LEMBANG, BANDUNG – Dompet Dhuafa mengajak 21 donatur dan mitra kebaikan untuk mengunjungi program pemberdayaan ekonomi. Ya, Desa Tani yang berlokasi di desa Cibodas, Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Kegiatan care visit dilaksanakan selama 2 hari sejak Selasa-Rabu, (24-25/1/2023).

Desa Tani sendiri merupakan salah satu program pemberdayaan ekonomi Dompet Dhuafa dengan upaya pengentasan kemiskinan melalui pengembangan pertanian sayur. Petani dari kelompok masyarakat miskin, diberdayakan untuk mengelola lahan pertanian dengan skema pendampingan.

Kawasan pemberdayaan pertanian berbasis  sayur tersebut menjadi salah satu upaya pengelolaan dana ZISWAF dari Dompet Dhuafa. Selama dua hari, para donatur dan mitra kebaikan diajak untuk melihat secara langsung pengelolaan Desa Tani. Sebelum mengunjungi Desa Tani, mereka juga diajak untuk menikmati  keindahan dan kemegahan Masjid Al Jabbar  di Jl. Cimencrang, Gedebage, Kota Bandung, Selasa (24/1/2022).

Hari kedua, Rabu (25/12022), udara sejuk menyeruak ketika para donatur tiba di lahan 10 hektar tersebut, lahan hijau yang dipenuhi sayuran segar sejauh mata memandang. Di sana dipaparkan secara gamblang mengenai perkembangan Desa Tani sejak berdirinya di tahun 2018 hingga saat ini dengan total 50 penerima manfaat. Para donatur dan mitra kebaikan diajak melihat langsung bagaimana petani milenial dengan memanfaaatkan teknologi Smart Farming.

“Kemudian teknologi pertanian kita terapkan di sini, salah satunya di sana ada greenhouse, ini salah satu teknologi pertanian yang kita terapkan di Desa Tani. Kita menggunakan teknologi smart farming (IoT) Internet of Things. Di sini nyiramnya sudah pakai smartphone, sehingga bisa diotomatisasi, terjadwal nyiram dan ngasih pupuknya, bisa juga secara manual,” kata Andriansyah, Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Jawa Barat.

Lebih lanjut, menurut Andriansyah, Care Visit bertujuan mengajak para donatur dan mitra kebaikan untuk mengenal lebih dekat dengan para penerima manfaat dan mengetahui program-program khususnya dalam pemberdayaan ekonomi.

Tidak sampai di situ, para perseta dibuat kagum dengan kemajuan teknologi yang dimiliki Desa Tani Dompet Dhuafa, bahkan dengan sistem ini  tingkat produktivitas lebih banyak dibandingkan dengan pertanian konvensional. Menurut Pendamping Program Desa Tani, Ade Rukmana, kedepannya Desa Tani akan menerapkan AGRO EDUFARM yang harapannya bisa menjadi tempat edukasi sekaligus pemberdayaan dibidang pertanian yang dapat mengajak generasi muda turut andil memajukan pertanian khususnya di Desa Tani.

Berdaya di Tanah Sendiri menjadi doa dan semangat untuk para petani serta atas dukungan para donatur, Desa Tani terus berkembang pesat. Dari awal hanya menggarap 1,2 hektare lahan. Kini setiap petani menggarap sekitar 2.250 meter persegi lahan Desa Tani. Itu terwujud karena kolaborasi banyak pihak, diantaranya Yayasan Baitulmal BRI, PLN, Pertamina, Prudential dan sebagainya.

“Alhamdulillah di tempat ini sekarang bukan pertanian aja, integrated farming sudah kita lakukan mulai dari pengolahan lahan, penyediaan bibit, budidayanya, SOPnya, packagingnya seperti apa sampai distribusi ke kota sudah kita lakukan,” tambah pria yang akrab disapa Mang Ade.

Setelah para peserta menyimak pemaparan mengenai Desa Tani, mereka diajak untuk berkeliling tanah seluas 10 hektar untuk melihat langsung open field yang sedang ditanami para petani,  rumah semai, packaging house, greenhouse dan lahan pertanian konvensional. Bahkan para peserta diajak untuk memanen berbagai sayuran seperti kembang kol, selada, buah beet, brokoli, bawang daun dan masih banyak lagi yang hasil panennya dapat dibawa pulang.

Siang itu, meski gerimis membasahi, para donatur dan mitra tetap antusias dan semangat untuk memanen sayuran. Peserta dibagi menjadi 4 grup yang akan berkeliling ke 4 titik di Desa Tani, setelah selesai memanen para peserta menuju packaging house untuk mengemas sayuran dan dibawa pulang. Mereka pun tampak ceria penuh suka cita memamerkan hasil panennya.

