TULUNGAGUNG, JAWA TIMUR — Sejauh 750 Km dari Ibu Kota Jakarta—yang kini tengah dikepung isu polusi udara, langit biru cerah menyelimuti desa yang nampak hijau kemilau. Tercatat kala itu, Selasa (22/8/2023) siang, indeks kualitas udara (AQI) desa tersebut menunjukkan nilai 44 AQI US. Artinya, udara dalam kondisi yang baik. Masker pun saya tanggalkan, saya merasa sangat bebas untuk menghirup napas panjang dan menghembuskannya, perlahan.

Berbagai macam buah segar dihidangkan, lengkap dengan jus buah dalam kemasan. Membuat saya sejenak ingin melupakan hiruk pikuk Kota Jakarta yang penuh dengan kerumitan. Tak terdengar suara bising kendaraan, tak terhirup karbon pembakaran, tak terlihat wajah terlipat lalu lalang, hanya kesejukan alam berhias warna kuning buah matang yang saya temukan.

Berbincang tentang pemberdayaan insani, menjadi hal yang sangat cocok untuk melengkapi momen singkat ini. Awal perbincangan dimulai dengan mencicipi buah belimbing segar yang baru saja dipetik dari kebun oleh Udin, warga tulen Desa Bono, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung. Tepat di samping rumahnya, kami saling bertukar cerita tentang pemberdayaan.

Gapura masuk ke kawasan program pemberdayaan belimbing Dompet Dhuafa di Desa Bono, Tulungagung.

Lahir dan besar di Desa Bono, pria berusia 50 tahun tersebut telah lama memiliki cita-cita mengubah pola pikir masyarakat desa. Keinginannya ini muncul atas keresahannya selama ia dan 80% warga Desa Bono lainnya menjadi pekerja migran di negeri orang. Keinginan ini didorong juga oleh banyaknya permasalahan keluarga yang muncul di masyarakat akibat adanya jarak pemisah antar anggota keluarga.

Pada tahun 2015, ia mulai menggali potensi-potensi desa dan masyarakatnya. Bulat lah tekadnya untuk mengembangkan salah satu potensi Desa Bono sebagai desa penghasil buah belimbing bermutu baik. Bermodal pengetahuan tentang pertanian yang didapatnya dari buku-buku di perpustakaan, kawasan sekitar rumahnya yang dahulu adalah rawa, disulapnya menjadi kebun belimbing yang berbuah setiap masa.

Setahun berselang, Pak Udin mengajak beberapa penggawa tani di desanya untuk membentuk sebuah kelompok pertanian. Sebagian besar menolak, namun sebagian kecil tertarik dan menyatakan komitmennya untuk mengembangkan potensi desa. Ia dan rekan-rekannya kemudian berhasil membudidayakan sebuah pekarangan kebun berisi 10 pohon belimbing.

Marka Tanah di kawasan program pemberdayaan belimbing Dompet Dhuafa di Desa Bono, Tulungagung.

Ingin lebih luas berkembang, pada tahun 2018, dibantu oleh para mahasiswa yang saat itu sedang melakukan KKN di desanya, Udin merancang sebuah konsep pemberdayaan untuk diajukan pada Program Call for Proposal (CFP) Dompet Dhuafa.

“Keinginan saya adalah mengembangkan potensi sumber daya lokal. Dulu, warga sini umumnya adalah TKI/TKW. Ada permasalahan di situ, yaitu saat mereka pulang ke keluarganya di desa, dia tidak memiliki usaha sampingan. Jadinya, selama di desa kemudian uangnya habis, kemudian balik lagi, dan terus berulang dan berulang. Saya kira itu masalah. Masalah-masalah keluarga sering muncul karena hal ini,” jelas mantan PMI di Malaysia tersebut.

Dalam konsep proposalnya, Udin ingin mengajak masyarakat desa untuk memanfaatkan pekarangan yang ada, guna mendapatkan hasil yang lebih menguntungkan. Konsep tersebut ia kemas dengan nama Wisata Desa Belimbing Tulungagung. Konsepnya ini berhasil lolos uji oleh para dewan juri di Jakarta, bahkan menempati peringkat pertama terbaik dari 87 program yang diajukan dari seluruh Indonesia.

Per buah belimbing rata-rata memiliki bobot sekitar 400 gram.

Inisiasi awal yang ia bangun adalah sebuah gapura untuk mengenalkan bahwa di Tulungagung ini ada sebuah Wisata Desa Belimbing yang termasuk di dalamnya juga ada wisata edukasi. Kemudian, ia merancang program-program pelatihan serta pembinaan manajemen pertanian dan perkebunan. Ia juga tak segan menyediakan bibit-bibit sebagai modal bagi para peserta pelatihan.

Langkah selanjutnya, untuk mewadahi para petani, Pak Udin membuat kelompok pekebun belimbing untuk dibina secara intens. Dalam kelompok-kelompok tersebut ada 50 warga penerima manfaat. Para peserta di kelompok ini pun terus mengalami perkembangan hingga masing-masing mampu berdaya di lingkup keluarganya.

Per buah belimbing rata-rata memiliki bobot sekitar 400 gram.

Pada tahun 2023, artinya pemberdayaan ini telah ada selama lima tahun. Saya pun sangat penasaran dengan dampaknya. Apakah masih berbekas, atau justru terbengkalai? Dan apakah yang dicita-citakan oleh Pak Udin gagal?

