul Ma’arif, PJ Wali Kota Salatiga, Sinoeng Noegroho, yang juga bekerja sama dengan UIN Salatiga.

Dalam sambutannya, Rektor UIN Salatiga mengungkapkan bahwa kerja sama-kerja sama yang terjalin antara UIN Salatiga dengan para stakeholders merupakan bentuk tolong-menolong dengan tujuan memajukan pendidikan.

“Kerja sama ini adalah bentuk ta’awun/saling tolong menolong antara lembaga pendidikan, pemerintah, dan lembaga filantropi untuk memajukan pendidikan,” ujar Prof. Zakiyuddin Baidhawy.

Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Jawa Tengah, Zaini Tafrikan.

Lebih lanjut, Prof. Zakiyuddin juga mengatakan bahwa UIN Salatiga siap memberi dukungan untuk mewujudkan visi Kota Salatiga sebagai kota pendidikan.

“Predikat Salatiga sebagai kota pendidikan tentu juga menjadi semangat kami untuk berkembang. Kami sudah mulai membuka berbagai prodi di bidang sains dan teknologi. Selain itu, kami juga akan segera membuka rusunawa untuk mahasiswa. Itu semua adalah bentuk komitmen yang menyatakan dukungan terhadap predikat kota pendidikan yang disandang Salatiga,” lanjutnya.

Prof. Zakiyuddin menyebut bahwa kerja sama antara UIN Salatiga dan Dompet Dhuafa selama enam tahun belakangan telah berhasil memberdayakan mahasiswa-mahasiswa kurang mampu yang memiliki semangat juang untuk menyelesaikan kuliahnya.

FOTO 4 : Ahmad Busro Mustofa, mahasiswa UIN Salatiga Pengelola Kantin Kontainer saat menghidangkan makanan untuk para pelanggan.

“Untuk meningkatkan layanan bagi mahasiswa itu lah kami senantiasa membuka kesempatan kerja sama dengan berbagai pihak. Hari ini, kami memperpanjang kerja sama yang telah terjalin dengan Dompet Dhuafa sejak tahun 2016. Kerja sama ini terkait dengan program Kantin Kontainer yang telah berhasil memberdayakan mahasiswa kurang mampu,” urainya.

Rektor UIN Salatiga itu pun berharap agarkerja sama yang telah terjalin dengan baik tak hanya akan menjadi sleeping documents, “Harus ada hasil dan aksi nyata dari kerja sama yang sudah disepakati hari ini.”

Kantin Kontainer Dompet Dhuafa di UIN Salatiga.

Harapan serupa juga disampaikan oleh Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Jateng, Zaini Tafrikan.

“Jalinan kerja sama antara Dompet Dhuafa dan UIN Salatiga sudah berjalan lebih dari lima tahun. Semoga ke depan kita bisa merajut lebih banyak kerja sama yang bermanfaat bagi umat,” ujar Zaini. (Dompet Dhuafa/Jawa Tengah/Ronna)

BANDUNG, JAWA BARAT — Dompet Dhuafa kembali mengajak para donatur untuk melihat secara langsung implementasi dana zakat, infak, sedekah, dan wakaf (Ziswaf) di bidang ekonomi. Ya, Dompet Dhuafa memberikan pengalaman memanen dan memetik sayur nan menyenangkan sekaligus menilik program pemberdayaan masyarakat khususnya petani di Desa Tani, Lembang, Bandung, pada Kamis (5/10/2023).

Sebelumnya, Rabu (4/10/2023), sebanyak 25 donatur yang tergabung dalam Majelis Ta’lim Husnul Khatimah, Cinere, telah mengunjungi Masjid Raya Al Jabbar, untuk melihat kemegahan Galeri Rasulullah Saw. Agenda dilanjutkan dengan nonton bareng film Buya Hamka melalui layar proyektor.

Tiba di Desa Tani Dompet Dhuafa, para donatur dimanjakan dengan lahan hijau seluas 10 hektare yang dipenuhi sayur-mayur segar sejauh mata memandang. Lagi-lagi, para donatur dibuat takjub oleh keindahan Desa Tani.