“Seru banget karena pertama kali bisa ngerasain langsung, rasanya berkebun di Lembang dan ketemu juga mitra-mitra dari Dompet Dhuafa yang lain dan donatur Dompet Dhuafa juga. Ternyata lebih besar dari perkiraan (Desa Tani).  Alhamdulillah mau dibangun masjid juga, tempatnya enak banget, walaupun hujan cuacanya dingin banget tapi kita seru aja sih, karena kan bareng-bareng kelilingnya,” terang Karin, partnership amalsoleh.com. kepada Dompet Dguafa. (Dompet Dhuafa/Anndini)

JAWA TIMUR – Dompet Dhuafa Jawa Timur bersama Pemerintah Desa Gondang dan Desa Bendungan, Kecamatan Gondang, Kabupaten Tulungagung, menggandeng komunitas SRI Organik Nuswantara untuk menyelenggarakan pelatihan pertanian padi organik. Pelatihan diselenggarakan di Balai Desa Bendungan, Kecamatan Gondang, Tulungagung, selama 4 hari (23-26 Januari 2023).

Dengan dihadiri oleh 50 peserta, Fokus pelatihan ini yakni pembelajaran ekologi tanah dan System of Rice Intensification Organik. Seteah itu kemudian dilanjutkan dengan program sekolah lapangan serta pendampingan selama 6 bulan.

Manager Program Dompet Dhuafa Jawa Timur, M. Rizky Aladib menjelaskan, program pelatihan padi organik ini diadakan karena para petani resah dengan kualitas tanah yang menurun akibat penggunaan pupuk dan pestisida kimia yang berimbas pada hasil panen yang menurun.

“Kami sebagai petani sekarang itu merasa kesulitan untuk bertani, harga pupuk naik, kualitas tanah semakin buruk, cuaca tidak menentu dan ternyata setelah dihitung-hitung, kami ini selama bertani tidak ada keuntungan yang bisa dinikmati,” ujar Pak Sanusi, petani dari Desa Bendungan.

Senada dengan apa yang disampaikan para petani, Suryanto, S.Kep., Ns. selaku Kepala Desa Bendungan mengamini kondisi yang dialami petani di Wilayah Bendungan.

“Saya itu hampir selalu dicurhati masyarakat terkait kondisi pertanian yang tidak menguntungkan petani, padahal masyarakat Bendungan dan Gondang ini menggantungkan hidup ya dari pertanian. Imbasnya kalau masalah pertanian ini tidak segera ada solusi, pastinya akan berdampak pada kesejahteraan ekonomi dan sosial masyarakat,” ujarnya dalam sambutan pembukaan kegiatan pelatihan.

Kepada seluruh peserta, Rizky Aladib berharap semoga pelatihan yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa Jawa Timur dan komunitas SRI Organik Nuswantara ada dampak langsung yang bisa dirasakan oleh petani. Semoga ada kesadaran dan pemahaman baru mengenai proses pertanian yang berkelanjutan serta memberikan keuntungan yang signifikan bagi kesejejahteraan sosial dan ekonomi petani, khususnya di Desa Gondang dan Desa Bendungan.

“Mari sama-sama belajar dan membuka pikiran untuk hal baru, meskipun kita sebagai petani yang sudah lama berkecimpung di dunia pertanian. Namun, dalam proses belajar, kita harus mengosongkan gelas agar bisa menerima dari ilmu tersebut,” pesannya untuk peserta pelatihan. (Dompet Dhuafa/Jatim/Nunik)

BANDUNG BARAT — Sejuknya udara pagi di kawasan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, memberikan ketenangan tersendiri bagi siapa saja yang mengunjunginya. Kawasan yang erat dengan nuansa pertanian ini memang menjadi salah satu objek wisata yang cocok bagi masyarakat urban untuk melepas penatnya hiruk pikuk perkotaan.

Tetapi kita akan melihat sesuatu yang lain jika melintasi Kampung Cijerokaso Wetan, Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Dari sisi kanan jalan kita akan melihat pertanian hortikultura pemberdayaan Dompet Dhuafa yang bernama Desa Tani.

Merasakan Pengalaman Menjadi Petani Care Visit Fun Farming

Di sana kita bisa belajar bagaimana menjadi petani milenial yang modern dan dikembangan melalui dana ZISWAF. Hal ini dirasakan betul oleh para Key Opinion Leader (KOL) dan Blogger saat melakukan Care Visit bertajuk Fun Farming pada Selasa dan Rabu (1-2/11/2022). Mereka yang hadir dari berbagai daerah sangat bersemangat untuk merasakan sensasi dari mulai menanam hingga melakukan panen berbagai jenis tanaman hortikultura.

