BANDUNG, JAWA BARAT — Status Indonesia sebagai negara agraris tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan para petani sebagai ‘tulang punggung’ ketersediaan pangan nasional. Kondisi ini terjadi lantaran berbagai hal, salah satunya pola pertanian di Indonesia yang mayoritas masih konvensional dan kurangnya literasi para petani guna memaksimalkan potensi lahan pertanian.

Padahal, profesi sebagai seorang petani di Indonesia merupakan peluang besar untuk mendapatkan keuntungan yang melimpah. Hal ini disadari oleh Mamat Rahmad (41) seorang petani binaan Desa Tani Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, besutan Dompet Dhuafa Jawa Barat. Keinginan yang tinggi untuk menggarap pertanian berbasis keilmuan, membuat Mamat sangat bersemangat untuk mengikuti program ini.

“Bertani itu  pakai ilmu, kalau dulu orang tua kita bertani hanya sekedar menanam dan panen dengan hasil pas-pasan, seharusnya zaman modern seperti sekarang kita bisa dapat hasil lebih kalau bertani menggunakan ilmu. Hasil meningkat, tanah pun tidak rusak karena pola-pola yang seharusnya tidak benar seperti terlalu banyak menggunakan bahan kimia tanpa ukuran jelas,” ujar Mamat yang hangat disapa Mamang.

Potensi keuntungan bukan satu-satunya yang mendorong Mamat ingin meneruskan kiprah orang tuanya menjadi seorang petani. Baginya, menjadi seorang petani merupakan terapi penyembuhan paling efektif bagi dirinya. Sebelumnya, Mamat selama 11 (sebelas) tahun terus beralih profesi di Kota Bandung hingga dirinya pernah terjatuh dalam dunia gelap narkotika. Bahkan, menurut pengakuannya, ia sudah 2 (dua) kali mendekam di hotel prodeo karena kedapatan mengkonsumsi zat-zat terlarang.

“Ssebelas tahun dulu saya pindah-pindah tempat kerja ikut orang lain, sampai saya pernah masuk penjara karena kedapatan memiliki narkoba sampai 2 (dua) kali. Setelah itu saya berpikir lebih nyaman kembali ke kampung menjadi petani seperti orang tua dulu. Hati tenang, pikiran tidak pusing, badan saya juga jadi sehat karena tidak menggunakan narkoba lagi. Dengan kegiatan sehari-hari menggarap lahan saya selalu bergerak dan cepat lepas dari ketergantungan narkoba,” jelas Mamat.

Kebangkitannya dari dunia kelam menjadi seorang petani hortikultura tidak serta merta mulus tanpa hambatan. Kurangnya modal untuk memiliki lahan pribadi dan sarana lain seperti bibit, pupuk, dan lain-lain membuat Mamat harus memutar otak demi menjalankan tekatnya. Sempat Mamat memutuskan untuk menggadaikan rumahnya untuk modal membuka lahan pertanian. Namun hal itu justru tidak sebanding dengan pemasukan yang didapatkan.

“Saya awal-awal gadaikan surat rumah untuk memulai bertani, saya pikir dengan adanya hasil panen nanti mampu membayar pinjaman tersebut dan menutupi kebutuhan sehari-hari. Tapi ternyata hasil panen tidak menentu dan hasilnya saya harus memutar otak kembali untuk menutupi semuanya. Ya, namanya harga pasar tidak menentu kan, cuaca juga tidak bisa diprediksi, itu buat tanaman kita dilahan terbuka cepat rusak dan gagal panen,” sambungnya.

Namun sekarang Mamat bisa kembali tersenyum dan mendapatkan apa yang selama ini dia dambakan. Pertemuannya dengan Kang Ade salah satu kader Desa Tani Dompet Dhuafa Jawa Barat merubah segala bentuk dinamika yang dirasakan. Berkat sokongan dari Prudential, Mamat bisa bercocok tanam dibawah Green House dan mendapatkan pendampingan secara penuh dari Dompet Dhuafa Jawa Barat serta sarana pendukung seperti bibit, pupuk, hingga lahan garapan itu sendiri.

“Kalau pakai Green House tanaman jadi lebih aman walaupun cuaca tidak menentu, kita bekerja juga lebih teduh. Dengan ukuran Green House 250 (dua ratus lima puluh) meter persegi seperti ini hasilnya bisa sebanding dengan 1000 (seribu) hektar lahan pertanian terbuka bahkan lebih. Ditambah kita diajarin juga disini gimana caranya membuat pupuk yang benar, pemilihan jenis tanaman, cara merawat, sampai dicarikan pasarnya untuk menjual hasil panen,” jelasnya.