Terus melanjutkan perbicangan, Pak Udin mengajak saya berkeliling mengitari desa untuk melihat dan merasakan lebih dekat rindangnya Desa Bono. Terlihat banyak sekali kebun belimbing di setiap gang desa yang kami susuri. Tak kalah rindangnya dengan rumah Pak Udin, setiap rumah warga pun memiliki setidaknya satu pohon belimbing. (Dompet Dhuafa/Muthohar)

TULUNGAGUNG, JAWA TIMUR — “Saya sendiri mengakui bahwa kehadiran Dompet Dhuafa di sini sangat banyak memberikan perubahan di masyarakat,” ucap Udin, lugas.

Bahkan, lanjut Udin, kini ada banyak pihak yang ikut terlibat, termasuk dinas-dinas pemerintahan. Dalam hal ini, pemantik awalnya adalah Dompet Dhuafa. Kehadiran Dompet Dhuafa diakuinya sangat berdampak langsung pada pola pikir masyarakat Desa Bono, juga berdampak terhadap sektor ekonomi. Dahulu mungkin hanya 20% saja masyarakat yang melek terhadap potensi pertanian, kini sudah lebih dari 50% masyarakat sangat antusias dengan pertanian sebagai upaya peningkatan pendapatan.

Jika pun sekelompok keluarga tidak memiliki lahan kebun, ia dengan yakin memastikan bahwa di samping atau di depan rumahnya ada pohon belimbing. Hal ini karena Udin juga membuka pool penjualan dari setiap pohon belimbing di rumahnya. Sehingga siapa pun, berapa pun banyaknya, apa pun jenisnya, akan ditampung oleh Udin.

Marka Tanah di kawasan program pemberdayaan belimbing Dompet Dhuafa di Desa Bono, Tulungagung.

“Selanjutnya kami yang akan memilahnya kembali sesuai grade-nya. Kami sudah ada pasar serapannya,” sambung pemrakarsa Wisata Desa Belimbing itu.

Saat ini program yang sedang berjalan bersama Dompet Dhuafa Jatim adalah pemberdayaan anak-anak muda desa. Ia mengumpulkan 10 anak muda untuk dibina agar dapat mengelola kebun belimbing. Mereka adalah anak-anak muda yang putus sekolah, menganggur, dan sebagainya. Pak Udin dan Dompet Dhuafa kemudian mencarikan mereka pekerjaan, yaitu lahan-lahan yang terbengkalai untuk dihidupkan kembali.

“Saya yakin dalam hati nurani, mereka punya kemauan untuk menjadi orang bermanfaat. Namun, karena tidak ada yang merangkul, jadi yang orang lihat hanya kebiasaan buruknya saja,” ucapnya.

Inovasi dari salah seorang warga menciptakan menu bakso belimbing.

Kumpulan anak muda ini sepakat menamai kelompoknya dengan nama SAE Farm, sebuah akronim dari Smart Agriulture Education. Pada program kali ini, para penerima manfaat mendapatkan manfaat berupa pelatihan, pembinaan, pendampingan, hingga teknik pemasaran. Masing-masing juga disediakan lahan kebun belimbing yang sudah tidak terurus untuk dibudidayakan. Program ini setidaknya akan berjalan selama 3 tahun. Hingga nanti akan terlihat keberhasilan dan dapat dilanjutkan secara mandiri oleh masing-masing penerima manfaat.

“Prosesnya, (yaitu) tahun pertama pembenahan kebun yang terbengkalai. Namun pada tahap ini, alhamdulillah, sudah banyak yang sudah bisa panen. Baru kemudian tahun berikutnya pembinaan bagaimana pohon belimbing dapat banyak menghasilkan buah dengan kualitas sesuai standar yang sudah kami tentukan,” jelas Pak Udin.

Di salah satu kebun tempat kami berhenti untuk berteduh, kami berjumpa dengan salah satu penerima manfaat dari kelompok “Petani Berdaya”, petani pemberdayaan tahun 2018. Ia adalah Arifin. Bergabung di kelompok ini, ia mengaku mampu memperoleh omset pada kisaran angka Rp10 juta setiap kali panen. Dalam satu tahun, ia mampu melakukan panen sebanyak empat kali. Jika dihitung, Pak Arifin mampu memperoleh pendapatan bersih kurang lebih sebesar Rp1,5 juta setiap bulannya. Angka ini mungkin dirasa sudah cukup tinggi, mengingat UMR Tulungagung hanya sebesar Rp2 juta.

FOTO 3 Pak Arifin memamerkan buah belimbing yang dipetik dari kebunnya.

Kemudian, kami berjumpa dengan Yopi Muhammad Azis (28), salah satu penerima manfaat Program SAE Farm yang saat ini sedang berlangsung. Ia mengaku, usai lulus SMA ia langsung terjun di perkebunan buah belimbing. Melihat semangatnya berkebun, Udin kemudian mengajaknya untuk belajar lebih dalam mengenai budi daya belimbing dengan mengikuti Program SAE Farm.

Dialah yang memiliki inisiatif untuk membuat jus buah belimbing dalam kemasan yang tadi kami nikmati. Idenya ini tercetus lantaran banyak belimbing-belimbing kecil yang harganya jatuh di pasaran. Maka, daripada dibuang, ia memanfaatkannya untuk dijadikan jus buah.

“Sebelum ini, saya memang sudah bergelut di kebun belimbing, dari lulus sekolah. Kemudian diajak Pak Udin gabung di program Dompet Dhuafa,” ucapnya.

Pak Arifin memamerkan buah belimbing yang dipetik dari kebunnya.

Ia pun mengungkapkan bahwa sudah pernah panen sekali. Hasilnya panennya sekitar hampir 4 kuintal buah belimbing.