Disambut langusng oleh Dadan Kartiwa selaku Pengurus Desa Tani Dompet Dhuafa, para peserta diajak melihat langsung bagaimana pengelolaan pertanian menggunakan teknologi smart garden. Perseta dibuat terkejut dengan kemajuan teknologi yang dimiliki Desa Tani Dompet Dhuafa, bahkan dengan sistem ini petani mampu mendapatkan hasil panen lebih banyak dibandingkan dengan pertanian konvensional.

Merasakan Pengalaman Menjadi Petani Care Visit Fun Farming

“Melalui program Desa Tani kita tidak hanya memberikan sarana produksi seperti bibit tapi kita juga membangun sarana lain seperti Green House untuk meningkatkan hasil produksi. Paling terpenting juga kita memberikan pendampingan secara penuh untuk mengedukasi para petani agar lebih modern dan mampu mendatangkan keuntungan lebih dari pertaniannya. Bahkan kita juga menyiapkan pasar untuk menampung hasil pertanian mereka agar tersalurkan,” jelas Dadan.

Setelah mendapatkan pemaparan tentang Desa Tani, para peserta diajak untuk mengikuti kegiatan menanam berbagai tumbuhan hortikultura di green house yang didirikan Dompet Dhuafa melalui pengelolaan dan ZISWAF. Canda tawa menghiasi kegiatan yang dimulai dari pagi hari tersebut, menggunakan kendaraan pengangkut sederhana, para peserta terlihat sangat bahagia menjadi petani selama seharian penuh.

Merasakan Pengalaman Menjadi Petani Care Visit Fun Farming

Menjelang siang hari, peserta kemudian diajak untuk ikut memanen hasil pertanian yang letaknya diperbukitan. Aktivitas yang menyenangkan ditengah sejuknya udara Lembang membuat hawa dingin tidak mampu menembus kulit yang bersemangat. Mulai dari Horenzo, Buncis Baby Kenya, Buncis Super Logaya, Kale Keriting, Lettuce Romaine, dipanen menggunakan keranjang bambu oleh para peserta.

“Ketika ikut panen, kami diberitahu cara panen yang baik dan benar karena akan berpengaruh dengan hasil panen dan keberlanjutan tanaman. Setelah dipanen hasilnya akan disortir sesuai grade. Grade A yang terbaik akan dikemas untuk diekspor sesuai pesanan. Sementara grade di bawahnya akan didistribusikan pada industri horeka atau ke pasar,” ungkap Arief Rachman atau akrab disapa Ariefpokto.

Merasakan Pengalaman Menjadi Petani Care Visit Fun Farming

Program Desa Tani sendiri merupakan upaya Dompet Dhuafa untuk mengentaskan kemiskinan melalui pengembangan pertanian hortikultura. Lewat program ini, petani dari kelompok masyarakat ekonomi rendah diberdayakan untuk mengelola lahan pertanian dengan skema pendampingan. (Dompet Dhuafa / Arlen).

SOLOK, SUMATERA BARAT — “Dulu sebelum menanam kopi, saya juga pernah mencoba menanam bibit karet di ladang, namun, tanaman mati dan gagal panen. Hingga saya mencari kayu bakar ke hutan-hutan di Sirukam,” tutur Metrialdi (42), yang akrab disapa Nomek, salah seorang penerima manfaat program Kopi Solok Sirukam yang diinisisasi oleh Dompet Dhuafa Singgalang sejak awal tahun 2019.

Sebelum bergabung menjadi petani kopi binaan Dompet Dhuafa, Nomek sempat mencoba menanam bibit karet tapi gagal. Kemudian beliau beralih berprofesi sebagai buruh pencari kayu bakar di hutan Sirukam. Semasa itu, pendapatan hariannya hanya Rp25.000 perhari. Untuk mendapatkan hasil itu, ia pun harus mengumpulkan 100 ikat kayu, yang nantinya dijual kepada pengepul dengan harga Rp250 perak perikatnya.

Setiap hari Nomek harus berjalan kaki, menempuh jarak 8 (delapan) KM dari rumahnya ke tempat pencarian kayu api. Dirinya berangkat dari rumah selesai sholat subuh dan pulangnya selepas magrib.

Tidak sampai disitu saja, perjuangan panjang bercampur rasa letih, harus ia hadang. Melewati perbukitan yang tinggi dan curam, terkadang bisa saja membuat dirinya celaka. Saat musim hujan datang, terkadang kayu yang ia dapatkan tidak laku terjual. Tapi itu semua ia lewati dengan penuh perjuangan, demi menafkahi istri dan 2 (dua) orang anaknya.