Keyakinan serta ketekunan Mamat untuk meningkatkan kemampuan dibidang pertanian menjadikannya kini sudah mampu memiliki lahan pribadi. Diusia yang terbilang tidak muda lagi, Mamat tidak sungkan untuk bertanya dan belajar kepada generasi milenial untuk mengasah kemampuannya dalam bertani. Hari ini Mamat mungkin sudah bisa dikatan sebagai petani modern yang sukses di Kecamatan Lembang.

“Alhamdullilah cicilan dulu sudah hampir selelsai dari hasil tani ini, kebutuhan keluarga sehari-hari juga cukup, saya juga sudah punya lahan pribadi walaupun tidak besar dari hasil menabung disini. Itulah yang saya bilang bertani pakai ilmu, bumi pun kasih kita lebih,” pungkas Mamat sebelum melanjutkan aktivitasnya di Green House.

Aca Sujana selaku Staff Program Pendidikan dan Ekonomi Dompet Dhuafa Jawa Barat, mengatakan, “Melalui program Desa Tani kita tidak hanya memberikan sarana produksi seperti bibit tapi kita juga membangun sarana lain seperti Green House untuk meningkatkan hasil produksi. Paling terpenting juga kita memberikan pendampingan secara penuh untuk mengedukasi para petani agar lebih modern dan mampu mendatangkan keuntungan lebih dari pertaniannya. Bahkan kita juga menyiapkan pasar untuk menampung hasil pertanian mereka agar tersalurkan”. (Dompet Dhuafa / Arlen)

JAWA TIMUR —  Pada awal tahun 2021 ini, Senin (4/1/2021), Dompet Dhuafa Jawa Timur telah menyalurkan bantuan ternak sapi perah untuk masyarakat dhuafa di Desa Singolangu, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Bantuan tersebut diberikan sebagai tindak lanjut dari program kerja sama Kampung Susu Lawu yang telah diresmikan pada November 2020.

Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Jatim, Kholid Abdillah menyebutkan, program ini merupakan salah satu ikhtiar Dompet Dhuafa Jatim dalam membantu meringankan perekonomian masyarakat kecil. Pada program ini, sapi diberikan secara bergulir. Setelah empat tahun, sapi akan dipelihara oleh penerima manfaat lain setelah penerima manfaat sebelumnya berhasil mempunyai dua anakan dan dapat menjual susunya secara harian.

“Ini adalah ikhtiar kami dalam membantu meringankan perekonomian masyarakat kecil. Di bidang peternakan ini, Dompet Dhuafa berharap bisa memberikan banyak manfaat kepada para peternak. Tentu saja dengan dukungan dari seluruh masyatakat dan para stakeholder, baik dari pemerintahan maupun non pemerintah,” terangnya.

Dua orang penerima manfaat program ini adalahu Wiro (57) dan Saimin (47). Sehari-hari Wiro bekerja sebagai pengambil getah pinus yang dihargai Rp 3.500 per kg. Sedangkan, Saimin (47), sehari-harinya bekerja sebagai pembibit sayur dan pengerajin keranjang sayur jika ada pesanan. Ia sempat memelihara sapi milik orang lain selama dua tahun, hingga akhirnya diambil oleh pemiliknya. Di tengah ekonomi yang sulit, ditambah sedikitnya minat masyarakat, keduanya mengaku terbantu sekali dengan adanya program Kampung Susu Lawu

Pada Sabtu (4/8/2021) lalu, tim Dompet Dhuafa kembali berkunjung ke Singolangu melihat kondisi sapi perah saa ini. Dulu yang mulanya 2 ekor Betina yang bunting 4 bulan masa kandungan, sekarang sudah menjadi 4 ekor sapi, 2 indukan betina dan bertambah 2 anakan, 1 jantan dan 1 betina.

Kini, Wiro dan Saimin sudah bisa memerah susu sapi untuk bisa di jual ke koperasi. Susu sapi dari peternak ke koperasi dihargai senilai 5.800/liter, Menurut Mbah Wiro dan Mbah Saimin, mereka mampu setiap harinya menghasilkan 10-15liter susu per hari. Artinya, setiap bulan Mbah Wiro dan Mbah Saimin mampu mendapatkan uang 1,5jt-2jt Rupiah/bulan.