Udin dengan lugas mengatakan bahwa permintaan buah belimbing di Desa Bono ini sangat tinggi. Bahkan saking banyaknya, tidak jarang ia terpaksa harus meolak permintaan. Maka itu, ia selalu mendorong masyarakat untuk ikut budi daya buah unggulan Tulungagung ini.

“Di sini, rata-rata setiap minggu mampu menghasilkan 1 ton buah belimbing,” sebutnya dengan percaya diri. (Dompet Dhuafa/Muthohar)

Keberhasilan Udin membangun Wisata Desa Belimbing, tak berjalan sesingkat yang dinalar. Kegigihannya dalam membangun pola pikir masyarakat telah melalui banyak lila-liku hambatan. Terlebih, ia hanya seorang lulusan sekolah dasar, yang membuat orang-orang meremehkannya.

Meski begitu, tekadnya untuk belajar dan berkembang sangat lah kuat. Udin mengaku bahwa dahulu ia adalah seorang kutu buku. Meski putus sekolah, namun setiap hari ia datang ke perpustakaan untuk membaca. Ia mendapatkan ilmu tentang pertanian pun dari buku-buku yang dibacanya. Bahkan, Udin rela untuk mengunjungi perpustakaan di daerah-daerah lain untuk mendapatkan buku dan ilmu yang ia ingin dapatkan.

“Saya akui, sekolah saya … ya di perpustakaan. Saya percaya bahwa membaca (buku) adalah jendela dunia. Itu benar,” tegasnya.

Pak Udin mengemas buah belimbing untuk segera dikirim ke pemesan.

Hal yang terus memotivasinya juga adalah nasihat dari kakeknya yang selalu ia pegang hingga sekarang.

“Orang hidup kalau tidak bermanfaat bagi orang lain, lebih baik mati saja,” ucapnya, mengutip nasihat si mbah.

Perkataan bernada kasar itu saya kira wajar. Sebab, saat itu mbah dari Udin adalah seorang yang menjadi pekerja rodi pada zaman kolonial Belanda maupun romusha pada zaman penjajahan Jepang. Udin kemudian menjelaskan maksud dari perkataan mbahnya itu, yang berarti “Karaktermu akan mati jika tidak menjadi orang yang bermanfaat”.

Buah belimbing siap dikemas.
Keceriaan Pak Udin saat bercerita kebunnya baru saja mengalami panen besar.

“Saya meyakini betul pentingnya pendidikan. Maka itu, saya selalu berikan motivasi kepada anak-anak saya untuk terus menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Yang penting dalam pikirannya adalah tentang mau jadi apa, bukan jadi siapa,” tukasnya.

Lagi-lagi, Udin menyampaikan sebuah kalimat kutipan yang menjadi motivasinya untuk terus berkembang. Kalimat itu berisi “Sepotong gelombang tidak akan mampu menjelaskan siapa dirimu bila ia telah menjadi buih di tengah lautan”.

Marka Tanah di kawasan program pemberdayaan belimbing Dompet Dhuafa di Desa Bono, Tulungagung.

Maksudnya adalah, “Apa pun yang kita jalankan itu jangan berharap pujian. Mengalir saja. Karena kalau kita katakan itu pujian, maka kita akan rawan untuk berhenti di situ,” jelasnya.

Pertemuan dengan sosok Udin bagi saya sangat berkesan. Di Dompet Dhuafa, orang seperti Pak Udin ini kami juluki sebagai seorang “Local Hero”. Dia lah pahlawan lokal yang rela mengorbankan waktu dan tenaganya untuk memperjuangkan dan mensejahterakan orang lain. (Dompet Dhuafa/Muthohar)

MALANG, JAWA TIMUR — Geliat perekonomian Desa Tawangsari, Pujon, Malang secara bertahap makin berkembang seiring meningkatnya jumlah warga di wilayah dataran tinggi ini. Sebelumnya, Desa Tawangsari merupakan salah satu kawasan yang terlihat seperti tidak begitu terurus. Peningkatan ini pun dirasa beriringan dengan hadirnya Bumi Maringi Peni (BMP), sebuah kawasan pemberdayaan Dompet Dhuafa yang menghadirkan beragam program holistik melalui kegiatan pemberdayaan ekonomi, pendidikan, kesehatan, dakwah dan budaya.

Salah satu program ekonomi di kawasan terpadu ini adalah pemberdayaan warga sekitar melalui budi daya tanaman lidah buaya (aloevera). Tanaman ini diolah sedemikian rupa menjadi sebuah minuman segar yang diberi nama “SUEGEERRR”. Pelopor sekaligus yang menjadi penanggung jawab pemberdayaan ini adalah Ali Hamdan, seorang ustaz berusia 39 tahun. Program ini merupakan upaya pengimplementasian dana zakat secara produktif.

Proses panen aloevera
Proses pengupasan daging pelepah aloevera.

Program pemberdayaan aloevera ini dimulai sejak awal tahun 2022. Secara resmi, program ini tercatat diluncurkan pada April 2022. Alasan memilih aloevera sebagai objek pemberdayaan adalah karena program serupa telah berjalan baik sebelumnya di Yogyakarta. Selain itu, Malang yang terkenal dengan kawasan wisata dengan berbagai macam olahan makanan dan minuman buah, menjadi potensi pasar yang baik. Di samping itu, minuman segar berbahan dasar aloevera belum tersedia di seluruh Malang.

“Sebelumnya, lahan ini merupakan kebun apel. Kita ada sekitar 1000 pohon apel. Saya mencoba melakukan riset selama sekitar 3 tahunan, ternyata apel itu tidak produktif. Di samping itu, harganya semakin turun dan banyak pesaingnya. Kemudian terinspirasi dari program ekonomi milik Dompet Dhuafa di Yogyakarta yaitu aloevera. Akhirnya setelah melakukan berbagai riset, kami ganti kebun ini menjadi kebun aloevera,” tutur Hamdan mengisahkan.