Memasuki tahun 2019, Nomek dengan penuh semangat bergabung menjadi bagian anggota program pemberdayaan ekonomi Kopi Solok Sirukam Dompet Dhuafa, dari sinilah awal dirinya mendapatkan celah untuk merubah kehidupan perekonomian agar lebih baik.

Selama bergabung menjadi anggota petani kopi, Nomek dan anggota lainnya mendapatkan pelatihan dan bimbingan. Sehingga mengetahui tata cara penanam kopi yang baik.

“Panen kopi perdana, Alhamdulillah, saya mendapatkan hasil yang cukup memuaskan dari penjualan cherry kopi, saya bisa membelikan baju sekolah baru untuk anak saya yang akan masuk SMP, dan memberikan nafkah tambahan untuk istri,” tuturnya.

Program Desa Kopi Solok Sirukam sendiri adalah salah satu bentuk pemberdayaan masyarakat di bidang ekonomi yang digagas oleh Dompet Dhuafa di Jorong Kubang Nan Duo, Nagari Sirukam, Kecamatan Payung Sekaki, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Berfokus pada pengembangan komoditas kopi khususnya Arabika, program Kopi Solok Sirukam menjadi peluang besar bagi pemberdayaan masyarakat Sirukam dan sekitarnya. (Dompet Dhuafa/ Cici / Dhika Prabowo / Arlen)

BANTUL, YOGJAKARTA — Berbagai inovasi teknologi selalu ditingkatkan dari tahun ke tahun, Dompet Dhuafa dengan program Tebar Hewan Kurban (THK) #JadiManfaat siap membantu masyarakat untuk bekurban dan membantu roda ekonomi para peternak di sejumlah daerah.

Pengembangan sentra ternak dan tani Dompet Dhuafa, dikembangkan dengan mekanisme pendanaan blended finance untuk memadukan sumber dana zakat produktif, wakaf, dan investasi.

Rabu – Kamis (29-30/06/2022) kemarin, Dompet Dhuafa menggelar agenda dengan tema “Journey to JogjAgroWisata Tebar Hewan Kurban 1443 H #JadiManfaat” ini mengajak para jurnalis hingga blooger untuk melihat sentra tani dan ternak yang dibina dan dibimbing oleh Dompet Dhuafa. Selain melihat langsung program Dompet Dhuafa, para jurnalis dan blogger mendapatkan ilmu tentang pengelolaan manajemen zakat produktif, wakaf dan investasi. Rangkaian kegiatan pertama menuju DD Farm di Kulonprogo, Mina Padi di dusun Polaman, dan Lidah Buaya di Gunungkidul, Yogyakarta.

Potensi pertanian di daerah tersebut memang cukup bagus, maka harapannya Mina Padi meningkat dari sisi hasil padi pertanian kemudian penjualan ikan yang di sawah, dijelaskan Zahron juga mengalami peningkatan.

“Dari awal kita memulai dari 800 meter sekarang 3,5 Ha. Dompet Dhuafa juga membentuk kelembagaan kelompok untuk saling membantu agar saling menguatkan ketika musim tanaman tidak yang kekurangan,” ujar Pimpinan cabang Dompet Dhuafa Yogyakarta, Zahron mengatakan dalam proses Mina Padi kami berperan sebagai fasilitator.

Di sisi lain Program THK Dompet Dhuafa tidak hanya menebarkan hewan kurban semata, tetapi juga memberdayakan para peternak dan petani binaan yang tergabung dalam program Kampung Ternak Nusantara. Dengan kata lain, program THK Dompet Dhuafa adalah perwujudan dari model bisnis sosial yang turut mengangkat perekonomian para peternak binaan yang telah ada selama ini.

Salah satunya dengan meningkatkan daya cipta teknologi maupun edukasi industri peternakan dengan mengembangkan teknologi ASLIS (Teknologi Monitoring Peternakan), ASLIS merupakan teknologi monitoring pertumbuhan berat ternak berbasis IoT yang terkoneksi dengan dashboard khusus untuk membantu pendataan, mitigasi resiko peternakan, hingga menghubungkan data peternakan ke para pemilik. Teknologi masa depan yang akan diperdayagunakan di industri peternakan diharapkan dapat memicu pertumbuhan kualitas maupun kuantitas ternak yang diperdayakan.

“Kebetulan sekarang ini juga sedang ada instalasi alat timbang itu instalasi timbangan namanya ASLIS itu mereka berusaha untuk membuat penjualan hewan kurban itu tidak perlu ketemu masuk ke kandang tetapi bagaimana caranya mereka mendata hewan kurban dengan mudah kemudian nanti masuk ke aplikasi setiap bulan akan ada update tentang hewan kurban tersebut bobotnya fotonya dan sebagainya sehingga jika ada pembeli yang mau beli itu bisa langsung lihat Di HP yang lain tersebut tinggal pilih hewannya dan tahu foto terkininya gitu dan jika mau beli tinggal klik beli, kita akan kerjasama dengan salah satu startup.” Ucap Satiya Jati, selaku Lurah Kandang Dompet Dhuafa Farm.