Desa Tani merupakan program pemberdayaan ekonomi Dompet Dhuafa di bidang pertanian hortikultura yang ditujukan bagi masyarakat kurang mampu, dengan total 50 penerima manfaat. Program ini pertama kali diimplementasikan oleh Dompet Dhuafa Jawa Barat pada Desember 2018.

Turut hadir dalam acara ini, Andriansyah selaku Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Jawa Barat dan Ade Rukmana selaku Pendamping Program Desa Tani Dompet Dhuafa.

“Desa Tani Dompet Dhuafa berasal dari dana zakat, infak, sedekah dan wakaf. Dana zakat kemudian digulirkan dalam bentuk program pertanian, dengan tagline ‘Berdaya di Tanah Sendiri’. Ini menjadi tagline sekaligus menjadi harapan kita semua, di mana petani menjadi lebih sejahtera dari sekadar menjadi buruh tani saja,” ungkap Andriansyah dalam paparannya.

Para petani yang sebelumnya hanya jadi buruh dengan gaji yang tidak seberapa, berpenghasilan hanya Rp 30-50 ribu itu, kini diberdayakan. Menurut Andri, sejatinya budaya di wilayah tersebut adalah bertani. Ia melihat ada potensi yang dapat memberdayakan para petani, meski sebelumnya produktivitas para petani cukup rendah karena tidak cakap dengan teknologi.

“Kita melihat bagaimana kualitas sayur di Desa Tani baik, bagus, sehingga nanti harganya juga memiliki harga di pasar modern. Itu yang kemudian kita dampingi kepada para petani. Masyarakat dari buruh menjadi masyarakat pemilik lahan, kita sewakan lahannya, mereka yang garap, hasil panennya 100% masuk ke kantong mereka sendiri, para penerima manfaat Dompet Dhuafa. Kita tidak mengambil keuntungan itu, karena dalam sudut pandang kita, ini merupakan salah satu penyaluran dana zakat, ada dana zakat yang langsung kita berikan, ada juga yang diproduktifkan seperti ini,” sambung Andriansyah.

Desa Tani terus berkembang dan adaptif terhadap perubahan, menggunakan teknologi Smart Farming dengan mengadopsi teknologi pertanian digital yang dapat memberikan kemudahan bagi para petani petani dalam mengelola perkebunan atau pertaniannya. Tahun 2020, Desa Tani mengadaptasi teknologi IOT (Internet of Thing).

Senior Officer Retail Fundraising Wakaf Dompet Dhuafa, Sulis Tiqomah.

“Yang dilakukan Dompet Dhuafa melalui Program Desa Tani, yaitu kita sediakan aset produksi, lahan kita sewain, saprodi kita kasih, dan sistem-sistem Smart Farming. Kita juga memiliki pendampingan intensif, riset, literasi keuangan, dan motivasi,” imbuh Andriansyah.

Ade Rukmana selaku Pendamping Program Desa Tani Dompet Dhuafa menambahkan bahwa Desa Tani terus bertransformasi menyesuaikan kebutuhan dan kondisi lingkungan, memiliki goals yang jelas, namun yang terpenting adalah adanya perubahan perilaku dari para petani, sebagai tolak ukur keberhasilan para petani. Ia juga menambahkan, kini para petani berpenghasilan mulai dari Rp2,4 juta—Rp6 juta/bulan.

“Di Desa Tani menerapkan HOW, Honestly, Open Mind, sama Willingness. Cukup kejujuran, keterbukaan pikiran, sama kemauan yang mereka jaga. Kita punya lahan luas, punya uang banyak, tapi tanpa HOW kita nggak akan bisa berjalan,” cetus Ade.

Pendamping Program Desa Tani Dompet Dhuafa, Ade Rukmana.

“Karena Mang Ade melihat yang terjadi ke Mang Ade sebelumnya, dari sini Mang Ade bisa bertahan, karena Mang Ade bisa berbagi. Mang Ade merasa punya reward bahwa Mang Ade bermanfaat buat masyarakat lain, dan makin kuat dalam pemulihan Mang Ade,” tambahnya.