Proses pengupasan daging pelepah aloevera.

Siang itu, Rabu (23/8/2023), tiga wanita tampak sedang melakukan proses produksi minuman segar aloevera di BMP. Tiga wanita tersebut merupakan penerima manfaat program pemberdayaan ini. Didampingi oleh Hamdan, ketiganya secara kompak dan beriringan mengerjakan tugas-tugasnya dengan cekatan.

Sambil terus mendampingi wanita-wanita itu, Hamdan menjelaskan bahwa tanaman aloevera ini sangat menarik baginya. Sebab, ternyata tanaman dari Jazirah Arab ini dapat dijadikan sebagai minuman segar pengganti nata de coco. Belum adanya produsen yang menjalankan produk ini, menjadikan produk ini memiliki pasar yang masih terbuka sangat luas.

“Produsen minuman segar dari sari buah di Malang memang sangatlah banyak, bahkan menjamur. Namun, saya sudah survey ke mana-mana, di Malang ini ya baru kami ini yang membuat produk minuman segar dari aloevera,” jelasnya.

Nampak gerbang depan BMP di Pujon, Malang.
Proses panen aloevera

Kebun aloevera di BMP saat ini memiliki luas sekitar 1000 meter persegi yang terbagi menjadi 4 kotak kebun. Tanaman berdaging pada pelepah daunnya ini mulai dapat dipanen pada umur 8-12 bulan setelah ditanam. Bagian yang diambil adalah pelepah yang paling tua, yaitu yang berada paling bawah. Sedangkan pelepah yang berada di bagian tengah ke atas dibiarkan saja untuk selanjutnya dipanen di kemudian hari jika sudah tua.

Nantinya, setelah melalui beberapa kali panen atau pengambilan pelepah, batang aloevera akan makin tinggi. Jika sudah terlalu tinggi, maka yang dilakukan adalah memotong batang hingga batas pelepah paling bawah, kemudian menancapkannya kembali ke tanah supaya membuat akar baru. Sedangkan batang dan akar yang sebelumnya dibuang. Ini mungkin sedikit mirip dengan metode tanam stek. (Dompet Dhuafa/Muthohar)

MALANG, JAWA TIMUR — Sistem pola penanaman aloevera sampai menjadi sebuah produk minuman SUEGEERRR dalam kemasan di Pujon, Malang ini sama seperti yang dilakukan oleh Dompet Dhuafa Yogyakarta. Hamdan yang menerapkannya. Kemudian, ia mengembangkannya bersama tiga wanita penerima manfaat pemberdayaan ekonomi dari zakat produktif ini.

Ketiga penerima manfaat tersebut merupakan warga di sekitar Kawasan Bumi Maringi Peni (BMP). Mereka terpilih dari proses perekrutan penerima manfaat yang cukup fair, yaitu dengan menginfokan program ini kepada seluruh masyarakat desa melalui kepala desa serta ketua-ketua RT/RW setempat.

Awalnya, begitu banyak warga yang antusias menmgikuti program ini saat mulai dibuka. Ada sekitar 25 peserta yang terpilih untuk dapat mengikuti pelatihan. Mayoritasnya memang para ibu rumah tangga atau perempuan-perempuan yang hanya tinggal di rumah. Pada kesempatan itu, rangkaian kegiatan pelatihan dimentor langsung oleh Alan Effendi, aktor pemberdaya aloevera di Dompet Dhuafa Yogyakarta.

Proses pemasakan nata de aloevera.
Proses pengolahan aloevera menjadi minuman segar kemasan.
Proses pengemasan nata de aloevera ke dalam kemasan gelas.

“Mereka ikut mendaftar, ikut pelatihan pembuatan minuman segar dari aloevera. Dari sekian peserta, ada 5 peserta yang kami rasa pantas untuk melanjutkan dan bergabung dalam program lanjutan pemberdayaan,” lanjut Hamdan.

Dari 5 orang tersebut dibagi menjadi 2 tim. Tim pertama berisi 3 orang untuk memproduksi produk SUEGEERRR. Kemudian 2 lainnya mengerjakan di rumah masing-masing. Namun untuk bahan dasarnya, yaitu tanaman aloevera disediakan oleh BMP.

Hana (21) yang saat itu sedang memotong-motong daging aloevera menjadi balok-balok kecil menceritakan, dirinya tertarik bergabung di sini karena saat itu ia tidak memiliki kegiatan, atau dalam istilah lainnya “menganggur”. Motivasinya adalah karena ia ingin memiliki aktivitas di luar rumah selain hanya membantu pekerjaan-pekerjaan rumah.

Proses pengemasan nata de aloevera ke dalam kemasan gelas.
Hana di depan rumah produksi SUEGEERRR.

“Saya putus sekolah. Jadinya di rumah itu tidak ada kerjaan. Tidak bisa juga mencari pekerjaan. Jadi saya ikut saja ada pelatihan pembuatan minuman lidah buaya. Alhamdulillah sampai sekarang masih terus di sini,” ucapnya.

Saat ini, selain memproduksi SUEGEERRR, Hana juga sedang mengikuti pelatihan menjahit yang diadakan oleh Institut Kemandirian (IK) Dompet Dhuafa di BMP. Motivasinya untuk berkembang sangat lah kuat, sehingga setiap ada kegiatan pelatihan yang diadakan Dompet Dhuafa di BMP, ia sangat antusias untuk selalu mengikuti. Ada pula Program Guru Hebat yang diadakan BMP untuk sertifikasi guru ngaji dengan metode Ummi. Hana pun mengikutinya dan berhasil lulus.