Selain Peternakan, Dompet Dhuafa mengembangkan Pasar Ikan Mina Padi di dusun Polaman, Sedayu, Bantul, Madu Wanagama dan Lidah Buaya di Gunungkidul, Jogjakarta. Para jurnalis diajak untuk melihat dan praktik langsung di setiap lokasi agar mengetahui cara dan proses pengolaan dari awal hingga akhir.

Dengan adanya agenda “Journey to JogjAgroWisata Tebar Hewan Kurban 1443 H #JadiManfaat” ini jurnalis dikenalkan dengan teknologi ASLIS yang akan digunakan oleh Dompet Dhuafa kedepannya, selain itu juga untuk mensosialisaikan program pemberdayaan dan pengembangan zakat produktif Dompet Dhuafa berbasis pertenakan, pertanian hingga UMKM, juga guna menyebarkan informasi yang akurat kepada peternak dan konsumen terkait identifikasi dan pencegahan wabah PMK pada Hewan Kurban.

Di akhir perjalanan agenda JogjAgrowisata mengunjungi program pemberdayaan Lidah Buaya (Aloe Vera). Widodo, selaku penerima manfaat program Aloe Vera, menjelaskan, “Sebanyak 100 keluarga dari 7 RT di Desa Katongan mendapatkan bantuan berupa 50 benih Aloe Vera setiap keluarga. Sejak saat itu, tumbuhan aloevera mulai menghiasi setiap sudut rumah-rumah di desa tersebut. Karena tumbuh tak kenal musim, para ibu-ibu kini lebih produktif membudidayakan Aloe Vera”.

“Dulu dapat bantuan sebanyak 50 benih Aloe Vera tiap keluarga, yang dapat 100 keluarga di desa ini mas. Jadi tiap rumah pasti ada Aloe Vera. Jadilah disitu desa ini dikenal jadi ‘Desa Aloe Vera’”, pungkas Widodo.

Tidak hanya sampai pemberian benih, Dompet Dhuafa ikut serta menemani pengembangan produk terusan Aloe Vera di Desa Katongan. Melalui diskusi dan beberapa kali ujicoba, akhirnya produk minuman berbahan dasar Aloe Vera lahir. Pengemasan yang dulu sederhana, kini dikemas dengan lebih menarik. (Dompet Dhuafa / DIY)

TULUNGAGUNG, JAWA TIMUR — Pada Selasa (29/3/2022), Dompet Dhuafa Jawa Timur kembali melaksanakan pelatihan penguatan SDM petani di wilayah Desa Bono, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung. Kegiatan ini dihadiri oleh 14 peserta yang semuanya petani muda. Kegiatan pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas petani muda dalam mengembangkan budidaya belimbing organik di wilayah Tulungagung.

Dari data yang dihimpun oleh kelompok tani setempat, penyerapatan pasar buah belimbing melalui pengelolaan desa wisata per bulan mencapai 8 ton, akan tetapi saat ini masih terkendala kekurangan buah, sehingga sebagian petani mendatangkan belimbing dari tempat lain.

“Ini PR kita semua, belimbing Tulungagung memiliki kekhasan sangat manis ini harus dijaga,” sebut Udin (47) selaku Petani Senior Belimbing di wilayahnya.

Ia melanjutkan, “Saya menyadari bahwa akan ada waktunya regenerasi petani, maka saya berharap melalui kegiatan pelatihan ini mampu melahirkan kader-kader petani muda yang handal. Melek teknologi dan tetap menjaga kelesetarian alam dengan menerapkan budidaya pertanian yang ramah lingkungan”.

Senada dengan pandangan Udin, Kholid Abdillah selaku Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Jawa Timur, mengungkapkan, “Jangan malu menjadi petani, kita harus bisa berinovasi dan kreatif. Dompet Dhuafa berkomitmen mendampingi para petani muda untuk berdaya dan harapannya setelah nanti berhasil, petani yang didampingi saat ini juga mampu mengajak petani muda lainya untuk berdaya di bidang pertanian, khususnya budidaya belimbing organik “. (Dompet Dhuafa / Jawa Timur)

TULUNGAGUNG, JAWA TIMUR — “Program pengembangan belimbing organik ini juga kita melibatkan praktisi yang sudah ahli di bidang pertanian organik, bersama kelompok tani Artha Mandiri yang dulunya juga adalah dampingan program Dompet Dhuafa. Kami komitmen berjuang bersama petani untuk meningkatkan pendapatan. Hal mendasar yang perlu kita benahi adalah SDM,” terang Rizzqi (33) selaku koordinasi program Dompet Dhuafa Jatim.