Selain bersasal dari dana zakat, Desa Tani juga berasal dari dana wakaf. Dompet Dhuafa mengelola wakaf dengan produktif, amanah, dan akuntabel. Hal ini disampaikan oleh Sulis Tiqomah, Senior Officer Retail Fundraising Wakaf Dompet Dhuafa.

“Esensi wakaf berbeda dengan zakat. Jadi, kalau kita berbicara wakaf di Dompet Dhuafa, itu nggak akan kita salurkan langsung ke delapan asnaf, tetapi dana yang terhimpun akan kita kelola dalam sebuah pengelolaan produktif yang itu menghasilkan surplus wakaf untuk mauquf alaih. Inilah esensinya kenapa yang wakaf itu disebut sebagai sedekah jariyah, ketika selama program wakaf ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial dan dakwah, selama itu dinikmati masyarakat luas dan dhuafa, selama itulah pahalanya mengalir abadi walaupun kita sudah wafat,” ungkap Sulis.

Sementara, menurut peserta lain, yakni Endang Widiastuti (67), perjalannnya kali ini membuat ia makin bersyukur dalam menjalani hidup.

“Alhamdulillah perjalanan ini membuat saya bersyukur terus. Kemarin kan kita bisa melihat keindahan Al Jabbar, Desa Tani juga luar biasa, karena memberdayakan petani yang tadinya hidupnya terpuruk dan hasil tani yang nggak tahu mau dikemanakan, terus jadi produktif dan fokus pada tanaman yang mereka rawat. Petani yang sekarang juga modern, teknologinya maju,” kata Tuti.

Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Jawa Barat, Andriansyah.

“Seru banget! Meski lutut dan jantung bermasalah, tapi karena pengin, jadi ikut aja, seru ternyata. Aku panen tomat sama selada keriting. Itu luar biasa, kita tuh biasa lihat toko, di tukang sayur, sekarang itu ada di hadapan kita dan memetik aslinya. Rasanya pengin ambil semuanya, saking senengnya,” pungkas Tuti.

Ke depannya Desa Tani akan terus berkembang dalam bidang pertanian, peternakan, dan agro-eduwisata. (Dompet Dhuafa/Anndini)

TULUNGAGUNG, JAWA TIMUR — Sejauh 750 Km dari Ibu Kota Jakarta—yang kini tengah dikepung isu polusi udara, langit biru cerah menyelimuti desa yang nampak hijau kemilau. Tercatat kala itu, Selasa (22/8/2023) siang, indeks kualitas udara (AQI) desa tersebut menunjukkan nilai 44 AQI US. Artinya, udara dalam kondisi yang baik. Masker pun saya tanggalkan, saya merasa sangat bebas untuk menghirup napas panjang dan menghembuskannya, perlahan.

Berbagai macam buah segar dihidangkan, lengkap dengan jus buah dalam kemasan. Membuat saya sejenak ingin melupakan hiruk pikuk Kota Jakarta yang penuh dengan kerumitan. Tak terdengar suara bising kendaraan, tak terhirup karbon pembakaran, tak terlihat wajah terlipat lalu lalang, hanya kesejukan alam berhias warna kuning buah matang yang saya temukan.

Berbincang tentang pemberdayaan insani, menjadi hal yang sangat cocok untuk melengkapi momen singkat ini. Awal perbincangan dimulai dengan mencicipi buah belimbing segar yang baru saja dipetik dari kebun oleh Udin, warga tulen Desa Bono, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung. Tepat di samping rumahnya, kami saling bertukar cerita tentang pemberdayaan.

Gapura masuk ke kawasan program pemberdayaan belimbing Dompet Dhuafa di Desa Bono, Tulungagung.

Lahir dan besar di Desa Bono, pria berusia 50 tahun tersebut telah lama memiliki cita-cita mengubah pola pikir masyarakat desa. Keinginannya ini muncul atas keresahannya selama ia dan 80% warga Desa Bono lainnya menjadi pekerja migran di negeri orang. Keinginan ini didorong juga oleh banyaknya permasalahan keluarga yang muncul di masyarakat akibat adanya jarak pemisah antar anggota keluarga.