“Justru senang setiap hari ke BMP. Ikut membuat minuman aloevera, ikut pelatihan menjahit, terus juga ikut ngaji di TPA kalau sore. Malah senang,” imbuhnya. (Dompet Dhuafa/Muthohar)

MALANG, JAWA TIMUR — Selain diproduksi dan dijual sebagai minuman, pelepah-pelepah aloevera juga kadang dibeli oleh beberapa orang yang ingin memanfaatkannya sebagai obat, tanaman hias, atau yang lainnya. Setiap orang yang telah mencicipi produk minuman ini pun mengakui rasa dan kesegarannya.

Sayangnya hingga saat ini, produk ini masih belum bisa dijual lebih luas. Kendala utamanya yaitu SUEGEERR belum memiliki sertifikat BPOM. Padahal sebanarnya, banyak toko yang tertarik untuk memesan minuman ini, namun karena terkendala belum adanya sertifikat BPOM, mereka sementara masih menundanya.

“Itu makanya sekarang ini kami sedang berupaya untuk memenuhi sertifikasi BPOM, sehingga bisa lebih luas menjangkau pasar-pasar, khususnya di kawasan-kawasan wisata yang ada di Malang,” ungkap Hamdan.

Kebun aloevera di Pujon, Malang.
SUEGEERRR dalam kemasan gelas.
SUEGEERRR dalam kemasan gelas.

Meski begitu, setiap bulan setidaknya SUEGEERRR terus diproduksi untuk dijual di Warung Sehat, yaitu sebuah mini market yang juga masih berada di Kawasan BMP. Selain itu, SUEGEERRR juga masuk ke sebuah kedai kopi, yaitu Kopi Sawah yang terletak di kawasan wisata. Bahkan, kedai ini selalu memesan setiap minggunya untuk dijual kembali kepada pelanggan-pelanggannya.

Setiap bulan, ada sekitar 100 botol yang diproduksi sesuai dengan pesanan. Atau jika dihitung kemasan dus karton, terhitung sekitar enam kemasan karton yang masuk ke Kafe Sawan maupun Warung Sehat.

“Pernah menerima pesanan sangat tinggi itu sampai 600 karton pada saat bulan Ramadan. Memang minuman ini sangat segar dan nikmat disajikan pas buka puasa,” cetus Hamdan.

SUEGEERRR dalam kemasan gelas.
Seseorang membeli SUEGEERRR di salah satu minimarket.

Minuman ini dikemas ke dalam dua varian, yaitu kemasan gelas dan kemasan botol. Kemasan gelas kecil dibanderol dengan harga Rp2.000/pcs, sedangkan kemasan botol dibanderol dengan harga Rp10.000/pcs. Biasanya, kemasan gelas dikemas lagi dalam satu pak yang berisikan 6 pcs. Sedangkan kemasan botol dikemas juga dalam satu pak/dus yang berisi 10 pcs.

Setiap proses produksi SUEGEERRR dikerjakan oleh ketiga penerima manfaat tersebut hingga selesai dikemas. Sedangkan untuk perawatan tanaman aloevera dan pemasaran produk dikendalikan oleh Ustaz Hamdan.

Sebab alasan terkendala belum adanya sertifikat BPOM, gaji atau pendapatan yang didapat oleh penerima manfaat pun tergantung dengan pesanan dan hasil penjualan yang diperoleh. Menurut Iklimah, salah satu penerima manfaat lainnya, mengaku pernah mendapatkan pendapatan tertinggi yaitu mencapai Rp1.800.000. (Dompet Dhuafa/Muthohar)

SINJAI, SULAWESI SELATAN — Dua sosok anak muda, Ramly dan Mail, yang mendampingi Tim Dompet Dhuafa menikmati sejuk sore di kebun kopi dalam artikel Pengalaman Aliah Sayuti Jadi Petani Kopi Sinjai merupakan penerima manfaat program pemberdayaan Dompet Dhuafa SulSel. Sebelumnya, mereka adalah dua anak muda perantau di Ibu Kota yang kemudian bertekad pulang ke kampung halamannya di Sinjai untuk menjadi petani kopi hingga berani memulai usaha sendiri.

Program Pemberdayaan Ekonomi Kopi Pattongko atau Kopi Sinjai sendiri memiliki tujuan mengekplorasi potensi pertanian yang baik dengan memberdayakan masyarakat melalui inovasi berkelanjutan. Seperti diketahui, dahulu para petani menggunakan teknik pemetikan yang dikenal sebagai “petik rampas,” yakni memetik secara serentak buah kopi sekali tarik. Tindakan itu membuat buah kopi berwarna merah dan hijau tercampur, dan membuat kualitas produk kopi tidak maksimal.

Perlahan, Ramly dan Mail melakukan pendekatan personal dengan edukasi pentingnya teknik pemetikan secara selektif. Buah yang dipetik hanya buah berwarna merah, sehingga didapatkan produk kopi terbaik dan volume yang lebih banyak. Hal ini akhirnya disadari petani kopi, biji kopi yang sebelumnya dihargai Rp2.500 per liter, kini naik menjadi Rp8.500 per liter.

Kopi Sinjai sendiri dibagi menjadi dua jenis, yakni arabica dan robusta. Mail mengenalkan kepada Aliah Sayuti dan Tim Dompet Dhuafa tentang metode penyeduhan V60. Metode ini dipilih agar biji kopi yang nikmat menghasilkan aroma buah-buahan tropis yang kuat.