Ya, Dompet Dhuafa Jawa Timur mengadakan sosialisasi program pengembangan budidaya belimbing organik kepada petani muda di Desa Bono, Kecamatan Boyolangu Tulungagung. Alhamdulillah, sebanyak 11 petani muda yang berasal dari Desa Bono, Waung, dan Moyoketen, antusias mengikuti kegiatan ini.

Kegiatan sosialisasi ini merupakan rangkaian tahapan dari pelaksanaan program pengembangan pertanian belimbing yang rencananya akan terlaksana di Wilayah Tulungagung. Selain sosialisasi, dalam rangka untuk menguatkan komitmen bersama maka dilakukan juga proses penandatanganan kerjasama antara Dompet Dhuafa bersama petani muda binaan.

“Alhamdulillah, kulo remen bianget, mugi-mugi usana bersama niki angsal kasil sae. Saget damel perantara lek kulo pado kasehteraan,” aku Yopi (31) salah satu peserta program. (Dompet Dhuafa / Jawa Timur)

BANDUNG, JAWA BARAT — Status Indonesia sebagai negara agraris tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan para petani sebagai ‘tulang punggung’ ketersediaan pangan nasional. Kondisi ini terjadi lantaran berbagai hal, salah satunya pola pertanian di Indonesia yang mayoritas masih konvensional dan kurangnya literasi para petani guna memaksimalkan potensi lahan pertanian.

Padahal, profesi sebagai seorang petani di Indonesia merupakan peluang besar untuk mendapatkan keuntungan yang melimpah. Hal ini disadari oleh Mamat Rahmad (41) seorang petani binaan Desa Tani Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, besutan Dompet Dhuafa Jawa Barat. Keinginan yang tinggi untuk menggarap pertanian berbasis keilmuan, membuat Mamat sangat bersemangat untuk mengikuti program ini.

“Bertani itu  pakai ilmu, kalau dulu orang tua kita bertani hanya sekedar menanam dan panen dengan hasil pas-pasan, seharusnya zaman modern seperti sekarang kita bisa dapat hasil lebih kalau bertani menggunakan ilmu. Hasil meningkat, tanah pun tidak rusak karena pola-pola yang seharusnya tidak benar seperti terlalu banyak menggunakan bahan kimia tanpa ukuran jelas,” ujar Mamat yang hangat disapa Mamang.

Potensi keuntungan bukan satu-satunya yang mendorong Mamat ingin meneruskan kiprah orang tuanya menjadi seorang petani. Baginya, menjadi seorang petani merupakan terapi penyembuhan paling efektif bagi dirinya. Sebelumnya, Mamat selama 11 (sebelas) tahun terus beralih profesi di Kota Bandung hingga dirinya pernah terjatuh dalam dunia gelap narkotika. Bahkan, menurut pengakuannya, ia sudah 2 (dua) kali mendekam di hotel prodeo karena kedapatan mengkonsumsi zat-zat terlarang.

“Ssebelas tahun dulu saya pindah-pindah tempat kerja ikut orang lain, sampai saya pernah masuk penjara karena kedapatan memiliki narkoba sampai 2 (dua) kali. Setelah itu saya berpikir lebih nyaman kembali ke kampung menjadi petani seperti orang tua dulu. Hati tenang, pikiran tidak pusing, badan saya juga jadi sehat karena tidak menggunakan narkoba lagi. Dengan kegiatan sehari-hari menggarap lahan saya selalu bergerak dan cepat lepas dari ketergantungan narkoba,” jelas Mamat.

Kebangkitannya dari dunia kelam menjadi seorang petani hortikultura tidak serta merta mulus tanpa hambatan. Kurangnya modal untuk memiliki lahan pribadi dan sarana lain seperti bibit, pupuk, dan lain-lain membuat Mamat harus memutar otak demi menjalankan tekatnya. Sempat Mamat memutuskan untuk menggadaikan rumahnya untuk modal membuka lahan pertanian. Namun hal itu justru tidak sebanding dengan pemasukan yang didapatkan.

“Saya awal-awal gadaikan surat rumah untuk memulai bertani, saya pikir dengan adanya hasil panen nanti mampu membayar pinjaman tersebut dan menutupi kebutuhan sehari-hari. Tapi ternyata hasil panen tidak menentu dan hasilnya saya harus memutar otak kembali untuk menutupi semuanya. Ya, namanya harga pasar tidak menentu kan, cuaca juga tidak bisa diprediksi, itu buat tanaman kita dilahan terbuka cepat rusak dan gagal panen,” sambungnya.