Pada tahun 2015, ia mulai menggali potensi-potensi desa dan masyarakatnya. Bulat lah tekadnya untuk mengembangkan salah satu potensi Desa Bono sebagai desa penghasil buah belimbing bermutu baik. Bermodal pengetahuan tentang pertanian yang didapatnya dari buku-buku di perpustakaan, kawasan sekitar rumahnya yang dahulu adalah rawa, disulapnya menjadi kebun belimbing yang berbuah setiap masa.

Setahun berselang, Pak Udin mengajak beberapa penggawa tani di desanya untuk membentuk sebuah kelompok pertanian. Sebagian besar menolak, namun sebagian kecil tertarik dan menyatakan komitmennya untuk mengembangkan potensi desa. Ia dan rekan-rekannya kemudian berhasil membudidayakan sebuah pekarangan kebun berisi 10 pohon belimbing.

Marka Tanah di kawasan program pemberdayaan belimbing Dompet Dhuafa di Desa Bono, Tulungagung.

Ingin lebih luas berkembang, pada tahun 2018, dibantu oleh para mahasiswa yang saat itu sedang melakukan KKN di desanya, Udin merancang sebuah konsep pemberdayaan untuk diajukan pada Program Call for Proposal (CFP) Dompet Dhuafa.

“Keinginan saya adalah mengembangkan potensi sumber daya lokal. Dulu, warga sini umumnya adalah TKI/TKW. Ada permasalahan di situ, yaitu saat mereka pulang ke keluarganya di desa, dia tidak memiliki usaha sampingan. Jadinya, selama di desa kemudian uangnya habis, kemudian balik lagi, dan terus berulang dan berulang. Saya kira itu masalah. Masalah-masalah keluarga sering muncul karena hal ini,” jelas mantan PMI di Malaysia tersebut.

Dalam konsep proposalnya, Udin ingin mengajak masyarakat desa untuk memanfaatkan pekarangan yang ada, guna mendapatkan hasil yang lebih menguntungkan. Konsep tersebut ia kemas dengan nama Wisata Desa Belimbing Tulungagung. Konsepnya ini berhasil lolos uji oleh para dewan juri di Jakarta, bahkan menempati peringkat pertama terbaik dari 87 program yang diajukan dari seluruh Indonesia.

Per buah belimbing rata-rata memiliki bobot sekitar 400 gram.

Inisiasi awal yang ia bangun adalah sebuah gapura untuk mengenalkan bahwa di Tulungagung ini ada sebuah Wisata Desa Belimbing yang termasuk di dalamnya juga ada wisata edukasi. Kemudian, ia merancang program-program pelatihan serta pembinaan manajemen pertanian dan perkebunan. Ia juga tak segan menyediakan bibit-bibit sebagai modal bagi para peserta pelatihan.

Langkah selanjutnya, untuk mewadahi para petani, Pak Udin membuat kelompok pekebun belimbing untuk dibina secara intens. Dalam kelompok-kelompok tersebut ada 50 warga penerima manfaat. Para peserta di kelompok ini pun terus mengalami perkembangan hingga masing-masing mampu berdaya di lingkup keluarganya.

Per buah belimbing rata-rata memiliki bobot sekitar 400 gram.

Pada tahun 2023, artinya pemberdayaan ini telah ada selama lima tahun. Saya pun sangat penasaran dengan dampaknya. Apakah masih berbekas, atau justru terbengkalai? Dan apakah yang dicita-citakan oleh Pak Udin gagal?

Terus melanjutkan perbicangan, Pak Udin mengajak saya berkeliling mengitari desa untuk melihat dan merasakan lebih dekat rindangnya Desa Bono. Terlihat banyak sekali kebun belimbing di setiap gang desa yang kami susuri. Tak kalah rindangnya dengan rumah Pak Udin, setiap rumah warga pun memiliki setidaknya satu pohon belimbing. (Dompet Dhuafa/Muthohar)

TULUNGAGUNG, JAWA TIMUR — “Saya sendiri mengakui bahwa kehadiran Dompet Dhuafa di sini sangat banyak memberikan perubahan di masyarakat,” ucap Udin, lugas.