Pemberdayaan Kopi Sinjai ini juga memperhatikan lingkungan dengan tetap menggunakan pupuk organik. Tujuannya agar kualitas tanah tidak rusak dan ke depannya tanaman kopi tidak mudah mati. Selain itu, juga untuk mencegah terjadinya degradasi tanah akibat pengunaan pupuk kimia secara berlebihan.

Program pemberdayaan Dompet Dhuafa ini pun terus bertambah dan bertumbuh, dari yang sebelumnya hanya memiliki 3 petani, kini menjadi 59 petani kopi. Dari yang sebelumnya hanya sebagai penghasil biji kopi mentah, kini telah bertumbuh menghasilkan kopi terbaik dari Tanah Sinjai.

Lewat Kopi Sinjai, anak-anak para petani kopi belajar cara memetik kopi terbaik. Seiring berjalannya waktu, keinginan masuk ke perguruan tinggi pun mulai muncul dari anak-anak petani kopi itu. Hal ini membuat rumah pemberdayaan kopi tak hanya bicara biji kopi, tetapi juga soal menyejahterakan petani kopi dari segi ekonomi juga pendidikan.

Sahabat, karena amanah zakat anda, Dompet Dhuafa dapat mengembangkan zona pemberdayaan masyarakat di Sinjai. Cita-cita besar dari anak muda yang kembali ke kampung halaman masih terus berlanjut. Upaya kerja sama dan inovasi masih terus dilakukan demi kesejahteraan petani kopi yang lebih baik. (Dompet Dhuafa/Fitin)

SINJAI, SULAWESI SELATAN — Setelah menempuh perjalanan darat selama lima jam dari pusat Kota Makassar, Tim Dompet Dhuafa SulSel bersama Aliah Sayuti, Super Volunteer Dompet Dhuafa, berkunjung ke Perkebunan Pemberdayaan Ekonomi Kopi Sinjai. Di sana, ia bertemu dengan dua sosok anak muda, yakni Ramly dan Mail, yang turut mendampingi tim menikmati sejuk sore di kebun kopi. Pada kesempatan itu, Aliah Sayuti turut mencoba pengalaman memetik kopi. Buah kopi berwarna merah dipilih, biji kopi kemudian dicuci, selanjutnya dikeringkan di Green House.

Biji kopi yang telah kering idealnya memiliki kadar air sekitar 11-12%, diukur menggunakan alat moisture meter coffee. Tahap selanjutnya, kopi dimasukkan ke dalam mesin huller, agar biji kopi bersih dan terpisah dari kulit tanduknya, yang kemudian menghasilkan green bean atau kopi mentah.

Selanjutnya, kopi melalui tahapan grading atau pengelompokkan kopi berdasarkan ukuran dan kondisinya. Kopi yang lolos grading kemudian akan didistribusikan ke kedai kopi, roasting kopi, dan pesanan lainnya. Sedangkan kopi defect akan diolah menjadi bubuk untuk kopi rumahan yang kualitasnya sama-sama terbaik.

Kopi Sinjai sendiri dibagi menjadi dua jenis, yakni arabica dan robusta. Mail mengenalkan kepada Aliah Sayuti dan Tim Dompet Dhuafa tentang metode penyeduhan V60. Metode ini dipilih agar biji kopi yang nikmat menghasilkan aroma buah-buahan tropis yang kuat.

Pemberdayaan Kopi Sinjai ini juga memperhatikan lingkungan dengan tetap menggunakan pupuk organik. Tujuannya agar kualitas tanah tidak rusak dan ke depannya tanaman kopi tidak mudah mati. Selain itu, ini juga dilakukan untuk mencegah terjadinya degradasi tanah akibat penggunaan pupuk kimia secara berlebihan.

Program pemberdayaan ini tentunya terus bertambah dan bertumbuh, yang mula-mula hanya ada 3 petani kopi, kini sudah berkembang menjadi 59 petani kopi. Selain itu, sebelumnya juga perkebunan ini hanya menghasilkan biji kopi mentah, namun kini telah bertumbuh menghasilkan kopi terbaik dari Tanah Sinjai.

Dari Kopi Sinjai, anak-anak petani kopi belajar cara memetik kopi yang terbaik. Seiring berjalannya waktu, keinginan masuk ke perguruan tinggi mulai muncul dari anak-anak petani kopi ini. Hal itu membuat rumah pemberdayaan kopi tak hanya bicara soal biji kopi, tetapi juga menyejahterakan petani kopi dari segi ekonomi juga pendidikan. (Dompet Dhuafa/Fitin)

SUMATRA SELATAN — Bermula dari kegelisahan dan empati terhadap dependensi fasilitas pendidikan daerah Banyuasin, Mustopa Patapa, salah satu alumni Bakti Nusa 2 Lembaga Pengembangan Insani (LPI) Dompet Dhuafa bergerak membangun perusahaan berbasis social enterprise KULAKU Indonesia.

Kembangkan potensi kawasan Banyuasin melalui komoditi kelapa, KULAKU Indonesia berhasil meningkatkan pendapatan petani kelapa dan masa depan anak-anak petani kelapa dengan memberikan beasiswa jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga Perguruan Tinggi.

Founder sekaligus CEO KULAKU Indonesia itu menjelaskan bahwa perusahaan berbasis social enterprise ini dibangun dari nol dan sudah melalui grafik naik turun dalam perjalanannya. Minimnya pendapatan petani kelapa dan susahnya akses pendidikan bagi anak-anak keluarga petani di Kabupaten Banyuasin, Sumatra Selatan menjadi latar belakang berdirinya KULAKU Indonesia.