“Alhamdulilah, sangat-sangat membantu mas, sebelumnya kami hanya mendapatkan uang ketika kerja saja, itu pun kalau ada kerjaan. Sejak susu sapi sudah bisa di perah, jadi setiap bulan sudah ada pemasukan tetap mas, alhamdulillah bisa mencukupi keluarga,” ungkap Wiro.

Selanjutnya secara bertahap, Dompet Dhuafa akan terus mengembangkan program ini sehingga semakin banyak masyarakat kecil yang terbantu. Tidak hanya di Jawa Timur, Dompet Dhuafa akan berupaya untuk menghadirkan Program Ternak Sapi Bergulir ini di sejumlah daerah lainnya. (Dompet Dhuafa / DD Jatim / Muthohar)

INDRAMAYU, JAWA BARAT — Pada Kamis (14/1/2021), Dompet Dhuafa bersama Kelompok Tani Darul Arqam di Desa Kenanga, Kecamatan Sindang, Indramayu, Jawa Barat, dalam rangka mengembangkan program DD Farm budidaya ikan gurame yang dirasakan langsung oleh 60 penerima manfaat. Program tersebut merupakan pengaplikasian program Aksi Peduli Dampak Corona (APDC). Di tahap awal, program tersebut memanen sekitar 500 Kilogram, dari total hasil sebanyak 2.000 Kilogram.

“Saya mengapresiasi apa yang dilakukan oleh Dompet Dhuafa pada panen perdana dan pengembangan lahan budidaya Ikan Gurame. Selain itu, kelompok masyarakat binaan Dompet Dhuafa juga melakukan Tebar Benih Ikan Gurame di lahan seluas 4.800 Meter persegi. Tujuannya agar kedepan perputaran ekonomi semakin baik dan memiliki dampak lebih luas,” ujar Darpani SH, selaku Kepala Desa Kenanga.

Dompet Dhuafa terus menginisiasi dan berinovasi melalui berbagai program untuk membantu masyarakat dalam upaya Aksi Peduli Dampak Corona (APDC). Karena upaya tersebut merupakan lanjutan penanganan respon Covid-19 di Indonesia. APDC adalah bentuk nyata Filantropeneur di masa pandemi, demi ketahanan ekonomi skala keluarga. Aktivitas Program APDC mencakup bidang ekonomi, kesehatan, pendidikan, budaya dan iman takwa (dakwah).

“Donatur Dompet Dhuafa hadir bersama kelompok tani, sebagai langkah menggenjot kesejahteraan masyarakat wirausaha di sektor budidaya perikanan. Selain itu, Dompet Dhuafa amanah donatur untuk memberikan sarana dan prasarana penunjang, serta pendampingan untuk kesejahteraan anggota kelompok tani. Sehingga tercipta kemandirian keluarga, dari Aksi Peduli Dampak Corona,” jelas Ustadz Ahmad Sonhaji, selaku Direktur Dakwah, Budaya dan Pemberdayaan Masyarakat (DBPM) yang juga Ketua Satgas Gugus Tugas Covid-19 Dompet Dhuafa.

Untuk mengatasi lonjakan kemiskinan tersebut, Dompet Dhuafa mentransformasi donasi masyarakat dengan mengusung program ekonomi yang bernama Coronanomic. Program ekonomi pemberdayaan berskala mikro yang kehadirannya terpicu oleh pandemi Corona. Tentu dengan tujuan pemberdayaan dan kemandirian masing-masing keluarga.

Pada sektor ekonomi, Dompet Dhuafa menginisiasi beberapa program, seperti ketahanan pangan berbasis keluarga maupun komunitas. Kemudian ketahanan pangan berbasis keluarga seperti budidaya ikan lele dan sayur dalam ember (budikdamber), budidaya Ikan Dalam Kolam Buatan (Budikolbu). Kemudian ada juga kebun pangan keluarga, bantuan modal usaha mikro perorangan dan bantuan pangan yang memprioritaskan lanjut usia, serta disabilitas atau mereka yang tidak mampu berdikari.

“Di tengah pandemi Covid-19, tidak sedikit para pegiat usaha yang merugi bahkan tutup. Namun dengan langkah konkret APDC dari donatur Dompet Dhuafa untuk para pegiat usaha seperti budidaya perikanan, diharapkan dapat membangkitkan usaha ekonomi. Sehingga akan berdampak positif pada kemandirian keluarga dari anggota kelompok tersebut,” tambah Ustadz Ahmad Shonhaji.