Bahkan, lanjut Udin, kini ada banyak pihak yang ikut terlibat, termasuk dinas-dinas pemerintahan. Dalam hal ini, pemantik awalnya adalah Dompet Dhuafa. Kehadiran Dompet Dhuafa diakuinya sangat berdampak langsung pada pola pikir masyarakat Desa Bono, juga berdampak terhadap sektor ekonomi. Dahulu mungkin hanya 20% saja masyarakat yang melek terhadap potensi pertanian, kini sudah lebih dari 50% masyarakat sangat antusias dengan pertanian sebagai upaya peningkatan pendapatan.

Jika pun sekelompok keluarga tidak memiliki lahan kebun, ia dengan yakin memastikan bahwa di samping atau di depan rumahnya ada pohon belimbing. Hal ini karena Udin juga membuka pool penjualan dari setiap pohon belimbing di rumahnya. Sehingga siapa pun, berapa pun banyaknya, apa pun jenisnya, akan ditampung oleh Udin.

Marka Tanah di kawasan program pemberdayaan belimbing Dompet Dhuafa di Desa Bono, Tulungagung.

“Selanjutnya kami yang akan memilahnya kembali sesuai grade-nya. Kami sudah ada pasar serapannya,” sambung pemrakarsa Wisata Desa Belimbing itu.

Saat ini program yang sedang berjalan bersama Dompet Dhuafa Jatim adalah pemberdayaan anak-anak muda desa. Ia mengumpulkan 10 anak muda untuk dibina agar dapat mengelola kebun belimbing. Mereka adalah anak-anak muda yang putus sekolah, menganggur, dan sebagainya. Pak Udin dan Dompet Dhuafa kemudian mencarikan mereka pekerjaan, yaitu lahan-lahan yang terbengkalai untuk dihidupkan kembali.

“Saya yakin dalam hati nurani, mereka punya kemauan untuk menjadi orang bermanfaat. Namun, karena tidak ada yang merangkul, jadi yang orang lihat hanya kebiasaan buruknya saja,” ucapnya.

Inovasi dari salah seorang warga menciptakan menu bakso belimbing.

Kumpulan anak muda ini sepakat menamai kelompoknya dengan nama SAE Farm, sebuah akronim dari Smart Agriulture Education. Pada program kali ini, para penerima manfaat mendapatkan manfaat berupa pelatihan, pembinaan, pendampingan, hingga teknik pemasaran. Masing-masing juga disediakan lahan kebun belimbing yang sudah tidak terurus untuk dibudidayakan. Program ini setidaknya akan berjalan selama 3 tahun. Hingga nanti akan terlihat keberhasilan dan dapat dilanjutkan secara mandiri oleh masing-masing penerima manfaat.

“Prosesnya, (yaitu) tahun pertama pembenahan kebun yang terbengkalai. Namun pada tahap ini, alhamdulillah, sudah banyak yang sudah bisa panen. Baru kemudian tahun berikutnya pembinaan bagaimana pohon belimbing dapat banyak menghasilkan buah dengan kualitas sesuai standar yang sudah kami tentukan,” jelas Pak Udin.

Di salah satu kebun tempat kami berhenti untuk berteduh, kami berjumpa dengan salah satu penerima manfaat dari kelompok “Petani Berdaya”, petani pemberdayaan tahun 2018. Ia adalah Arifin. Bergabung di kelompok ini, ia mengaku mampu memperoleh omset pada kisaran angka Rp10 juta setiap kali panen. Dalam satu tahun, ia mampu melakukan panen sebanyak empat kali. Jika dihitung, Pak Arifin mampu memperoleh pendapatan bersih kurang lebih sebesar Rp1,5 juta setiap bulannya. Angka ini mungkin dirasa sudah cukup tinggi, mengingat UMR Tulungagung hanya sebesar Rp2 juta.

FOTO 3 Pak Arifin memamerkan buah belimbing yang dipetik dari kebunnya.

Kemudian, kami berjumpa dengan Yopi Muhammad Azis (28), salah satu penerima manfaat Program SAE Farm yang saat ini sedang berlangsung. Ia mengaku, usai lulus SMA ia langsung terjun di perkebunan buah belimbing. Melihat semangatnya berkebun, Udin kemudian mengajaknya untuk belajar lebih dalam mengenai budi daya belimbing dengan mengikuti Program SAE Farm.