KULAKU bersama stakeholder terkait menggelar pelatihan pembuatan olahan kelapa bagi masyarakat Desa Muara Sungsang.

Perusahaan yang berlokasi di Palembang ini memiliki program-program yang bertujuan mengedukasi petani kelapa. Melalui kerja sama dengan berbagai stakeholder terkait, program-program tersebut berfokus pada pemberdayaan dan pendampingan petani kelapa serta beasiswa pendidikan bagi anak petani kelapa, mulai jenjang SMP pertama hingga perguruan tinggi. Saat ini, 20 anak petani telah menjadi penerima manfaat KULAKU Indonesia.

“Bermimpi besar harus disertai targetan. Plan, do it and evaluate basic bagi para entrepreneur. Semoga keberadaan KULAKU Indonesia bisa menjadi sarana membesarkan orang lain, terkhusus keluarga petani kelapa Banyuasin,” ucap Mustopa Patapa pada acara Walk The Talk #3: “Learn, Action, Impact”, yang diselenggarakan oleh Lembaga Pengembangan Insani (LPI) Dompet Dhuafa, Sabtu (20/5/2023).

Pemberdayaan dan pendampingan bertujuan mengedukasi petani kelapa agar bisa mengeliminasi kesulitan dalam proses perkembangan perusahaan. Segala upaya telah dilakukan oleh Mustopa bersama anak muda Banyuasin untuk meningkatkan taraf hidup petani kelapa Banyuasin. Mereka meyakini, usaha Tim KULAKU dalam mengubah nilai produk agar lebih bernilai ekonomis tinggi, daripada hanya dijual sebagai komoditi kelapa.

Mustopa Patapa dalam acara Business Forum in Dubai Expo pada 4 Oktober 2021.

KULAKU akhirnya mendapatkan ruang kerja sama dan mendirikan 4 site produksi di Banyuasin. Produk turunan kelapa yang dibuat bersama petani kelapa yakni VCO, CCO, Nata De Coco dan charcoal. Produk tersebut sekarang memiliki pasar nasional dan bisa dinikmati di Palembang, Jakarta, Padang, dan Jambi.

Proyeksi perluasan pemasaran produk KULAKU akan dilakukan di tahun 2023 guna menyasar pasar internasional seperti Malaysia, Jepang, Korea Selatan, dan Nigeria. Bahkan di tahun 2024 nanti, KULAKU menargetkan pemasaran produk-produk turunan kelapa petani Banyuasin (termasuk sabut kelapa yang masih dikembangkan) ke pasar Eropa.

“Pengembangan produk dan pemberdayaan petani harus sejalan visi misi perusahaan. Kami adalah perusahaan social enterprise. Jadi tolak ukur utama perusahaan berkembang adalah meningkatnya kesejahteraan petani kelapa dampingan KULAKU,” tutur alumni Bakti Nusa Palembang tersebut.

Produk VCO oleh KULAKU Indonesia.
Mustopa Patapa menjadi pemateri dalam acara acara Walk The Talk #3: “Learn, Action, Impact”, yang diselenggarakan oleh LPI Dompet Dhuafa pada Sabtu, (20/5/2023).

KULAKU sudah memanen berbagai prestasi di berbagai sektor, salah satunya makin dikenal pasca menjadi perwakilan Indonesia di Dubai Expo 2020 bersama Kementerian Koperasi dan UMKM RI. KULAKU juga mendapat penghargaan dari pemerintah daerah hingga badan internasional seperti UNDP dan Youth Co: Lab Asia and Pacific Summit dan didapuk menjadi perwakilan Indonesia pada forum Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) 2022.

Dompet Dhuafa melalui program Beasiswa Aktivis Nusantara (Bakti Nusa) terus berupaya mendorong generasi-generasi milenial untuk turut memunculkan ide-ide kreatif dalam membangun usaha dengan mengembangkan potensi di wilayahnya berbasis social entreprise. Selain Mustopa, masih banyak keberhasilan dari para alumni Bakti Nusa Dompet Dhuafa yang patut diapresiasi dan diikuti. (Dompet Dhuafa/Muthohar)

BOGOR — Pada Minggu (2/4/2023), Direktur Mobilisasi Sumber Daya Dompet Dhuafa, Etika Setiawanti meresmikan program Madina Green House di Kawasan Terpadu Zona Madina Dompet Dhuafa, Parung, Bogor. Program ini hadir dari hasil kolaborasi Dompet Dhuafa dengan PT Audy Mandiri Indonesia dan PT Alif Techno Farm. Peresmian ini dilakukan sekaligus dengan panen perdana melon hidroponik yang dikelola di Madina Green House Dompet Dhuafa.

Madina Green House Dompet Dhuafa sendiri merupakan program budidaya melon hidroponik yang dirancang sebagai sarana bagi anak-anak muda untuk belajar pertanian, khususnya pertanian melon. Adanya Green House di Kawasan Zona Madina ini guna menghasilkan produk-produk berkualitas yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan bermanfaat bagi masyarakat, terutama mustahik atau penerima manfaat yang hari ini menjadi bagian dari proses produksi Green House Zona Madina.

Etika Setiawanti turut mengapresiasi sinergi kebaikan yang terjalin antara Dompet Dhuafa dan PT Audy Mandiri Indonesia. Harapannya, kolaborasi ini makin luas, sehingga makin banyak penerima manfaat yang merasakannya dan makin banyak pula mustahik yang menjadi muzaki.

Abdur Rohman, salah satu penerima manfaat sekaligus pengelola Madina Green House saat memanen melon.
Sambutan oleh Etika Setiawanti, Direktur Mobilisasi Sumber Daya Dompet Dhuafa.