Panen perdana Ikan Gurame dan pengembangan lahan budidayanya, menjadi salah satu bukti APDC dapat menjadi sarana pengikis kemiskinan di tengah pandemi Covid-19 yang berkepanjangan. Langkah konkret dalam meringankan beban masyarakat terdampak, untuk terus bangkit dan berdaya. Aksi Peduli Dampak Corona hadir atas inisiasi Parni Hadi, wartawan senior sekaligus Ketua Pembina Dompet Dhuafa. Program tersebut juga menjadi bukti nyata pengamalan Pancasila untuk cinta sesama dan mengajak masyarakat, ikut dalam gerakan APDC.

“Saya berterima kasih kepada donatur Dompet Dhuafa atas program bersama yang telah terjalin. Semoga kedepannya anggota kelompok Darul Arqam dapat memperluas maanfaat untuk masyarakat Desa Kenanga, selama Covid-19,” ucap Husein, selaku Ketua Kelompok Tani Darul Arqam, kepada tim Dompet Dhuafa. (Dompet Dhuafa / Bani Kiswanto)

MOJOKERTO, JAWA TIMUR — Yayasan Baitul Mal (YBM) BRILiaN RO Surabaya bersama Dompet Dhuafa Jawa Timur, alhamdulillah, meresmikan program Sentra Ternak dan Eduwisata BRILiaN FARM di Desa Padusan, Kecamatan Pacet, Mojokerto, Rabu (28/12/2022). Program kolaborasi tersebut, merupakan upaya untuk memberdayakan masyarakat melalui penguatan potensi lokal di desa setempat.

Kepala Desa Padusan, Iriani Muarifah, menyambut baik hadirnya program yang berada di wilayah pemerintahanya. Beliau haturkan terimakasih atas kehadiran Dompet Dhuafa dan YBM BRILiaN di Desa Padusan.

“Program Sentra Ternak dan Eduwisata di desa kami ini merupakan suatu berkah bagi kami juga masyarakat Padusan. Saya selaku perwakilan pemerintah, mengharap program ini dapat menjadi media penguat ekonomi masyarakat kami dan semakin menguatkan diri, bahwa Padusan merupakan desa berbasis wisata dengan potensi-potensi lokal yang menjadi ciri identitas kami,” sebut Iriani.

Sementara itu, Udhi Tri Kurniawan selaku General Manager Pengembangan dan Pemberdayaan Ekonomi Dompet Dhuafa, menyampaikan, Dompet Dhuafa akan berupaya untuk lebih banyak menghadirkan program pemberdayaan yang berbasis program wisata di beberapa desa yang memiliki potensi sebagai desa wisata dengan kearifan lokal masing-masing.

Pada acara yang sangat khidmat ini, Pembina YBM BRILiaN, sangat bahagia dan mengatakan, “Program kolaborasi dengan Dompet Dhuafa Jawa Timur ini, merupakan bentuk tanggung jawab kami untuk hadir di tengah masyarakat dengan memberikan bantuan program dengan harapannya bisa terus berjalan dan mampu memberikan dampak kepada masyarakat sekitar. Ke depan, program ini diharapkan mampu menjadi tempat untuk hadirnya program-program sosial lainnya yang bisa menyejahterakan masyarakat Desa Padusan dan sekitarnya”.

Selaku penanggung jawab acara dan pelaksana BRILiaN FARM Mojokerto, Kholid Abdillah, Pimpinan Dompet Dhuafa Jawa Timur menambahkan, “Selain meresmikan, pada acara launching ini kolaborator kebaikan (YBM BRILiaN dan DD Jatim) juga membagikan amanah sembako, Al-Quran dan santunan ke anak yatim Desa Padusan, agar semoga menjadi manfaat untuk mereka”. (Dompet Dhuafa / Jawa Timur)

SOLOK, SUMATERA BARAT — Kabupaten Solok, wilayah Nagari Sirukam terpilih menjadi Desa Wisata Kopi yang digagas oleh Dompet Dhuafa Cabang Singgalang dan Universitas Andalas pada Rabu (16/12/2020). Merupakan agenda kerja sama dalam program ‘Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan’.

Tim pengabdian masyarakat Universitas Andalas yang diketuai oleh Aadrean, menggandeng praktisi dan pelatih ekowisata nasional Ritno Kurniawan, untuk menggali kondisi, potensi serta langkah kelanjutannya. Tim ini mengunjungi kebun kopi, mengobservasi dan berinteraksi dengan petani, kelompok tani, hingga Wali Nagari Sirukam.

Berdasarkan pengamatannya selama berkunjung ke Sirukam, Ritno Kurniawan salah seorang praktisi Ekowisata menyatakan bahwa Sirukam ini layak menjadi desa wisata, ada kebun kopi dan dekat dengan gunung Talang.