Dialah yang memiliki inisiatif untuk membuat jus buah belimbing dalam kemasan yang tadi kami nikmati. Idenya ini tercetus lantaran banyak belimbing-belimbing kecil yang harganya jatuh di pasaran. Maka, daripada dibuang, ia memanfaatkannya untuk dijadikan jus buah.

“Sebelum ini, saya memang sudah bergelut di kebun belimbing, dari lulus sekolah. Kemudian diajak Pak Udin gabung di program Dompet Dhuafa,” ucapnya.

Pak Arifin memamerkan buah belimbing yang dipetik dari kebunnya.

Ia pun mengungkapkan bahwa sudah pernah panen sekali. Hasilnya panennya sekitar hampir 4 kuintal buah belimbing.

Udin dengan lugas mengatakan bahwa permintaan buah belimbing di Desa Bono ini sangat tinggi. Bahkan saking banyaknya, tidak jarang ia terpaksa harus meolak permintaan. Maka itu, ia selalu mendorong masyarakat untuk ikut budi daya buah unggulan Tulungagung ini.

“Di sini, rata-rata setiap minggu mampu menghasilkan 1 ton buah belimbing,” sebutnya dengan percaya diri. (Dompet Dhuafa/Muthohar)

Keberhasilan Udin membangun Wisata Desa Belimbing, tak berjalan sesingkat yang dinalar. Kegigihannya dalam membangun pola pikir masyarakat telah melalui banyak lila-liku hambatan. Terlebih, ia hanya seorang lulusan sekolah dasar, yang membuat orang-orang meremehkannya.

Meski begitu, tekadnya untuk belajar dan berkembang sangat lah kuat. Udin mengaku bahwa dahulu ia adalah seorang kutu buku. Meski putus sekolah, namun setiap hari ia datang ke perpustakaan untuk membaca. Ia mendapatkan ilmu tentang pertanian pun dari buku-buku yang dibacanya. Bahkan, Udin rela untuk mengunjungi perpustakaan di daerah-daerah lain untuk mendapatkan buku dan ilmu yang ia ingin dapatkan.

“Saya akui, sekolah saya … ya di perpustakaan. Saya percaya bahwa membaca (buku) adalah jendela dunia. Itu benar,” tegasnya.

Pak Udin mengemas buah belimbing untuk segera dikirim ke pemesan.

Hal yang terus memotivasinya juga adalah nasihat dari kakeknya yang selalu ia pegang hingga sekarang.

“Orang hidup kalau tidak bermanfaat bagi orang lain, lebih baik mati saja,” ucapnya, mengutip nasihat si mbah.

Perkataan bernada kasar itu saya kira wajar. Sebab, saat itu mbah dari Udin adalah seorang yang menjadi pekerja rodi pada zaman kolonial Belanda maupun romusha pada zaman penjajahan Jepang. Udin kemudian menjelaskan maksud dari perkataan mbahnya itu, yang berarti “Karaktermu akan mati jika tidak menjadi orang yang bermanfaat”.

Buah belimbing siap dikemas.
Keceriaan Pak Udin saat bercerita kebunnya baru saja mengalami panen besar.

“Saya meyakini betul pentingnya pendidikan. Maka itu, saya selalu berikan motivasi kepada anak-anak saya untuk terus menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Yang penting dalam pikirannya adalah tentang mau jadi apa, bukan jadi siapa,” tukasnya.

Lagi-lagi, Udin menyampaikan sebuah kalimat kutipan yang menjadi motivasinya untuk terus berkembang. Kalimat itu berisi “Sepotong gelombang tidak akan mampu menjelaskan siapa dirimu bila ia telah menjadi buih di tengah lautan”.

Marka Tanah di kawasan program pemberdayaan belimbing Dompet Dhuafa di Desa Bono, Tulungagung.

Maksudnya adalah, “Apa pun yang kita jalankan itu jangan berharap pujian. Mengalir saja. Karena kalau kita katakan itu pujian, maka kita akan rawan untuk berhenti di situ,” jelasnya.