“Senang sekali rasanya bersama PT Audy Mandiri Indonesia dalam rangka launching dan panen perdana melon di Green House kami Zona Madina, Kawasan Terpadu Dompet Dhuafa. Kami ingin menunjukkan bahwa program ini salah satu wujud pengelolaan dana Ziswaf yang kami himpun dari seluruh lapisan masyarakat, donatur yang telah berkontribusi dengan Dompet Dhuafa,” ungkap Etika.

Founder PT Audy Mandiri Indonesia, drg. Aynie Yunita mengatakan bahwa Dompet Dhuafa selalu transparan dalam kolaborasinya bersama PT Audy Mandiri Indonesia. Menurutnya, proyek ini mendapatkan hasil yang sangat baik. Ia juga berharap bisa benar-benar memberikan dukungan untuk segala pilar yang ada di Dompet Dhuafa.

“Kita banyak men-support beberapa pilar dari Dompet Dhuafa dan alhamdulillah kita happy banget. Dengan kerja sama kita selama ini, bisa dilihat bahwa dari apa yang kita support tuh benar-benar kita bisa dapatkan transparansinya. Kita bisa melihat perkembangannya secara langsung juga, very innovative dan oke banget. Ke depannya kita sangat recommend juga ke yang lain untuk bisa menyalurkan dana CSR-nya dikolaborasikan dengan kita. Thank you sudah bantu kita bermanfaat buat masyarakat banyak,” imbuh drg. Aynie Yunita.

Parni Hadi, Ketua Dewan Pembina Yayasan Dompet Dhuafa Republika saat menyampaikan sambutan dalam Launching Madina Green House.
Ketua Dewan Pembina Yayasan Dompet Dhuafa Republika, Parni Hadi melakukan pemetikan melon perdana didampingi oleh Bambang Suherman, Direktur Program Dompet Dhuafa.

Bersamaan dengan hal tersebut, launching Madina Green House ini dihadiri pula oleh Parni Hadi selaku inisiator sekaligus Ketua Dewan Pembina Dompet Dhuafa. Parni menjelaskan bahwa program yang diinisiasi harus memakmurkan kaum duafa, dan juga memiliki dampak yang signifikan.

“Memakmurkan kaum duafa, kita adu program, adu pintar, adu manfaat. Jika bermanfaat dirasakan oleh mustahik, oleh kaum miskin yang sengaja kita ingin muliakan,” ujar Parni dalam sambutannya.

Madina Green House memiliki luas 15×6 meter dan membutuhkan 65-70 hari untuk panen. Setelah diuji menggunakan alat pengukur kemanisan refraktometer brix, melon hidroponik yang dikelola Dompet Dhuafa sudah mencapai angka 12 dari 14. Selain itu, melon hidroponik ini juga menggunakan teknologi smart farming yang diadopsi dari Australia, yang setelah diuji coba mendapatkan hasil yang maksimal. Udhi Kurniawan, General Manager (GM) Zona Madina mengungkapkan, Madina Green House menggunakan dua metode, yaitu drip irrigation atau sistem irigasi tetes dan sistem katup nutrisi pintar.

“Kita menggunakan dua metode pengairan, pertama adalah metode drip irrigation yang kedua adalah katup nutrisi pintar (KNP). Metode yang kedua adalah metode yang masih sangat jarang digunakan di Indonesia, mengadopsi metode pengairan dari Australia. Jadi, alat yang kami sebut (KNP) diproduksi di Australia, lalu kita hadirkan di sini dan akan kami uji cobakan dan kami melihat hasilnya cukup bagus. Kita akan set up Green House yang lebih besar, agar semakin banyak mustahik yang terlibat dalam proses produksi dan manfaatnya juga bisa mereka rasakan,” terang Udhi.

Pemotongan pita sebagai tanda peresmian Madina Green House Melon Hidroponik oleh Dompet Dhuafa dan perwakilan PT Audy Mandiri Indonesia.
Salah satu penerima manfaat Madina Green House saat ikut memanen melon.

Adanya Madina Green House ini, selain untuk menunjukkan pada kaum muda bahwa bertani itu suatu pekerjaan yang menyenangkan, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang produktif dan bisa memberdayakan para mustahik. Salah satu orang yang merasakan dampaknya adalah Abdur Rohman. Sebelumnya, Abdur belum memiliki pekerjaan dan merasa terbantu dengan adanya program ini. Tak hanya meningkatkan perekonomian, bagi Abdur, program ini juga menambah wawasannya di bidang pertanian atau perkebunan hidroponik

“Tertariknya itu saya pengin belajar, menambah ilmu di bidang pertanian. Karena sebelumnya itu belum tahu yang namanya hidroponik, saya tahu lebih kekinian gitu. Jadi, pada saat itu emang lagi di rumah, tidak bekerja kemudian alhamdulillah dapat tawaran di sini dan berjodoh dengan Dompet Dhuafa,” ungkap Abdur Rohman, penerima manfaat sekaligus pengelola Madina Green House.

Penyerahan secara simbolis santunan kepada anak yatim oleh PT Audy Mandiri Indonesia.

Pada siklus pertama, Madina Green House memilih dua komoditas melon, yaitu golden aromatic minion dan golden emerald inthanon. Berdasarkan data di lapangan, dua komoditas melon ini memiliki nilai jual yang sangat tinggi. Dampaknya, Dompet Dhuafa memiliki komoditas unggulan dan dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat atau mustahik yang menjadi penerima manfaat dari program ini.

Kegiatan ini kemudian dilanjutkan dengan pemberian santunan kepada anak yatim oleh PT Audy Mandiri Indonesia. (Dompet Dhuafa/Anndini)