“Rumah-rumah gadang warga bisa dijadikan home stay, dan banyak program dan paket wisata lain yang bisa dibuat,” jelas Ritno.

Sebelumnya Dompet Dhuafa Singgalang mengadakan program pemberdayaan petani kopi yang telah dilakukan sejak tahun 2019. Saat ini kebun kopi dikelola oleh kelompok petani Cirubuih Indah Nan Jaya seluas sekitar 50 hektar dengan anggota 39 orang. Kelompok Tani dengan pendampingan dari Dompet Dhuafa Singgalang ini mengharapkan pengembangan dan diversifikasi usaha untuk memberikan dampak yang lebih luas ke masyarakat.

Dengan terlihatnya kondisi hasil yang positif dalam usaha petani kopi, Dompet Dhuafa Singgalang dan kelompok tani berencana mengembangkan bentuk usaha berupa menjadikan kawasan tersebut menjadi tempat ekowisata. Dalam hal ini Dompet Dhuafa Singgalang sudah memberikan jargon untuk kawasan ini disebut sebagai Desa Kopi.

Adris Pelandri selaku Ketua Kelompok Tani setempat yang merupakan penerima manfaat program ekonomi pemberdayaan kopi arabika Dompet Dhuafa SInggalang, siap untuk mendukung kegiatan pengabdian Unand. Serta Yon, salah seorang pengurus kelompok sangat antusias dengan rencana pengembangan ini, dan mempersilahkan lahannya untuk digunakan jika dibutuhkan untuk pengembangan lokasi dan fasilitas. Ketua Kelompok Tani sangat senang dengan rencana ini.

“Kami ingin sekali mewujudkannya, tapi ilmunya belum ada kami miliki,” kata Adris.

Disamping itu, pertemuan ini disambut baik oleh Wali Nagari Sirukam beserta jajaran, LPM, dan Ketua Pemuda Nagari Sirukam. Warga Sirukam akan sangat terbantu jika Desa Wisata Kopi ini segera terwujud.

“Bahwa yang paling dibutuhkan itu adalah SDM yaitu pemuda yang memiliki semangat dan kemauan yang kuat untuk mewujudkan itu,” imbuh Ritno. (Dompet Dhuafa / Singgalang / Fajar)

MAGETAN, JAWA TIMUR — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Magetan bersama Dompet Dhuafa meresmikan destinasi wisata baru Agrowisata Kampung Susu Lawu (KSL), yang terletak di Dusun Singolangu, Desa Sarangan, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Agrowisata Kampung Susu Lawu ini akan di kelola secara profesional dan ramah bagi para wisatawan karena itu penting untuk menjaga keberlanjutannya. Destinasi wisata tersebut, diharapkan bisa meningkatkan perekonomian warga sekitar.

“Susu Singolangu itu bagi saya adalah jawaban dari kegelisahan. Saya melihat data bahwa rata-rata kepemilikan tanah setiap orang di Magetan hanya 0,2 ha dan ini tidak mungkin untuk mendongkrak kesejahteraan. Jawabnya ternyata ada di pengelolaan sapi susu, dengan memelihara lima ekor sudah jelas pendapatan peternak sebesar Rp 5 juta per bulan luar biasa sekali. Mohon doanya melalui sinergi bersama untuk kesejahteraan masyarakat Magetan bisa tercapai. Aamiin,” ujar Bupati Magetan, Suprawoto, saat sela-sela peresmian Kampung Susu Lawu, Magetan, Jawa Timur, (Rabu,25/11/2020).\

Senada dengan hal itu, Ustaz Ahmad Shonhaji Direktur Dakwah, Budaya dan Pelayanan Masyarakat Dompet Dhuafa, mengatakan bahwa Dompet Dhuafa sebagai lembaga filantropi yang konsen pada program pemberdayaan, melalui pengelolaan dana ZISWAF Istiqomah berkhidmat untuk terus memberikan kebermanfaatan untuk umat baik dari sektor pendidikan, budaya, kesehatan maupun ekonomi.

“Dompet Dhuafa bersama pemerintah dalam rangka untuk menjaga ketahanan pangan memiliki program-program yang langsung bersentuhan dengan masyarakat. Saat ini kami sedang siapkan 12 sentra ternak yang akan terlaksana di Cabang. Kita juga siapkan 1.000 hektar lahan untuk program pertanian. Mudah-mudahan program sinergi bersama Kampung Susu Lawu dengan Pemkab Magetan ini diberikan kelancaran dan semakin banyak masyarakat yang terangkat kesejahteraannya”, ungkapnya.