Pertemuan dengan sosok Udin bagi saya sangat berkesan. Di Dompet Dhuafa, orang seperti Pak Udin ini kami juluki sebagai seorang “Local Hero”. Dia lah pahlawan lokal yang rela mengorbankan waktu dan tenaganya untuk memperjuangkan dan mensejahterakan orang lain. (Dompet Dhuafa/Muthohar)

SEMARANG, JAWA TENGAH — Dompet Dhuafa Jawa Tengah sukses melaunching Program Kantin Kontainer di UIN Walisongo Semarang pada Kamis (5/10/2023). Kantin Kontainer merupakan program beasiswa berbasis pemberdayaan ekonomi yang diberikan kepada para mahasiswa kurang mampu. Program ini hadir sebagai respons dari fenomena banyaknya anak bangsa yang dipaksa untuk rela putus sekolah karena ketidakmampuan ekonomi. Padahal, pendidikan merupakan faktor fundamental untuk menjadi bangsa yang maju.

Selain acara launching di UIN Walisongo Semarang, sebelumnya Dompet Dhuafa Jateng juga telah melaunching program serupa di UIN Salatiga. Kegiatan ini berhasil terwujud berkat kolaboraksi yang terjalin antara Dompet Dhuafa Jateng dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Walisongo Semarang serta dukungan dari BTN Syariah.

Zaini Tafrikhan selaku Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Jateng mengatakan, “Program Kantin Kontainer ini telah memberikan dampak positif kepada kehidupan mahasiswa. Maka kami lanjutkan program ini dengan tujuan memberdayakan potensi mahasiswa di bidang enterpreneur melalui program ini.”

GM Pengembangan Ekonomi dan Kemandirian Dompet Dhuafa, Udhi Tri Kurniawan yang turut hadir dalam acara launching ini berharap agar program ini dapat berjalan secara berkelanjutan, di mana semangatnya tidak hanya membara di satu tahun awal.

“Kami tidak berharap Program Kantin Kontainer ini berjalan satu tahun, kami ingin program ini berjalan sampai dua, tiga, empat tahun dan bahkan seterusnya. Prinsip sustainable ini harus kita terapkan dalam Program Kantin Kontainer. Oleh karenanya, Program Kantin Kontainer ini tidak hanya dikembangkan di tiga kampus di Indonesia, namun juga akan kami replikasi ke 20 kampus di Indonesia. Kami juga berterima kasih kepada Dompet Dhuafa Jawa Tengah yang telah menginisiasi Program Kantin Kontainer yang pertama di Indonesia,” tutur Udhi.

Di sisi lain, Dekan FEBI UIN Walisongo Semarang, Muhammad Saifullah mengatakan bahwa pihaknya mendukung penuh program beasiswa berbasis pemberdayaan ekonomi seperti Kantin Kontainer yang diinisiasi Dompet Dhuafa Jateng ini.

“Kami sangat mengapresiasi Program Kantin Kontainer yang diinisiasi oleh Dompet Dhuafa di FEBI UIN Walisongo Semarang ini. Pihak fakultas akan mengawal program ini dengan baik dan semaksimal mungkin. Program ini sangat positif sebagai media pembelajaran, mengajarkan para mahasiswa pengelola kantin berusaha untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuan mereka dalam mengembangkan usaha yang dijalaninya,” ucap Saifullah.

Hingga akhir tahun 2023, Dompet Dhuafa Jateng menargetkan untuk memiliki tiga titik program beasiswa berbasis pemberdayaan ekonomi tersebut, yakni di UIN Salatiga, UIN Walisongo Semarang, dan yang sedang berlangsung proses pembangunanya di IAIN Kudus.

“Kami mengucapkan terima kasih atas partisipasi dan dukungan dari semua pihak, khususnya para donatur Dompet Dhuafa karena dari zakat yang telah ditunaikan dapat memberi manfaat kalangan mahasiswa dalam bentuk beasiswa berbasis pemberdayaan ekonomi melalui program kantin kontainer ini,” tutup Zaini Tafrikan. (Dompet Dhuafa/Jateng/Ronna)