Namun sekarang Mamat bisa kembali tersenyum dan mendapatkan apa yang selama ini dia dambakan. Pertemuannya dengan Kang Ade salah satu kader Desa Tani Dompet Dhuafa Jawa Barat merubah segala bentuk dinamika yang dirasakan. Berkat sokongan dari Prudential, Mamat bisa bercocok tanam dibawah Green House dan mendapatkan pendampingan secara penuh dari Dompet Dhuafa Jawa Barat serta sarana pendukung seperti bibit, pupuk, hingga lahan garapan itu sendiri.

“Kalau pakai Green House tanaman jadi lebih aman walaupun cuaca tidak menentu, kita bekerja juga lebih teduh. Dengan ukuran Green House 250 (dua ratus lima puluh) meter persegi seperti ini hasilnya bisa sebanding dengan 1000 (seribu) hektar lahan pertanian terbuka bahkan lebih. Ditambah kita diajarin juga disini gimana caranya membuat pupuk yang benar, pemilihan jenis tanaman, cara merawat, sampai dicarikan pasarnya untuk menjual hasil panen,” jelasnya.

Keyakinan serta ketekunan Mamat untuk meningkatkan kemampuan dibidang pertanian menjadikannya kini sudah mampu memiliki lahan pribadi. Diusia yang terbilang tidak muda lagi, Mamat tidak sungkan untuk bertanya dan belajar kepada generasi milenial untuk mengasah kemampuannya dalam bertani. Hari ini Mamat mungkin sudah bisa dikatan sebagai petani modern yang sukses di Kecamatan Lembang.

“Alhamdullilah cicilan dulu sudah hampir selelsai dari hasil tani ini, kebutuhan keluarga sehari-hari juga cukup, saya juga sudah punya lahan pribadi walaupun tidak besar dari hasil menabung disini. Itulah yang saya bilang bertani pakai ilmu, bumi pun kasih kita lebih,” pungkas Mamat sebelum melanjutkan aktivitasnya di Green House.

Aca Sujana selaku Staff Program Pendidikan dan Ekonomi Dompet Dhuafa Jawa Barat, mengatakan, “Melalui program Desa Tani kita tidak hanya memberikan sarana produksi seperti bibit tapi kita juga membangun sarana lain seperti Green House untuk meningkatkan hasil produksi. Paling terpenting juga kita memberikan pendampingan secara penuh untuk mengedukasi para petani agar lebih modern dan mampu mendatangkan keuntungan lebih dari pertaniannya. Bahkan kita juga menyiapkan pasar untuk menampung hasil pertanian mereka agar tersalurkan”. (Dompet Dhuafa / Arlen)

SOLOK, SUMATERA BARAT — Kabupaten Solok, wilayah Nagari Sirukam terpilih menjadi Desa Wisata Kopi yang digagas oleh Dompet Dhuafa Cabang Singgalang dan Universitas Andalas pada Rabu (16/12/2020). Merupakan agenda kerja sama dalam program ‘Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan’.

Tim pengabdian masyarakat Universitas Andalas yang diketuai oleh Aadrean, menggandeng praktisi dan pelatih ekowisata nasional Ritno Kurniawan, untuk menggali kondisi, potensi serta langkah kelanjutannya. Tim ini mengunjungi kebun kopi, mengobservasi dan berinteraksi dengan petani, kelompok tani, hingga Wali Nagari Sirukam.

Berdasarkan pengamatannya selama berkunjung ke Sirukam, Ritno Kurniawan salah seorang praktisi Ekowisata menyatakan bahwa Sirukam ini layak menjadi desa wisata, ada kebun kopi dan dekat dengan gunung Talang.

“Rumah-rumah gadang warga bisa dijadikan home stay, dan banyak program dan paket wisata lain yang bisa dibuat,” jelas Ritno.

Sebelumnya Dompet Dhuafa Singgalang mengadakan program pemberdayaan petani kopi yang telah dilakukan sejak tahun 2019. Saat ini kebun kopi dikelola oleh kelompok petani Cirubuih Indah Nan Jaya seluas sekitar 50 hektar dengan anggota 39 orang. Kelompok Tani dengan pendampingan dari Dompet Dhuafa Singgalang ini mengharapkan pengembangan dan diversifikasi usaha untuk memberikan dampak yang lebih luas ke masyarakat.

Dengan terlihatnya kondisi hasil yang positif dalam usaha petani kopi, Dompet Dhuafa Singgalang dan kelompok tani berencana mengembangkan bentuk usaha berupa menjadikan kawasan tersebut menjadi tempat ekowisata. Dalam hal ini Dompet Dhuafa Singgalang sudah memberikan jargon untuk kawasan ini disebut sebagai Desa Kopi.