Sementara itu menurut Drh. Samsul Ma’arif, M. Si, selaku Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Peternakan juga menghimbau susu memiliki potensi yang tinggi untuk meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat bila pengelolaan dilakukan secara benar, namun saat ada tantangan yang harus dihadapi bersama.

Ia katakan, “Diantaranya adalah rendahnya jumlah aset ternak yg dimiliki oleh peternak, kualitas hasil susu pun juga saat ini menjadi masalah yang harus kita tanggulangi. Saat ini perolehan susu rata-rata hanya 10-12 liter per hari per ekor padahal idealnya 15-20 liter. Disamping itu soal skill Sumber Daya Manusia (SDM) para peternak juga tidak kalah penting ini yang paling utama. Kita harus siapkan program hulu sampai hilir agar potensi peternakan susu sapi bisa maksimal memberikan dampak bagi kesejahteraan masyarakat “.

Agrowisata Kampung Susu Lawu (KSL) tersebut merupakan konsep wisata alam yang terintegrasi, dengan dilengkapi sentra peternakan sapi susu, paket wisata pendakian gunung Lawu, sentra olahan susu, kawasan pertanian dan fasilitas lainnya. Lokasi ini terletak kurang lebih satu Kilometer dari kawasan wisata telaga sarangan Magetan. (Dompet Dhuafa)

BOGOR — Rumah Kemasan yang berada di Kawasan Zona Madina Dompet Dhuafa, menggelar pelatihan foto produk yang dilaksanakan di Kantin Sehat Zona Madina, Kamis (6/2/2020). Sahrawardi, selaku Manager Program Zona Madina mengisi langsung workshop tersebut.

Peserta yang terdiri dari mitra pengusaha Zona Madina dan yang lainnya. Turut mengikuti pelatihan tersebut. Banyak dari mereka yang sudah memiliki usaha dalam waktu lama. Namun secara pemasaran belum maksimal.

“Saya punya produk sudah dua bulan mencoba usaha minuman sereh. Tapi belum optimal dalam pemasaran. Dengan adanya pelatihan tersebut, harapannya produk julan saya dapat berkembang,” ucap Kirman, peserta workshop dari Ciseeng Bogor.

Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan materi, praktek foto dengan smartphone dan peserta diwajibkan pula untuk membawa produk masing-masing agar bisa segera dipasarkan.

Pada kesempatan ini, Direktur Zona Madina Dompet Dhuafa, Yuli Pujihardy menyampaikan bahwa, “Melalui program Rumah Kemasan, diharapkan akan menjadi babak baru pengembangan produk UKM di Kabupaten Bogor dan Jabotabek. Hal tersebut dikarenakan Rumah Kemasan yang ada saat ini memiliki fungsi sebagai rumah edukasi, rumah kemas produk dan rumah konsultasi kemasan UKM. Kami siap menjadi Mitra Pemerintah Daerah melalui Dinas Koperasi UKM dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan untuk membawa produk masyarakat dari kemasan sederhana menjadi produk dengan kemasan modern”.

Di tempat yang berbeda, CEO Rumah Kemasan saudara Nur Imam Syaputra menghadiri pertemuan terkait program pembinaan dan pengembangan kemasan produk UKM bersama Kasi Ekonomi dan Pembangunan beserta Pengurus Forum UKM Kecamatan Parung Kab. Bogor.  Pada kesempatan tersebut, beliau juga menjelaskan bahwa, “Zona Madina Dompet Dhuafa selalu membuka kesempatan untuk bersinergis dengan semua UKM yang ada. Karena memang kami ada untuk tumbuh bersama UKM. Adapun agenda pelatihan akan menjadi pelatihan regular yang akan terus dilaksanakan setiap pekan dengan meliputi Pelatihan Foto Produk, Branding Produk, Digital Marketing, Managemet Keuangan UKM, secara berjenjang baik untuk pemula maupun tingkat mahir”. (Dompet Dhuafa/Fajar)

MAGETAN — Awal tahun baru, membawa raut muka bahagia di wajah masyarakat Singolangu, Desa Sarangan, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan. Pasalnya pada Selasa (7/1/2020) lalu, telah diresmikan program Agrowisata Kawasan Kampung Susu Lawu Singolangu. Program tersebut merupakan sinergi Pemerintah Kabupaten Magetan dengan Dompet Dhuafa.

Acara peresmian Kampung Susu Lawu Singolangu dihadiri oleh seluruh jajaran Pemkab Magetan, mulai dari Dinas Pariwisata, Dinas Peternakan, Dinas Perhubungan, Dinas PU dan juga masyarakat setempat. Semua semangat bersinergi untuk membangun masyarakat Magetan lebih berdaya.

Di sela peresmian tersebut juga dilaksanakan santunan bagi adik-adik di Kampung Singolangu. Kemudian juga ada kegiatan Posyandu yang dilanjutkan dengan diskusi dengan masyarakat. Tujuan dari diskusi tersebut dalam rangka untuk menampung ide dan masukan dari para tokoh masyarakat.

“Alhamdulillah, saya mewakili masyarakat Singolangu, mengucapkan terima kasih kapada Pemkab Magetan dan Dompet Dhuafa. Karena telah peduli untuk meningkatkan kesejahteraan kami. Meskipun pembangunan Kampung Susu Lawu Singolangu masih dalam proses. Tapi kami sudah merasakan dampaknya sekarang. Hasil olahan susu kami mulai mengalami peningkatan penjualanya. Melalui pembuatan taman dan gambar-gambar kekinian yang menarik wisatawan. Sehingga banyak yang datang untuk berswafoto di sini. Kami senang sekali,” ucap Mbah Wo, sapaan akrab beliau.

Mendengar testimoni yang disampaikan oleh Mbak Wo, Parni Hadi, selaku Inisiator dan Dewan Pembina Dompet Dhuafa berkata, ” Yang kami berikan ini adalah bagian dari amanah donatur. Dengan program pemberdayaan kami yakin dapat membantu masyarakat dalam mencapai kesejataraan. Tentu masyarakat dan pemerintah juga harus bergotong-royong agar semunya bisa berjalan dengan lancar dan berkah untuk semua. Kedepan, bersama dengan Pak Prowoto Bupati Magetan dan jajaranya, kita akan bangun beberapa project. Di antaranya adalah instalasi air, UPPO-Unit Pengolahan Pupuk Organik dan Program Aksi Layanan Sehat (ALS). Kenapa kok ada ALS, ini penting sekali bahwa masyarakat harus sehat. Jadi kalau ingin berdaya ya harus sehat jasmani”. (Dompet Dhuafa)

SOLOK, SUMATERA BARAT — Sirukam, adalah sebuah Nagari (Kecamatan) yang terletak di Kecamatan Payung Sekaki, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Wilayah perbukitan tersebut, berada pada ketinggian 1.300 MDPL dengan suhu udara rata-rata 16 derajat celcius. Dalam bahasa Minang, Sirukam, diyakini berasal dari kata ‘Suruakkan’ yang berarti ‘Sembunyi’.

“Zaman penjajahan dulu, Nagari Sirukam memang menjadi salah satu tempat persembunyian dan perlindungan yang aman bagi pribumi. Dari situlah dinamakan Sirukam,” ungkap Abdul Rahman, Pendamping Program Unit Solok Dompet Dhuafa Cabang Singgalang.

Nagari Sirukam memiliki jarak 35 kilometer dari pusat Kabupaten Solok atau dapat ditempuh dengan waktu sekitar satu jam perjalanan darat menggunakan kendaraan roda empat. Menuju Sirukam, perjalanan juga dilalui dengan kelok berliku dan tanjakan.

Ya, di bukit persembunyian tersebut, terdapat banyak potensi alam yang tersembunyi pula. Sepanjang perjalanan, suguhan pemandangan alam hijau seperti sawah dan kebun banyak terdapat di sana. Mulai dari tanaman Padi, Bawang, Jagung hingga Kopi, tumbuh subur di sana. Kopi Arabica Solok kian menjadi komoditas unggulan nan banyak peminatnya.

“Tak hanya kopi robusta, jenis arabica juga menjadi salah satu komoditas unggulan Kabupaten Solok, yang diperluas area tanamnya di daerah dataran tinggi Sirukam,” seru Abdul.

Berangkat dari hal tersebut, Dompet Dhuafa melihat, mencari, juga menggulirkan rekomendasi program pemberdayaan ekonomi zakat produktif melalui Call For Proposal Project Dompet Dhuafa Cabang Singgalang.

Dompet Dhuafa terus berupaya untuk memandirikan para penerima manfaatnya dengan prinsip ‘dari mustahik menjadi muzaki’. Hingga pada 2018, Dompet Dhuafa Cabang Singgalang melakukan assesment pada pengembangan pertanian kopi di Sirukam, Solok, untuk menebarkan luasnya manfaat bahagia berzakat bagi para penerima manfaat maupun para donaturnya.