Adris Pelandri selaku Ketua Kelompok Tani setempat yang merupakan penerima manfaat program ekonomi pemberdayaan kopi arabika Dompet Dhuafa SInggalang, siap untuk mendukung kegiatan pengabdian Unand. Serta Yon, salah seorang pengurus kelompok sangat antusias dengan rencana pengembangan ini, dan mempersilahkan lahannya untuk digunakan jika dibutuhkan untuk pengembangan lokasi dan fasilitas. Ketua Kelompok Tani sangat senang dengan rencana ini.

“Kami ingin sekali mewujudkannya, tapi ilmunya belum ada kami miliki,” kata Adris.

Disamping itu, pertemuan ini disambut baik oleh Wali Nagari Sirukam beserta jajaran, LPM, dan Ketua Pemuda Nagari Sirukam. Warga Sirukam akan sangat terbantu jika Desa Wisata Kopi ini segera terwujud.

“Bahwa yang paling dibutuhkan itu adalah SDM yaitu pemuda yang memiliki semangat dan kemauan yang kuat untuk mewujudkan itu,” imbuh Ritno. (Dompet Dhuafa / Singgalang / Fajar)

SOLOK, SUMATERA BARAT — Sirukam, adalah sebuah Nagari (Kecamatan) yang terletak di Kecamatan Payung Sekaki, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Wilayah perbukitan tersebut, berada pada ketinggian 1.300 MDPL dengan suhu udara rata-rata 16 derajat celcius. Dalam bahasa Minang, Sirukam, diyakini berasal dari kata ‘Suruakkan’ yang berarti ‘Sembunyi’.

“Zaman penjajahan dulu, Nagari Sirukam memang menjadi salah satu tempat persembunyian dan perlindungan yang aman bagi pribumi. Dari situlah dinamakan Sirukam,” ungkap Abdul Rahman, Pendamping Program Unit Solok Dompet Dhuafa Cabang Singgalang.

Nagari Sirukam memiliki jarak 35 kilometer dari pusat Kabupaten Solok atau dapat ditempuh dengan waktu sekitar satu jam perjalanan darat menggunakan kendaraan roda empat. Menuju Sirukam, perjalanan juga dilalui dengan kelok berliku dan tanjakan.

Ya, di bukit persembunyian tersebut, terdapat banyak potensi alam yang tersembunyi pula. Sepanjang perjalanan, suguhan pemandangan alam hijau seperti sawah dan kebun banyak terdapat di sana. Mulai dari tanaman Padi, Bawang, Jagung hingga Kopi, tumbuh subur di sana. Kopi Arabica Solok kian menjadi komoditas unggulan nan banyak peminatnya.

“Tak hanya kopi robusta, jenis arabica juga menjadi salah satu komoditas unggulan Kabupaten Solok, yang diperluas area tanamnya di daerah dataran tinggi Sirukam,” seru Abdul.

Berangkat dari hal tersebut, Dompet Dhuafa melihat, mencari, juga menggulirkan rekomendasi program pemberdayaan ekonomi zakat produktif melalui Call For Proposal Project Dompet Dhuafa Cabang Singgalang.

Dompet Dhuafa terus berupaya untuk memandirikan para penerima manfaatnya dengan prinsip ‘dari mustahik menjadi muzaki’. Hingga pada 2018, Dompet Dhuafa Cabang Singgalang melakukan assesment pada pengembangan pertanian kopi di Sirukam, Solok, untuk menebarkan luasnya manfaat bahagia berzakat bagi para penerima manfaat maupun para donaturnya.

“Jadilah di 2019, Dompet Dhuafa menggulirkan program pemberdayaan pada Kelompok Tani Sirubuih Indah Nan Jaya, dengan anggota kelompok berjumlah 25 orang. Berupa penyediaan fasilitas kelompok mulai dari bibit hingga tempat pengolahan pasca panen (pulper house, rumah pengeringan, huller, gudang). Tentunya juga menyediakan peran pendampingan dan pembinaan bersama mitra Koperasi Solok Radjo selama 1-2 tahun, membantu dalam pemasaran hingga pengolahan limbah menjadi pupuk kompos,” terang Hadie Bandarian, selaku Pimpinan Dompet Dhuafa Cabang Singgalang, pada Selasa (17/12/2019).

Pada Rabu hingga Jum’at (18-20/12/2019), Tim Dompet Dhuafa kembali menulusuri lokasi pemberdayaan pertanian kopi di Jorong (Desa) Kubang Nan Duo, Nagari Sirukam, untuk menilik para perawat hasil alam dibalik potensi tersembunyi dari bukit persembunyian tersebut. (Dompet Dhuafa/Dhika Prabowo)