“Jadilah di 2019, Dompet Dhuafa menggulirkan program pemberdayaan pada Kelompok Tani Sirubuih Indah Nan Jaya, dengan anggota kelompok berjumlah 25 orang. Berupa penyediaan fasilitas kelompok mulai dari bibit hingga tempat pengolahan pasca panen (pulper house, rumah pengeringan, huller, gudang). Tentunya juga menyediakan peran pendampingan dan pembinaan bersama mitra Koperasi Solok Radjo selama 1-2 tahun, membantu dalam pemasaran hingga pengolahan limbah menjadi pupuk kompos,” terang Hadie Bandarian, selaku Pimpinan Dompet Dhuafa Cabang Singgalang, pada Selasa (17/12/2019).

Pada Rabu hingga Jum’at (18-20/12/2019), Tim Dompet Dhuafa kembali menulusuri lokasi pemberdayaan pertanian kopi di Jorong (Desa) Kubang Nan Duo, Nagari Sirukam, untuk menilik para perawat hasil alam dibalik potensi tersembunyi dari bukit persembunyian tersebut. (Dompet Dhuafa/Dhika Prabowo)

SOLOK, SUMATERA BARAT — Kabut pagi khas perbukitan menyelimuti rimba wilayah Nagari (Kelurahan) Sirukam, Kecamatan Payung Sekaki, Kabupaten Solok. Matahari masih tertutup. Tanah merah yang becek tak membuat langkah kaki Samsinar (57) berhenti. Menuju perkebunan, wanita paruh baya itu menelusuri ladang kopi-nya yang masih basah dari warisan hujan, Rabu (18/12/2019).

Usai menjalankan ibadah Dzuhur, asap panas dari secangkir kopi seduhan Samsinar, melengkapi suasana siang hari nan dingin itu. Perbincangan sederhana bersama Tim Dompet Dhuafa di sebuah pondok kayu itupun, membawa pada sebuah alur memori semangat juangnya. Bagi Samsinar, merawat tanaman kopi itu bak merawat anak sendiri. Melakukan dengan teliti, setiap hari, dan sepenuh hati dalam berbagai kondisi.

“Sebelum pondok yang sekarang ini ada, kami (Samsinar dan suami) cari kayu untuk membuat pondokan kecil. Ditutup pakai plastik sebagai atap, untuk berteduh dan istirahat dari panas dan hujan,” kenang Samsinar.

Ia menceritakan salah satu momen terhujam hujan yang lebat disertai angin kencang ketika bertani. Air masuk ke dalam pondok. Atap plastik rusak, diganti, sobek lagi. Hingga pondok kecil andalan di tengah kebun kopi Jorong (Desa) Kubang Nan Duo itu roboh diterjang badai.

“Saya sudah kebasahan dalam kondisi lelah dan sangat ngantuk. Saya cuma bisa nangis karena sudah sangat kedinginan,” tutur Samsinar.

“Biaya sudah habis, tentulah saya juga tidak sanggup kedinginan. Tapi saya tetap ke ladang terus dan tidak ingin berhenti. Hingga berdirilah pondok ini yang lebih besar dan kokoh,” lanjutnya.

Sebelum bertani kopi, Samsinar berkegiatan di hutan sebagai pengangkut batu dan kayu bakar. Mawi, suaminya, berdagang ayam. Hingga pada 2014, Samsinar dan suami hijrah bertani kopi atas rekomendasi menantunya yang turut membantu mencari informasi terkait hal tersebut. Menurutnya, sangat susah hidupnya dulu di kampung, mereka berpikir semakin lama makin tua dan mungkin tenaga juga melemah dengan kegiatan sebelumnya.

“Itulah kami buka lahan ini untuk ladang kopi. Mengawali dengan membuka lahan seluas 1/4 hektar. Dengan harapan masa depan tidak susah nantinya. Namun kami di cemo’oh masyarakat sekitar. Orang-orang menganggap kehidupan kami yang sekedarnya tapi mau buka lahan seluas itu. Pikir mereka mana kami sanggup,” seru Samsinar.

Seraya menghabiskan tetes-tetes terakhir kopi yang diseduhnya, Samsinar bertutur, “Ya Allah, Ya Tuhan.. Semoga berhasil besok biar jadi contoh orang banyak. Supaya orang-orang yang seperti kita dulu tidak susah juga hidupnya”. (Dompet Dhuafa/Dhika Prabowo)